Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ' 235 (Takdir)


__ADS_3

"Jadi kamu mau buat Kevin sama anak buah kamu pacaran?" ucap Leo melangkahkan kakinya mendekati Karamel.


"Ehem! Enggak juga," sahut Karamel mengelak.


"Dengan cara berdo'a supaya anak buah kamu terluka parah dan Kevin bisa ngerawat dia di rumah sakit?" ucap Leo dengan menyeringai.


"Aku enggak pernah berdo'a supaya Becca terluka parah," sahut Karamel melotot.


"Tapi berharap 'kan," kini Leo menarik pinggang Karamel agar bisa menempel dengan dirinya.


"Dikit," sahut Karamel dengan suara yang kecil namun Leo masih bisa mendengarnya.


"Perlu bantuan?" tanya Leo menarik dagu Karamel dengan tangan kirinya.


"Bantuan apa? Nyelakain Becca? Gila kamu," sentak Karamel menepis tangan Leo lalu melepaskan diri dari dekapan Leo.


Dengan cepat Leo memeluk Karamel dari belakang, "Yang duluan berharap hal gila siapa?" tanya Leo membuat Karamel bungkam.


"Ka-kamu ngapain ngikutin aku ke kamar, bukannya udah aku bilang temenin Kak Rendi aja di bawah," ucap Karamel mengalihkan pembicaraan.


"Aku cape mau istirahat bareng istri aku sama ...." Leo menggantung perkataannya lalu mendekatkan mulutnya ke daun telinga Karamel.


"Anak aku," bisik Leo dengan jahilnya menipu daun telinga Karamel yang sangat sensitif itu.


Seketika tubuh Karamel menjadi merinding di buatnya dan Leo bisa merasakan ketegangan sang istri, seulas senyum jahil terpatri di bibir Leo kemudian Leo menggigit kecil daun telinga Karamel membuat Karamel melotot dan memekik kaget.


"Dasar mesum," pekik Karamel mendorong tubuh Leo hingga mundur beberapa langkah kemudian Karamel hendak pergi keluar kamar meninggalkan Leo namun dengan cepat Leo menghalangi langkah Karamel.


"Mau ke mana?" tanya Leo.


"Aku mau keluar ...."


"Aku 'kan udah bilang mau istirahat bereng kamu sama anak kita," ucap Leo membuat Karamel mematung.


"Sekarang kita istirahat ya," bujuk Leo pelan namun Karamel tetap bergeming.


"Jangan ngambek dong sayang, iya aku salah aku minta maaf ya," lirih Leo namun Karamel masih tidak mau mengeluarkan suaranya sedikitpun.


"Kamu masih mau keluar? Enggak kasian ninggalin aku sendirian!?" tanya Leo dengan raut wajah sedih namun masih tidak ada sahutan apapun dari Karamel.


Leo menghela napas panjang dan besar, melihat tatapan tanpa ekspresi sang istri, membuatnya pasrah harus membiarkan istrinya pergi keluar kamar.


"Ya udah, kamu boleh keluar ...."


Sebelum Leo menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Karamel melangkahkan kakinya menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana.


Leo sempat di buat speechless namun seperdetik kemudian Leo tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan itu.


"Enggak jadi keluar?" tanya Leo berbasa-basi agar bisa mengobrol sejenak dengan istrinya.


"Mau aku keluar sekarang," respon Karamel ketus membuat Leo kaget karena ternyata istrinya itu benar-benar sedang marah dengannya.


"Enggak enggak, aku cuma becanda aja tadi." ucap Leo kikuk.


Leo ikut membaringkan tubuhnya di kasur namun sesekali Leo melirikan matanya ke arah Karamel yang membelakangi dirinya, rasanya sangat tidak nyaman bila tidak memeluk sang istri saat tidur tapi bagaimana Leo bisa mendapatkan pelukan hangat dari istrinya jika istrinya saja sedang marah.


"Sayang," panggil Leo pelan namun Karamel bergeming.


"Masa iya udah tidur, biasanya juga tidur jam sembilan jam sepuluhan," batin Leo menatap jam dinding sembari memainkan jari-jarinya yang gatal ingin merengkuh tubuh istrinya.


Sepuluh menit kemudian ....


Sebenarnya Leo masih tidak bisa tidur, jari-jari tangannya masih terus gencar bergerak, dirinya benar-benar merasa tidak nyaman dengan posisi yang terabaikan oleh sang istri.


Leo memiringkan tubuhnya menghadap punggung sang istri, "Sayang, kamu ...."


Grebb! Leo di buat tersentak karena Karamel langsung memeluk dirinya.


"Makanya jangan suka jahil, enggak enak 'kan di abaiin kayak tadi" ucap Karamel dengan mata yang terpejam.


Leo pun tersenyum simpul melihat tingkah sang istri yang begitu menggemaskan.


"Oke! Barusan kamu berhasil buat aku enggak nyaman sama sikap acuh kamu, jadi sekarang kita impas," ucap Leo memeluk erat tubuh Karamel membuat Karamel ikut tersenyum senang.


...........

__ADS_1


Di tepat lain setelah 45 menit Becca sampai di tempat tujuannya, Becca turun dari mobilnya lalu berjalan santai dengan di tangannya menggenggam baseball bat yang kepalanya ia letakkan di pundaknya lalu menghampiri para sekumpulan orang-orang dewasa yang sedang mengacau tempat tinggal sekumpulan anak-anak jalanan yang Becca kenal.


"Enggak kapok juga ya ternyata," pekik Becca men sembari menatap datar para preman-preman jalanan itu.


Sekelompok preman-preman itu serentak menoleh ke arah Becca yang sedang berdiri dengan jarak yang tidak jauh dari mereka.


Seketika Becca menajamkan matanya menatap wajah-wajah para preman-preman itu, di bawah sinar lampu jalanan, Becca bisa melihat dengan jelas wajah-wajah mereka.


"fufu ... Ada cewek cantik nih," salah satu preman yang belum pernah berhadapan dengan Becca dengan beraninya bersiul menggoda Becca.


"Dia dateng lagi, Bro." ucap preman yang pernah di hajar habis-habisan oleh Becca.


"Jangan coba-coba kabur lo berempat," ancam Becca ketika empat preman yang pernah Becca hajar hendak melarikan diri.


Lima preman lainnya merasa aneh dengan tingkah keempat teman mereka yang terlihat ketakutan saat berhadapan dengan Becca.


"Satu, dua, tiga, empat dan lima, preman baru udah berani ganggu ketenangan anak-anak sini, cari mati lo semua." sengit Becca dengan nada tenang namun raut wajahnya menujukkan amarah yang amat besar.


"Gue udah bilang tadi jangan ganggu anak-anak jalanan sini atau penyelamat mereka bakal dateng ngehajar kita semua tapi lo pada malah enggak mau dengerin gue," oceh salah satu preman yang pernah merasakan sakitnya di pukul oleh Becca.


"Cewek doang masa enggak berani sih lo, kita hajar bareng-bareng, sekalian kita jadiin pemuas kita malem ini.' ucap salah satu preman baru.


"Kakak," pekik 12 anak-anak jalanan berlari ketakutan menghampiri Becca.


Tatapan Becca berubah melembut lalu Becca menjatuhkan baseball bat-nya di tanah dan berlutut.


"Anak-anak kalian enggak di apa-apain 'kan sama preman-preman itu?" tanya Becca merentangkan kedua tangannya hingga ke-12 anak-anak jalanan itu memeluk tubuh Becca.


"Atau Kakak akan kasih hukuman buat preman-preman itu karena udah ganggu kalian," ucap Becca mengusap lembut kepala dan punggung anak-anak jalanan itu.


Degg ....


Yang sedang bersembunyi di balik tong sampah made in Jerman tiba-tiba merasa tersentuh karena di benaknya saat melihat penampilan anak-anak jalanan itu adalah 'kumuh/kotor' lalu 'pakaian mereka compang-camping' bahkan mungkin anak-anak jalanan itu tidak pernah mandi, tapi respon Becca begitu hangat menerima pelukan anak-anak jalanan itu tanpa rasa jijik sedikitpun.


"Rumah Bayu sama yang lainnya di rusak sama mereka," ucap anak tertua di antara mereka.


Becca menatap rancangan-rancangan kardus yang telah di hancurkan oleh para preman-preman itu.


"Kalian diem di belakang kakak ya, inget untuk tutup mata kalian." titah Becca yang langsung di turuti oleh mereka semua.


Becca mengangkat baseball bat-nya, "Satu lawan sembilan," tantang Becca tanpa rasa takut.


"Apa dia bilang? Satu lawan sembilan, gila kali ya ni bocah," desis Kevin terkejut.


"Cewek mah kecil, satu lawan satu aja udah tepar apalagi lawan kita sembilan," ejek salah satu preman yang kepalanya botak, kita sebut saja si botak.


"Gue yang bakal lawan lo," ucapnya dengan percaya diri maju mendekati Becca.


Becca ikut berjalan santai mendekati si botak hingga si botak berlari dan hendak menyerang menggunakan kepalan tangannya, Becca langsung menundukkan kepalanya lalu memutar tubuhnya dan memukul kuat kepala si botak dengan menggunakan baseball bat-nya hingga si botak jatuh ke tanah dan berteriak sangat-sangat menyakitkan.


"Ughh, semoga lupa ingatan ya botak," ucap Becca menginjak bagian bawahannya si botak hingga si botak kembali berteriak kesakitan, Becca semakin menghujam kuat injakan kakinya.


"Anji*g ni cewek," pekik preman berbaju pink, kita panggil saja Pinkie Pie karena bahkan rambutnya juga berwarna pink.


Brukk! Becca menendang kuat bagian bawah si botak hingga si botak tergeser ke depan dan tentunya si botak tidak punya kekuatan untuk bangkit lagi.


"Benc*ng lo cowok," maki Becca membalikkan badannya menghadap para preman itu.


Si Pinkie Pie maju mendekati Becca lalu di susul oleh dua temannya juga, mereka bertiga mengelilingi Becca di depan, di samping kiri dan di samping kanan membuat mata Becca bergerak mewaspadai pergerakan mereka satu-persatu.


"Malam ini lo bakal nangis darah karena di masukin batang ...." Pinkie Pie tidak menyelesikan ucapannya karena Becca sudah menendang wajah Pinkie Pie dengan kasar.


Dua teman Pinkie Pie hendak mendekap Becca namun Becca lebih dulu mundur beberapa langkah hingga kepala kedua orang itu saling terbentur, Becca langsung menegur mereka.


"Ciuman sekalian biar puas," ucap Becca membuat kedua orang itu menatap ke arah Becca.


Bukk! Becca langsung memukul wajah kedua orang itu dengan menggunakan baseball bat-nya hingga keduanya jatuh ke tanah dengan hidung yang mengeluarkan darah segar.


"Akh! Sial idung gue," pekik mereka kesakitan.


"Maju semua lo pada," pekik Becca malas menghadapi mereka dengan satu-satu.


Keempat preman yang pernah di hajar oleh Becca merasa ragu untuk maju namun untungnya Becca langsung menunjuk mereka bertempat dengan menggunakan baseball bat-nya.


"Berani kabur, gue cari sampai ke ujung dunia," ancam Becca tidak main-main dengan perkataannya.

__ADS_1


Ekspresi wajah Kevin di buat kagum, terkejut, ngeri sekaligus ngilu akibat melihat tindakan Becca yang sangat menyeramkan itu.


"Sstttt, kalo gue jadi suami tu bocah bisa-bisa kehidupan rumah tangga gue bukan di jalani dengan suka duka bersama tapi malah guenya yang di penuhi duka karena di hajar mulu sama tu bocah." entah kenapa tiba-tiba Kevin bisa membayangkan hidupnya akan menderita jika menikah dengan Becca.


Cie Kevin mulai bayangin masa depan dia sama Becca ....


"Tenang, gue bakal kasih kesempatan kok buat kalian bisa ngelus pipi cubby gue." ucap Becca dengan candanya agar para preman-preman itu tidak terlalu takut dengan dirinya.


Namun bukannya merasa sedikit tanang, keempat preman itu malah saling beradu pandang.


...Flashback on...


Tujuh bulan yang lalu Becca menghajar 15 sekelompok berandalan yang mengaku penguasanya atau rajanya jalanan.


Bos dari ke-14 berandalan itu turun tangan melawan Becca saat para anak buahnya berhasil Becca hajar habis-habisan, walau tubuh Becca sudah banyak terluka dan tenaganya mulai melemah namun itu tidak membuat Becca pantang menyerah melawan bos berandalan itu.


"Aku akui kekuatanmu sepadan dengan kekuatan lelaki, mari kita nikmati pertarungan ini, Cantik." ucap bos berandalan itu dengan percaya diri.


Karena tenaga Becca yang sudah banyak terkuras habis, sulit bagi dirinya untuk bisa mengalahkan bos berandalan itu hingga bermenit-menit lamanya bos berandalan itu hendak menampar pipi Becca, dengan cepat Becca mencengkram kuat tangan itu.


Becca tertawa, tertawa yang sangat menyeramkan hingga ke-14 anggota berandalan itu merinding di buatnya.


Becca mengangkat tangan bos berandalan itu hingga tatapan tajam Becca dan bos berandalan itu hanya berjarak beberapa senti, Becca tersenyum devil saat melihat wajah bos berandalan itu memerah karena berusaha untuk menarik tangannya dari genggaman Becca.


Krekk ....


Becca mendorong kuat tangan bos berandalan itu hingga ke belakang, suara tulang yang patah terdengar samar di telinga para anak buah berandalan itu membuat wajah-wajah ketakutan mereka terlihat lucu di mata Becca.


Lalu Becca memukul wajah bos berandalan itu sampai puas kemudian di akhir perkelahian Becca membenturkan kepalanya ke kening bos brandalan itu hingga bos berandalan itu jatuh tak berdaya.


Brukk ....


Bos besar dari ke-14 anggota berandalan itu pingsan dengan keadaan tangan yang patah tulang dan wajah yang babak belur.


...Flashback off...


Mengingat kilas balik saat di masa lalu, keempat preman itu menjadi merinding, rasanya suara retakkan tulang itu kembali terngiang-ngiang di telinga mereka bereempat.


"Dodi, gue enggak berani ngelawan tu cewek," ucap salah satu preman berambut punk ketakutan.


"Apa sih yang buat lo berempat takut, kita lawan dia barengan pasti kita bisa menang," pekik pria yang di panggil Dodi.


"Lo enggak tau dulu bos besar kita ...."


"Pernah berhasil cium bibir gue," potong Becca bermaksud memprovokasi nafsu Dodi, Pinkie Pie dan dua teman mereka lainnya.


"Yeah, walau akhirnya gue bakal marah tapi seenggaknya dia pernah berhasil nyicipin bibir gue yang manis ini." ucap Becca dengan senyum menggoda.


Gila, Becca berbicara tanpa memperdulikan sekitar, untung saja para anak-anak jalanan itu berkumpul di tempat yang agak jauh dari pertarungan mereka.


Dodi menjilat bibir bawahnya, "Sekarang giliran gue yang nyicipin bibir lo," ucap Dodi terprovokasi dengan kata-kata Becca.


Tanpa Becca ketahui, kata-katanya barusan berhasil membuat Kevin memelotot kaget dan menelan salivanya dengan kasar.


Cium bibir ....


Fikiran Kevin berkelana entah ke mana karena mendengar anak berusia 16 tahun sudah pernah merasakan berciuman, walau yang di katakan Becca adalah sebuah kesalahan dari bos para preman-preman itu namun tetap saja usia di bawah umur Becca tidaklah pantas melakukan hal-hal semacam itu.


Lah Kevin saja yang sudah masuk usia 21 tahun tidak pernah merasakan bagaimana itu kiss on the lips.


"Maju sekarang," pekik Dodi membuat keempat preman itu ragu namun melihat tatapan Becca yang menatap mereka dengan jari telunjuk Becca yang bergerak menyuruh mereka untuk maju.


Dengan terpaksa keempat preman itu berlari maju untuk melawan Becca.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...


Asal ada vote dan hadiah, thor pasti rajin up kok. Like dan komen jangan lupa juga.


Selamat membaca semua....

__ADS_1


__ADS_2