Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 246 (Takdir)


__ADS_3

"Baju tipis yang menampilkan setengah buah dada dengan rok mini menampilkan paha besarmu, apa kau tidak merasa bahwa dirimu yang sekarang terlihat seperti wanita penggoda." ucap Karamel dengan tatapan membunuh.


"Tutup mulutmu ...."


"Kau yang seharusnya tutup mulut!" pekik Karamel menunjuk wajah Zoeya dengan marah membuat Zoeya kaget, dirinya tidak percaya Karamel berani membentak dirinya.


"Apa-apa ini, dia berani membentakku?" batin Zoeya dengan napas tercekat.


"Sejak awal aku dekat dengan Justin, kau muncul dengan rasa cemburumu memberiku banyak sekali pelajaran karena kau ingin memiliki Justin lalu aku dekat dengan Henry Del Nixon, kau muncul dengan ambisimu untuk bisa mendapatkan Henry tapi setelah aku berpisah dengan Henry, kau tertarik dengan adiknya Fico." ucap Karamel membuat Zoeya memelotot sempurna, dirinya tidak tahu tentang kedekatan Karamel dan Henry karena yang dirinya ketahui hanyalah tentang Jessy adalah kekasihnya Henry.


"Kara dekat dengan Pak Henry? Kapan? Bisa-bisanya aku tidak mengetahui itu," batin Zoeya.


"Dan sekarang aku bertemu denganmu lagi dengan kasus yang sama, kau muncul untuk mengambil susuatu yang sudah menjadi milikku." sengit Karamel membuat Zoeya menaikkan alisnya aneh.


"Apa yang kau bicarakan aku mengambil sesuatu darimu, heh! Lucu sekali!" ucap Zoeya melipat kedua tangannya di perut.


"Katakan apa yang aku ambil dari wanita murahan dan kampungan sepertimu," ucap Zoeya menantang Karamel.


"Suamiku, kau berniat untuk mendekatinya bukan?" bentak Karamel membuat Zoya semakin membulatkan matanya.


"Astaga! Rendras bisa kamu usir saja jala*gmu ini, aku muak melihat wajahnya." ucap Zoeya pada Leo membuat Jeffry memelotot kaget.


"Wanita ini sedang cari mati," batin Jeffry.


"Jaga kata-katamu, Zoeya! Karamel adalah istriku," sengit Leo berusaha menahan amarahnya membuat Zoeya menaikkan sebelah alisnya tak percaya Leo membela Karamel.


"Apa itu karena anak yang ada di dalam perutnya?" tanya Zoeya tidak ada yang mengerti maksudnya apa.


"Kamu percaya itu anakmu?" tanya Zoeya seraya menunjuk perut Karamel.


"Apa maksudmu? Ini adalah anaknya Mas Leo, jaga bicaramu, jangan sampai aku mendengar kau mengata-ngatai anakku, Zoeya." sengit Karamel merasa sensitif dengan kata-kata Zoeya.


"Kenapa? bukankah demi uang kau rela naik ke aras ranjang sembarang pria, aku yakin kau pasti mengancam Rendras untuk menikahimu dengan alasan bahwa di dalam perut itu adalah anaknya Rendras padahal di dalam perutmu itu adalah anak haram yang tidak di ketahui asal-usulnya dari mana." ejek Zoeya semakin jadi menghina Karamel membuat Karamel mengeraskan rahangnya marah begitu juga dengan Leo.


"Mengaku saja Kara, Rendras pasti akan membayarmu jika kau berkata jujur bahkan jika nominalnya kurang memuaskanmu, aku akan ikut serta membayar berapapun yang kau mau. Asalkan dengan satu syarat, menjauhlah dari kehidupan Rendras." ucap Zoeya semakin menjadi-jadi.


"Cukup!" pekik Leo murka.


"Mas ...."


"Sudah cukup, sekarang giliran aku yang bicara." kata Leo menatap dan menyela ucapan Karamel yang merasa hal besar akan terjadi jika suaminya sudah murka.


"Kau mengatakan istriku adalah wanita jala*g dan juga anakku adalah anak haram. Apa itu artinya kau sedang menghinaku karena aku mudah ditipu oleh wanita jala*g!?" sengit Leo.


"Tidak Rendras, bukan itu maksudku ...."


"Lalu apa? Kau terang-terangan memberitahu betapa bod*hnya aku bisa menikah dengan wanita yang kau benci, bukankah itu sudah jelas kau sedang menghinaku." sela Leo membuat Zoeya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bukan kamu yang bod*h tapi wanita murahan itu yang terlalu licik karena berani menjebakmu, percayalah padaku wanita miskin itu hanya ingin mengincar hartamu saja dan anak yang ia kandung itu, aku yakin itu adalah anak haram Rendras." ucap Zoeya sembari menunjuk-nunjuk Karamel.


Karamel menggenggam erat tangan Leo, rasanya tuduhan dan hinaan Zoeya sejak dirinya masih sekolah menengah pertama dulu sangat membekas di hatinya, Karamel tidak ingin menyakiti Zoeya karena Karamel tahu kehidupan Zoeya jauh lebih menyedihkan.


"Zoeya, apakah aku harus lebih bisa bersabar lagi menghadapi dirimu yang tidak pernah mau berhenti menghina orang lain termasuk diriku." batin Karamel.


"Cukup Zoeya, kau boleh menghinaku sepuas hatimu tapi aku mohon berhentilah menyebut anakku sebagai anak haram karena anak ini tumbuh setelah aku menikah dengan Leo dan hanya Leo yang menyentuhku." ucap Karamel masih bisa menahan kesabarannya untuk tidak menyakiti Zoeya.


"Apa kau bilang? Anak itu tumbuh setelah kalian menikah?" beo Zoeya mengerutkan dahinya.


"Iya," sahut Karamel.


"Tidak mungkin! Rendras adalah CEO Binondra Group yang sangat berkuas, pernikahan dia tidak mungkin tidak di ketahui semua orang tapi kau tiba-tiba mengatakan anak itu tumbuh setelah kalian menikah? Jangan kira aku bod*h Kara, coba katakan padaku di negara mana kalian menikah? Semegah apa pernikahan kalian? Apakah media meliputnya? Tidak ada bukan, semua itu tidak ada." celoteh Zoeya mengejek Karamel.


"Bahkan jika benar kau adalah istrinya Rendras, kau hanyalah istri pajangan yang tidak ia anggap karena Rendras tidak akan sudi mempublikasikan dirimu sebagai istrinya apalagi anak garam yang ada di perutmu itu bukanlah benih Rendras." ejek Zoeya membuat Karamel merintihkan air matanya, begitu sakit rasanya saat buah hatinya di sebut sebagai anak haram.


"Kau ...."


"Bawa dia pergi dari sini, Jeff." pinta Karamel sembari menghalangi Leo agar tidak bicara apapun lagi.


"Apa hakmu mengusirku dari sini," pekik Zoeya.


"Istriku punya hak mengusir dirimu dari kantorku bahkan dia punya hak lebih untuk memerintahkan aku memberimu pelajaran karena berani menghina anak kami." pekik Leo memelototi Zoeya.


"Rendras ...."


"Aku katakan padamu, Karamel bukanlah wanita miskin seperti yang sering kau katakan dari mulut kotormu itu ...."


"Mas, sudah cukup!" Karamel tidak mau suaminya menjelaskan apa-apa pada Zoeya.


"Aku enggak bisa biarin dia terus-terusan ngehina kamu, Kara." sahut Leo namun Karamel menggelengkan kepalanya memohon agar Leo tetap bungkam dan jangan perdulikan Zoeya.


"Kekayaan istriku jauh lebih besar dari kekayaan keluargamu bahkan sekarang dirinya sangat di kenal oleh seluruh dunia, bukan hanya di kenal sebagai putri tunggal dari keluarga besar tiga marga tapi dirinya juga sangat di kenal sebagai istri Cleo Rendra Agata." ucap Leo menatap tajam ke arah Zoeya.


Leo tidak bisa menuruti kemauan istrinya karena yang ingin Leo lakukan sekarang adalah membungkam mulut Zoeya yang selalu mengatai istrinya sebagai wanita miskin, padahal kenyataannya Karamel adalah anak orang kaya yang suka dengan hidup seadanya atau sederhana.


"Putri tunggal dari tiga marga?" beo Zoeya.


"Di balik kesederhanaan seorang Karamel Listra, ada banyak kekayaan yang ia miliki tapi itu tidak pernah ia sombongkan pada orang lain, baginya harta hanyalah aset yang titipkan Tuhan untuk ia dan keluarganya gunakan dengan sebaik-baiknya, bukan malah untuk di pamerkan ataupun di gunakan dengan sembarangan seperti dirimu." ucap Leo dan Zoeya hanya bisa diam, tak tahu harus menjawab apa.


"Apa kau sadar itu?" tanya Leo.


"Kau, Zoeya An Blende tidaklah sebanding dengan istriku, sejak kecil istriku hidup dengan keluarga kandungnya sedangkan hidupmu dan ibumu harus menderita terlebih dahulu oleh ayah kandungmu sampai pada akhirnya ayah kandungmu mendekam di penjara, ibumu berhasil menikah lagi dengan Tuan Josh Blende sehingga kau dan ibumu bisa hidup mewah." ucap Leo mengungkapkan informasi tentang Zoeya yang ia dan Jeffry dapat.


"Istriku di ajarkan sopan santun yang baik hingga dewasa pun dirinya menjadi wanita yang pandai menjaga etikanya sedangkan kau, aku tidak tahu bagaimana ibumu mendidikmu hingga kau menjadi wanita yang berhati busuk seperti sekarang. Belajarlah untuk bersyukur dengan apa yang kau miliki sekarang Zoeya, tanpa izin Tuhan, kau dan ibumu tidak akan mungkin merasakan hidup mewah seperti sekarang." sengit Leo menasihati Zoeya.


"Sikap sombongmu tidak ada artinya di mata orang lain, malahan kau akan di pandang buruk di mata mereka karena kau hanya pandai pamer harta yang jelas-jelas itu bukan harta milikmu tapi melainkan milik Tuan Blende. Ah! Maksudku akan menjadi milik anak kandung Tuan Blende." sengit Leo tak tanggung-tanggung mengejek Zoeya sampai wajah Zoeya memerah padam karena menahan rasa marah dan malu.


"Tuan Blende bahkan menawarkanmu untuk ku nikahi demi bisa mendapatkan keuntungan lebih besar, apa kau kira itu bentuk kasih sayangnya kepadamu? Tidak, dia hanya menjadikanmu sebagai alat untuk bisa menggapai keinginannya saja." ejekkan Leo kali ini di sertai dengan senyuman sinis.


"Sudah cukup! Sekarang bawa dia pergi, Jeffry." pinta Karamel sudah cukup baginya membiarkan suaminya berbicara banyak.


"Aku pastikan daddyku akan tahu so'al hinaanmu hari ini Rendras, dia akan menuntutmu karena berani mempermalukan anaknya." pekik Zoeya memberontak saat Jeffry menariknya menuju pintu.


"Kamu terlalu banyak bicara, Mas." ucap Karamel cuek melangkahkan kakinya menuju sofa.


"Dia udah keterlaluan ngehina kamu sama anak kita, Sayang," sahut Leo seraya duduk di samping Karamel.


"Aku tahu tapi ... ya udah lah forget it!" ucap Karamel lelah harus berdebat dengan suaminya.


"Hah! Kayaknya aku harus ngehubungin Keisha biar dia bisa secepatnya balik ke Indonesia," gumam Leo membuat Karamel menatap tanda tanya ke arah Leo.


Leo melirik istrinya, "Anak kandung Tuan Blende," ucap Leo langsung memberi jawaban.


"Kamu kenal sama anaknya Tuan Blende?" tanya Karamel refleks.


"Beberapa waktu lalu aku baru tahu kalo anak Tuan Blende itu ternyata temen main aku dulu waktu SD." sahut Leo jujur.


"Cewek?" tanya Karamel membuat Leo menatap lekat wajah sang istri.


"Mungkin," sahut Leo tidak memberitahu jelas jenis kelamin Keisha itu wanita atau seorang pria.


"Oh," ucap Karamel pura-pura tidak perduli padahal dirinya sangay penasaran.


..........


...Malaysia...


Lima hari telah berlalu, kini Alleta sudah mulai terbiasa dengan keluarga Faza yang cukup menyenangkan baginya namun anehnya selama beberapa hari ini, bukan bundanya Faza yang dekat dengan Alleta tapi malah ayahnya Faza yang sangat dekat dengan Alleta.


Pada awalnya ayahnya Faza hanya sesekali mengobrol dengan Alleta dan Alleta hanya menanggapinya dengan rasa canggung namun lama-kelamaan Alleta merasa nyaman dengan ayahnya Faza yang memberikan begitu banyak pengalaman hidup hingga sampai detik ini kedekatan mereka berdua sudah seperti seorang anak dan ayah kandung.


"Alleta!?" panggil Glenn ketika baru saja turun tangga.


"Eh! Selamat pagi Paman," sapa Alleta sembari meletakkan mangkok yang berisi sup ayam ke atas meja makan.


"Selamat pagi, apa kamu yang menyiapkan semua ini?" tanya Glenn menggeser kursi untuk ia duduki.


"Tentu saja Bibi Santi yang memasaknya, Leta hanya membantu sedikit." sahut Alleta.


"Tapi yang buat bubur sumsum ini Leta loh Mas," ucap Santi sembari membawa nampan berisi beberapa mangkok bubur sumsum buatan Alleta.


"Biar Leta bantu," ucap Alleta menyambut nampan itu dari tangan Santi lalu ia sajikan ke atas meja.


"Di mana Faza?" tanya Santi menatap suaminya.


"Mungkin masih di kamar," sahut Glenn mengambil mangkok yang di berikan Alleta untuknya.


"Biar Bunda lihat," ucap Santi berjalan menaiki tangga menuju kamar sang anak.


"Em! Sudah lama sekali Paman tidak memakan bubur sumsum ini mungkin terakhir kali saat remaja dulu, tapi hari ini kamu membuat Paman bisa merasakan lagi makanan yang lembut dan manis ini." ucap Glenn berbicara dengan sangat akrab dengan Alleta.


"Benarkah?" tanya Alleta tidak percaya.


"Percayalah Paman dulu tidak lebih baik dari Faza, bisa di katakan Paman termasuk anak yang nakal dan bandel, tiada hari tanpa keluar rumah dan berkumpul bersama teman-teman. Tepatnya di sore hari, kami akan jalan-jalan menggunakan motor sembari mencari makanan atau minuman yang segar dan salah satu makanan favorit kami adalah bubur sumsum ini," ucap Glenn dengan panjang lebar.


"Jadi selepas masa remaja dan Paman menikah dengan Bibi Santi, Paman tidak pernah lagi mencicipi makanan ini." tambah Alleta yang langsung di angguki oleh Glenn.


"Jika Paman masih mau mencicipi bubur sumsum lagi, Leta siap membuatkannya untuk Paman tapi tidak untuk setiap hari ya Paman hihi." ucap Leta dengan cengir kudanya.

__ADS_1


"Itu akan sangat merepotkanmu," ucap Glenn.


"Ini mudah membuatnya, tidak sampai merepotkan kok, Paman. Malahan Leta senang makanan yang Leta buat bisa disukai dan dinikmati oleh orang lain." ucap Alleta entah kenapa tatapan matanya berubah menjadi kosong.


"Ada yang beda nih dari sarapan pagi ini," ucap Faza entah sejak kapan turun dari tangga bahkan kini sudah menarik kursi di depan Alleta.


"Silahkan dinikmati, Yang Mulia Bramasta." ucap Alleta ketus lalu meletakkan mangkok bubur sumsum di depan Faza.


"Dasar perempuan, semalam kamu bilang kukuh tidak mau menerima tantanganku tapi pagi ini kamu malah berubah fikiran." cibir Faza membuat Glenn dan Santi saling melempar pandangan.


"Tantangan apa?" tanya Santi ingin tahu apa yang di maksud anaknya itu.


"TOD Bun." sahut Faza membuat Alleta menekuk wajahnnya.


"Ada apa? Apa semalam Faza melakukan hal yang tidak-tidak kepada kamu? Katakan pada Paman, Paman pasti akan menghukum Faza jika dia macam-macam denganmu." tanya Glenn pada Alleta kala dirinya melihat raut wajah kesal Alleta.


"Astaga! Enggak ada Yah, kita cuma main truth or dare doang, Faza mana berani macem-macem sama anak orang," ucap Faza cepat. Faza heran dengan ayahnya sendiri, semenjak kehadiran Alleta, ayahnya itu selalu saja memperlakukan Alleta bagaikan anak kandungnya sendiri. Sedangkan dirinya yang jelas-jelas adalah anak kandung ayahnya malah di perlakukan seperti orang lain.


"Ayah nanya ke Alleta bukan ke kamu," ucap Glenn membuat Faza memutar bola mata jengah.


"Faza benar Paman, semalam Leta dan Faza hanya bermain truth or dare sampai Leta kalah beberapa kali, Faza memberi Leta tantangan untuk membuat sarapan pagi ini dan juga merubah penampilan Leta agar terlihat feminim sedikit." ucap Alleta dengan lirih.


"Dan satu lagi tantangan yang kami perdebatan semalam, aku harus keluar dari anggota gengstar Free Kill. Ah! Membuatku ingin sekali menghabisi pria satu ini." batin Alleta menatap tajam ke arah Faza.


"Kayaknya ni cewek lagi nagata-ngatain gue nih, kelihatan banget dari tatapan mata dia." batin Faza bisa menebak lewat tatapan Alleta.


Santai tersenyum tipis melihat Faza yang tidak melepas tatapannya dari Alleta, "Sepertinya semalam kalian berdua menghabiskan waktu yang sangat menyenangkan ya," goda Santi membuat Faza refleks batuk.


"Setelah pulang kampus, kamu ajak Alleta keluar untuk membeli beberapa pakaian wanita." ucap Santi.


"Pastinya Bun." sahut Faza menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum miring menatap Alleta.


.........


Menjelang sore Alleta duduk di gazebo halaman samping rumah, memandang lurus ke arah kolam berenang sembari memakan cemilan kacang-kacangan, fikiran Alleta berkelana entah ke mana-mana.


"Sampai kapan aku akan tinggal di sini?" gumam Alleta menghela napas gusar.


"Apakah Daddy dan Kak Vero tidak mencariku, mungkinkah selamanya aku tidak akan bisa di terima oleh mereka?" batin Alleta sesungguhnya selama beberapa hari ini sangat merindukan kakaknya.


Tringgg ....


Handphone Alleta berbunyi dan langsung ia angkat saja.


"Halo, Alleta!" panggil seorang pria.


"Iya, ada perlu apa kau menghubungiku?" tanya Alleta dengan nada suara dingin.


"Alleta, aku ingin memastikan apa benar yang di katakan Moran, kau sudah keluar dari anggota Free Kill?" tanya seorang pria.


"Maafkan aku jika aku mengecewakanmu Tama, sudah cukup bersenang-senangnya, aku harus berhenti sekarang." ucap Alleta sembari mengeraskan rahangnya terpaksa berbohong.


"Jangan lakukan ini Alleta, katakan kau tidak bersungguh-sungguh, aku mohon." pinta Tama tidak terima Alleta keluar dari anggota gangster Free Kill.


"Aku sudah bicara dengan Tuan Donald dan dia juga sudah mengizinkan aku untuk keluar, sekali lagi maaf." ucap Alleta mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


"Kamu bertanggung jawab atas keputusanku ini Bramasta," umpat Alleta membuat Faza senyum-senyum sendiri melihat raut wajah kesal Alleta dari jarak yang lumayan dekat.


"Bagus dong kamu bisa keluar dari lingkungan yang tidak sehat," teriak Faza sembari berjalan mendekati Alleta.


Alleta memutar bola mata jengah, "Apa kamu tahu, keluarnya aku dari gangster Free Kill sama saja seperti aku kehilangan tempat tinggalku." ucap Alleta cuek.


"Semalam kamu sudah mengatakannya Elle dan aku juga sudah memutuskan tempat tinggalmu sekarang ada di sini," sahut Faza duduk di samping Alleta.


"Kalian bukan keluargaku Bramasta," lirih Alleta.


"Maka mulai sekarang jadilah keluargaku," ucap Faza dengan entengnya.


"Whatever!" kesal Alleta menutup pembicaraan mereka.


"Bersiaplah, kita akan keluar untuk memenuhi tantangan ketigaku." ucap Faza dan Alleta langsung patuh.


Di dalam mobil Alleta dan Faza sama sekali tidak membuka suara satu sama lain hingga mereka sampai di sebuah mall besar, mereka berdua langsung bergerak mencari toko pakaian untuk Alleta.


"Apa kamu bercanda, di sini isinya dress semua, Bramasta." bisik Alleta dangan tingkah risih kala membayangkan dirinya memakai dress.


"Jangan membuatku tertawa, apa kamu tidak pernah memakai dress?" tanya Faza mencoba untuk menahan tawa.


"Itu karena aku tidak menyukainya," Alleta mendorong tubuh Faza kala merasa jengkel.


"Baiklah, kita pilih toko ini saja." ucap Faza sudah memutuskan lalu menarik tangan Alleta untuk masuk ke dalam toko yang di penuhi gaun-gaun yang indah.


"Permisi," pekik Faza melambaikan tangannya ke arah pegawai toko dan mengabaikan Alleta.


"Bramasta," Alleta berteriak ketika Faza berjalan meninggalkannya hingga beberapa menit kemudian Faza datang bersama tiga pegawai wanita yang membawa beberapa pakaian dan juga sepatu di tangan mereka masing-masing.


"Di coba semuanya," titah Faza membuat Alleta hendak membantah namun Faza langsung menatap Alleta dengan tatapan tajamnya.


"Oke!" ucap Alleta menerima beberapa pakaian dan juga sepatu dari sang pegawai lalu dirinya masuk ke dalam ruang ganti pakaian.


Tiga menit ....


Lima menit ....


Tujuh menit ....


Alleta keluar dari ruang ganti pakaian dengan maxi dress atau gaun yang tertutup segala bagian tubuh.


Faza menatap penampilan Alleta dari atas sampai bawah, "Ganti," titah Faza dengan santainya kembali memfokuskan diri pada layar handphone.


"Apa?" pekik Alleta berkacak pinggang.


"Aku rasa telingamu masih normal, Elle." ucap Faza tanpa menatap Alleta membuat Alleta geram namun tak urung dirinya kembali masuk ke dalam ruang ganti pakaian.


"Yang ini bagaimana?" tanya Alleta menunjukkan penampilannya yang baru saja ia ganti.


Faza menggelengkan kepalanya, "Tidak cocok, ganti!" ucap Faza dan dengan terpaksa Alleta masuk lagi ke dalam ruang ganti pakaian.


"Bramasta," panggil Alleta dengan malas hingga Faza mendongakkan kepalanya, mata Faza sedikit melebar kala melihat penampilan Alleta yang luar biasa cantiknya namun sedetik kemudian Faza menyipitkan matanya kala bagian atas Alleta terlalu terbuka.


"Sangat jelek, ganti!" ucap Faza sambil memalingkan pandangannya ke samping kala wajah Faza berubah menjadi merah.


"Apa kamu sedang mempermainkanku?" pekik Alleta membuat para pegawai itu tersentak kaget.


"Apa kamu tidak risih dengan pakaian terbuka seperti itu?" Faza balik bertanya membuat Alleta langsung menatap pakaian yang ia kenakan memang terlihat sangat terbuka.


"Errg! Menyebalkan," umpat Alleta menutupi bagian atasnya sembari kembali masuk ke dalam ruang ganti pakaian.


Beberapa kali Alleta keluar masuk ruang ganti pakaian dan tidak ada satupun nilai sempurna di mata Faza hingga Alleta merasa muak di buatnya, Alleta mendekati Faza dengan maksud ingin memukul wajahnya namun siapa sangka kaki Alleta malah menginjak gaunnya sendiri.


"Aaakkk ....!" pekik Alleta membuat Faza mendongakkan kepalanya dan sedetik kemudian Alleta jatuh ke pelukkan Faza.


Brugg ....


Seketika waktu berhenti, mata Faza dan Alleta saling bertemu satu sama lain.


"Kalo d**i lihat dari deket gini ternyata Elle cantik juga ya, natural lagi mukanya." batin Faza menatap wajah Alleta dengan senyuman manisnya.


"Bramasta kelihatan lebih tampan kalo dari dekat," batin Alleta juga menatap wajah Faza.


"Bang Faza?!" suara seorang wanita menyadarkan lamunan Faza dan juga Alleta, seketika keduanya cepat-cepat manjauh satu sama lain.


"Gina," ucap Faza mengerutkan dahinya.


"Dia siapa, Bang?" tanya Gina tidak tahu sejak kapan dirinya kepo akan kehidupan Faza.


Faza menatap ke arah Alleta, "Elle!" batin Faza tampak memikirkan sesuatu.


"Kayaknya cara ini bisa bantu gue buat jauh dari Gina." batin Faza tanpa melepas tatapanya dari Alleta membuat Alleta risih karena di pandang lekat oleh Faza.


"A em! Perkenalkan saya Alleta Chevelle ...."


"Pacarku," sela Faza membuat Alleta membulatkan matanya kaget.


"Apa? Apa dia gila?" batin Alleta mengumpat.


"Apa? Abang punya pacar?" tanya Gina dengan bola mata yang melebar.


"Bukannya Lily cakap, Bang Faza cinta dengan Gina?" batin Gina dengan lirih, mungkinkah dirinya telah menyimpan rasa pada Faza.


"Bukannya sebelum ni Abang cakap tak punya pacar ye," ucap Gina penasaran.


"Yeah! Memang sebelumnya tidak ada yang tahu bahkan Lily dan Dafa juga tidak tahu tapi sekarang kau sudah terlanjur melihat kami bersama jadi untuk apa lagi aku tutup-tutupi hubungan kami." ucap Faza merangkul bahu Alleta dengan maksud ingin membisikkan sesuatu pada Alleta.


"Sekarang giliran kamu yang harus membantuku," bisik Faza sehingga Alleta berfikir apa maksud dari kata-kata Faza.


"Membantunya apa?" batin Alleta.

__ADS_1


"Sejak kapan Abang punya pacar?" tanya Gina menampilkan raut wajah yang berbeda, di mata Alleta sepertinya wanita yang ada di depannya kini sedang merasa sedih.


"Sudah lama, kira-kira dua tahun." ucap Alleta langsung connect lalu memepetkan diri pada Faza.


"Oh! Pacar Bang Faza orang mana?" tanya Gina lagi.


"Spanyol," sahut Alleta kala ayah dan ibunya memang berasal dari sana.


"Kalian pacaran jarak jauh ya?" tanya Gina lagi.


"Yeah begitulah tapi aku sudah tinggal di sini sekarang, jadi kita berdua bisa menghabiskan waktu bersama sepanjang hari, iya 'kan Sa-sayang." ucap Alleta terpaksa memanggil Faza dengan panggilan 'sayang'


Faza terlihat menahan tawa kala Alleta kesulitan memanggil dirinya dengan panggilan 'sayang' sangat lucu di mata Faza.


"Iya Sayang." sahut Faza.


"Em! Pakcik Glenn dan Makcik Santi dah tahu ke belum?" tanya Gina membuat Faza dan Alleta saling melirik satu sama lain.


"Belum," sahut Faza.


"Belum saatnya mereka tahu," tambah Faza.


"Oooh! Kenape ...."


"Gina! Gina!" pekik seorang wanita menghentikan Gina yang hendak bertanya lagi.


"Apa dia seorang polisi? Kenapa dia seperti sedang menginterogasi kita berdua?" tanya Alleta berbisik.


"Iya ya kenapa Gina banyak nanya gini? Jangan-jangan bener lagi kata Lily kalo Gina udah terlanjur suka sama gue." batin Faza merasa bersalah jika benar Gina sudah jatuh cinta kepadanya, walau Faza sendiri merasa sikapnya terhadap Gina biasa-biasa saja tapi tidak tahu dengan tanggapan Gina terhadap dirinya.


"Gina! Kat mana engkau?" pekiknya lagi.


"Iye Kak, tunggu kejap." pekik Gina menyahut.


"Kakak Gina dah panggil, Gina pamit dulu Bang." ucap Gina kemudian pergi meninggalkan Faza dan Alleta.


Brukk ....


Alleta mendorong tubuh Faza hingga jatuh ke atas sofa, "Siapa dia? Kenapa kamu menyuruhku untuk bersandiwara jadi pacarmu di depannya?" tanya Alleta menyilang kedua tangannya di perut.


"Akan aku jelaskan di perjalanan nanti, sekarang bungkus semua pakaian yang kamu coba tadi." titah Faza mengeluarkan golden card kepada Alleta.


"Apa! Semuanya?" pekik Alleta kaget.


"Aku tunggu di luar," ucap Faza tidak mau mengulang perkataannya.


"Saya tidak akan mengambil semuanya tapi saya akan mengambil beberapa saja." ucap Alleta pada pegawainya kemudian Alleta pergi ke kasir.


.........


"Oooh begitu rupanya, setelah kamu memutuskan perasaanmu tidak berubah dengannya, kamu ingin menjauh darinya." ucap Alleta mengangguk-anggukkan kepalanya paham saat Faza selesai bercerita walau isinya hanya setengah-setengah saja.


"Tapi lebih baik kamu jangan menjauh darinya bersikap saja seperti bisanya, toh dia juga tahunya kamu sudah punya pacar 'kan." ucap Alleta.


"Apa kamu tidak merasa sikapnya agak aneh, dia tidak biasanya banyak bertanya seperti tadi, Elle." ucap Faza sedikit meninggikan suaranya.


"Aku bisa melihat dari tatapan matanya, dia memang menyukaimu Bramasta." sahut Alleta.


"Apa yang harus aku lakukan, aku membuat Gina mencintaiku tapi aku tidak bisa membalas cintanya." gumam Faza frustasi.


"Jika dia mengerti bagaimana cara mencintai dengan tulus, dia tidak akan egois jika dia tahu kebenarannya bahwa kamu tidak bisa membalas cintanya." sahut Alleta seperti mendeskripsikan dirinya juga sangat menyayangi kakaknya tapi kakaknya tidak mau membalas kasih sayangnya.


Faza menatap ke arah Alleta yang tersenyum tipis menghadap ke depan.


"Jika dia mengungkapkan perasaannya, kamu katakan saja sejujurnya bahwa kamu tidak bisa membalas mencintainya tapi kamu bisa menjadi sahabat baiknya, maka rasa sakit hatinya akan mudah di sembuhkan karena kamu masih mau menganggapnya sebagai sahabatmu." ucap Alleta lagi.


"Tapi jika dia marah dan ingin kamu menjauh darinya maka jangan memaksanya, biarkan dia merasa tenang sendirian tanpa dirimu sampai saatnya dia memahami letak kesalahan dirinya marah kepdamu itu di mana? Dia akan datang dan meminta maaf kepadamu." tatapan Alleta masih tertuju pada jalanan depan.


"Bagaimana jika dia tidak bisa menerima kenyataan?" tanya Faza tidak menutup kemungkinan Gina yang baik bisa berubah menjadi jahat.


"Mudah saja, orang yang benar-benar baik dari hati akan ikhlas jika apa yang ia inginkan tidak bisa ia miliki tapi orang yang lebih besar sikap jahatnya di bandingkan baiknya pasti akan melakukan ambisi agar apa yang ia inginkan harus menjadi miliknya." ucap Alleta kemudian.


"Kamu tahu terkadang orang yang memiliki ambisi itu bisa egois, menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya." kini Alleta menatap ke arah Faza.


"Ehem! Pengalaman ya," ucap Faza menaik turunkan alisnya bermaksud menggoda Alleta.


"Pernah berada di posisinya Gina," sahut Alleta tersenyum tipis membuat Faza mengerutkan dahinya penasaran.


"Berarti dia pernah suka sama cowok lain dong? Sial, kenapa gue jadi penasaran gini?" batin Faza heran sendiri.


"Kalau kamu pernah berada di posisinya Gina, kamu mengambil keputusan seperti apa?" tanya Faza ingin tahu jawaban Alleta.


"Pertama, mencoba untuk mengejar terus sampai ketitik di mana aku menemukan jawabannya lalu setelah aku tahu aku tidak akan bisa menggapainya maka aku memilih pilihan kedua, yaitu ikhlas dan mengikuti arus kehidupan yang sudah di takdirkan oleh Sang Maha Pencipta untukku." ucap Alleta dengan membayangkan bagaimana dirinya tidak bisa mendapatkan perhatian kakaknya hingga sekarang.


"Apa itu artinya dia masih berharap sama cowok itu?" batin Faza tiba-tiba mengepal tangannya.


"Apa kamu tidak sakit hati atau dendam?" tanya Faza cuek.


"Ck! Memiliki sifat pendendam itu tidak akan merugikan orang lain, malahan akan merugikan diri sendiri." ucap Alleta ikut cuek.


"Huftt! " Faza hanya bisa menghela napas panjang.


.........


...Indonesia (21:30 WIB)...


...Malam Minggu....


Malam hari telah tiba, hujan deras sudah berlangsung sejak tiga jam yang lalu membuat suasana malam ini menjadi sangat dingin.


Sejak tadi juga Leo duduk sembari memeluk sang istri, menonton film romantis thailand yang sangat di segani oleh istrinya itu.


"Aaaa! Romantis banget sih cowoknya, ganteng lagi. Ih pengen cium deh jadinya ... muah!" pekik Karamel melihat aktor thailand yang sedang beradegan romantis dengan lawan pemainnya.


Leo memelotot kaget ketika istrinya berani memberikan sun jauh kepada pria lain, "Enggak ada bedanya sama aku," ucap Leo dengan pedenya hingga Karamel tertawa kecil di buatnya.


"Ih beda jauh lah, kamu sama dia mah palingan sama di bulu ketiak doang hehe!" kekeh Karamel tidak membuat Leo marah malahan Leo juga ikut terkekeh kecil.


"Coba deh kamu perhatiin baik-baik, putih iya, mancung iya, tinggi sama dong, manis apa lagi, ganteng juga beuh! Masih gantengan aku lah." ucap Leo narsis abis.


"Ih kepedean banget, anak siapa sih nih?" Karamel berbicara dengan tatapan geli.


"Ganteng kayak gini masa enggak tahu sih, anaknya Papa Prasetya sama Mama Yarra dong." sahut Leo masih di sertai dengan kenarsisannya.


"Gemes deh pengen cubit," gereget Karamel sembari menyubit pipi Leo dengan gemas.


"Aa'a'a! Sakit Sayang, sakit." ringis Leo berpura-pura padahal Karamel tidak mencubitnya dengan kuat.


"Lebay deh, orang nyubitnya enggak sakit kok." ucap Karamel membuat Leo terkekeh.


"Biar dapet perhatian kamu dong," jujur Leo.


"Dasar Bayi Singa!" umpat Karamel.


"Udah hampir jam sepuluh, kita tidur sekarang yuk." ajak Leo agar istrinya itu berhenti menatap pria lain, membuat dirinya cemburu saja.


"Hem!" sahut Karamel patuh lalu Leo mematikan televisinya.


"Malam ini kamu enggak ngidam yang aneh-aneh lagi 'kan?" tanya Leo dengan sangat hati-hati.


Karamel tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, "Kayaknya dia tahu Papanya lagi cape, makanya dia enggak mau ngerepotin Papanya buat nyari apa yang dia mau." ucap Karamel mengelus perutnya.


"Jagoan Papa, baik-baik di dalam ya Nak, jangan buat Mama kamu kecapean, Papa sayang sama kalian berdua, muah." ucap Leo mencium kilas perut Karamel.


"Ya udah kita tidur sekarang yuk," ajak Leo kemudian Karamel beranjak dari sofa lalu mereka berdua berjalan menuju kamar mereka untuk istirahat.


.........


...06 : 00....


Selesai sudah membuatkan sarapan untuk sang suami, Karamel melangkahkan kakinya untuk menghampiri suaminya yang masih setia memejamkan matanya di balik balutan selimut yang tebal.


Namun baru saja melewati dua tangga, bel rumah berbunyi beberapa kali menandakan ada tamu yang datang.


"Pagi-pagi buta gini udah bertamu, siapa ya?" gumam Karamel kembali turun tangga dan berjalan menuju pintu utama.


"Tunggu sebentar," pekik Karamel kala bel rumahnya terus saja di pencet. Setelah membuka kunci, kini Karamel membuka pintunya dengan pelan.


"Ow, syukurlah aku tidak salah alamat." ucapnya tiba-tiba mengejutkan Karamel.


.


.


.


::: Bersambung :::

__ADS_1


Mau thor up cepat dan banyak? Buruan vote dan kasih hadiah, auto thor rajin up.


__ADS_2