
"Tapi kau tetap bersalah karena mau saja di bod*hi oleh Rega Ananda, kau mencampakkan Prasetya dan berpaling ke Rega Ananda hingga Rega Ananda mencurangi perusahaanku, pada akhirnya kau juga yang mendapatkan akibatnya karena di khianati olehnya." ucap Ram pedas membuat Kenzi, Karamel, Leo dan Faza membelalakkan mata kaget karena ayahnya Tessa menyebut nama Rega Ananda.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu, Ram." ucap Sanjaya membuat Kenzi dan Karamel membelalakkan mata kaget.
Jadi akar permasalahannya ada di Papa — Batin Kenzi marasa malu karena dulu pernah berfikir bahwa ayahnya Tessa adalah orang jahat.
"Daddy ...." panggil Tessa lirih membuat Ram menghela napas besar dan panjang.
Ram sangat ingin memarahi sahabat lamanya ini habis-habisan, tapi putri tercintanya pasti tidak akan mengizinkan dirinya untuk melukai calon ayah mertuanya itu.
"Baiklah, karena aku sudah tau kebenarannya maka aku tidak akan menganggapmu sebagai musuhku lagi bahkan aku juga akan merestui hubungan putriku dengan putramu," ucap Ram seketika hati Kenzi di penuhi bunga mawar, sungguh bahagianya Kenzi saat ini.
"Kau memang berhati baik, terima kasih Ram, akupun tidak akan menolak putrimu untuk menjadi menantuku," ucap Sanjaya tersenyum simpul.
"Aku merestui mereka, asal dengan syarat ...." Ram menggantung perkataannya yang membuat jantung Kenzi was-was.
"Mereka akan menjalin hubungan sebagai tunangan hingga mereka lulus kuliah, mereka harus menikah di kediaman utamaku di Polandia." ucap Ram mantap.
"Bagaimana bisa kau yang menentukan pilihan di mana mereka akan menikah," sahut Sanjaya seakan-akan tidak terima putra kebanggaannya menikah di negara orang lain.
"Lalu maksudmu bagaimana? Mereka menikah di kediamanmu, begitu?" tanya Ram rasanya juga tidak terima jika putri kesayangannya menikah di negara orang lain.
"Kenzi adalah putra tunggalku jadi aku ingin acara pernikahannya di gelar dengan sangat meriah di Amerika." tegas Sanjaya merasa dirinya di rendahkan jika putranya harus menikah di kediaman sahabatnya.
Ketiaka Ram akan membantah dan Kenzi hendak angkat bicara, Tessa sudah lebih dulu membuka suara.
"Pantaskah kedua pembisnis besar seperti kalian berdebat hal kecil di depan banyak orang?" tanya Tessa mengingatkan keduanya bahwa situasi mereka sedang ditonton oleh para tamu undangan.
"Kalian sudah memperdebatkan soal pernikahan putra dan putri kalian yang seakan-akan aku sudah menerima lamaran Kenzi saja," ucap Tessa bagaikan petir yang menusuk jantung Kenzi.
"A-apa maksud kamu, kamu menolak lamaran aku?" tanya Kenzi terbata-bata, rasanya Kenzi ingin melompat saja dari kapal jika Tessa menjawab 'Iya'
"Aku sedikit merasa iri," ucap Karamel tiba-tiba membuat Leo melirik ke arahnya.
"Ada apa! Hem?" tanya Leo menarik dagu Karamel dengan jari telunjuknya agar kepala Karamel mendongak menatap dirinya.
Karamel menggenggam tangan Leo, "Denger Daddynya Kak Tessa yang mau nikahin Kak Kenzi dan Kak Tessa di Polandia, Papa langsung nolak dan mau nikahin mereka di Amerika." sahut Karamel namun Leo tidak memahami di bagian mana istrinya itu di buat iri.
"Terus masalahnya di mana?" tanya Leo dan Karamel menghela napas berat.
"Kak Kenzi beruntung karena jadi putra kebanggaan Papa," ucap Karamel merasa dirinya tidak begitu spesial di hati papanya.
Mendengar itu, Leo tersenyum tipis lalu Leo menarik tubuh istrinya agar bisa ia peluk dari belakang,
"Jadi kamu iri karena Papa gak nolak ataupun bantah tempat kita nikah dulu, sedangkan pernikahan kakak kamu Kenzi dapetin perhatian lebih dari Papa?" tanya Leo berbisik dan Karamel mengangguk sedih.
"Bahkan Papa tau kamu adalah anak dari sahabat lama Papa yang Papa tinggalin, Papa juga pasrah aja nikahin aku sama kamu. Itu juga di negara asing." sahut Karamel memanyunkan bibirnya.
"Jadi seharusnya Papa nolak buat nikahin kamu sama aku gitu?" tanya Leo kesal.
"Ih bukan gitu! Maksud aku kenapa Papa diem aja waktu aku nikah sama kamu di Kanada dan di kediaman Del Nixon, kenapa enggak basa-basi ngomong 'Gimana kalo pernikahan kalian di tunda, terus nanti kalian nikah di kediaman Sinaja aja?' Atau 'Gimana kalo pernikahan kalian di buat semeriah mungkin' ah! Papa enggak mungkin ngomong gitu, bahkan setelah acara pernikahan kita selesai, Papa langsung pamit pergi ke apartemen Grandpa." oceh Karamel sedih namun terdengar lucu di telinga Leo.
"Inget situasi kita pada waktu itu, aku enggak mau bahas lagi tapi kamu juga harus ngerti, kalo bukan karena untuk ngehancurin Henry, kita pasti enggak akan nikah mendadak bukan." Leo berusaha memberi pengertian pada istrinya yang sedang berfikir negatif itu.
"Iya juga sih, tapi 'kan ...."
"Kalo kamu mau aku bakal suruh Jeffry buat persiapin resepsi pernikahan kita di Jakarta, gimana?" tawar Leo membuat Karamel memelotot kaget.
"Enggak, itu bakal buat heboh semua orang," tolak Karamel langsung.
"Di Singapura?" tawar Leo.
"Enggak," tolak Karamel.
"Di Irlandia?" tawar Leo lagi.
"Enggak, Mas." tolak Karamel kukuh.
"Di Amerika pasti mau," ucap Leo tersenyum tipis.
"Parah ih kamu, aku bilang enggak juga," ketus Karamel membuat Leo gemas dan mencium pipi Karamel.
"Terus mau kamu gimana?" tanya Leo.
"Tau ah, nyebelin," cemberut Karamel.
"Jangan mikir kalo Papa enggak perduli sama kamu, percaya sama aku, Papa lebih tau segalanya tentang kamu di banding siapapun karena Papa kamu lebih mengkhawatirkan anak perempuannya dari pada anak laki-lakinya." ucap Leo membuat Karamel berfikir keras apa maksud dari perkataan suaminya itu.
__ADS_1
"Maksud kamu ...."
"Lupain aja, bumil di larang berfikir keras." ucap Leo menyela padahal yang membuat Karamel berfikir keras adalah dirinya, dasar Leo.
Di jam 2 pagi ini, suasana kapal bukan semakin sepi tapi semua orang malah tatap bertahan dan menunggu kelanjutan dari lamaran Kenzi yang entah akan di terima atau tidak oleh Tessa.
"Daddy, Om. Bisakah kalian berhenti berdebat di sini, masih ada banyak waktu untuk membahas persoalan ini bukan," pinta Tessa malah mengabaikan Kenzi.
"Terus gimana sama aku? Kita?" tanya Kenzi mendesak agar Tessa menjawab tapi Tessa tetap diam menatap Ram dan juga Sanjaya secara bergantian.
"Baiklah, kami berhenti berdebat," sahut keduanya serentak dan membuang muka satu sama lain.
"Tessa," panggil Kenzi.
"Iya?" sahut Tessa
"Kamu nolak lamaran aku, apa itu artinya kamu gak mau nikah sama aku?" tanya Kenzi lirih dan berharap Tessa menjawab 'Tidak'
"Bukankah Daddy minta kita buat jangan nikah dulu?" sahut Tessa berpura-pura polos.
"Aku tau, tapi seenggaknya kamu kasih aku kepastian, kamu mau jadi pendamping hidup aku atau ...." Kenzi berhenti bicara karena tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
Tessa tertawa kecil karena Kenzi langsung diam lalu Tessa mencium hidung Kenzi sekilas.
"Aku bersedia," sahut Tessa dengan antusias membuat Kenzi terkejut bahkan semua orang bersorak heboh akan tindakan dan jawaban Tessa.
"Aa, aku punya kakak perempuan," gumam Karamel tersenyum sembari bertepuk tangan bahagia.
Leo mengernyitkan dahinya, istrinya itu memang unik, mudah sekali berubah-ubah sikap, yang tadinya terlihat murung dan sedih kini suasana hatinya langsung berubah menjadi bahagia.
Setelah semua acara kejutan ulang tahun Leo dan hadian berita kehamilan Karamel bahkan lamaran Kenzi selesai, semua tamu undangan di persilahkan untuk pergi ke kamar mereka masing-masing.
Begitu juga Leo dan Karamel yang langsung masuk ke kamar mereka berdua.
"Aku capek, boleh aku tidur sekarang?" pinta Karamel duduk di tepi ranjang.
"Ganti pakaian kamu dulu baru setelah itu tidur, aku pergi ke kamar mandi dulu ... cup." ucap Leo mengecup kilas kening Karamel lalu pergi masuk ke kamar mandi.
Sedangkan Karamel terlihat sangat letih dan membaringkan tubuhnya di kasur, niatnya hanya ingin berbaring sejenak namun rasa kantuk yang menjalar membuatnya tertidur pulas.
Ketika Leo keluar dari kamar mandi, Leo melihat istrinya sudah tertidur lelap, dengan cepat Leo mengambil piyama tidur Karamel lalu menggantikan pakaian istrinya itu dengan banyak-banyak menahan gairah karena melihat tubuh se*y Karamel yang bergerak-gerak.
Glukk! Leo menelan salivanya terkejut lalu Leo berusaha mengangkat kaki Karamel agar menjauh dari bagian bawahnya namun baru juga Leo menyentuh kaki sang istri, sang istri malah menggesekkan kakinya seperti mencari kenyamanan posisi.
Iman Leo lemah sekali jika di posisi seperti ini.
...........
Lima hari berlalu, acara pesta pun telah berakhir. Semua tamu undangan sudah kembali pulang ke kediaman mereka masing-masing. Begitu juga Leo dan Karamel yang langsung kembali ke kediaman mereka dengan membawa beberapa orang lainnya juga yaitu Becca, Kevin, Rendi, Biyan, Mika dan Nanda.
"Astaga, badan gue remuk semua," rengek Becca ketika sudah sampai di kediaman keluarga Mahendra dan langsung menghempaskan dirinya ke sofa.
"Dasar lemah." ejek Kevin duduk di samping Becca namun sedikit menjaga jarak jauh dari wanita yang menyebalkan baginya itu.
"Lemah banget, pijitin dong kak Vin." pinta Becca mengangkat tangannya ke arah Kevin.
"Males," sahut Kevin cuek.
"Kenapa harus malu?" tanya Becca mambuat Kevin kesal untuk kesekian kalinya.
"Males woy bocah bukan malu," ucap Kevin.
"Iya sih ada banyak orang di sini tapi Kak Vin enggak perlu malu, abaikan mereka oke!" ucap Becca membuat yang lainnya diam-diam menahan tawa karena setelah ini pasti Kevin akan meledak.
"Lo sebenernya budek apa bolot sih, perasaan enggak ada yang nyambung ngomong sama lo." kesal Kevin Rendi dan Biyan tertawa keras.
See, Kevin terpancing emosi lagi karena ulah Becca yang super jahil.
"Becca cape pengen di pijitin Kak Vin," sahut Becca merengek membuat Kevin semakin kesal saja.
"Lama-lama gue tembak juga ni bocah," gumam Kevin di dengar jelas oleh semua orang yang ada di ruangan itu.
"Tembak aja Kak, lumayan masih muda," ucap Mika salah mengerti dengan ucapan Kevin.
"Di seriusin ya Kak jangan di main-mainin, adik angkat kesayangan gue tuh." timpal Karamel membuat Kevin melebarkan matanya sempurna.
"Gila aja lo berdua, maksud gue bukan tembak jadi pacar tapi ...."
__ADS_1
"Tapi langsung jadi istri," Becca langsung menyela membuat gelak tawa mereka semua pecah kecuali Kevin.
"Ehem! Kode keras, langsung sikat aja Vin," ucap Rendi ikut-ikutan menggoda Kevin.
"Jodoh udah di depan mata, enggak baik di tunda lagi," timpal Biyan juga.
"Cie, kayaknya bentar lagi mau ada acara pernikahan nih, di selenggarain di mana Kak? Bandung, Jakarta atau Singapura?" tanya Mika menggoda Kevin dan Becca.
Kevin tampak jengkel namun berusaha acuh sedangkan Becca terlihat santai dengan senyum menggodanya.
"Di tanya tuh Kak, mau di selenggarain di mana?" tanya Becca dengan santainya menanggapi ucapan Mika.
"Au ah mati lampu," kesal Kevin membuat semuanya tertawa terbahak-bahak karena Kevin sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Sore harinya Biyan, Mika dan Nanda pamit pulang ke apartemen Mika sedangkan Rendi dan Kevin memilih untuk menginap satu malam begitu juga Becca yang di perintah Karamel untuk menginap semalam di kediaman mereka.
...........
...Malaysia...
Pada saat keluarga Faza sampai di kediaman Ramora, tiba-tiba saja Dafa datang dengan memberi informasi yang membuat mereka semua terkejut.
"Enggak, Bunda enggak izinin kamu pergi," Santi menolak putra semata wayangnya untuk pergi.
Namun Dafa memberanikan diri untuk memohon pada Santi agar Faza di izinkan pergi.
"Dafa mohon kali ini aja, Bun." lirih Dafa.
"Kamu memohon demi keluarga koruptor itu, apa kamu sudah tidak berpihak pada Bunda dan Om Glenn lagi, Dafa?" sengit Santi mengintimidasi Dafa.
"Dafa selalu berpihak pada yang benar, Bunda." sahut Dafa dengan keberanian yang ia punya untuk mengahadapi bundanya Faza ini.
"Jadi menurut kamu kelurga mereka itu benar melakukan penipuan terhadap orang lain?" tanya Glenn.
"Bukan keluarga mereka tapi anak mereka, Om." ucap Dafa ingin gila rasanya menghadapi orang tua ini.
"Faza masuk sekarang," titah Santi.
"Bunda, Faza ...."
"Masuk," sentak Santi dengan marah.
"Sejahat apapun orang itu, kita sebagai orang yang punya hati nurani, enggak seharusnya bersikap acuh. Bunda sama Om sebagai orang yang lebih tua dari Dafa sama Faza pasti jauh lebih paham tentang kewajiban kita untuk saling membantu sesama umat manusia." ucap Dafa menghentikan langkah Santi, Glenn dan Faza.
"Mungkin Bunda mikir, kenapa harus aku, Faza dan Lily? Kenapa bukan orang lain aja? Itu karena cuma kita bertiga yang deket sama Gina sedangkan kedua orang tua Gina dan juga kakaknya Gina, enggak ada temen yang sesetia kita bertiga." ucap Dafa membuat Santi menatap putranya Faza.
Faza menganggukkan kepalanya, "Bunda enggak setuju aku punya hubungan sama Gina, itu enggak masalah buat Faza tapi untuk kedekatan, kita punya jalinan persahabatan, Bun." ucap Faza menelan salivanya dengan susah.
Dan pada akhirnya, Santi mengizinkan Faza pergi juga namun dirinya dan suaminya harus ikut menemani Faza menuju ke tempat yang di informasikan Dafa.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Daf?" tanya Faza sungguh khawatir.
"Lily yang tau semuanya, lo bisa tanya langsung sama dia." jawab Dafa dengan raut wajah murung.
"Apa gunanya memperdulikan hidup orang yang banyak melakukan kejahatan." sengit Santi memandang tidak suka ke arah Faza yang terlihat sangat khawatir.
"Jangan karena Bunda enggak suka sama orang tua Gina, Bunda jadi benci sama anaknya juga, Gina enggak seburuk yang Bunda kira." ucap Faza sedikit meninggikan suaranya.
"Lihat, demi membela wanita itu kamu sampai berani membentak Bunda kamu sendiri, pengaruh wanita itu benar-benar membuat kamu berubah." ucap Santi dengan deru napas yang tidak beraturan.
Faza diam namun bukan karena merasa dirinya salah, hanya saja jika Faza terus menjawab ucapan bundanya, pasti sepanjang perjalanan bundanya itu akan mengoceh tanpa henti.
Sesampainya di rumah sakit, Dafa langsung membawa mereka ke sebuah ruangan yang membuat mereka terkejut. Kamar mayat.
Faza menghentikan langkahnya, rasanya seperti ada serpihan kaca yang menusuk hatinya. Benarkah ini nyata? Dafa membawa dirinya ke ruangan tak bernyawa ini.
"Apa ini? Kamar mayat?" tanya Santi pada Dafa.
"Lily udah nunggu di dalem, Za." ucap Dafa membuat Faza tertawa, tertawa yang begitu menyakitkan.
"Daf, lo becanda? Gina ....
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung...