Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ' 189 (Takdir)


__ADS_3

Selesai sudah urusan kantor, kini Leo hendak pulang ke rumah. Entah kenapa sejak tadi suasana hati Leo begitu bahagia mengingat sang istri telah berhasil menyelamatkan nyawanya.


Saking bahagianya, Leo sampai menutup mata membayangkan wajah sang istri tercinta.


"I love you," gumam Leo membuat Jeffry terkejut karena entah kenapa tuannya itu mengungkapkan perasaan cinta dengan sangat tiba-tiba.


Apakah tuan bicara dengankuβ€” Fikir Jeffry merasa merinding jika dugaannya itu benar adanya.


Sesampainya di rumah Leo langsung berjalan menuju kamarnya, "Woy! Main nyelonong aja lo, ngucap salam 'kek atau apa 'kek," celoteh Rendi dari ruang keluarga namun Leo menghiraukan perkataan Rendi.


"Bentar lagi juga turun tu anak," sahut Kevin dan benar, Leo turun dari tangga kala tidak mendapatkan sang istri ada di kamarnya.


"Widih! Tebakan lo benar, Vin." ucap Rendi.


"Ya iyalah, tunggu aja tu anak nyamperin kita nanyain keberadaannya Kara," ucap Kevin dan benar lagi Leo menghampiri mereka berdua.


"Mana Kara?" tanya Leo.


"Belum pulang," sahut Kevin cuek.


"Maksud lo sejak tadi Kara belum pulang?" tanya Leo dengan nada tinggi.


"Pulang bentar tapi abis itu pergi lagi sama bocah tengil," sahut Kevin tampak merasa kesal.


"Ya elah! Lo masih kesal aja sama tu bocah," ucap Rendi mengejek Kevin, lah auto penasaran dong si Leo.


"Siapa?" tanya Leo.


"Cewek gila," ketus Kevin.


"Pftt! Kita enggak tau namanya siapa," sahut Rendi.


"Cewek kuncir kuda?" tanya Leo dan Kevin maupun Rendi menatap ke arah Leo.


"Lo kenal dia?" Kevin dan Rendi serentak bertanya.


"Adeknya Kara ya?" tambah Rendi.


"Pergi ke mana mereka?" tanya Leo mengabaikan pertanyaan keduanya.


"Emmm! Kebinasaan ni anak, orang kalo lagi nanya itu di jawab dulu, baru abis itu lo bisa nanya balik, " kesal Rendi.


"Gue tanya ke mana?" tanya Leo lagi.


"Enggak tau," sahut Kevin


"Kara enggak ngasih tau," timpal Rendi ketus membuat Leo menghela napas berat lalu meninggalkan mereka berdua menuju kamar.


..............................


...Apartemen Becca...


Karamel merasa kesal dengan Becca karena saat Becca membuka password apartemennya, sungguh mengejutkan isi apartemen Becca hancur berantakan.


Becca masih berusia 16 tahun, yang ia kerjakan hanya main, makan dan tidur sedangkan untuk bersih-bersih Becca tidak pernah melakukannya.

__ADS_1


Karamel geram dengan anak buahnya itu, sejak Karamel mengenal Becca di usia Becca masih sembilan tahun hingga di usianya yang ke 16 tahun, Becca masih sama tidak pernah rapi orangnya.


Karamel terpaksa membantu Becca membereskan semua kekacauan yang ada di apartemen Becca.


"Umur lo udah enam belas tahun, Becca. Di masa depan lo itu mau nikah, enggak malu apa lo kalo udah nikah suami lo bakal punya istri enggak bisa di andalin di rumah." celoteh Karamel seperti ibu-ibu yang sedang mengomeli anaknya.


"Sekolah aja gue enggak mau, apa lagi mau nikah, gue enggak mau nikah ah Bos." sahut Becca duduk santai di sofa.


"Gue bahkan dulu enggak mau pacaran, Becca. Tapi takdir mempertemukan gue sama Leo jadi ...." ucapan Karamel terpotong.


"Ya udah kakak ipar jadi suami Becca aja," potong Becca spontan membuat Karamel memelototi Becca lalu Karamel melempar bantal sofa ke wajah Becca.


Bukk ....


"Tuh mulut mau gue jahit ya," kesal Karamel dan Becca meringis lalu tertawa terbahak-bahak.


"Aihh hahaha !! Ciee, takut suaminya di ambil." ringis Becca sembari menggoda Karamel yang mendapatkan tatapan tajam dari Karamel.


"Diam enggak lo," Karamel mengarahkan kemoceng ke arah Becca, sontak Becca mengangkat kedua tangannya ke atas.


"PMS ya buk bos," ucap Becca dan Karamel melempar kemoceng itu ke kening Becca.


"Aw! Suka banget sih lo Bos lempar-lempar kepala gue pake benda-benda di sekitar lo, kalo gue amnesia gimana coba? Memori kenangan indah kita di masa lalu bisa hilang dong," celetuk Becca mengelus-elus keningnya.


Karamel memutar bola mata jengah, "Indah di mananya coba yang ada kenangan gue sama lo itu selalu buat gue naik darah terus, Becca Crofcodra!" ucap Karamel membuat Becca cengengsan.


"Gue enggak pernah marah sama lo, yang ada elo terus yang marah enggak jelas sama gue, Bos." ucap Becca membela dirinya.


"Ya itu karena elo, begek" kesal Karamel.


"Gue lagi yang salah," desis Becca namun Karamel tidak menyahutinya lagi.


"Makasih udah mau jaga Becca selama tujuh tahun lebih, makasih juga udah sabar hadapin sikap Becca, Kak. Becca sayang Kak Kara." batin Becca tanpa sadar mata sebelah kanannya mengeluarkan air matanya.


Karamel berbalik menatap Becca hingga Becca kelabakan memutar tubuhnya ke samping untuk menghapus air matanya.


"Becca, bantu gue ...." Karamel tidak menyelesaikan perkataannya dan malah mengerutkan dahinya bingung akan tingkah aneh Becca.


"Ada masalah apa lo, tumben-tumbenan lo nangis di belakang gue?" tanya Karamel menangkap sekilas gelagat Becca.


"Ah ketahuan deh gue," Becca mengaku sedang menangis.


"Ck! Jujur banget lo," ejek Karamel.


"Alhamdulillah Becca anak baik," sahut Becca membuat Karamel tersenyum sinis.


"Ada apa?" Karamel langsung merubah raut mukanya menjadi datar. Becca menggelengkan kepalanya.


"Enggak ada, hoam ...! Gue ngantuk Bos," sama persis seperti Karamel, kalau tidak berani jujur Becca pasti akan menghindar.


"Kebiasaan lo kalo di tanya enggak pernah mau jujur," celetuk Karamel.


"Tapi 'kan Becca enggak bohong sama Bos," sahut Becca memiringkan kepalanya.


"Iya tapi elo ngehindar Becca," Karamel geram mengatupkan giginya.

__ADS_1


"Ajaran siapa dulu, bosnya Becca 'kan," Becca menunjuk Karamel sebagai orang yang mengajarkan dirinya seperti itu.


Karamel tersentak, tidak bisa di pungkiri Karamel memang mengajarkan Becca untuk selalu berkata jujur namun jika tidak sanggup untuk jujur lebih baik menghindar dari pada harus berbohong.


............................


...Bandara Internasional Soekarno-hatta...


Salah satu sahabat Karamel yang sudah berbulan-bulan tidak ada kabar, kini kembali ke Indonesia untuk bertemu dengan Karamel tentunya.


"Gilak, udah lama benget gue enggak ke sini, gumam Niky tersenyum merekah.


"Woy Niky, bantuin gue 'kek lo," suara cempreng seorang wanita dari arah belakang Niky.


"Oops gue lupa Nan," ucap Niky cengengesan menghampiri Nanda lalu mengambil koper berukuran sedang dari tangan Nanda.


"Parah sih lo, ngajak gue ke Indonesia tapi lo nyusahin gue, tau gini gue enggak mau ikut lo ke sini," celetuk Nanda Amera.


Sepupu dari keluarga sang mommynya Niky dari California. Nanda Amera, perempuan tangguh namun crewet, tidak pernah pacaran namun pernah jatuh cinta, benci laki-laki genit. Hobi Nanda ada di bidang seni, setiap Nanda keluar rumah Nanda pasti akan membawa sebuah buku gambar, kuas, dan juga pewarna hingga jika ada pemandangan yang menarik, Nanda akan melukis dan menyimpannya di rumah kaca di California.


"Gue 'kan gak maksa lo buat ikut, tapi karena gue ngomong mau ketemu sama Kara, lo jadinya mau ikut 'kan," ucap Niky.


"Ohya mau ketemu sama Kak Kara doang? Gak sama cowok pujaan lo juga heh," ejek Nanda.


"Gue gak tahu Diky masih inget apa enggak sama gue, tapi kalaupun dia masih inget ... I don't know." ucap Niky mellow.


"Ciah! Lebih sakit lagi kalo cinta lo kagak di bales sama dia," Nanda semakin mengejek Niky.


"Serah lo deh, nyebelin banget sih lo," Niky langsung pergi meninggalkan Nanda.


"Dih ngambek," Nanda mengejar Niky.


..............................


...Kediaman keluarga Mahendra...


Parasaan Leo di buat campur aduk karena sejak tadi sore hingga malam hari Leo menelepon Karamel, nomornya selalu tidak aktif.


Leo juga berusaha melacak keberadaan Karamel namun tidak bisa karena mungkin handphone Karamel sedang mati.


Untuk tas kecil Karamel, sialnya Karamel meninggalkan tasnya di kamar mereka jadi sekarang Leo tidak bisa tahu keberadaan Karamel ada di mana.


"Astaga, enggak mungkin Kara pergi tanpa izin dulu ke gue kayak dulu 'kan?" gumam Leo overthinking.


Bagaimana jika yang di fikirkan Leo benar? Bagaimana jika Kara bosan di Jakarta lalu pergi berlibur ke kota lain bersama anak buahnya? Bagaimana jika Kara melupakan statusnya yang sudah menjadi istri Leo dan lupa akan mengabari dirinya? Bagaimana dan bagaimana, fikiran Leo melambung tinggi karena sang istri.


"Enggak, enggak mungkin sampai segitunya Leo!" ucap Leo membuang jauh-jauh fikiran buruknya.


"Ayolah Kara, jangan buat suami kamu takut bercampur khawatir Sayang." desis Leo mengguncang handphonenya sendiri.


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


Leo frustasi di tinggal bentar sama istrinya guys, kalo Kara pulang. Bakal di apain ya sama Leo?? πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


__ADS_2