
Arman yang mendengar pembicaraan istrinya dan seorang anak muda mengerutkan kening. Dia tidak menyangka seorang anak muda berumur 16 tahun bisa lancar berbicara di depannya.
"Jadi kamu datang kesini hanya untuk meminta kami memberikan uang pada sebuah permainan yang dimainkan anak kecil itu?" kata Arman mencibir.
Jelas dia tidak percaya dengan masa depan sebuah mesin virtual, yang dia butuhkan sekarang adalah meningkatkan pasukannya untuk menghadapi gempuran pasukan musuh.
"Anda terlalu meremehkan sebuah permainan. Jika tidak percaya mari sedikit membuktikannya, dua penjaga keamanan pasti adalah seorang kuat. Bagaimana jika aku menghadapinya di arena."
Arief menatap tajam kearah Arman. Jika dia menantang Arman jelas sangat susah, tetapi melawan penjaga keamanan yang merupakan salah satu prajurit pemula bisa diatasi.
Karena mengembangkan prana, tubuhnya secara otomatis bertambah kuat. Arief sekarang setara dengan seorang prajurit menengah, bahkan kapten pasukan akan kesulitan melawannya.
Belum lagi jika dia memakai prana, tidak akan mudah untuk melawannya. Sayangnya Yuliana melarangnya untuk mengeluarkan prana di depan umum.
"Nak, bukankah kamu terlalu percaya diri. Apa basis beladiri mu?" tanya Adelia.
Arief menggelengkan kepala. "Aku tidak mempunyai basis beladiri, tetapi aku sering menggunakan teknik beladiri bebas."
Arman langsung menyuruh kedua penjaga keamanan melawan Arief. Dia yakin bahwa Arief tidak akan bisa melawannya karena penjaga keamanan adalah seorang prajurit elit.
Dua orang mengetuk pintu, kemudian memberikan hormat kepada Arman yang sedang duduk.
"Bari pelajaran pada anak itu. Jangan menahan diri, aku ingin melihat kemampuan yang dia dapatkan dari permainan bodoh itu!" kata Arman dengan nada tinggi.
Sebenarnya dia adalah orang yang baik, tetapi jika ada seseorang memanfaatkan kebaikan hati istrinya, maka dia akan menjadi binatang buas.
Kedua penjaga langsung menyerang Arief yang sedang makan santai. Sendok yang masih di tangganya digunakan sebagai senjata.
Ketika pukulan salah satu penjaga dilayangkan, mereka tampak seperti bergerak lambat. Hal itu karena teknik prana Arief sudah meningkat, sehingga bisa melihat gerakan pelan dari lawannya.
Hanya bermodalkan sendok, Arief membelokkan serangan salah seorang penjaga keamanan. Kemudian dengan serangan cepat, Arief menggunakan sendok untuk menyerang kearah lehernya.
Namun sebelum menyerang Arief menghentikannya dan menggunakan sikunya untuk membuat penjaga keamanan pingsan. Sekarang hanya tinggal satu orang, Arief tidak ingin diserang duluan.
Dia langsung melangkah untuk mengayunkan lengannya kearah perut, sehingga membuat lawannya pingsan. Kejadian tadi hanya berlangsung selama 7 detik.
Arman hanya bisa melongo melihat kedua penjaga keamanan berbaring tak sadarkan diri. "Siapa dia sebenarnya?" tanyanya dalam hati.
Setelah membuat kedua penjaga pingsan, Arief duduk dan melanjutkan makan. Dia dengan sangat santai menyeruput kuah daging sapi yang sangat enak, seperti tidak ada kejadian apapun.
"Reflek, teknik, dan pengendalian diri bisa di asah melawan para monster Domain Dewa. Aku yakin anda dan pasukan akan mengerti jika bergabung denganku," kata Arief sambil tersenyum lebar.
Setelah pembicaraan panjang lebar, akhirnya Adelia dan Arman mencoba mencari keuntungan dari Domain Dewa. Mereka akan bergabung dengan Fairy Dance untuk mengembangkan pasukan keamanan dan mencari uang.
Untuk pelatihan pertama, Arman akan mengerahkan 100 penjaga keamanan untuk bermain Domain Dewa dibawah Arief. Dia ingin melihat perkembangannya setelah 3 bulan, jika meningkat pesat maka Arman dan Adelia akan bekerja sama dengan Fairy Dance
Tugas berat itu akan diemban oleh Amelia. 100 orang akan menjadi pasukan rahasia seperti prajurit Garuda yang belum muncul. Mungkin beberapa hari lagi akan ada kerusuhan di Desa Tanjung karena serangan balasan Thunder Strom.
Rori yang menjadi tiran akan membuat semua guild mengalami kerugian, tetapi Arief tidak menyalahkannya. Karena Fairy Dance akan butuh orang yang selalu melakukan ekspansi keluar.
__ADS_1
Berbeda dengan kota Danau Putih yang sangat damai setelah perang besar. Mereka saling menunggu dan mengembangkan diri di kota lainnya. Ada dua penguasa di kota Danau Putih yaitu Galaxy Star dan Shadow.
Namun ada satu kekuatan lagi yang sangat ditakuti semua orang ketika mereka bertahan, mereka adalah Fairy Dance. Guild yang belum pernah kehilangan satupun desanya.
Di tengah malam yang dingin, Arief berdiri di seberang sungai. Dia melihat aliran air dan merasakan hembusan angin.
"Apakah tindakanku benar?"
Terbesit pikiran yang membuatnya sedikit ragu merubah masa depan. Bukan karena takut, tetapi merasa bahwa setiap manusia mempunyai rezekinya masing-masing.
Sekarang Arief mengambil semua rezeki itu sendiri, walaupun Juna adalah orang yang sangat licik. Namun pemain yang bekerja untuknya tidak semuanya busuk.
Jika Shadow hancur, artinya Arief yang harus bertanggung jawab. Sebagai mantan ketua, dia tahu banyak latar belakang yang menyokong Shadow.
Setelah cukup lama berdiri di seberang sungai, Arief mengambil ponselnya dan memesan tiket pesawat dengan waktu keberangkatan tercepat.
Karena pada era ini pesawat sudah sangat maju, jadi hanya butuh waktu 30 menit sebelum pesawat siap ditumpangi. Arief berlari menuju bandara yang jauhnya 3 kilometer dari tempatnya.
Seroang wanita cantik berpenampilan megah duduk di sebelahnya.
Sembari menutup hidungnya mengatakan, "Ih, bau."
Arief tidak tersinggung, dia tidak memperdulikan mereka berdua. Sesuatu yang salah terlihat ketika sang pria yang duduk di seberang membawa pistol.
Dengan kekuatannya sekarang, Arief tidak bisa melawan orang dengan pistol. Namun dengan kecepatannya, dia bisa membalikkan keadaan dengan cepat.
Arief menaiki angkutan berkelas untuk menghindari masalah yang merepotkan. Dia harus membayar 100 kredit per kilometer, tanpa ragu dia menyetujuinya.
Sialnya ketika diperjalanan, mobil yang dia tumpang dihentikan oleh dua orang. Mereka adalah dua orang yang duduk di sebelah pesawat tadi.
"Sial, kenapa kamu selalu mendapatkan masalah yang merepotkan." Arief menyuruh sopir untuk terus menancap gas tanpa memperdulikan keduanya yang terluka.
Sesuai dugaan, keduanya adalah seorang perampok. Modusnya sangat sederhana, mereka menggunakan empati seseorang kemudian merampok semua kekayaannya.
Tepat setelah mobil melewati mereka, si pria dengan kumis tipis mengerutkan kening. "Sial, pria di belakang itu sangat misterius. Aku merasakan sebuah tekanan ketika menatap matanya."
"Apa maksudmu, kamu tidak mungkin takut dengannya, Kan?" tanya si wanita dengan nada tinggi.
"Jangan menganggap pria itu mudah. Aku sebagai pengguna prana merasa dia menyembunyikan kekuatannya."
Wanita cantik itu mulai mengerti, hanya pasukan khusus Garuda yang bisa menyembunyikan kekuatannya. Kejadian besar terjadi 10 hari lalu, penyerangan Pasukan Misterius melawan Perusahan Garuda.
Sampai akhirnya mereka saling menarik diri karena mencapai sebuah kesepakatan. Sekarang pasukan Garuda sangat terkenal si seluruh negeri. Bahkan pasukan asing mulai mengirim para pengintai.
Tidak ada yang tahu seberapa kuat Pasukan Garuda, yang pasti mereka bukan pasukan lemah seperti sebelumnya.
Sesampainya di Rawa Kuning, Arief berjalan menuju sebuah bangunan super megah. Bangunan itu tidak lain adalah rumah sakit tempat Mahira menginap.
"Suster, aku ingin mencari seorang penunggu pasien dengan nama Mahira. Dimana aku bisa menemuinya?" tanya Arief dengan sopan.
__ADS_1
"Ruang Istimewa Nomor 1, lantai 25," jawab suster dengan senyum manis di bibirnya.
Karena tidak ingin membuat keributan, Arief mencoba membuat langkahnya lebih halus. Sehingga suara langkah kaki dan sandal jepitnya tidak terdengar.
Tanpa sadar Arief sudah menggunakan Langkah Bayangan secara sempurna. Sekarang keberadaannya akan sangat sulit ditemukan oleh orang yang terlatih.
Sesampainya di depan ruangan kamar istimewa, Arief memastikan sekali lagi nomor yang dia lihat benar. Setelah selesai memastikan, Arief menarik nafas dalam-dalam.
Bel berbunyi, Mahira sudah menunggu Arief dari pagi. Dia sangat berharap Arief akan datang lebih awal.
Rambut yang berantakan serta kaos biasa dan celana pendek Mahira membuka pintu. Senyum manisnya menghiasi wajahnya.
"Blue, masuklah," katanya lirih.
Arief melihat keadaan Mahira sangat prihatin, dia tampak tidak mandi selama 1 bulan penuh. Kantung mata hitam serta pipi yang tirus membuatnya seperti orang kekurangan gizi. Sangat berbeda dengan tampilannya di Domain Dewa.
"Baiklah, biarkan akan melihat kedua orang tuamu," kata Arief tidak ingin membuang waktu.
Tangannya menyentuh tangan ayah Mahira, dengan sedikit kendali prana Arief menyuntikkan energinya. Perawatan berjalan selama 3 menit.
Keringat dingin mulai menetes di dahinya, Arief harus terus berkonsentrasi untuk menjaga kestabilan prana miliknya.
"Untuk sementara aku hanya bisa menyembuhkan ayahmu. Besok pagi mungkin aku baru bisa merawat ibumu," kata Arief yang tampak kelelahan.
Walaupun sudah bertambah kuat, Arief masih kesusahan menyembuhkan seorang pasien dengan penyimpangan prana. Apalagi ada dua pasien yang harus disembuhkan.
Pagi telah tiba, Arief melanjutkan perawatannya kepada ibu Mahira. Secara ajaib ayah Mahira membuka matanya dan berkata, "Prana"
Arief segera menghentikan perawatannya. Bukan karena ayah Mahira, tetapi memang perawatannya sudah selesai.
"Anda pasti seorang prajurit. Karena situasi dunia sedang tidak aman, jangan pernah mengeluarkan prana untuk sementara. Aku sudah mengunci beberapa titik energi milikmu, jadi jangan melepaskannya untuk sementara."
"Aku tidak menyangka anak muda sepertimu bisa menggunakan teknik yang dapat melepas segel. Jika masuk pasukan khusus kamu pasti akan menjadi Jenius tak terkalahkan."
"Aku tidak mengincar posisi di pasukan khusus. Aku berharap anda menyembunyikan keterampilan yang kumiliki." Arief duduk sambil mengatur napas dan bermeditasi.
"Aku tahu itu, sebagai prajurit terbuang aku akan mengabdi pada penolongku. Jadi jangan khawatir masalah kejadian ini."
Mahira tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, tanpa sadar air matanya menetes setelah mendengar suara ayahnya.
Dengan ekspresi bahagia, Mahira memeluk ayahnya dengan erat. Dia menuangkan semua kerinduannya yang telah terpendam dan wajah merah yang tidak pernah dia tunjukkan.
Arief yang tidak mau mengganggu reuni mereka berdua berjalan ke balkon gedung rumah sakit. Dibawah bulan yang indah, Arief mengalirkan energinya sesuai tekniknya.
Siapa sangka energi yang seharusnya berwarna biru muda berubah menjadi ungu gelap. Banyak orang menyebutnya sebagai energi jiwa.
Hanya orang terpilih yang bisa menggunakan energi jiwa. Arief bisa menggunakannya setelah memaksakan dirinya menolong kedua orang tua Mahira.
Hembusan angin dan awan yang mulai mendung membuat beberapa orang kuat merasakan kelahiran seorang jenius. Mereka semua langsung mencari bayi yang lahir pada hari ini.
__ADS_1