Domain Dewa : Raja Pedang

Domain Dewa : Raja Pedang
Beruang Merah


__ADS_3

Arief duduk di ujung meja bundar. "Aku akan langsung ke intinya. Lihatlah layar kalian, aku mendapatkan misi tersembunyi yang sangat mengerikan. Perlu kalian tahu, Beruang Merah mempunyai level 200."


Aqila adalah orang pertama yang tanggapan. "Aku yakin kamu memiliki rencana, Bos. Aku akan ikut denganmu," katanya sambil tersenyum. Dia merasa bahwa Arief adalah orang cerdas yang memiliki ribuan cara untuk melawan pasukan monster.


Doran juga membenarkan pernyataan Aqila, disusul dengan seluruh anggotanya. Sedangkan Hira dan Hida hanya terdiam dengan ekspresi serius.


Mereka berdua tidak menyangka anggota Fairy Dance benar-benar gila. Walaupun hanya permainan virtual, Domain Dewa adalah sumber mata pencarian mereka. Jika karakternya hancur, maka mata pencariannya juga akan terputus.


"Hira, apa yang kamu pikirkan tentang Fairy Dance?" tanya Arief sambil tersenyum.


Hira membalas senyum dan berkata, "Gila, mereka sungguh gila. Mereka tidak tahu betapa pentingnya karakterku dalam Domain Dewa!"


"Aku hidup dari menjual koin emas dari Domain Dewa, jika karakterku hancur mata pencarian akan berhenti," kata Hida menyela pembicaraan.


Aqila dan Queen saling memandang, mereka juga memiliki kondisi yang sama. Namun setelah bersama Fairy Dance, bukanya miskin tetapi kekayaannya bertambah banyak.


Hal itu dikarenakan semua senjata yang mereka miliki bisa di jual secara langsung, sedangkan perlengkapan terbaik telah disediakan guild. Belum lagi ditambah gaji bulanan yang di bayar awal bulan.


Walaupun bermain hanya untuk berenang-senang, mereka berdua tidak pernah kekurangan uang. Jadi mereka tidak memberikan tanggapan.


Doran dan teman-temannya juga melakukan hal yang sama, mereka tidak memiliki kondisi yang sama seperti Hira dan Hida.


"Doran, coba ceritakan kondisi tubuh kalian di dunia nyata," kata Arief melihat Doran yang menundukkan kepala.


Doran dengan semangat menjelaskan kondisinya di dunia nyata, anehnya bukannya sedih mereka justru sangat senang bermain Domain Dewa.


Kondisi ekonomi memang mempengaruhi kondisi mental, tetapi jika seseorang hanya fokus mengejar harta mereka tidak akan bisa mencapai tujuan besar.


Itulah hal yang ingin Arief sampaikan kepada Hira dan Hida. Karena di masa depan mereka mulai bersinar terang karena keadaan ekonominya membaik.


Untuk memangkas waktu, Arief ingin mereka berdua menyadarinya lebih awal.


Setelah mendengar keadaan Doran, Arief menyuruh Queen dan Aqila menceritakan kisahnya. Mereka berdua keluar dari militer untuk bersenang-senang.


Hida adalah orang yang paling cepat menerima masukan, dia mulai menyadari betapa pentingnya persahabatan dan bersenang-senang.


Mulai hari ini, dia akan merubah sikapnya menjadi lebih baik. Inilah yang akan membawanya menuju kesuksesan yang sesungguhnya.


Sedangkan Hira sedikit terlambat, dia masih memikirkan konsekuensi yang harus di hadapi ketika kondisi keuangannya sedang buruk.


"Aku tidak memaksa kalian berdua bermain dengan sepenuh hati. Mungkin memang jalan kita berbeda, aku hanya ingin memberikan kalian nasihat. Sesungguhnya harta bisa dicari sedangkan sahabat dan perasaan senang susah untuk didapatkan."


Arief tersenyum kepada Hira dan Hida yang memandangnya.


"Baiklah, tentukan pilihanmu esok hari. Kita akan berkumpul di Desa Monster, untuk sekarang kalian boleh bubar," lanjut Arief tersenyum tipis.


Doran dan teman-temannya pergi ke monster lapangan untuk meningkatkan level, sedangkan Hira dan Hida keluar dari permainan untuk merenungkan tawaran Arief.


Queen dan Aqila sudah dipastikan ikut dalam penyerangan Beruang Merah, mereka sudah mengetahui seberapa hebat Arief dalam memimpin pasukan. Meskipun gagal, mereka masih dapat berpikir jernih karena menganggap Domain Dewa adalah permainan.


Keesokan harinya Arief menemui Mosas di rumah kelapa desa. "Tuan, aku datang sesuai janjiku," kata Arief menyapa.


"Seperti yang diharapkan, kamu sudah membawa tim yang cukup baik. ambillah desain Menara Suara ini," kata Mosas sambil memberikan barangnya.


Menara Suara


Tingkat : Menengah


HP : 2 juta


Mengeluarkan suara ke segala arah, membuat monster di sekitarnya mengalami masalah pendengaran.

__ADS_1


Hira dan Hida masih belum datang, jadi mereka akan menunggu selama 1 jam.


"Bos, mungkin mereka memutuskan untuk tidak ikut," kata Queen.


Arief tersenyum tipis, "Mereka berdua tidak sesederhana itu. Aku yakin setidaknya satu diantara mereka akan datang."


Aqila menganggukkan kepala, dia tahu seberapa bagus kemampuan Arief dalam menilai seseorang. Bahkan sebagai seorang ahli strategi, Aqila merasa dibawahnya.


Untungnya Aqila tidak mengetahui bahwa Arief adalah anak berusia 15 tahun yang sebentar lagi berulang tahun ke 16.


Seorang pemain mendatangi mereka dengan pakaian seharga ratusan koin emas dan memakai lambang Fairy Dance berplat emas.


Dia adalah Hida yang telah memutuskan untuk bergabung dengan Fairy Dance sepenuhnya. Sekarang dia tidak akan menolak untuk mempertaruhkan karakternya untuk perkembangan guild.


"Maaf, Bos. Aku terlambat," kata Hida sambil tersenyum.


Arief menganggukkan kepala dan berkata, "Baiklah, mari kita pergi. Sepertinya hanya Hida yang sudah memutuskan pilihannya."


"Tunggu, Bos. Aku yakin kakak bodoh itu pasti akan datang!" kata Hida menghentikan kelompok.


"Baiklah, kita akan menunggu 5 menit."


Setelah lima menit berlalu, Hira tidak kunjung datang. Sehingga Arief memutuskan untuk meninggalkannya.


Namun setelah meninggalkan Desa Monster, seorang pria menunggu mereka di luar gerbang. "Kalian terlambat," kata Hira tersenyum melihat kelompok Arief tidak ada yang takut mengorbankan nyawa mereka.


Mosas memandu jalan menuju rumah persembunyian Beruang Merah.


Sampai di depan mulut gua, Arief menghentikan pergerakan Mosas, "Tunggu sebentar. Biarkan aku memasang beberapa jebakan."


Arief membuat sebuah susunan jebakan bom lengket. Sehingga ketika pemain atau monster menginjaknya, jebakan akan terpicu dan membuat bom lengket meledak.


Sebagai seorang Arsitek, Arief memiliki beberapa ketrampilan untuk membuat jebakan sederhana seperti itu, apa lagi sekarang dia adalah seorang Arsitek Mahir.


Mosas tersenyum tipis melihat tindak Arief memasang jebakan untuk pencegahan. Dia tidak membatasi kreatifitasnya, yang diperlukan adalah keberhasilan dalam mengambil barang miliknya.


Sekarang Arief memimpin jalan, sedangkan Mosas akan menjadi tempat kesempatan untuk masuk kedalam ruangan yang lebih dalam.


Suara raungan beruang terdengar sangat keras. Bahkan Doran dan beberapa temannya terkena pengaruh buruk lumpuh.


"Jangan takut, Brune sembuhkan semua orang!" teriak Arief memberikan perintah kepada salah satu teman Doran.


Arief adalah pemain pertama yang langsung menerjang Beruang Merah dengan serangan dasar.


¬ Pemain Blue memberikan kerusakan - 10 kerusakan kritikal.


"Ini Gila, seberapa tinggi pertahanannya!" gumam Arief melihat kerusakan yang dia hasilnya. Di kehidupan sebelumnya, Arief tidak memiliki kesempatan untuk berhadapan dengan Beruang Merah.


Karena Beruang Merah adalah monster yang hanya keluar satu kali. Setelah mati, mereka tidak akan dibangkitkan lagi.


Nama : Beruang Merah (Menengah)


Level : 200


HP : 20 juta


"Queen lempar bom lengket. Doran gunakan boneka perang untuk membatasi pergerakannya!" teriak Arief memberikan instruksi.


100 boneka perang telah dilempar ke sekitar Beruang Merah. Setiap serangan Beruang Merah selalu menghancurkan boneka perang.


"Martin, buat dinding di sekitar monster. Reno gunakan bom peledak untuk membuatnya marah. Jangan biarkan diri kalian mati, aku akan membangun Menara Suara!" kata Arief dengan nada penuh semangat.

__ADS_1


Karena intonasinya yang penuh semangat, seluruh anggotanya juga ikut bersemangat. Sehingga mereka membuat gerakan yang sangat tepat dalam menghadapi Beruang Merah.


Arief melihat Beruang Merah yang sudah cukup marah. Dia bisa melihatnya dari warna wajah monster yang oranye.


"Mundur, gunakan skill terbaik untuk berlari!" teriak Arief yang masih berusaha membuat Menara Suara di puncak bukit.


Dia melihat pergerakan Beruang Merah yang ingin menggunakan ketrampilan pamungkasnya.


Beruang Merah melompat, dia menghentakkan kedua tangannya ke tanah dengan kuat. Sebuah gelombang besar tercipta hingga membuat tanah disekitarnya retak.


Untungnya Arief segera menyadarinya. Jika tidak semua pemain akan langsung di kirim ke Rumah Kebangkitan hanya dengan sekali serang.


Kelompok Arief menggunakan strategi yang sama untuk memancing perhatian Beruang Merah.


Mosas sudah berlari menuju ruangan yang tanpa penjagaan. Dia mencoba membuka pintu dengan segala cara.


Namun siapa sangka Beruang Merah menyadarinya, dia langsung berlari menuju Mosas yang berusaha membuka pintu.


"Menara Suara Aktifkan!" teriak Arief menggunakan Menara Suara untuk menghentikan pergerakan Beruang Merah.


Setelah mendengar suara yang bising, Beruang Merah menutupi telinganya. Sedangkan untuk pemain, mereka langsung mematikan suara permainan.


Suara yang dihasilkan sangat nyaring, bahkan Beruang Merah berguling-guling karena merasa tidak nyaman.


Arief menggunakan pesan singkat, "Jangan biarkan pengalaman menyerang Beruang Merah kalian buang!."


Melihat pesan kelompok, semua orang langsung menyerang tanpa melihat kerusakan yang dihasilkan.


Semua orang menghasilkan kerusakan 3-5 setiap serangan. Jumlah itu jauh lebih kecil daripada milik Arief yang masih berlevel 38. Mereka merasa aneh dengan kejadian ini.


Kecurigaan Queen dan Aqila sudah terbukti. Mereka menebak bahwa Arief adalah pemain yang mendapatkan kelas Epik.


Sayangnya kebenaran berbeda dengan pemikiran mereka berdua. Kelas Mistik bukan untuk konsumsi publik, jadi lebih baik menyembunyikannya.


Wajah Beruang Merah menjadi merah darah, artinya dia sangat marah. Arief yang melihat kejadian tersebut langsung memerintahkan pasukannya untuk mundur.


Waktu satu menit akan segera berakhir, Arief harus membawa semua kelompoknya kembali dengan selamat.


"Lari, jangan biarkan dirimu tertinggal!" teriak Arief memberikan perintah untuk meninggalkan rumah Beruang Merah.


Sekali lagi Beruang Merah menggunakan ketrampilan pamungkasnya.


¬ Beruang Merah memberikan kerusakan - 2 juta.


Untungnya tidak ada pemain yang terkena serangan itu. Namun Menara Suara sudah hancur berkeping-keping.


Arief dan kelompoknya berlari sekuat tenaga menuju mulut gua yang sudah ada jebakan yang menunggunya.


Semua kelompok sudah berhasil keluar gua, mereka menurunkan kecepatannya.


Melihat kejadian itu, Arief berteriak, "Jangan berhenti!."


Hira dan Hida yang tidak sempat merespon teriakan Arief berhenti sejenak. Tanpa diduga mereka terkena pengaruh lumpuh karena ruangan Beruang Merah.


Dengan gagah berani Arief menggunakan tubuhnya untuk menghalau serangan Beruang Merah yang menuju kepada mereka berdua.


Pedang Sihir tidak akan bisa hancur, jadi kerugiannya mungkin akan lebih kecil jika dia yang mati.


Namun Hira dan Hida berpikir lain. Mereka menganggap Arief menyelamatkannya karena perkataannya di pertemuan sebelumnya.


Tepat ketika Beruang Merah menyerang, sebuah cahaya kuning menyelimuti tubuh Arief.

__ADS_1


Sistem : Pemain Blue telah mendapatkan berkah dari Dewa Mosas. Semua kerusakan akan ditiadakan selama 1 menit.


__ADS_2