
Tobias langsung membagikan senjata dan menempatkan para pasukan di posisinya. Blue melihat prosesnya tersenyum lebar.
"Sungguh pasukan yang sangat sistematis. Jika meraka dikembangkan sedikit lebih lama, pasti akan menjadi pasukan yang mengerikan," kata Blue.
Bee hanya bisa menghela napas. "Hah, jangan mengatakan sesuatu yang menggelikan seperti itu. Mereka semua adalah pasukan yang bisa kamu gunakan sesuka hati—"
Blue langsung memotong perkataannya. "Jangan mengatakan seperti itu lagi, walaupun mereka hanya penduduk pribumi. Rasa kehilangan satu keluarga sungguh menyakitkan!" katanya menatap tajam ke arah Bee.
"Baiklah, kita memang sedikit beda pandangan. Tapi ingatlah, aku akan selalu ada untukmu disaat membutuhkan," kata Bee langsung masuk kedalam ruang penyimpanan.
"Apa dia sedang tidak enak badan. Tidak biasanya Bee lesu seperti itu?" kata Blue kebingungan.
Persiapan Tobias sudah selesai. Kali ini Blue menggunakan seluruh senjata untuk merebut bagian wilayah selatan.
Blue perlahan berjalan menuju desa sasaran, dia melihat ada dua iblis yang berdiri di depan pintu masuk.
"Kami ingin desa ini berada di bawah kepemimpinan Raja Iblis Venom," kata Blue dengan santai.
"Anda benar-benar berani. Raja Iblis Elis akan marah mendengar barita ini. Apa kau pikir Raja Iblis Venom bisa menandingi kekuatannya!" jawab salah satu iblis.
"Sebenarnya itu yang ingin aku katakan. Raja Iblis Venom bisa mengalahkan Raja Iblis Elis dengan sangat mudah jika mereka bertarung. Buktinya lihatlah, Raja Iblis Elis tidak muncul!" kata Blue dengan suara keras.
Iblis berbadan tinggi disebelah kanan berlari ke arah Blue dengan tangan mengepal. Blue sebenarnya bisa menahannya, tetapi dia lebih memilih untuk menghindar.
Untuk menghindari serangan, Blue melompat cukup tinggi. Iblis Kecil dibelakangnya langsung menggenggam tangan penyerang. Dia bersiap untuk melepaskan pukulan telak pada musuhnya.
Namun pedang Emma sudah sampai di lehernya. Hanya dengan satu kombinasi serangan, petarung terkuat desa sudah berhasil ditumbangkan.
Kepala Desa tidak percaya dengan matanya, dia melihat level pelindung desa mencapai 107. Namun dia bisa dikalahkan dengan sangat mudah.
"Jadi sebatas itu petarung terkuat kalian?" tanya Blue yang sudah duduk di batu sebelah Kepala Desa.
"Jangan sombong!" teriaknya sambil melepaskan tinjunya ke arah Blue. Sebelum pukulannya mengenai musuh, tangannya mulai terasa dingin.
Tobias menebas lengan lawan dengan sempurna hingga musuh tidak menyadari serangannya. Inilah level tertinggi ilmu pedang kelas pembunuh.
"Bukankah kamu Pendekar Pedang Hitam, mengapa sekarang beralih profesi?" tanya Blue lihat penampilan Tobias yang sangat mengesankan.
"Sesuai pesan anda, kemenangan sudah ditentukan sebelum pertempuran dimulai. Artinya selama kita bisa memberikan serangan fatal pada awal pertandingan itu akan menentukan kemenangan," jawab Tobias dengan polosnya.
Blue hanya bisa menggelengkan kepala. Akal sehat Tobias dan seluruh orang di Dunia Buatan sudah mulai bergeser. Dia harus sering mengeluarkan orang di Dunia Buatan dan memasukkan orang normal.
Kepala Desa yang kehilangan satu tangannya berjongkok di tanah sambil menutup aliran darah dari tangannya. "Siapa kalian sebenarnya. Tidak mungkin Raja Iblis Venom mempunyai bawahan sekuat ini!"
"Ayolah, aku sudah mengatakannya beberapa kali. Kami adalah utusan dari Raja Venom untuk melakukan invasi. Sekali lagi aku bertanya, apa kalian ingin menyerah atau melawan?" tanya Blue.
Kepala desa itu diam tidak mau menjawab. Dia sedang mencoba melakukan kontak dengan Raja Iblis Elis.
"Baiklah, silahkan hubungi Raja Iblis Elis. Aku akan menunggu kalian sedikit lebih lama. Karena ada tamu yang tidak diundang," kata Blue mengeluarkan saya hitam dan terbang.
Seseorang iblis bertanduk dua muncul di atas langit, dia adalah calon Raja Iblis yang akan dipromosikan Elis.
"Kamu adalah mahluk abadi, bagaimana orang hina sepertimu bisa sampai di wilayah Raja Iblis Elis!" katanya dengan tatapan marah.
__ADS_1
Blue tersenyum lebar. "Ayolah, aku sudah mengatakannya berkali-kali. Kami ingin menduduki wilayah ini, kalian ingin pergi dengan sendirinya atau dengan kekerasan?"
Mereka berdua mengobrol di udara, Blue menggunakan sayap hitam dan calon Raja Iblis menggunakan jubahnya.
Calon Raja Iblis itu masih memiliki level 230, tetapi dia sudah memiliki dua tanduk.
Iblis Kecil dan Emma diperintahkan untuk menggunakan topeng, sehingga tanduk keduanya tidak terlihat.
"Menarik manusia, kamu benar-benar ingin melakukan pertarungan. Bagaikan jika kita melakukan pertarungan, siapapun yang kalah akan menjadi budak pemenang!"
"Baiklah, itu sedikit adil."
Tepat setelah Blue menjawab musuh langsung menghilang dan muncul di depannya. Anehnya Blue malah tersenyum karena musuh mendekatinya.
Pukulan musuh langsung mengarah ke Blue. Tetapi berhasil dihentikan dengan pedang, sayangnya Blue terpental hingga menabrak tanah.
"Sungguh pukulan yang menyakitkan. Tapi aku sudah tidak mau bermain lagi, ayo selesaikan!" kata Blue sambil menjentikkan jari.
200 Meriam Sihir Otomatis menembak secara bersamaan. Alasan mengapa Blue membiarkan dirinya dipukul karena dia ingin menempelkan sebuah benda pada tubuh musuh.
Walaupun tempak meriam terlihat lambat, karena adanya benda tersebut. Bola energi yang ditembakkan akan menargetkan musuh secara otomatis.
Sebelum bola energi mengenai musuh, Blue menjentikkan jari untuk kedua kalinya. Meriam Sihir Otomatis menembak lagi, semua bola mengenai musuh tanpa terkecuali.
Meskipun sudah terkena serangan bertubi-tubi, musuh hanya kehilangan separuh HPnya.
"Manusia, kamu pengecut. Bukankah aku mengatakan bahwa bahwa kita akan melakukan pertarungan!"
"Hai, Kawan. Bukankah senjata sihir juga termasuk kekuatan yang aku miliki, lihatlah!" kata Blue sambil menjentikkan jari untuk ketiga kalinya.
Sebelum berhasil menghancurkan Meriam, sengatan listrik menghentikan pergerakannya dan memberikan kerusakan bertubi-tubi.
Blue memanfaatkan kesempatan untuk menggunakan Perusak Armor kemudian melanjutkan serangan dengan Ekstrim Blade.
[Pemain Blue berhasil memberikan kerusakan - 10 ribu serangan kritikal.] (20x)
Sungguh kerusakan yang sangat mencengangkan. Blue sendiri juga terkejut melihat kerusakan yang dia hasilkan, inilah efek dari gelarnya.
Iblis Kecil, Emma, dan Tobias juga memberikan serangan yang tidak dapat diabaikan. Hanya dalam beberapa detik saja, HP musuh sudah turun tinggal 15%.
Hanya perlu satu jentikan jari lagi, musuh akan kalah. Namun Blue berpikir lain, dia akan melakukan negosiasi dan menguji keberuntungan.
"Sepertinya aku sudah menang. Jadi apa kamu akan menjadi budak selamanya?" tanya Blue sedikit berharap.
Bakat dari iblis didepannya tidak terlalu buruk, jika dia berhasil menjadikannya budak. Bukankah itu lebih menguntungkan dari pada membunuhnya.
"Najis! Manusia kotor. Cepat bunuh saja aku!" teriaknya dengan suara putus asa.
"Sangat disayangkan."
Blue mengayunkan pedangnya bersiap untum mengalahkan musuh. Namun seorang wanita cantik menangkap pedangnya.
"Anak muda, biarkan dia lolos atau aku akan membunuhmu!" katanya dengan suara pelan dan mengancam.
__ADS_1
Blue melihat wanita itu, ternyata dia adalah Raja Iblis Elis yang rela datang hanya untuk menyelamatkan bawahannya.
Sebuah debu muncul di sebelah Blue, sesosok iblis laki-laki muncul dan langsung melepaskan pukulannya kearah Raja Iblis Elis. Venom muncul dengan raut wajah yang sedikit marah.
"Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan datang dan mengganggu peperangan?" tanya Venom dengan tatapan tajam.
Raja Iblis Elis merasakan sebuah kekuatan aneh menggerogoti tubuhnya. Itu adalah efek dari aura naga hitam, jika Venom menggunakan kekuatan penuh Elis akan kehilangan kekuatan dan bisa dikalahkan dengan mudah.
Ternyata Venom dan Elis sudah membuat perjanjian tidak akan ikut campur dalam peperangan. Meskipun begitu, Venom akan turun tangan jika Blue kalah. Lebih baik melanggar janji dari pada kehilangan salah satu temannya.
"Sungguh kekuatan yang mengerikan. Apa kamu pikir bisa lolos dari putri Lamia?" tanya Elis dengan raut wajah yang tidak senang.
Kekuatannya tanpa tidak bisa dikendalikan dengan baik. Dia merasa pukulan Venom benar-benar mempengaruhi pengendalian kekuatannya.
"Sebenarnya siapa Venom ini. Aku tidak pernah mendengar kekuatan darinya, bahkan ayahnya tidak sekuat ini!" Elis sangat kebingungan.
"Dalam kamus keluargaku tidak ada kata takut. Kamu pasti mengenal ayahku, dia mati karena membela ibu dan ibuku mati karena melindungi aku. Jadi jika kamu melukai orang di sekitarku, maka kemarahan Venom akan menghancurkan segalanya!" jawab Venom dengan suara berat.
Keduanya saling memandang, setelah beberapa detik Elis mengalihkan pandangannya. Instingnya mengatakan bahwa Venom sangat kuat.
Padahal keduanya adalah Raja Iblis tingkat 2, tetapi Venom memiliki sesuatu yang membuatnya tampak sangat kuat.
"Baiklah, kalau sudah begini mari selesaikan pertengkaran. Wilayah ini akan aku berikan, tapi lepaskan dia!" kata Elis menunjuk iblis yang berlutut di depan Blue.
"Baiklah, semoga hari kalian menyenangkan. Oh iya, jangan lupa bawa semua iblis di dalam desa." Blue membiarkan dia pergi.
Elis langsung membawa seluruh iblis yang ada di desa, hanya perlu satu jentikan jari semua iblis di wilayah selatan langsung menghilang dan berpindah.
"Apa kamu yakin melepaskannya?" tanya Venom melihat sosok iblis yang dibawa Elis sangat berbakat. Mungkin saja suatu saat dia akan setara dengan Raja Iblis Lamia atau Pemilik Arena.
"Siapa yang melepaskannya. Aku hanya memberinya hidup beberapa hari saja, sangat disayangkan bakat seperti itu harus menghilang," jawab Blue dengan senyum lebar di bibirnya.
Venom tidak mengerti apa yang dimaksud, dia hanya menganggukkan kepala menyatakan persetujuan.
Sampai akhirnya Bee keluar dari ruang penyimpanan. "Sudah aku bilang, lebih baik cara licik untuk merekrutnya. Sekarang kamu membunuhnya dengan sangat tragis, bocah gila!"
"Apa yang dia lakukan?" Venom penasaran.
"Racun, bocah gila itu menggunakan racun yang diperuntukkan untuk membunuh seorang Raja Iblis. Itulah mengapa dia sangat yakin bisa lolos, bahkan jika Elis muncul dan mengajarnya," jawab Bee sambil mengeluarkan kaki kepiting goreng.
"Bagaimana caranya memberikan racun?"
"Apa kamu ingat dia selalu me jentikan jari untuk menembak bola energi. Sebenarnya bola energi itu telah mengandung racun yang sudah diperkuat, jadi selama dia bukan Raja Iblis tingkat 3 pasti akan mati jika terkena serangan itu."
"Tidak mungkin Raja Iblis bisa dikalahkan dengan racun rendahan seperti itu." Venom masih bersikeras tidak percaya.
"Bodoh, apa kamu lupa keberadaan Naga Hitam!"
"Maksudmu, bola energi itu terbuat dari aura naga hitam?"
"Bocah itu terlalu cerdas, dia tidak memberikan kesempatan seperti itu. Jika calon Raja Iblis itu berhasil menetralkan aura naga hitam, pasti dia akan sekuat dirimu. Jadi bocah itu memanipulasinya menggunakan bahan khusus supaya tidak mudah di sembuhkan, kamu harusnya sudah mengalaminya tempo hari."
Jawaban Bee langsung membuat Venom tercengang. Dia langsung memandang Blue dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"Jangan menatapku seperti itu, dunia ini kejam. Mana mungkin aku bisa menang melawan Elis dengan kekuatanku sekarang, sedikit licik adalah jalan yang aku pilih."
"Sedikit licik jidatmu!" kata Bee menyela perkataan Blue.