Domain Dewa : Raja Pedang

Domain Dewa : Raja Pedang
181. Keterampilan Buatan


__ADS_3

Langkah kaki Blue tampak pelan ketika masuk kedalam tanah. Dia tidak mempunyai informasi mendetail tentang ruang rahasia ini, yang dia ketahui hanya perahu kecil yang menjadi hadiah akhirnya.


Tidak lupa Blue melepaskan kedua pedang dari punggungnya. Perlahan tapi pasti, dia melangkahi tangga dengan tenang sambil melepaskan prana miliknya.


Suara kelelawar membuat suasana menjadi mencekam. "Ini bukan rumah hantu, Kan?" tanya Blue dalam hati.


Untuk membuatnya lebih yakin, Bee dikeluarkan. "Bee, bagaimana pendapatmu tentang ruangan ini?" tanya Blue pelan.


"Menarik, ukiran pada dinding menandakan bahwa pemilik ruangan ini mempunyai sebuah harta. Namun untuk mendapatkannya tidak akan mudah, pemilik harta ingin menguji setiap pemain yang datang!"


Bee menerjemahkan kata yang ada di dalam dinding, Blue yang berpengetahuan luas harus mengakui bahwa Bee sangat hebat.


Pengetahuan Bee tidak lain karena ingatan yang ditinggalkan Raja Kartanegara. Sangat aneh Bee bisa menyerap semua ingatan, tetapi itulah yang sudah terjadi.


"Aku sudah berjalan cukup lama, tetapi kenapa belum menemukan ujungnya?" tanya Blue pelan.


"Aku tidak tahu, tetapi menurut pengamatan sekilas. Kamu terlalu berhati-hati, gunakan Raul untuk sampai lebih cepat."


Tanpa menunggu lama, Blue mengeluarkan Raul dan Ela untuk mendukung perjalanannya. Setidaknya Blue berjalan selama 1 jam penuh menuruni tangga bersama familia miliknya.


Sebuah gerbang besar setinggi 5 meter tampak tertutup. Sebuah ukiran aneh terlihat, Bee langsung mendekat dan mencoba menerjemahkannya.


"Ruang Pengujian, pemain diharuskan melewati ujian dari pemilik. Jika berhasil menyelesaikannya, maka pemain akan me dapatkan hadiah yang berhubungan dengan lautan."


Bee menjelaskan tentang sejarah pemilik ruangan, semua itu dijelaskan pada pintu besar. Sayangnya tidak pernah ada penyebutan nama pemilik ruangan.


Blue menyentuh pintu ujian, sinar berwarna kuning muncul di sela pintu hingga membuat kesadarannya memudar.


Sekali lagi, Blue di bawa kesebuah tempat yang tidak diketahui. Ada sebuah pulau kecil yang sedang dikepung oleh banyak perahu perang.


Ada seorang anak kecil yang ada di tengah pulau sambil menangis karena kedua orang tuanya telah meninggal tepat di depan matanya.


Anak itu berteriak, "Aku akan membalas kalian semua!"


Adegan berubah menjadi pemuda yang membantai semua orang yang pernah menyerang pulau kecil itu. Pemuda itu tidak lain adalah anak kecil yang kehilangan kedua orang tuanya di tengah pulau.


Adegan pembunuhan terjadi tepat di depan matanya, Blue kebingungan ketika tidak merasakan sedikitpun empati. Dia berpikir bahwa semua itu karena prana misterius miliknya.


Pemuda yang berhasil membunuh semua musuhnya kembali ke pulau kecil dan memberikan penghormatan kepada kedua orang tuanya.


Dia bersujud di depan makam orang tuanya selama satu hari penuh tanpa makan dan minum. Jelas saja itu sangat tidak masuk akal untuk orang manusia biasa.


Setelah melakukan penghormatan, pemuda itu pergi meninggalkan makam dan mulai mengarungi lautan. Petualangan dimulai, pemuda itu membeli perahu dan mulai berlayar.


Adegan berpindah ketika dia menaiki sebuah perahu yang sangat besar. Dia memimpin semua kapal di sebelahnya untuk mengalahkan musuh yang mempunyai perahu besar.


Peperangan terjadi hingga kedua belah pihak tampak sangat kesusahan memenangkan perang. Namun sebuah pisau menembus perutnya dan mengenai jantungnya, pemuda itu menengok kebelakang.


"Mengapa kamu melakukannya?" tanya pemuda yang sudah berjenggot tampak tua.


"Ayah, waktumu sudah habis. Biarkan anakmu ini yang meneruskan perjuanganmu."


Sebuah energi aneh muncul dari pemuda itu, kemudian energi aneh itu langsung mencekik pria dibelakangnya yang tidak lain adalah anaknya.


Keduanya meninggal di atas perahu bersama. Sebuah pemberitahuan sistem menyelesaikan cerita.


[Apa tindakan pemuda yang kehilangan kedua orang tuanya salah?]


Blue sadar bahwa ini adalah ujian, dia tidak bisa menjawab secara langsung karena sudah melihat pengkhianatan di akhir hidupnya.


Masih terlalu dini untuk mengatakan pemeran utama dalam cerita adalah orang yang salah. Dia hanya membalas dendam dengan semua orang yang membunuh ibunya.


Dilihat dari waktu perang yang menggunakan pedang. Artinya mereka hidup di zaman peradaban, karena tidak ada pistol atau senjata canggih lainnya sudah dipastikan mereka hidup di tahun 1200an.


Pasalnya pada tahun itu sudah ditemukan sebuah senjata api yang dapat melontarkan besi raksasa untuk menyerang kapal.


Pertanyaannya tentang kesalahan pemeran utama, jadi Blue harus memberikan sebuah alasan tentang tindakannya.


"Bodoh, itulah yang bisa aku katakan. Semua tindakannya tidak salah, tetapi sayangnya di akhir cerita dia terlalu percaya dengan orang disekitar."


Blue menjawab sangat panjang, dia tidak berhenti berbicara. Semua dilakukan supaya sistem menilai bahwa dia menganalisis kesalahan pemeran utama dengan baik.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan semua perkataan yang ada di dalam kepalanya, pemberitahuan sistem membuat Blue tersadar.


[Selamat kepada lain Blue telah berhasil menyelesaikan ujian dengan sangat baik. Sekarang arwah pemuda yang ada dalam cerita bisa tidur dengan tenang!]


Pintu raksasa setinggi 5 meter terbuka. Ada 3 harta yang ditinggalkan pemuda tersebut, ada tiga warna berbeda pada setiap kotaknya.


Blue mencoba menyentuh kotak berwarna tembaga, tanpa harus melakukan apapun, kotak tembaga langsung terbuka.


[Silver Boat]


Tingkat : Langka


Level : 65 (Mengikuti level pemain)


Status :


Kekuatan : 300


Kelincahan : 1000


Pertahanan : 750


HP : 2 juta


Menampung : 10 orang


Kemampuan khusus :


- Meningkatkan kecepatan dua kali lipat selamat satu menit (Pendinginan 1 jam)


- Melepaskan Tembakan Laser (Pendinginan 1 menit)


Persyaratan :


- Hanya bisa digunakan Blue.


"Seperti yang diharapkan. Tidak ada sedikitpun informasi yang melesat, sekarang mari coba kotak lainnya," kata Blue sambil tersenyum.


Dia mencoba menyentuh kotak perak yang ada disebelah kiri. Tidak ada cahaya sedikitpun, Blue mulai kebingungan ketika kota tidak kunjung terbuka.


Entah apa yang membuatnya berpikir untuk menggunakan prana. Blue langsung melakukannya ternyata caranya sangat efektif.


Kotak perak memancarkan cahaya berwarna putih sedikit abu-abu, seperti perak tetapi lebih cerah. Blue sangat terkejut melihat hadiah yang dia dapatkan.


[Perahu Layar]


Tingkat : Epik


Level : 80 (Level pemain +15)


Status :


Kekuatan : 1500


Kelincahan : 700


Pertahanan : 2500


HP : 20 juta


Daya Tampung : 3000 orang


Kemampuan khusus :


- Membuat pelindung di sekitar kapal dengan total 2 kali HP maksimum (Pendinginan 2 jam)


- Menembakkan bola energi dengan 5000% kerusakan. (Pendinginan 5 menit)


- Menembakkan laser dengan 800% kerusakan selama 10 detik. (Pendinginan 5 menit)


- Meningkatkan Kelincahan sebanyak 2 kali selama 1 menit. (Pendinginan 5 menit)

__ADS_1


"Jekpot!"


Blue tidak bisa menahan rasa senangnya. Perahu tingkat Epik sangat susah ditemukan, bahkan ketika Domain Dewa sudah mengalami perubahan ke empat.


Namun Blue harus berhati-hati untuk menggunakan Perahu Layar, dia tidak menguasainya sepenuhnya. Jika perahu hancur maka Blue tidak akan menyesal, tetapi jika Perahu Layar di rebut musuh akan menjadi penyesalan yang amat menyakitkan.


Pasalnya perahu di atas laut bisa di rebut jika semua pemain di dalam perahu sudah di kirim ke Rumah Kebangkitan.


Oleh karena itu, Blue harus berhati-hati dalam penggunaannya. Mungkin belum banyak guild yang memfokuskan diri untuk menjelajahi lautan, tetapi Blue harus waspada terhadap semua ancaman.


Tidak mau membuang waktu lebih banyak, Blue mencoba menyentuh Kotak Emas dengan menggunakan prana.


"Tidak terjadi apapun?" gumam Blue kebingungan.


Bee mendekati ukiran aneh yang ada di dalam kotak emas. "Tebasan Bintang?" katanya pelan. Dia mencoba berpikir keras.


Sebelum menjelaskan lebih lanjut, Blue memejamkan matanya dan menggenggam erat kedua pedangnya. Prana di aliran sesuai dengan gambar yang ada di dalam Kotak Emas.


"Jangan terlalu cepat. Aliran prana dengan lembut dan halus, mungkin saja kuncinya ada pada ketenangan."


Bee mencoba memberikan saran. Dia seperti seorang pemandu yang selalu mengoreksi setiap kesalahan yang dilakukan Blue.


Pelatihan dimulai perlahan, Blue memfokuskan dirinya mengendalikan prana. Bee mencoba memberikan saran sebaik mungkin.


Tidak terasa keduanya telah menghabiskan waktu selama satu minggu penuh. Blue tidak makan dan minum, dia hanya berkonsentrasi untuk mengendalikan prana miliknya.


"Tebas!" teriak Bee.


Tanpa menunggu lama Blue mengayunkan kedua pedangnya secara bersamaan. Sayatan pedang langsung mengarah kedinginan dan menggores dinding.


Sebuah percikan bintang tampak terlihat, Blue tersenyum manis melihat pemberitahuan sistem.


[Selamat Pemain Blue berhasil menciptakan Keterampilan Buatan : Tebasan Bintang]


[Keterampilan Buatan : Tebasan Bintang]


Tingkat : S


Level : 2 (0/100) (Cincin Kartanegara +1)


Pendinginan : -


Mengayunkan dua pedang secara bersamaan hingga membuat percikan bintang. Pemain dapat menghasilkan 400% kerusakan.


Batas level : 9 (Cincin Kartanegara +1)(Bisa meningkat dengan pemahaman lebih lanjut)


"Sungguh gila, aku bisa menciptakan Keterampilan Buatan secepat ini!" kata Blue dengan penuh semangat.


Untuk menguji seberapa boros penggunaan Tebasan Bintang, Blue mencoba menggunakannya lagi. Namun siapa sangka konsentrasinya langsung terkuras habis hingga sistem memperingatkannya.


Sebelum keluar dari permainan Blue mencoba untuk membuka Kotak Emas. Tepat seperti yang dia perkirakan Kotak Emas bersinar terang.


Namun sebelum Blue membaca hadiah yang dia dapatkan, Domain Dewa memaksanya untuk keluar dari permainan.


[Markas Besar Fairy Dance]


Mesin Virtual Domain Dewa terbuka dengan asap putih yang mengepul. Ini adalah pertama kalinya Blue melihat mesin virtual mengeluarkan asap.


"Aku sudah satu minggu di dalam mesin virtual?" tanya Arief kebingungan. Dia tidak pernah menyangka bisa tahan makan dan minum selama satu minggu.


Suara perut yang keroncongan terdengar sangat keras. Arief langsung menuju dapur dan mendapati seseorang yang dia kenal.


Orang itu tidak lain adalah Oliver yang baru sampai kemarin malam. Senyum kecut terlihat di wajah Arief yang sedang kelaparan.


"Sial sekali aku hari ini," gumamnya pelan. Dia tahu seperti apa masakan Oliver yang baru belajar memasak.


"Bos, akhirnya kamu keluar. Silahkan duduk, aku akan membuatkan masakan khusus untukmu," kata Oliver dengan nada penuh semangat.


Blue tersenyum dan menyetujui permintaannya, dia langsung duduk di meja makan menunggu hidangan yang disajikan Oliver.


Dia hanya bisa berharap bahwa dirinya tidak masuk rumah sakit setelah memakan masakan Oliver.

__ADS_1


Setidaknya butuh 10 menit untuk Oliver menyajikan hidangan yang tampak sangat enak. Arief tanpa ragu memakannya, soalnya perutnya sudah tidak dapat diajak kerja sama.


"Enak?" kata Arief kebingungan.


__ADS_2