Domain Dewa : Raja Pedang

Domain Dewa : Raja Pedang
287. Pemaksaan


__ADS_3

Raphael tersenyum manis, semua wanita yang melihatnya pasti akan meleleh. Sayangnya Blue pria tulen yang tidak tertarik dengan pria cantik.


"Kamu tidak perlu tahu apa tujuanku, sekarang kamu ingin memberikannya atau tanganku akan membunuhmu!" kata Raphael dengan pemaksaan.


"Tunggu, aku yakin ini adalah benda asli. Setidaknya katakan padaku apa yang ada didalamnya," kata Blue mengulur waktu supaya dia bisa berpikir.


Melihat aura yang dipancarkan Raphael, seharusnya Venom tidak bisa mengalahkannya. Bahkan mungkin saja Venom hanya bisa menahan satu sentilannya.


"Arta adalah pamanku, jadi sudah sewajarnya aku memberikan warisan pada anak cucunya." Raphael tanpa sangat meyakinkan, tetapi Blue tidak percaya.


Melihat gestur tubuh dan kedipan mata yang tidak wajar, Blue berkesimpulan bahwa Raphael sedang berbohong.


"Sial, apa yang harus aku lakukan!"


Bee memberikan sarang. "Kabur saja menggunakan Gate, mungkin Raphael tidka akan bisa mengejar."


"Sebagai seorang pahlawan, 2000 kilometer hanyalah halaman rumahnya. Itu adalah tindakan bodoh yang pernah dilakukan."


"Bukankah kamu bisa menggunakan penyamaran ketika kabur?" tanya Ela.


Blue menganggukkan kepala, dia bersiap untuk menggunakan keterampilan Gate. Namun siapa yang menyangka Raphael sudah mengetahui niatnya.


"Jangan kamu kira keterampilan Gate yang kamu miliki bisa menipuku," katanya dengan senyum manis.


Tidak memperdulikan perkataan Raphael, Blue langsung membuka Gate di depannya dan masuk. Dia kabur menjauh dari Desa Koral dan langsung menggunakan identitas Topeng Setan.


Tepat setelah berhasil merubah dirinya, Raphael keluar dari Gate berwana kuning.


Blue dengan tenang masuk kedalam gua, auranya sudah berubah. Jadi Raphael tidak akan mudah menemukannya. Setelah 3 jam bersembunyi, dia segera menggunakan Gate untuk berpindah.


"Menarik, kemampuannya bersembunyi sangat baik," kata Raphael yang kehilangan keberadaan Blue.


Sayangnya tepat ketika Blue menggunakan Gate, Raphael merasakan ada seseorang yang menggunakannya. Dia tahu belum ada pemain yang bisa menggunakannya dengan cepat seperti Blue, jadi langsung menari sumber kekuatan.


"Jadi manusia itu bisa menggunakan Gate 3 jam sekali. Penyamaran dan pengendalian aura miliknya sangat bagus, bisa menipuku." Raphael langsung membuat Gate dan mengejar Blue.


Saat ini Blue menggunakan Penyamaran Joker Blue. Dia berjalan di sebuah kota di Kerajaan Banyuwangi atau lebih tepatnya musuh yang menyerang Tanduk Iblis, Air Kolam.


Semua pasukan Air Kolam sedang bersiap untuk melakukan serangan lanjutan. Namun Tara melarangnya, selama Blue berada di medan perang meraka pasti akan kalah.


Perwakilan dari Dominasi Dunia datang. Mereka menggunakan kereta mewah serta pengawal yang menggunakan set Armor Baja lengkap.


Blue yang berada di kerumunan merasa tenang karena Raphael tidak mengejarnya. Namun siapa yang menyangka ada Raja Iblis yang muncul di atas langit.


Melihat dari auranya yang berwarna kuning kehitaman, Blue dapat yakin itu adalah Raphael yang sedang menyamar.


"Manusia, jika kamu tidak menyerahkan barangnya. Akan aku hancurkan semuanya!" teriak Raphael dengan wujud Raja Iblis tingkat 5.


"Monster sialan!" gumam Blue langsung mencari jalan untuk keluar.


Di susul oleh para penduduk yang kabur dari Kota. Sayangnya Raphael sudah menggunakan keterampilan simbol, dia tidak mengizinkan satu orangpun keluar.


"Sudah aku katakan. Jika kamu tidak menyerah, semua orang disini akan menjadi korban!" kata Raphael dengan suara lantang.


Blue sangat yakin, seharusnya Pahlawan tidak akan membunuh penduduk pribumi yang tidak bersalah. Jadi dia memilih untuk diam dan tidak melakukan gerakan yang mencurigakan.


Seseorang orang dari Air Kolam mengaku bahwa dia adalah orang yang memiliki gulungan. "Aku awalnya memilikinya tapi itu sudah terjatuh ketika aku dikalahkan!"

__ADS_1


"Jangan berbicara kalau tidak memilikinya!" kata Raphael langsung menyerangnya menggunakan laser berwarna kuning kehitaman dari telunjuknya.


Berita beredar membuat orang terdiam kaku, orang yang terbunuh oleh Raphael telah kehilangan 10 levelnya. Benar-benar hukuman yang sangat kejam.


Blue masuk kedalam rumah, keterampilan Gate sudah siap untuk digunakan.


Bee menghentikannya. "Bodoh, tunggu Raphael mengamuk dan menghancurkan kota. Itu akan mengurangi satu musuh dengan cepat."


Siapa yang menyangka Bee memikirkan hal tersebut, Blue menyetujuinya. Walaupun ini adalah Kota milik npc, pemegang kendalinya adalah Air Kolam.


Raphael sudah kehabisan kesabaran, dia menggunakan sebuah bola energi yang cukup besar untuk menghancurkan kota.


Pemilik Kota mencoba menghentikan serangan tersebut, dia dibantu semua petualang pribumi di dalam Kota menghentikan serangan Raphael.


Padahal bola energi belum dilemparkan, tetapi ribuan orang telah tewas. Para penyihir dan semua orang kuat bergabung untuk menghentikan serangannya.


Namun Raphael sangat kejam, dia tetap melempar bola energi dengan tangan kanannya.


Ledakan super besar tercipta, aura yang saling bertabrakan membuat Raphael kesusahan mencari keberadaan Blue yang sedang menggunakan Gate.


"Tikus sialan, kamu benar-benar sangat pintar!" kata Raphael menunggu seluruh kota rata dengan tanah.


Tidak butuh waktu 1 menit untuk semua orang di dalam kota tewas. Para pemain dibangkitkan di Kerajaan Banyuwangi, sedangkan pemilik kota dan rakyatnya tewas.


Blue sedikit merasa bersalah, terapi dia mencoba untuk menanggungnya.


Berita tentang kedatangan Raja Iblis di Kerajaan Banyuwangi tersebar ke seluruh dunia. Anehnya para pahlawan di Kerajaan Banyuwangi hanya diam dan tidak ingin menghalangi Raja Iblis yang mengamuk.


Mereka berdalih butuh waktu untuk mengumpulkan para pahlawan, jadi harus merelakan sebuah kota dihancurkan.


Blue sudah sampai di bibir pantai, dia langsung masuk ruang rahasia yang pernah dimasukinya. Tidak lupa sambil berlari dia merubah penampilannya menjadi Red Devil.


Raphael muncul di permukaan, dia melihat kanan dan kiri. Kemudian melepaskan aura pendeteksi yang dia miliki.


Sayangnya aura Blue sudah dirubah, ditambah lagi ruangan khusus dibawah tanah sangat misterius. Bahkan kekuatan Raphael tidak bisa menembusnya.


"Ruangan apa ini. Jadi tikus itu mengetahui tempat misterius ini. Menarik!" kata Raphael sambil mencoba membuka pintu masuk.


Sayangnya kekuatannya tidak bisa membuka paksa pintu masuk, dia mengerutkan kening. "Aku tidak menyangka, dunia ini masih mempunyai ruang yang tidak bisa aku buka paksa!" kata Raphael penuh semangat.


Dia mencoba mencari cara untuk membukanya, karena kecerdasan bawaannya sangat tinggi. Raphael hanya butuh 10 menit untuk memecahkannya.


"Batu Hitam yang sangat kuat. Aku tidak yakin bisa menghancurkannya dengan kekuatanku sekarang, semoga ini akan menjadi pertemuan keberuntungan yang menarik!" kata Raphael melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan.


Anehnya Raphael di lempar ke sebuah dimensi aneh. Berbeda dengan Blue yang masuk ke dalam ruangan biasa.


"Aku tidak merasakan sedikitpun kehadiran disini. Ini sangat aneh," kata Raphael langsung terbang keatas dan melihat sekeliling.


Betapa terkejutnya dia, ternyata sepanjang mata memandang tidak ada satupun bebatuan, yang ada hanya pasir lembut.


"Gurun dimana ini?"


Raphael kebingungan, dia tidak pernah melihat gurun seluas ini. Dia terbang tanpa tujuan, tidak ada satupun petunjuk yang dia dapatkan.


Blue tidak mengetahuinya, dia langsung menggunakan Gate untuk melarikan diri dan merubah penampilannya lagi.


Raphael dikembalikan keluar ruangan. Dia terkejut tubuhnya tidak bergerak sedikitpun dari tempat terakhir dia menginjak ruang rahasia.

__ADS_1


Dengan panik, Raphael langsung menutup ruangan. "Sialan, aku terperangkap cukup lama. Kemana perginya tikus itu!"


Raphael tidak menemukan jejaknya, karena Blue menggunakan Gate di dalam ruangan. Jadi tidak bisa mendeteksinya.


Blue yang berhasil lolos tidak menyadarinya. Dia terus berlari dan menggunakan Gate setelah pendinginan selesai.


2 hari berlalu, Blue terus berlari tanpa tujuan. Raphael juga sama, dia melepaskan semua kekuatan pendeteksi untuk mencari keberadaan Blue.


Sampai akhirnya, Blue memutuskan untuk menggunakan Penghargaan Dewa Arta. Dia mengeluarkannya dari penyimpanan dan langsung menggunakannya dengan berteriak, "Buka!"


Tepat sebelum sistem menyetujuinya, sebuah cahaya kuning muncul di pergelangan tangan dan kakinya.


Raphael datang, dia menggunakan keterampilan aneh yang bisa membekukan pergerakan musuh.


"Sial aku belum sempat menekan tombol setuju!"


Blue terjatuh tidak berdaya, gelang cahaya yang mengekang semua pergelangannya sangat berat, sehingga dia tidak bisa berdiri.


Gulungan Penghargaan Dewa Arta menggelinding. Tangan Raphael mengambilnya dengan senyum manis di bibirnya.


"Akhirnya aku menemukanmu, mainan kejar-kejarannya sangat menyenangkan. Jadi sebagai penghargaan aku tidak akan menyiksamu!" kata Raphael.


Jari telunjuknya mengarah ke Blue, yang menggunakan identitas Topeng Setan.


"Tunggu!" teriak Blue menghentikan serangan Raphael.


"Jangan pernah bertanya kegunaan gulungan ini. Aku sudah mengatakannya, ini milik pamanku dan akan aku berikan pada yang berhak," kata Raphael dengan tegas.


"Tidak, aku sebenarnya ingin menanyakan mengapa pahlawan kuat sepertimu tidak naik menjadi Dewa?" kata Blue untuk mengulur waktu supaya skill Gate miliknya siap digunakan.


"Manusia rendahan sepertimu tidak tahu betapa liciknya dunia Dewa itu, jadi jangan menganggap menjadi Dewa adalah hal yang mudah."


Bee dan Ela bersamaan berkata, "Bagus dia memakan umpannya!"


Keduanya berada di dalam ruang penyimpanan, jadi Raphael tidak bisa mengetahuinya. Ditambah lagi adanya Buku Neraka yang bisa menyembunyikan kehadiran semua makhluk yang ada di dalam dirinya.


"Aku pernah bertemu dengan Dewa yang memberikanku mata ini, tetapi mata itu tidak bisa melihat statusmu. Artinya kekuatanmu lebih kuat dari Dewa itu, bagaimana mungkin kamu masih menjadi pahlawan biasa?"


"Pemikiran yang bagus manusia. Sembari membuang waktu, aku akan menceritakan sesuatu yang sangat menarik."


Raphael duduk di sebelah kepala Blue yang tergeletak di tanah. Dia menarik napas dan melepaskannya perlahan.


"Suatu hari ada anak berumur 7 tahun dan keluarga sangat kaya. Anak itu selalu berusaha keras, bahkan anak seusianya dan beberapa seniornya mengakui kekuatannya. Banyak orang mengatakan dia akan menjadi salah satu pria paling berbakat di dunia dan menjadi Dewa paling kuat.


Sayangnya anak itu tidak mau menjadi Dewa, dia hanya ingin hidup dengan ayah dan ibunya.


Sampai suatu ketika Dewa Perang yang merasa bakatnya terlalu besar membunuh seluruh keluarga. Dia menganggap bahwa keluarga dari anak itu adalah penghambat yang paling besar untuk pengembangan bakatnya.


Sang anak tumbuh besar sendirian, dia terus berlatih siang dan malam untuk meningkatkan kekuatannya.


Suatu ketika, kekuatannya sudah setara dengan dewa. Ada Dewa jahat yang merusak lingkungan kerajaannya, dengan gagah berani anak itu membunuh dewa perusak.


Betapa terkejutnya dunia ketika melihat dewa jahat yang merusak segalanya di penggal kepalanya dan di gantung di alun-alun Kerajaan.


Sejak saat itulah gelar pahlawan didapatkan anak malang tersebut, sayangnya pertumbuhan kekuatannya lambat. Sehingga kedua orang tuanya harus mati di tangan Dewa Perang."


Raphael tampak sangat sedih ketika menceritakan kisah anak kecil dari kerajaan tersebut. Blue bukan orang bodoh, dia tahu anak kecil itu adalah Raphael sendiri.

__ADS_1


__ADS_2