
Setelah selesai memberikan informasi tentang monster lapangan, dia kembali ke Rumah Perlindungan Fairy untuk bertemu dengan anggota lainnya.
Queen dan Aqila sudah menunggunya di Rumah Petualang lantai 5.
"Bos, kenapa kamu memanggil kami?" tanya Queen.
"Aku ingin melakukan penggilingan bersama kalian berdua. Kekuatan kalian sangat cocok untuk penggilingan dungeon kali ini." Arief ingin segera meningkatkan levelnya menjadi 35 karena Beruang Merah bukan musuh yang mudah.
Aqila dan Queen tahu seberapa pintar Arief dalam mencari celah. Mereka masih berada di level 36, setelah diberikan informasi tentang monster lapangan.
Anehnya Arief belum naik level selama beberapa hari berburu. Aqila bertanya, "Bos, kenapa kamu masih berada di level 34?"
"Aku memiliki kelas khusus yang membuatku harus memburu monster lebih banyak dari kelas biasanya." Arief menjawab dengan santai, tetapi hal itu membuat Aqila dan Queen curiga.
Pasalnya mereka memiliki kelas tingkat Langka, sehingga mereka mengetahui betapa sulitnya meningkatkan level.
"Bos, bolehkah aku bertanya tentang kelas milikmu?" tanya Aqila dengan ekspresi serius.
Arief menjawab dengan santai, "Pendekar Pedang. Tidak ada yang istimewa, hanya saja aku memiliki kondisi yang tidak bisa aku jelaskan."
Queen dan Aqila adalah pemain cerdas. Mereka tidak bertanya lebih lanjut tentang rahasia seseorang, sebenarnya bertanya tentang status maupun kelas adalah hal yang tabu di kalangan pemain Domain Dewa.
Aqila adalah wanita yang penasaran dengan kelas milik Arief, jadi dia memberanikan diri untuk bertanya. Sayangnya Arief hanya memberikan informasi biasa yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Mereka bertiga menuju Dungeon level 40, Kelinci Bulu Ungu. Status kelincahannya cukup tinggi, sehingga Arief membutuhkan pemain lain untuk mengalihkan perhatiannya.
Berbeda dengan Dungeon lainnya, Kelinci Bulu Ungu mempunyai kecerdasan rendah. Jadi pengalaman yang di dapatkan lebih banyak dari membunuh monster lapangan.
Arief menyiapkan 100 bom peledak dan100 bom lengket. Dia tidak membeli bom asap karena monster Kelinci Bulu Ungu mempunyai penglihatan yang sangat baik. Ditambah ia mempunyai kecerdasan yang dapat membantunya membedakan musuh atau bukan.
"Ayo masuk!" kata Arief menuju Dungeon level 40 yang belum ramai. Karena beberapa orang sadar betapa sulitnya Dungeon Kelinci Bulu Ungu.
Queen dan Aqila melihat pintu yang akan mereka masuk adalah tingkat Sulit. Setelah pembaruan ketiga, Dungeon memiliki 3 tingkat kesulitan. Mudah, Sedang, dan Sulit adalah tingkat yang dapat dipilih sebelum masuk ke sebuah dungeon.
Nama : Kelinci Bulu Ungu (Rendah)
Level : 40
HP : 50 ribu
10 monster telah mengepung mereka bertiga. Arief melempar boneka perang untuk mengalihkan perhatian para monster.
Karena boneka perang dapat menahan serangan monster, Arief segera mencari tempat terbaik untuk melempar bom lengkap.
"Queen alihkan perhatian mereka. Jangan biarkan keluar dari jangkauan bom lengket," kata Arief memberikan perintah.
Mendengar instruksi, Queen langsung berlari menuju kerumunan monster Kelinci untuk memancing perhatian.
Tugasnya bukan mengurangi HP monster Kelinci Bulu Ungu, melainkan hanya bertahan sampai Arief selesai membangun sebuah menara petir.
Untuk membangun Menara Petir membutuhkan seorang Arsitek. Walaupun masih berada di tingkat pemula, Arief cukup mengerti tentang profesi Arsitek.
Di kehidupan sebelumnya, Arief adalah seorang pandai besi. Pengalamannya tentang Arsitek tidak terlalu banyak, tetapi masih mampu untuk membuat beberapa benda tingkat rendah.
Menara Petir digunakan untuk memancing Kelinci Bulu Ungu. Setelah terkena sambaran petir, Kelinci Bulu Ungu akan menjadi marah.
Ketika mereka dalam keadaan marah, kecepatannya akan sangat menurut. Ketika itu terjadi bom lengket akan sangat membantu, jika beruntung bom lengket dapat menghentikan pergerakannya dalam beberapa waktu.
Aqila yang sudah lama tidak bergerak akhirnya menggunakan ketrampilan ikat untuk membatasi pergerakan 10 monster Kelinci.
Queen langsung menggunakan ramuan HP dan MP untuk menyembuhkan dirinya. "Padahal masih 20 detik, tetapi sudah sesusah ini!" gumam Queen melihat 10 monster kelinci menggeliat tidak bergerak.
"Jangan biarkan dirimu lengah, monster kelinci masih bergerak!" teriak Aqila sambil menyiapkan sihir berikutnya.
Mereka bergerak sesuai yang rencana. Anehnya tanpa sadar, HP monster berkurang dengan cepat.
"Aneh, siapa yang memberikan kerusakan tambahan?" gumam Queen kebingungan.
__ADS_1
Arief muncul dari kegelapan, "Semua sudah siap. Giring monster ke tempat yang sudah ditentukan."
Perkataan Arief langsung membuat Queen tersadar, sebenarnya hanya mereka berdua yang mengurangi HP monster dengan teratur.
Sekarang Aqila dan Queen sadar, strategi yang diberikan Arief sangat efektif. Bahkan bisa melatih konsentrasi seorang prajurit.
Queen dan Aqila berlari ke tempat yang sudah ditentukan. Dia melihat sebuah menara setinggi 7 meter dengan batu Energi aneh di puncaknya.
Batu itu adalah Batu Energi tingkat menengah yang seharusnya di dapatkan dari membunuh monster tingkat 100.
Namun Arief bisa mendapatkannya dengan cara menggabungkan 3 Batu Energi tingkat rendah menggunakan Batu Bertuah.
Mulai sekarang Fairy Dance tidak akan kekurangan pasokan batu Energi. Karena batu energi tingkat menengah 10 kali lebih hemat dari pada tingkat rendah.
Sekarang Fairy Dance memiliki 600 Batu Energi tingkat Menengah yang siap untuk digunakan kapanpun. "Sudah saatnya Fairy Dance menunjukkan taringnya!" gumam Arief.
Kelinci Buku Ungu yang mengejar mereka terkena serangan Menara Petir hingga membuatnya mati seketika.
¬ Menara Petir memberikan kerusakan - 50 ribu.
"Gila!" teriak Aqila kaget melihat kerusakan yang dihasilkan Menara Petir.
Arief hanya bisa tersenyum, dia tidak menyangka tiga kali kerusakan langsung terpicu di serangan pertama. Keberuntungannya tidak sampai disitu, segerombol Kelinci Bulu Ungu mengepung Menara Petir.
Bukannya takut, Arief malah senang melihat Kelinci Buku Ungu yang mulai berkumpul. "Mari kita coba serangan yang lebih besar!" kata Arief memberikan isyarat untuk menembak.
Menara Petir dapat dikendalikan melalui pikiran, jadi untuk melakukan tembakan Arief harus mengangkat tangannya dan mengatakan kata kunci untuk menembak.
Hanya dalam 5 menit, mereka bertiga telah berhasil membunuh 50 monster Kelinci Bulu Ungu. Jumlah tersebut jelas tidak sedikit, mereka mengulangi cara tersebut untum menyelesaikan Dungeon Kelinci.
Arief memiliki uang yang cukup banyak, jadi dia akan menggunakannya untuk menggiling monster lebih cepat.
Tanpa sadar Arief telah menghabiskan 850 koin emas untuk meningkatkan levelnya dari 34 ke tingkat 38.
Namun dia puas dengan hasilnya. Tidak hanya statusnya bertambah tinggi, Profesi Arsiteknya telah menjadi tingkat Mahir.
Inilah harapannya dari perusahan besar yang selalu membeli produknya. Inilah alasan kenapa Arief tidak ingin membuat konflik untuk memperebutkan Rumah Perlindungan Fairy.
"Mungkin ini yang dinamakan sekali dayung dua pulau terlampaui," kata Arief pelan. Namun suaranya masih terdengar Aqila dan Queen yang tidak melakukan apapun setelah Menara Petir berhasil berdiri.
Menara tersebut sangat efektif untuk melawan Kelinci Buku Ungu yang selalu melompat ketika berjalan. Jadi setiap kali mereka melompat, Menara Petir akan langsung menyerang.
Arief sekarang mempunyai 60 poin status yang belum dialokasikan. Dia masih berpikir supaya karakternya nyaman untuk digunakan.
Melihat status Kelincahannya, Arief memutuskan untuk meningkatkan Kelincahan menjadi 400 poin. Sedangkan sisanya digunakan untuk status Kekuatan.
Nama : Blue
Kelas : Pendekar Pedang (Mistik)
Ras : Manusia
Profesi : All Role
- Pandai Besi (Mahir)(Pandai Besi yang Terlupakan)
- Arsitek (Mahir)
Level : 38 (12%)
Kekuatan : 286
Pertahanan : 123
Kelincahan : 400
Daya Tahan : 55
__ADS_1
Kepintaran : 22
HP : 2650
MP : 920
Sistem : Selamat telah berhasil menjadi pemain pertama yang memiliki Kelincahan 400 poin.
Hadiah :
- Judul Kecepatan Cahaya
\=> Meningkatkan kecepatan sebanyak 20+10%.
\=> Meningkatkan Kerusakan 10%.
\=> Mendapatkan Ketrampilan Speed of Light.
- 20 poin status
- 20 poin profesi
- 20 poin skill
Speed of Light
Kelas : B
Tipe : Aktif
Level : 1 (0/100)
Pendinginan : 1 menit
Menerjang ke depan dengan kecepatan cahaya, menambahkan kelincahan sementara sebanyak 30%.
Arief langsung mengalokasikan poin statusnya pada Kekuatan, dia membutuhkan serangan yang lebih besar.
"Karakterku sungguh sangat aneh," kata Arief dengan senyum aneh di bibirnya. Jika Arief tidak mengetahui adanya kejutan menarik ketika poin status mencapai 500, dia tidak akan membangun karakternya seperti itu.
Sayangnya kejutan itu hanya diperuntukkan kepada 10 pemain pertama yang berhasil mencapai 500 poin. Sekarang Arief selangkah lebih maju di poin Kelincahan, dia tidak ingin ketinggalan di poin Kekuatan.
"Bos, bolehkah aku bertanya tingkat apa kelas milikmu?" tanya Aqila tidak memperdulikan etika permainan, dia sangat penasaran dengan Arief yang sangat susah untuk meningkat.
Queen dan Aqila yang awalnya berlevel 36 sekarang menjadi 43, tetapi Arief masih berada di tingkat 38. Perbedaan itu terlalu jauh, sehingga membuat mereka curiga.
"Aku tidak bisa mengatakannya, setidaknya kelasku memiliki persyaratan yang susah untuk menaikkan level." Arief tidak ingin mengungkapkan kelas Pendekar Pedang mistik.
Aqila hanya bisa menghela nafas, walaupun penasaran tidak diperbolehkan untuk memaksakan kehendak.
Mereka sudah menggiling monster selama dua hari, sudah waktunya melakukan pertemuan di Rumah Perlindungan Fairy.
Arief bersama Queen dan Aqila masuk kedalam ruangan, mereka melihat Doran dan teman-temannya bercanda santai. Di sebelah kanan juga ada Hira dan Hida yang tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Mereka masih bersaing meningkatkan level, tetapi belum ada hasil yang memutuskan. Keduanya berhasil menembus level 42.
Doran dan teman-temannya sudah berada di level 40, hanya Arief yang belum memiliki skill khusus tingkat 40.
"Bos, kamu sudah melompat mencapai level 38. Sungguh gila!" kata Doran melihat level Arief karena tidak menggunakan Topeng Setan.
Queen dan Aqila hanya bisa tersenyum melihat Doran terkejut hanya karena level Arief meningkat cepat. Jika melihat bagaimana Arief menggiling monster, semua orang yang ada di dalam ruangan akan gila.
Arief tersenyum manis mendengar pujian Doran. "Kamu terlalu memuji, semua berkat Queen dan Aqila yang memberikan bantuannya."
Semua orang tidak mempercayai perkataannya, bukan karena mereka tidak hormat. Tetapi karena semua orang yang ada di dalam ruangan tahu seberapa mengerikan Arief.
Namun tidak ada satu orangpun yang menyanggah perkataannya, mereka hanya menganggukkan kepala untuk menunjukkan rasa hormat.
__ADS_1