Domain Dewa : Raja Pedang

Domain Dewa : Raja Pedang
Mulai


__ADS_3

Nevada melaporkan semua perkataan Dewi Bianca pada Blue yang ada di markas Justin. Ia merasa kasian pada Dewi Bianca dan berencana membantu membebaskannya.


"Apa kau yakin?" tanya Blue menggunakan telepati.


"Mm... Saya tidak yakin." Nevada sudah mendengar semua cerita Dewi Bianca dan menarik kesimpulan bahwa elf salju tidak pernah ditinggalkan.


Namun sekarang semua ras elf salju sudah berada di bawah Raja Segalanya. Dilema merasuki hatinya, Nevada kebingungan harus melayani siapa.


"Aku menghargai keputusanmu, pergi dan lindungilah Dewi Bianca tapi jangan pernah muncul di depanku lagi."


Blue memblokir jaringan telepati kepada Nevada, ia segera keluar kerajaan dan mencari dua kembar yang ada di Kerajaan Agto.


Gerrad dan Gerrel sudah menunggu kedatangan, mereka melaporkan semua kelakuan Yong Boy dan kelompoknya.


Blue menepuk pundak Gerrad dan Gerrel. "Aku akan segera menendang mereka."


Gerrad menatap Blue dengan penuh arti, sebaliknya Gerrel menunduk memikirkan sesuatu. Mereka seperti siang dan malam, keduanya saling melengkapi.


"Bos, banyak pemain yang sudah mereka bunuh. Aku tidak tahan dan mencoba menyusul ke utara." Gerrad geram dengan kelakuan Yong Boy dan para preman. Namun ia tidak bisa menghadapai mereka.


"Yah, aku percaya pada kalian berdua." Blue membuka layar status dan mengeluarkan keduanya dari daftar pengikut dan guild.


"Bos, mengapa anda sangat percaya pada kami?" tanya Gerrel dengan suara pelan.


"Aku akan jujur, kalian sangat berbakat dan penting untuk mengembangkan Fairy Dance. Sejujurnya kalian akan menjadi dua pilar di Benua Utara." Blue menatap mereka penuh arti, ia menyampaikan maksudnya dengan suara halus.


Gerrad dan Gerrel juga saling memandang, mereka tersenyum dan berkata. "Terima kasih, Bos."


Tidak pernah ada orang yang memuji mereka berdua karena dari kalangan miskin. Gerrad dan Gerrel adalah anak muda yang makan dari belas kasih orang.


Namun sekarang mereka mendapatkan orang yang tulus membutuhkannya. Bukan karena kasian, tetapi karena ambisinya membangun guild yang kuat.


Gerrel langsung berlutut dan menyatakan sumpah untuk kedua kali. Gerrad juga melakukan hal yang sama.


"Untuk apa kalian melakukan itu?" tanya Blue.


Gerrel menjawab, "Jika satu kali sumpah bisa berkhianat dan di tendang, akan lebih baik menyatakannya dua atau tiga kali."


"Haha, kalian sangat lucu. Sebaiknya ayo bergabung denganku di panggung ini. Situasinya sedikit kacau, mungkin kalian akan mati beberapa kali." Blue memimpin jalan menuju markas Justin.


Gerrad dan Gerrel bertemu Justin yang begitu tampan, mereka menatapnya dengan penuh kecurigaan.


"Bos, tidak mungkin kau berbuat yang melawan norma, Kan?" tanya Gerrad.


"Haha, jangan berpikir aneh-aneh. Perkenalkan ia adalah Justin calon pemimpin kalian di Benua Utara."

__ADS_1


Justin mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. "Aku Justin, tolong kerja samanya."


Gerrad adalah orang pertama yang menjabatnya, tetapi Gerrel sedikit berbeda. "Bagaimana jika membuktikan kekuatanmu?"


Gerrel menarik tombaknya dari ruang penyimpanan. Ia langsung bersiap dengan kuda-kudanya. Blue tersenyum dan mempersilahkan mereka bertarung.


"Justin sebaiknya jangan main-main dengan anak itu." Blue memberikan saran yang membangun. Ia tidak tahu seberapa hebat Gerrel setelah mendapatkan kelas ketiganya.


Gerrad mengikuti Blue untuk menonton pertandingan. "Bos, apa kamu yakin dengan kemampuan Justin?"


"Mm... Satu justin bisa mengalahkan kalian berdua bekerja sama sebelum punya kelas ke tiga."


"Kalau begitu pemenangnya sudah jelas."


"Kau terlalu percaya diri, sebagai seorang jenius kalian akan mengerti apa yang dinamakan tingkatan bakat."


Justin menerima saran yang diberikan, ia langsung menggunakan Thunder Strom dan menarik perhatian semua pasukan. Beberapa orang berkumpul untuk menyaksikan pertandingan Gerrel dan Justin yang baru bertemu.


Gerrel melihat lawannya semakin kuat, ia tidak bisa main-main. Tepat ketika matanya berkedip, Justin sudah berada di depannya.


Ayunan pedang Justin menghantam tombak Gerrel yang sudah bersiap memblokir. Kedua senjata bentrok, Gerrel terlempar beberapa meter, tetapi ia langsung berdiri tegap.


Senyum langka diperlihatkan, Gerrel akhirnya tersenyum setelah sekian lama. Gerrad dan Blue terkejut melihatnya merasakan kesenangan pertarungan.


Justin terus mengulangi serangannya, tetapi ia tidak bisa memberikan kerusakan yang berarti. Gerrel masih tersenyum dan memblokir semua serangan lawan.


Pedangnya tidak cepat, hanya energi pedangnya bisa memotong apa saja. Gerrel yang merasakan energi lawannya meningkat tidak bisa menahan diri.


"Transformasi : Naga Es!" teriak Gerrel berubah menjadi seorang kesatria yang sangat elegan.


Armor yang berwarna biru muda ditambah dengan mahkota naga, Gerrel tampak sangat tampan dan memblokir serangan Justin dengan mudah.


"Sekarang giliran ku!"


Gerrel tidak cepat, tetapi setiap ayunan tombaknya sanga kuat dan efisien. Anehnya, serangan Justin yang cepat bisa di blokir dengan sangat cerdas.


HP Justin turun sampai berwarna kuning, ia mengaku kalah pada pertarungan saat ini. Gerrel melepas armor naga es dan mengulurkan tangannya.


"Gerrel."


Tentu saja Justin menerima jabat tangannya, ia tidak menyangka kekuatannya masih jauh di bawah anak muda seperti Gerrel.


Blue dan Gerrad muncul di sebelahnya dan bertepuk tangan. "Pertandingan yang seru, kalian sudah menunjukkan kekuatan masing-masing. Gerrel sudahkah kau memastikan ia pemimpin yang cocok?"


"Aku mengakuinya, Bos. Bakatnya sangat mengerikan, jika saja tanpa bantuan anda aku pasti akan kalah."

__ADS_1


"Jangan membuat orang salah paham. Aku tidak membantumu pada pertarungan tadi."


"Hehe, anda membantuku jauh sebelum itu."


Blue tersenyum tipis dan menepuk pundaknya. "Baiklah sekarang mari menuju arena pertarungan, Martin sudah menunggumu."


Justin sedikit kelelahan, ia meminta waktu untuk bermeditasi. Namun pikirannya sangat berantakan, ia merasa bakat yang dikatakan Blue tidak sebanding dengan kenyataannya.


Gerrad yang merasakan auranya tidak stabil langsung mendatanginya. Blue tahu, tapi ia membiarkannya.


Ada pepatah bilang, burung tidak akan bisa terbang jika di sarangnya terus menerus dan hanya disuapin induknya.


Blue dan Gerrel mengetahui itu, makanya mereka pergi. Namun Gerrad berpikir lain, ia lebih baik menolongnya sampai mengerti baru melepaskannya.


"Pasti kau bertanya-tanya kenapa bisa kalah."


Justin membuka mata dan melihat Gerrad duduk di depannya. "Sejujurnya aku memikirkan kejadian itu."


"Itu semua karena kepercayaan diri yang berlebih, fokus yang berlebih, dan gerakan yang boros."


"Aku sudah berusaha melakukan tapi tubuhku tidak mau bertindak sesuai situasinya!"


"Gerrel dan aku hidup di lingkungan yang berat, setiap hari ada perkelahian untuk sebuah roti. Jadi pengalaman kita bertarung jauh melebihi wajah tampan itu." Gerrad menunjukkan luka sayatan pedang di sekujur tubuhnya.


"..." Justin terdiam.


"Mesin virtual melakukan scan menyeluruh sampai sayatan pisau, tembakan piston, dan bahkan cambukan masih tersisa di badanku. Aku yakin kau belum pernah berada dalam situasi ini, maka wajar saja Gerrel bisa sangat tenang melawan manusia yang tidak bisa membunuhnya di dunia nyata."


"Terus mengapa kau tidak mengambil kursi pemimpin?"


"Kami adalah seorang petarung dan tidak pintar. Adikku menjadi setengah lumpuh karena kepala bagian belakangnya terpukul. Untungnya bos memberikannya teknik aneh yang bisa membuatnya bergerak lagi."


"..."


Justin tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan dua bersaudara yang hidup di lingkungan keras. Ia tersenyum dan melanjutkan meditasi dengan perasaan tenang.


Gerrad segera meninggalkannya dan bergabung dengan saudara dan bosnya.


Di arena Hao Ju membawa Nevada dan satu kakek tua. Orang itu tidak lain adalah pria yang di tiru Blue ketika menghadapi murid Singa Langit.


Justin muncul dengan pasukan setianya, ia langsung menuju arena pertandingan untuk menghadapi Martin.


"Justin, lihatlah wajah percaya dirimu itu!" teriak Martin tidak bisa menahan tawanya. Ia mengeluarkan senjata tingkat Legenda.


Justin tidak menjawab, ia menatap lembut pada ayah dan kakek tua di sebelahnya. Ayunan pedangnya langsung memotong dan menyerang Martin beruang kali tanpa perlawanan.

__ADS_1


Hao Ju sangat marah, ia sudah membekali Martin dengan banyak pil berharga. Namun siapa yang menyangka Justin bisa mengalahkannya begitu cepat.


__ADS_2