
Arief yang melakukan serangan biasa membuat musuhnya memiliki celah untuk menyerang. Namun dengan keterampilannya, dia dapat menghindar.
"Bocah, kamu memang sangat kuat, tetapi kekuatan tidak hanya sampai disitu. Akan aku tunjukkan kekuatan yang sesungguhnya," kata kepala polisi.
Dia adalah salah satu pensiunan pasukan khusus. Karena keadaan khusus kepala polisi tersebut di mutasi ke Cabang Kepolisian.
"Bagaimana jika kita saling berkenalan terlebih dahulu?" tanya Arief melihat prana yang memperkuat tubuh musuhnya.
"Kalahkan aku, jika ingin mengetahui nama asliku!"
Arief menghela napas dan menerjang musuhnya yang menggunakan prana untuk memperkuat tubuhnya. Dia menggunakan sebuah teknik yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
[Teknik Jari Dewa]
Mata Arief menatap tajam musuhnya, dia mengepalkan tangannya kemudian mengeluarkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Hembusan napas Arief sangat tenang ketika melihat prana yang mulai sempurna ndari Kepala Polisi.
Dalam sekejap kepala Polisi berdiri di depan Arief yang dalam kondisi konsentrasi penuh. Dia mengayunkan pukulannya sekuat tenaga.
Namun Arief menepis pukulannya dengan kelembutan tangan kirinya. Kemudian tangan kanannya menyerang dengan jari telunjuk dan jari tengah.
"Gaya pertama : dua titik," kata Arief menyebutkan tekniknya.
Dua serangan langsung mengarah ke dada dalam waktu satu kedipan mata. Kecepatannya jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Kepal Polisi terkejut ketika kestabilannya mulai tidak stabil. Dia mencoba sekuat tenaga untuk menstabilkan tubuhnya, tetapi serangan kedua terjadi lagi.
"Gaya kedua : 4 titik."
Empat serangan dalam satu kedipan mata terjadi menyerang tubuh Kepala Polisi hingga membuat bajunya berlubang.
Prana di tubuhnya tidak membantu sedikitpun, Kepala Polisi mulai pasrah menerima serangan. Dia hanya memperkuat tubuhnya supaya tidak terluka parah.
"Gaya ketiga : 8 titik!"
Delapan serangan dalam satu kedipan mata, Arief tersenyum lebar setelah menggunakannya.
Kepala Polisi tidak bisa memprediksi jalur serangnya, jadi hanya bisa menerima serangan telah. Tanpa dia sadari tubuhnya tergeletak lemas di lantai.
Kesadarannya masih utuh, tetapi ototnya tidak mau merespon keinginannya. Bahkan lidahnya tidak bisa digerakkan untuk berbicara.
Arief yang menggunakannya juga tidak tahu mengapa dia bisa menggunakan teknik rahasia seperti itu. Dia berlari ke arah lawannya dan menggunakan beberapa totokan untuk menyembuhkannya.
Setelah beberapa detik, Kepala Polisi mulai bisa menggerakkan mulut dan lidahnya.
"Teknik yang mengerikan. Hanya dalam beberapa detik kamu berhasil melumpuhkan tubuhku. Sesuai janji, Aku Rama mantan kepala regu Pasukan Sura."
Arief sudah mencari banyak informasi tentang Pasukan Sura yang berada jauh di Negara Surabaya. Pemimpin dari Pasukan Sura adalah keluarga Izza.
Banyak orang yang mengatakan mereka jauh lebih kuat dari Perusahaan Aldi. Namun fakta ya sebaliknya, pasukan Sura sudah menandatangani kesepakatan dengan Perusahaan Aldi.
Tidak ada yang tahu apa isi kesepakatannya, tetapi yang pasti menyangkut kedamaian dunia. Pertarungan di dunia nyata mulai berkurang setelah Perusahaan Aldi mengambil alih kekuasaan negara.
Tidak ada yang berani membantahnya, jadi pilihan terbaik adalah bekerja sama. Para pasukan khusus juga tidak mendapatkan kerugian dari kerja sama tersebut.
__ADS_1
"Aku Arief, pemimpin Fairy Dance. Semoga kita menjadi teman baik," kata Arief mengulurkan tangannya untuk membantu Rama berdiri.
Sebenarnya dia tidak pernah menyangka bahwa Rama adalah mantan pasukan khusus, dia merasa kekuatan rama sangat lemah untuk pasukan pengguna prana.
Rama menjabat tangan Arief dan berkata, "Aku kalah, tetapi selanjutnya tidak akan semudah ini!"
"Hai, aku mendapatkan sebuah ide bagus. Bagaimana jika kamu bekerja di Fairy Dance?" tanya Arief memanfaatkan situasi.
Seorang pengguna prana di Fairy Dance hanya Arief sekarang. Belum ada pemain yang berhasil melepaskan prana dengan sempurna.
Namun beberapa sudah membuka segel tinggal pengembangan sedikit, maka mereka akan menjadi pengguna prana awam.
Berbeda dengan Rama yang sudah menguasai Prana sejak lama, dia berharap dengan adanya Rama semua pemain mempunyai motivasi lebih.
"Memindahkan seorang polisi tidak mudah, apalagi dengan pangkat saat ini. Bahkan Arman tidak akan bisa memindahkan aku," kata Rama pelan.
Dua pria paruh baya muncul dari pintu. Dia adalah Arman dan seorang pria misterius yang memakai kacamata.
Rama yang masih kelelahan langsung melakukan penghormatan.
"Sangat menjanjikan. Seperti yang di katakan Arman, kemampuanmu dalam menganalisis serangan sangat baik. Perkenalkan aku Izza Billy, pemimpin pasukan Sura."
Pria paruh baya yang mengenakan kacamata berjalan menuju Arief yang tampak kebingungan.
"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan pasukan Sura yang sangat terkenal." Arief melakukan sikap hormat dengan cara mengepalkan satu tangannya dan satunya menggenggam. Salam ini biasa digunakan untuk para praktisi beladiri.
"Tujuanku sebenarnya adalah mengundangmu masuk pasukan Sura. Jadi apa pendapatmu?" tanya Izza Billy.
Arief menggelengkan kepala. "Sebuah kehormatan mendapat penawaran yang sangat menjanjikan. Namun keluargaku tidak mengizinkan aku masuk kedalam sebuah pasukan khusus, jadi mohon mengertilah," katanya dengan sopan.
Berbeda dengan Izza Billy yang mengerti kenapa Arief menolak. "Sangat disayangkan. Namun aku mempunyai sebuah tantangan untukmu, bagaimana jika kamu melakukan pertandingan persahabatan dengan lelaki tua ini?"
Arief tersenyum manis, dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bertarung dengan orang yang jauh lebih kuat darinya. Makanya dia langsung menerimanya untuk membandingkan kekuatan.
Karena Arief belum mendapatkan izin untuk menggunakan prana, dia akan menggunakan energi misterius yang tidak dapat dilihat mata telanjang.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini Arief menggunakan posisi tinju untuk melakukan pertandingan. Sedangkan Izza Billy hanya melipat tangannya kebelakang.
Arief mengayunkan tinjunya seperti sebuah pecut. Jalur serangannya tidak dapat diprediksi karena dapat dirubah dengan cepat. Pupil Mata Arief sedikit berubah, ada sebuah tanda aneh yang tidak bisa dilihat oleh semua orang.
Namun tanda itu membuatnya bisa melihat gerakan musuh dalam mode lambat. Setidaknya dia bisa memperlambat kecepatan serang lawannya sebanyak 0,5.
Tanpa diduga, serangan Izza Billy dapat meningkatkan kecepatannya hingga tak terlihat matanya.
Telapak tangan langsung mendarat ke dada Arief, dia terbang beberapa meter kebelakang dan memuntahkan seteguk darah.
Wajahnya tidak memperlihatkan ketakutan sedikitpun, dia tersenyum lebar. "Sekali lagi," katanya sambil mengusap darah di sudut mulutnya.
Rama dan Arman tidak tahu kenapa Arief bisa terdorong beberapa meter. Mata mereka tidak dapat melihat serangan Izza Billy dengan baik karena sedang berkedip.
Kemampuan Izza Billy dalam merasakan lingkungan sangat baik. Sayangnya dia tidak bisa menyembunyikan prana miliknya, itulah yang membuat Rama dan Arman takut Arief akan terbunuh.
Berbeda dari sebelumnya, Arief menggunakan posisi teknik pedang. Dia menggunakan dari telunjuk dan jari tengah untuk membuat sebuah pedang.
Arief tidak menggunakan teknik jari Dewa, tetapi menggunakan keterampilan pedang miliknya. Dia menerjang musuhnya sekali lagi, tetapi hasilnya sedikit berbeda.
__ADS_1
Dia berhasil melihat pergerakan telapak tangan dan menangkisnya dengan kecepatan tinggi. Namun Arief tetap terlempar beberapa meter, setidaknya dia tidak terguling-guling.
"Menarik, kamu berhasil memblokir serangan pria tua ini. Sekarang sudah waktunya melihat seberapa hebat tubuh yang kamu banggakan!" kata Izza Billy melangkah maju.
Langkah kakinya pelan, tetapi prana disekitar tubuhnya semakin padat. Arman dan Rama hanya bisa menundukkan kepala, mereka tidak kuasa melihat niat membunuh Izza Billy.
Arief sekali lagi tersenyum lebar. Dia sudah tidak bisa menyembunyikan kekuatannya lagi, karena Izza Billy benar-benar akan membunuhnya.
Prana di tubuh Arief memadat, aura membunuh juga terpancar sangat padat. Kedua aura berbenturan, teknik jiwa milik Arief jauh lebih hitam daripada Izza Billy.
"Sekarang aku mengerti kenapa bocah itu memiliki tekanan yang mengerikan. Aku penasaran seperti apa kehidupan masa kecilnya," kata Izza Billy dalam hati.
Arief melangkah maju dengan pelan, aura disekitarnya semakin padat. Pertempuran tanpa menyentuh musuh terjadi, tembok khusus yang digunakan untuk pengguna prana retak.
Arman dam Rama langsung jatuh tak berdaya, kesadaran mereka berdua memudar.
Arief yang masih terlalu kecil tidak bisa menahan tekanan lebih lama, dia memuntahkan seteguk darah segar dan jatuh pingsan.
"Menarik, kamu berhasil memaksaku sampai seperti ini," kata Izza Billy sambil mengusap darah disudut bibirnya.
Semua orang tidak ada yang melihat Izza Billy terluka akibat pertarungannya melawan seorang bocah berusia 16 tahun.
Arief bangun di sebuah kasur. Dua wanita muda tidur disebelahnya, mereka adalah Jessica dan Amelia. Keduanya terluka ringan akibat pertarungan melawan polisi wanita.
Jessica keluar sebagai pemenang, sedangkan Amelia berakhir seimbang. Keduanya sudah melakukan yang terbaik, walaupun Amelia sedikit dibawah Jessica kekuatannya tidak bisa dianggap remeh.
Karena Jessica selalu menggunakan latihan yang cocok untuk tubuhnya, dia berhasil melepaskan sedikit prana pada pertarungan sebelumnya. Sedangkan Amelia masih belum bisa menggunakannya.
Keduanya berkembang sangat banyak, Arief bangga dengan Jessica dan Amelia. Mereka berdua akan menjadi pilar kebanggaan Fairy Dance.
Amelia membutuhkan bantuan untuk mendorong kekuatannya, Arief menuliskan beberapa latihan yang dapat mengembangkan tubuhnya. Kemudian dia menyelipkannya di tangan Amelia yang sedang tidur.
Malam gelap tanpa bintang membuat udara di kamarnya dingin. Arief menatap jendela yang terlihat gemerlap lampu ibu kota.
"Aku berharap musibah tidak menerpa kehidupanku yang indah ini." "Arief sadar betul resiko melepaskan prana miliknya.
Usianya masih 16 tahun dan bisa membuat pemimpin pasukan Sura melepaskan kekuatan terbaiknya. Jelas dia akan menjadi sasaran banyak pasukan.
Banyak orang lebih memilih membunuhnya daripada harus menghadapi gempuran pasukan khusus. Arief hanya bisa berharap Izza Billy dapat menyembunyikan fakta tentang kekuatannya.
Untungnya Arman dan Rama tidak mengetahui kekuatannya yang sebenarnya. Mereka pingsan terlebih dahulu sebelum Arief melepaskan prana miliknya.
Sinar matahari menerobos awan dan suara burung berkicau terdengar merdu. Jessica membuka matanya dan melihat Arief sedang membawa buku dan pena.
"Bos, kamu sudah sadar. Jangan memaksakan diri lain kali, ini dunia nyata bukan Domain Dewa," kata Jessica tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
"Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi," kata Arief tersenyum manis.
Amelia membentangkan tangannya dan berkata, "Jam berapa sekarang Jessica?"
Padahal dia belum membuka matanya, tetapi sudah menanyakan jam. Perlu diketahui Jessica selalu bangun lebih pagi darinya, jadi kebiasaannya adalah bertanya jam.
"6 lebih 5 menit, kamu terlambat bangun lima menit," jawab Jessica spontan.
Melihat keduanya rukun, membuat Arief tersenyum manis sampai menutup matanya. Hatinya yang mendung segera cerah kembali.
__ADS_1