Domain Dewa : Raja Pedang

Domain Dewa : Raja Pedang
286. Pertemuan Paling Sial


__ADS_3

Tara menggenggam erat perisainya, dia mendorongnya kearah Iblis Kecil dengan sekuat tenaga. "Jangan Berhenti, terus lari. Jangan biarkan diri kalian mati disini!" katanya dengan tegas.


Sayangnya Blue bukan orang sembarangan, dia melihat semua kelompok sedang melindungi seorang wanita penyihir. Pasti ada sesuatu yang sangat penting sedang dibawah wanita itu.


Blue tidak ingin melakukannya secara terbuka, melainkan memanfaatkan Yao untuk memulai peperangan dan membunuh wanita tersebut.


Sedangkan untuk barang yang dijatuhkan akan menjadi miliknya. Sebelum itu Blue harus mempersiapkan sesuatu.


"Yao, sepertinya aku yang menang dalam pertandingan kali ini. Sekarang hadiah apa yang akan kamu berikan padaku?" tanya Blue dengan ekspresi polos.


"Hadiah apa, kita tidak pernah menyebutkan hal ini!" jawab Yao dengan nada tinggi. Dia tidak marah dengan perkataan Blue, malah sebaliknya dia hanya ingin bercanda dengan sesama Pendekar Pedang.


"Ayolah, setiap pertandingan pasti ada hadiah yang akan diberikan pada pemenang. Lihatlah aku, sudah berusaha sangat keras dan tidak mendapatkan apapun."


"Apa-apaan. Kita tidak pernah melakukan kesepakatan itu," kata Yao dengan nada sedikit gemetar. Dia mendengar rumor bahwa Blue adalah pemain yang mempunyai mulut berbisa.


Jika terlalu lama berbicara dengannya, kemungkinan besar kamu akan jatuh kedalam jurang dan tergigit bisanya.


"Baiklah, aku yang akan memilihnya. Cincin di tangan kiri itu seperti sangat menarik, khususnya yang berada pada jari tengah."


Blue tahu barang itu sangat berharga bagi Tanduk Iblis, itu adalah satu-satunya benda Legenda yang dimiliki Tanduk Iblis. Makanya dia mengatakan ingin hadiah tersebut, dapat dipastikan Yao akan menolaknya.


"Tidak bisa, ini adalah peninggalan ketua yang lama. Aku tidak akan memberikannya pada siapapun!" kata Yao dengan tegas.


"Baiklah, bagaimana jika kamu menjalankan tantangan. Jika kamu berhasil membunuh wanita yang ada di tengah kelompok itu, kita akan impas."


"Sepakat, lebih baik aku mengalahkan wanita itu daripada menyerahkan cincin ini!"


Yao langsung bersiap untuk berlari, dia tidak sabar untuk mengirim musuhnya ke Rumah Kebangkitan. Dia sudah meminum ramuan pemulihan HP dan MP, sedangkan musuhnya belum. Jadi kemungkinan besar dia akan menang dengan mudah.


"Tunggu, itu tidak adil. Bagaimana jika semua barang yang dijatuhkan wanita itu akan menjadi milikku?" tanya Blue.


"Sepakat!" kata Yao sambil merubah pengaturan kelompok supaya semua barang yang jatuh akan langsung masuk kedalam penyimpanan Blue.


Tanpa berpikir panjang, Yao langsung menerjang kelompok musuh dengan satu pedangnya. Blue memberikan telepati pada Iblis Kecil supaya memberikan kesempatan Yao untuk menyerang wanita yang ada ditengah.


Ayunan pedang Yao sangat berat, ditambah Iblis Kecil yang mengganggu pergerakan musuh kelompok musuh kewalahan.


Tidak butuh waktu lama sebelum Yao sampai di depan si wanita yang dimaksud. Tanpa mendengarkan penjelasan musuh, Yao langsung mengayunkan pedang dan mengirim musuhnya ke Rumah Kebangkitan.


"Yao, dendam ini tidak akan pernah padam!" teriak Tara yang panik. Dia diperintahkan untuk melindungi penyihir wanita di tengah, karena dia memegang banyak barang kelas tinggi.


Jika salah satu dari benda itu terjatuh, tamatlah riwayat Guild Air Kolam. Tara yang tidak terima rekannya bisa dikalahkan dengan mudah, menggunakan keterampilan provokasi pada Yao.


Sayangnya itu adalah keputusan bodoh yang diambil tara, memang Yao sangat merepotkan. Namun Iblis Kecil jauh lebih menyakitkan dibandingkan Yao yang hanya membunuh satu penyihir wanita.


Tara yang kesal akan kekalahannya mengayunkan perisainya dengan putus asa. Iblis Kecil melihat kesempatan bagus, dia langsung berlari dan memukul rusuk kanan bagian bawah Tara.


Suara retakan tulang terdengar, "Krek!"


Domain Dewa sudah mencapai pembaruan yang sangat baik. Sehingga benturan antar pemain dan penduduk maupun benda-benda terdengar sangat nyata.


Iblis Kecil melirik Yao yang terdiam karena hanya bisa bertahan.


Tatapan iblis kecil mengisyaratkan bahwa dia harus bergerak, Yao langsung mengejar Tara yang sedang terluka dan terkena efek buruk.


Selama 1 menit, Kelincahan Tara akan turun sebanyak 60%. Sungguh ketrampilan yang sangat mengerikan.


Syarat untuk mengaktifkan keterampilan itu tidak lain harus memberikan serangan kritikal ditambah musuh tidak menangkisnya dengan benar.


Kelompok musuh tampak sangat kebingungan ketika melihat dua rekannya di kirim ke Rumah Kebangkitan dengan sangat mudah. Awalnya Blue, kemudian Yao yang berhasil bertahan dengan luka yang sangat minimal.


Blue melihat barang yang dijatuhkan langsung tersenyum manis. "Jadi ini yang mereka sembunyikan, menarik!"

__ADS_1


Karena kemarin penyihir wanita, pertahanan kelompok musuh menjadi goyah. Yao dengan mudah membantai semuanya tanpa tersisa.


Blue tepuk tangan sambil tersenyum melihat Yao berhasil mengalahkan mereka dengan sangat mudah. Hal itu karena Iblis Kecil menjadi pelindungnya.


"Bagaimana kamu bisa menemukan petualang pribumi yang begitu kuat?" tanya Yao penasaran.


"Keberuntungan, kala itu dia tidak mempunyai tempat untuk kembali. Jadi aku mengangkatnya sebagai pengawal."


Blue mengatakan yang sebenarnya, Iblis Kecil diangkat sebagai pengawal tapi kontraknya sedikit berbeda. Iblis Kecil sebenarnya hanya budak yang harus menuruti semua perkataan Blue sama seperti Emma dan Serly.


"Katakan padaku dimana kamu mendapatkannya. Memiliki seorang Tank yang menurut dapat meningkatkan efisiensi serangan." Yao masih terus mengejar supaya Blue mengatakan darimana iblis kecil berasal.


"Dengan kekuatanmu sekarang, jelas kamu akan mati sebelum masuk kedalam gerbang dimensi. Setidaknya naikkan level menjadi 150, baru datanglah padaku lagi," jawab Blue kemudian langsung membalikkan badan dan terbang menuju medan perang.


"150, bukankah artinya monster itu sudah setara dengan level 150?" gumam Yao sambil mengerutkan keningnya.


Blue terbang menuju tempat sepi, dia ingin melihat barang apa saja yang disembunyikan kelompok musuhnya.


[Lampu Anti Demon


Tingkat : Epik


Level : 110 (Mengikuti level pemain)


Dapat menghilangkan kekuatan iblis pada musuhnya.]


[Kalung Arta


Tingkat : Legenda


Level : 110 (Mengikuti level pemain)


Pendinginan : 1 jam


Bonus Status :



Kepintaran +200 poin.


Meningkatkan Keberuntungan +20 poin.


Meningkatkan semua skill penyembuhan sebanyak 1 tingkat serta menambahkan batas maksimal.


Meningkatkan penyembuhan HP dan MP 50%.


Kemampuan Unik :


Mendapatkan Skill Penyembuhan Dewa (Menyembuhkan seluruh kelompok 100% dari batas HP dan MP).


Mendapatkan Tiruan Tongkat Dewa Arta (Efek menyesuaikan potensi pemegangnya.]



[Penghargaan Dewa Arta


Tingkat : Legenda


Gunakan gulungan untuk mendapatkan gelar. Namun hati-hati, bisa saja ini adalah jebakan dan mengutuk kamu. Ketika Dewa Arta mengutuk, semua status akan berkurang 90%.]


Mata Blue langsung mengarah pada Penghargaan Dewa Arta. Menurut ingatannya Dewa Arta sudah mati ketika perang Ragnarok.


"Aneh, mengapa Dewa Arta bisa memberikan gulungan aneh seperti ini. Lebih baik aku jangan menggunakannya dulu."

__ADS_1


Tepat setelah mengatakannya, Ela dan Bee keluar dari ruang penyimpanan. Bee langsung menjitak kepala Blue yang berpengetahuan rendah.


"Gulungan ini memang dari Dewa Arta, aku dapat yakin tidak ada tiruannya. Dewa Arta sudah meninggal saat perang Ragnarok, tetapi dia juga mengatakan bahwa telah meninggalkan warisannya pada sebuah gulungan."


Ela menjelaskan pengetahuannya terkait Dewa Arta yang sangat misterius.


"Bukankah dia hanya dewa rendahan. Mengapa aku harus menerima penghargaannya, pada diskripsi juga dikatakan bahwa mungkin saja ini barang palsu." Blue mengatakan apa yang dia pikirkan.


"Bodoh, gunakan Mata Dewa. Aku dapat menjamin itu barang asli, karena lihatlah stempel di kedua ujung gulungan," kata Bee memberikan pendapatnya.


Blue menggunakan Mata Dewa untuk memeriksa stempel di kedua ujung.


[Stempel Dewa Arta]


"Hai, bukankah ini mudah. Mengapa Dewa Arta menempatkan stempelnya di ujung gulungan seperti ini."


Bee menggelengkan kepalanya karena mengagumi kebodohan Blue. "Kamu terlalu terbiasa dengan posisimu sekarang, coba jangan gunakan Mata Dewa untuk melihat stempel."


Betapa terkejutnya Blue melihat tulisan yang dia lihat.


[Stempel Iblis Lucifer.]


"Lucifer adalah iblis tingkat 7 yang sangat kuat. Siapapun yang memainkan Domain Dewa pasti mengetahui siapa dia!" kata Blue dengan mata melebar.


Untungnya Tara dan kelompoknya bukan penyembah iblis, jika mereka adalah penyembah iblis dapat dipastikan gulungan ini akan digunakan.


Blue juga berurusan dengan iblis, jadi tidak ada kekhawatiran untuk menggunakannya. Hasil paling buruk adalah dia akan menjadi bawahan Lucifer karena kemampuan bersilat lidahnya.


Dia lebih khawatir jika orang yang mendatanginya adalah pahlawan, karena manusia tidak mempunyai kepercayaan diri terlalu tinggi seperti Iblis dan Dewa.


Para pahlawan menganggap selemah apapun musuhnya, mereka akan menggunakan kemampuan terbaiknya.


Bisa bercermin dari Raphael yang mengejar Buku Neraka, dia mencarinya di seluruh dunia. Sehingga Blue harus berhati-hati dalam menggunakan Buku Neraka.


Kemungkinan besar Raphael sudah menyamar sebagai manusia biasa. Jadi mungkin saja Raphael sudah ada disekitarnya.


"Segera gunakan itu!" kata Bee penuh semangat.


Ela juga mengatakan hal yang sama. Dia sangat bersemangat ingin melihat warisan dari Dewa Arta.


Tepat sebelum membuka gulungan, ada seorang petualang pribumi menghampirinya. Blue merasakan aura yang sangat kuat, dia tidak pernah melihat manusia sekuat ini.


Parasnya yang tampan serta tinggi badan 190 centimeter membuatnya terlihat sangat menawan. Bisa saja dia adalah pangeran dari sebuah kerajaan besar.


"Pahlawan?" gumam Blue langsung menyimpan gulungan.


"Ah, kamu bisa mengenaliku dengan sangat mudah. Itu akan menjadi lebih mudah, serahkan gulungan Penghargaan Dewa Arta!" katanya.


"Sejak kapan NPC Pahlawan bisa merampok!" kata Blue dalam hati yang kebingungan.


"Mengapa aku harus memberikannya. Memangnya siapa kamu?" tanya Blue dengan nada cukup tinggi.


"Makhluk Abadi sepertimu berbicara seperti itu didepan pangeran cahaya ini. Sungguh keberanian yang tinggi, jangan membuatku menunggu atau kamu akan mendapatkan hukuman yang begitu berat!" kata pria tampan.


"Sial sekali, orang yang paling aku hindari muncul tepat di depanku!" kata Blue dalam hati.


Pangeran cahaya adalah julukan yang diberikan pada sosok Pahlawan Raphael yang perkasa. Padahal Blue sangat menghindarinya, tetapi pria gila ini datang tepat di depannya.


Untungnya Buku Neraka sudah berevolusi, jadi Raphael tidak akan bisa mendeteksinya. Untuk memastikan keadaan, Blue menggunakan Mata Dewa.


[-]


"Jangan meremehkan kekuatanku. Mata rendahan seperti itu tidak akan bisa menembus penyamaran pangeran ini."

__ADS_1


Gaya bicaranya mengingatkan Blue pada pangeran lebah yang ada di sebelahnya. Ela dan Bee langsung dimasukkan kedalam ruang penyimpanan, bisa saja Raphael gila dan membunuh keduanya.


"Mengapa aku harus memberikannya. Aku yakin ini adalah benda yang sangat berharga untuk meningkatkan kekuatanku?" tanya Blue mencoba untuk berkomunikasi.


__ADS_2