Domain Dewa : Raja Pedang

Domain Dewa : Raja Pedang
289. Kemunculan Raksasa


__ADS_3

Aries Hardiman langsung pergi setelah mengantar Arief ke kasurnya. Jessica dan Amelia duduk di lantai menunggu Arief siuman.


Leon langsung mengambil minyak untuk menyadarkan sahabatnya. Dia mengambil minyak kayu putih yang dipercaya dapat mempercepat kesadaran Arief.


Oliver juga mengambil rempah-rempah untuk mengembalikan stamina Arief.


Siapa yang menyangka orang sekuat Arief bisa tumbang tak kuasa melihat ibunya pergi. Mungkin itulah yang dipikirkan orang awam, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Hari ini, Yuliana akan pergi dan kembali setelah 4 sampai 5 tahun lagi. Kemudian dia akan sakit dan kemudian akan meninggal dunia.


Itu adalah timeline pada kehidupan sebelumnya, Arief tidak ingin itu terjadi lagi. Makanya dia belajar menggunakan prana sebaik mungkin supaya ketika ibunya datang dengan rasa sakit, dia bisa menyembuhkannya.


"Aku sudah tidak apa-apa. Sebaiknya kalian melanjutkan aktivitas," kata Arief dengan suara lemah. Inilah yang terjadi ketika seseorang tidak berhasil mengendalikan emosinya.


Sebagai manusia biasa, Arief tentu saja tidak mau kehilangan ibu kandungnya. Jadi sudah sewajarnya kalau dia kehilangan kendali atas dirinya.


Semua orang yang awalnya khawatir langsung membubarkan diri. Mereka melanjutkan aktivitasnya dan melakukan latihan harian.


Jessica, Amelia, Leon, Cola, Rina, Lina, Mahira, Ayunda, dan Reaper masih berada di kamar Arief. Mereka benar-benar ingin memastikan bahwa bosnya sudah sembuh sepenuhnya.


Karena melihat kekhawatiran mereka, Arief duduk dan melakukan meditasi. Dia mengalirkan darah dan mengatur napas setenang mungkin. Tidak butuh waktu satu menit untuk wajahnya terlihat segar.


Arief membuka matanya. "Sudah aku katakan, aku sudah baik-baik saja. Sekarang pergilah, aku akan masuk kedalam Domain Dewa."


"Sebaiknya kamu istirahat dulu bos, biarkan kami yang mengurus kedatangan Dominasi Dunia!" kata Jessica masih tampak khawatir.


"Apa Dominasi Dunia benar-benar datang?" tanya Arief sambil mengerutkan kening. Dia tidak menyangka Ansel akan bertindak terlalu cepat.


Mungkin inilah yang dipikirkan oleh orang banyak, tetapi Ansel melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia memilih waktu yang tidak diduga musuhnya.


"Benar mereka datang dari arah Pentagon. Sebelumnya Air Kolam juga merupakan rencana mereka. Sayangnya kecelakaan besar terjadi, seluruh kota Air Kolam dihancurkan. Mereka membutuhkan waktu untuk bangkit kembali," kata Jessica.


"Yah, aku tahu itu. Mereka semua kehilangan 10 level yang sangat menyakitkan."


Ayunda yang peka dengan ekspresi seseorang langsung menimpali. "Bos, aku merasa kamu terlibat dalam pembantaian berdarah itu?"


Arief mengelus dagunya. "Sepertinya ini tidak pantas untuk di ceritakan tapi kalian adalah orang yang paling aku percaya. Jadi aku akan mengatakan sesuatu yang mencengangkan."


Semua orang yang ada di dalam ruangan fokus mendengar apa yang akan dikatakan bosnya.


"Awalnya aku menemukan sebuah gulungan Penghargaan Dewa Arta, kemudian Pahlawan Raphael datang. Dia meminta gulungan tersebut tanpa imbalan apapun. Tentu saja aku menolak, tapi siapa yang menyangka Raphael bisa berubah menjadi Raja Iblis dan menghancurkan seluruh kota."


Arief berhenti, semua orang masih menantikan kelanjutan cerita pendeknya.


"Jadi aku adalah penyebab Raphael menghancurkan seluruh kota Air Kolam, hehe. Aku tidak salah, soalnya pelakunya Raphael," kata Arief membela dirinya yang jelas-jelas salah.


Kerugian yang diderita Air Kolam tidak main-main. Banyak barang hancur karena satu serangan dari Pahlawan Raphael, bahkan koin emas yang mereka simpan melebur karena kepanasan.


Jessica menganggukkan kepala. "Anda benar, kesalahan sebenarnya ada pada Raphael yang menghancurkan kota," jawabnya sambil tersenyum kecut.


Ternyata pelaku utama yang menyebabkan bencana besar yang mengguncang seluruh dunia adalah bosnya sendiri. Tentu saja semua anggota Fairy Dance terkejut, tetapi mereka memilih untuk tetap diam.

__ADS_1


Setelah beberapa saat berbincang, semua orang membubarkan diri. Arief langsung masuk kedalam mesin virtual Domain Dewa.


[Domain Dewa Mulai.]


Blue membuka matanya, dia tergeletak di tanah. Matanya langsung melihat pergelangan tangannya. Merasa tidak nyaman, Blue langsung berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya.


Dia yakin Raphael sedang mengawasinya dari jauh. Jadi lebih baik segera pergi tanpa memperhatikan sekelilingnya.


Setelah sampai di kota, Raphael berdiri tepat didepannya. Dia diam seribu kata dan menatap tajam kearah Blue.


"Apa yang kamu lakukan? Aku sedang terburu-buru." Tidak dapat dipungkiri, kemampuan akting Blue jauh di atas rata-rata. Jadi Raphael tidak menemukan sedikitpun kejanggalan.


"Tidak, sebaiknya kamu melanjutkan perjalanan."


Blue memandang Raphael tanpa rasa takut, dia memalingkan wajah dan langsung masuk ke kota. Namun sebelum dia diperiksa oleh penjaga kota, Raphael memanggil.


"Tunggu!"


"Apa lagi? Tidak mungkin orang pria cantik sepertimu memberiku misi aneh, Kan?" tanya Blue dengan suara keras sehingga di dengar oleh penjaga gerbang.


"Bawalah ini, itu merupakan hadiah karena mau mendengar ceritaku," kata Raphael menyodorkan sebuah kotak.


Blue memiringkan kepala dengan polosnya. Dia tampak sedang berpikir keras, kemudian langsung menyambar hadiah tanpa rasa malu.


"Yah, aku tahu kamu banyak tekanan. Jadi hiduplah dengan apa adanya dan nikmati sisa hidupmu," kata Blue sambil membalikkan badan dan pergi menuju kota.


Raphael tersenyum manis. "Yah, kamu tidak ingat saja. Barang yang kamu berikan setara dengan barang tingkat Dewa Tinggi!"


Kedatangan Blue ke kota karena ingin mencari pedagang pribumi. Dia mencari pedagang potensial untuk menjual barangnya di Desa Koral.


Seperti biasa, Mata Dewa dapat melihat semua potensi pedagang di pasar kota di Kerajaan Banyuwangi.


Setelah beberapa saat berkeliling, Blue tidak menemukan orang yang dia butuhkan. Jadi memilih untuk kembali ke Desa Koral dan melihat situasi di wilayah kekuasaan Pentagon.


Sebenarnya dia memilih pedagang pribumi supaya Raphael tidak curiga yang segera pergi setelah puas mengikutinya.


Karena Blue mengitari pasar selama 3 jam, jadi Raphael pergi untuk menerima penghargaan dari Dewa Arta.


Sebelum pergi, Blue mencari artikel tentang Dewa Arta. Pada kehidupan sebelumnya pengetahuannya tentang Dewa ini sangat rendah. Setahunya Dewa Arta hanyalah dewa rendahan yang mati pada perang Ragnarok.


Dewa Arta sebenarnya seorang dewa yang setara dengan Dewa Perang, dia mempunyai keterampilan khusus yang sangat mengerikan. Dia bisa menyerap kekuatan dan menggunakan untuk dirinya sendiri.


Kala itu dia menghadapi Baal, karena terlalu percaya diri, Dewa Arta menggunakan kemampuan khususnya untuk menyerap kekuatan Baal.


Namun siapa yang menyangka ternyata Baal adalah sebuah makhluk unik yang diciptakan oleh alam. Jadi kekuatannya tidak bisa diserap oleh siapapun, bahkan Sang Penguasa Segalanya harus mewaspadai pria bernama Baal.


Makhluk aneh itu tidak bisa mati sama seperti Sang Penguasa Segalanya. Bedanya, Baal bisa meniru semua skill yang menurutnya bagus.


Karena kepribadiannya yang kurang baik, Baal sering mengacau dan mengembalikannya seperti semula. Banyak Dewa mati dibawah tangannya yang dingin, kemudian menggunakan keterampilan dari Dewa Kehidupan untuk membangkitkan semua Dewa yang mati.


Anehnya dia tidak membangkitkan satupun pasukannya. Kelihatan sangat aneh dan bodoh, tetapi itu benar-benar terjadi.

__ADS_1


"Pria bernama Baal itu sungguh sesuatu!" gumam Blue yang sedang membaca buku.


Sekarang dia mengetahui mengapa Dewa Arta bisa jatuh dan memberikan peninggalannya pada orang terpilih. Jelas saja Raphael sangat menginginkannya, untungnya dia tidak mengetahui bahwa Blue pemegang Buku Neraka.


Jika dihadapkan dengan Buku Neraka atau Penghargaan Dewa Arta, pasti Raphael akan memilih Buku Neraka.


Karena Buku Neraka tidak mempunyai batas, dengan kemampuannya sekarang, Raphael bisa meningkatkannya sampai tingkat Dewa Tinggi.


Panggilan suara dari Jessica terdengar.


"Bos, 10 raksasa setinggi 15 meter muncul di wilayah pertahanan Pentagon. Semua senjata sihir sekarang tidak mempan."


"Gunakan Menara Racun dan Robot Penembak. Itu adalah kombinasi serangan yang cukup untuk menghentikan raksasa. Aku akan segera menuju wilayah Pentagon!"


Sudah saatnya dua monster penjaga Kartanegara untuk muncul. Mereka sudah terlalu lama hidup di dunia buatan.


Dua raksasa dikeluarkan, Blue ingin melihat perkembangan mereka setelah hidup di dunia buatan.


Dua mahkluk setinggi 150 centimeter muncul di depan Blue mereka langsung berlutut memberikan hormat. "Tuan, kami menerima panggilan anda," katanya bersamaan.


"Aku tidak salah panggilkan. Mungkinkah kalian dua raksasa yang dulu melayani Raja Kartanegara?"


"Iya, kami adalah mereka," jawab keduanya bersamaan. Terlihat kekompakan keduanya semakin baik.


"Bagaimana mungkin raksasa yang awalnya memiliki tubuh setinggi 5 meter berubah menjadi sekecil ini?"


"Tuan Anthony merasa jengkel dengan ukuran tubuh kita yang semakin besar. Terakhir kali kami mempunyai tinggi 21 meter, tanpa sebab yang jelas semua orang di Dunia Buatan bisa berevolusi. Akhirnya kami bisa merubah tubuh menjadi manusia biasa," kata salah satu raksasa.


"Aku mengerti, sebelumnya aku belum memberikan nama pada kalian berdua. Sekarang aku memanggil kalian Arca Dwarapala atau gerbang menuju candi Singosari."


Nama itu merujuk pada julukan pada keduanya, Blue tidak mengetahui apa jenis kelamin keduanya. Jadi memberikan satu nama.


Sebuah cahaya berwarna abu-abu menyelimuti tubuh kedua Arca. Sampai akhirnya menampilkan wujud manusia yang terlihat sangat jelas.


"Karena kalian terlihat berbeda jenis kelamin. Aku akan memberikan nama baru, Arca Eka dan Arca Dwi. Aku harap nama itu akan menjadi wadah untuk meningkatkan diri."


"Terima kasih, Tuan," jawab keduanya Arca sambil bersujud dan menempelkan dahinya ketanah.


"Baiklah, sudahi formalitasnya. Sekarang Pentagon dalam masalah besar, ada 10 Raksasa yang mungkin mempunyai tinggi 15 meter. Aku harap kalian bisa menyingkirkannya dengan mudah," kata Blue.


"Setelah mendapatkan kekuatan baru, aku yakin bisa mengalahkan semua musuh di laga yang sama," jawab Arca Eka dengan penuh percaya diri.


Blue menyandang Arca Dwi yang diam saja. "Apa yang terjadi denganmu?" tanyanya melihat pertumbuhan auranya tidak terkendali.


Semua energi tumbuhan disekitar diserap hingga hampir kering. "Tuan, sepertinya aku berhasil menumbuhkan sebuah mana. Elemen yang aku pilih adalah hijau daun dan coklat tanah."


"Hah..."


Sejak kapan monster raksasa menggunakan sihir. Ini akan menjadi sangat gila jika diketahui oleh dunia luar. Tanpa menunggu lama, Blue menggunakan Mata Dewa untuk memeriksa statusnya.


"Ini gila!" gumamnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2