Domain Dewa : Raja Pedang

Domain Dewa : Raja Pedang
296. Nakamoto Vs Blue


__ADS_3

"Jadi maksudmu, Blue ingin aku masuk Fairy Dance karena dia ingin mempererat keluarga Pentagon. Kakak Dimas akan menjadi ketua guild, sedangkan aku akan menjadi budak Fairy Dance?" tanya Regina dengan perasaan sedikit marah.


"Anda belum mendengarkan posisi apa yang akan diberikan Ketua Blue. Mana mungkin orang berbakat seperti anda akan menempati posisi rendah, Pasti Ketua Blue sudah memikirkannya."


"Bukankah di sana ada Jessica, Amelia, dan yang terakhir Leon?" tanya Regina penasaran.


"Anda salah, mereka semua memang sangat baik dalam menjalankan perintah. Namun tidak ada satupun orang yang bisa berjalan tanpa perintah dari Ketua Blue, sebagai contoh beberapa bulan lalu Ketua Blue pergi ke tempat yang jauh, anda melihatnya sendiri."


Informasi pria di samping Regina tidak sedikit, dia adalah salah satu orang terkemuka dari organisasi pendukung Pentagon.


Regina menundukkan kepala. "Jika aku pergi ke Fairy Dance, apa kamu akan ikut denganku?" tanyanya dengan suara pelan.


"Sayangnya saya tidak bisa melakukan itu, kecuali Blue berhasil meyakinkan organisasi saya untuk mendukung Fairy Dance," kata pria di samping sambil menggelengkan kepala.


Pria itu sudah mengasuh Regina dari kecil, dia adalah teman pertama sekaligus guru baginya. Nama pria itu adalah Susanto atau sering di panggil Hammer Hand.


Pria itu adalah juara bertahan pertarungan bawah tanah selama 3 tahun berturut-turut. Sayangnya tangannya hancur dan harus menggunakan tangan palsu.


Karena adanya permainan Domain Dewa, dia menjadi teringat masa jayanya dulu. Bisa menggunakan dua tangan dengan kecepatan yang melebihi biasanya.


Lebih hebatnya lagi, Hammer Hand terlihat cukup muda padahal umurnya sudah menginjak kepala 5. Itu semua karena dia adalah pengguna prana aktif, sayangnya semua pencapaiannya hancur setelah bertemu dengan pria yang memiliki julukan Si Hitam.


Semua kebanggaannya hilang setelah kalah dan organisasi menghukumnya dengan menghancurkan kedua tangannya.


"Apa kamu masih membenci pria yang memiliki julukan Si Hitam itu?" tanya Regina pelan. Dia ingin menanyakan sesuatu yang sangat sensitif.


"Siapa yang tidak membenci orang yang menghancurkan karirnya. Namun aku juga berterima kasih padanya, jika karirku tidak hancur kala itu, mungkin aku akan melakukan hal yang lebih ekstrim," kata Hammer Hand sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu, aku merasa bahwa Blue mempunyai kaitan dengan pria yang memiliki julukan Si Hitam." Regina mengatakan pemikirannya.


"Mengapa anda bisa mengatakan hal sepeti itu?" tanya Hammer Hand.


"Ketika aku kecil, aku pernah bertemu dengan Si Hitam. Kala itu aku melindungi adikku, Oliver dan pria itu muncul di depanku menggunakan baju berwarna hitam dengan aksen merah..."


"Desa kami diserang bandit bertato mata satu, tetapi semua penduduk desa tidak ada satupun yang terluka. Aku adalah satu-satunya saksi mata betapa kejamnya orang itu, dia memenggal semua kepala bandit dengan pedang dan mengubur semua tubuhnya."


Regina merinding ketika menceritakannya, kala itu dia menutup mulutnya dengan tangan kanan dan tangan kiri memeluk Oliver.


Sayangnya itu tidak cukup untuk mengelabuhi orang berpakaian hitam. Dalam sekejap pria itu menemukan Regina dan Oliver, tanpa menunggu lama Regina langsung berlutut minta ampun.


"Maafkan aku, aku bersumpah tidak akan mengatakan kejadian ini pada siapapun!" kata Regina sambil menempelkan wajahnya di tanah.

__ADS_1


Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan, Oliver pingsan di sebelahnya karena kelelahan.


"Aku tidak terlalu ingat semua yang dia katakan. Namun aku bisa mengingat bahwa dia memiliki anak yang masih di dalam kandungan dan menamainya Arief." Regina mengungkapkan sesuatu yang tidak pernah dia katakan bahkan pada kedua orang tuanya.


"Mungkin itu hanya kebetulan, tetapi jika itu adalah kenyataan aku tidak akan keberatan melayani anda dan berpindah ke Fairy Dance!" kata Hammer Hand tegas.


"Apa maksudmu, bukankah kamu sangat membenci Si Hitam?"


"Yah, aku membencinya. Namun tidak untuk anak yang sangat berbakat itu, jika aku bertarung dengannya sekarang mungkin aku kalah, apa kamu percaya itu?" tanya Hammer Hand.


"Maksudmu kamu akan kalah jika bertarung dengan Arief?" tanya Regina terkejut.


"Ya, auranya sangat halus dan padat. Kadang-kadang aku tidak bisa melihatnya karena terlalu tipis."


Mata Regina terbuka sekali lagi, dia tidak pernah menyangka gurunya mengakui anak berusia 19 tahun bisa mengalahkannya. Padahal ayahnya sendiri tidak ingin bertarung dengan Hammer Hand karena takut akan kekalahan.


"Kamu pasti bercanda, Kan?" tanya Regina memastikan.


"Tidak, aku yakin seratus persen. Kekalahan akan aku dapatkan jika dia serius bertarung."


"Bukankah ini jekpot, jika aku berada di bawah naungannya?" Regina tampak senang mendengar gurunya mengatakan bahwa Blue sangat menjanjikan.


"Ya, kamu mempunyai bakat yang sangat baik. Namun jangan pernah merasa tinggi diri, anak bernama Blue itu tidak pernah menunjukkan kekuatannya ketika bertarung. Aku takut ada monster tua yang bersembunyi dibelakangnya," kata Hammer Hand.


Blue muncul dan langsung mengayunkan pedangnya pada Nakamoto ke 9. Benturan kedua pedang terdengar sangat nyaring, Nakamoto yang merupakan Ranker terpental beberapa meter jauhnya.


Tidak memberikannya kesempatan bernapas, Blue langsung berlari mengejarnya. Namun pasukan Nakamoto langsung memblokirnya, Mahira dan Iblis Kecil muncul menghadang pasukan Keluarga Nakamoto.


Semua orang menggunakan pedang, jadi suara benturan besi terdengar dimana-mana. Azzam dan Azzura memanfaatkan situasi untuk melakukan serangan menyelinap.


Pedangnya yang dingin menerkam pasukan Keluarga Nakamoto dengan sangat cepat. Dalam sekejap mata, dua pasukan Nakamoto berhasil di kirim ke Rumah Kebangkitan.


Blue menatap Nakamoto dengan tatapan tajam. Dia tidak ingin mengeluarkan suara karena alasan khusus.


Nakamoto yang merasa dirinya ditekan tidak mau bermain-main. Tanpa menunggu lama dia menggunakan keterampilan andalan keluarganya.


"Moon Light!" kata Nakamoto menyebutkan keterampilan yang paling dia banggakan. Sayangnya Blue sudah mengetahui setiap detail dari keterampilan itu, jadi dengan mudah menghindarinya.


Semua pedang bayangan tidak bisa menyentuh Blue yang mempunyai Kelincahan sangat tinggi. Nakamoto mengerutkan kening ketika melihat keterampilan andalannya berhasil dihindari.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya.

__ADS_1


Blue mengangkat sudut bibirnya. "Kamu tidak perlu mengetahui siapa aku. Ini hanyalah ujian yang harus kamu lewati jika ingin menguasai Moon Light lebih lanjut!" katanya.


Nakamoto ke 9 tidak mengetahui apa yang dia bicarakan. Jadi dia menenangkan pikiran dan mengatur napasnya dengan baik.


Tatapan matanya berubah drastis, Blue senang melihat Nakamoto sudah berkembang dengan sangat baik. Namun dia tidak ingin menghentikan pertarungan begitu saja.


Satu langkah kaki Blue terlihat sangat mantap, langkah kedua lebih cepat dari sebelumnya. Langkah ketiga benar-benar tidak terlihat oleh mata biasa, sekejap mata Blue sudah berada di depan Nakamoto.


Namun Nakamoto tidak terkejut, dia dengan tenang menghentikan serangan pedang Blue. Melihat serangannya di tangkis, Blue tidak kehabisan akal, dia menggunakan tangan kirinya yang kosong untuk melakukan serangan.


Tanpa diduga, Nakamoto menggunakan gagang pedang untuk menangis pukulannya. Tatapannya masih datar dan fokus, Nakamoto tidak melepas pandangannya dari musuh.


Blue melihatnya dengan senang, dia sekarang tidak perlu menahan kecepatannya. Pada awalnya serangan Blue sudah sangat cepat, tetapi ditingkatkan lagi satu level.


Nakamoto menangis semuanya dengan ujung pedang, badan pedang, dan gagang pedangnya. Keringat dingin mulai menetes di dahinya.


Serangan Blue bukan berasal dari manusia biasa, kontrol napas yang sangat baik serta ayunan pedang yang sangat efisien membuatnya bisa bertahan sangat lama.


Dua menit berlalu dengan serangan Blue yang menggunakan satu pedangnya. Nakamoto mulai membuka mulutnya karena oksigen yang masuk kedalam paru-parunya kurang.


Blue tidak ingin menurunkan tempo serangan. Pedangnya benar-benar seperti sebuah cahaya hitam yang membelah gelapnya malam.


Melihat Nakamoto ke 9 mulai tertekan, semua Pasukan Keluarga Nakamoto berlari kearahnya. Namun ada Iblis Kecil dan Mahira yang menghadang semuanya.


Tidak ketinggalan Azzam dan Azzura terus menerus menggunakan keterampilan pedang dengan sangat baik. Mereka mulai merasakan kelelahan karena harus menghadang lebih dari 100 orang.


Sampai akhirnya beberapa orang berhasil lolos dari hadangan Iblis Kecil dan Mahira. Mereka langsung menyerang Blue yang sedang menggunakan topeng.


Sebuah pedang muncul di tangan kiri Blue, tangan kirinya benar-benar berayun menghentikan serangan pasukan Nakamoto.


"Slash," kata Blue pelan.


Tiga pasukan Nakamoto langsung di kirim ke Rumah Kebangkitan karena lengah setelah serangannya di tangkis.


Nakamoto kehabisan stamina, dia berlutut dan napasnya tidak bisa dikontrol lagi. 2 orang dari Pasukan Nakamoto langsung membantunya berdiri dan lari dari medan pertempuran.


Beberapa orang menghentikan pergerakan Blue dan kelompoknya sehingga Nakamoto ke 9 berhasil lolos dengan selamat.


Regina mendapatkan pesan bahwa pasukan Keluarga Nakamoto berhasil dipukul mundur dari medan perang.


"Sial, dia benar-benar menginginkan perang saudara antara aku dan kakak. Apa pendapatmu, Paman?" tanya Regina pada Hammer Hand.

__ADS_1


"Semua keputusan ada di tanganmu, jika pertarungan asli, pasti anda yang akan menang."


__ADS_2