
Divisi Blood Eater merupakan divisi terbaik nomor 3 di Tujuh Mawar, tetapi sekarang wakilnya terdesak oleh sebuah guild kecil bernama Fairy Dance.
"Haha, kau pikir dengan jumlah bisa mengalahkan kami?" tanya wanita di depan sambil tertawa. Ia melambaikan tangan untuk memberi kode pada rekannya.
100 Menara Petir dikeluarkan.
"Wow, kau menggunakan senjata buatan Fairy Dance untuk melawan kami?"
Blue mencoba menekan lawannya dengan kata-kata, ia merasa Menara Petir itu sudah dikembangkan.
"Haha, sungguh lucu sebuah guild kecil berani menyebut senjata sihir ini buatannya." Wanita cantik di depan masih terus tertawa.
Blue hanya tersenyum tipis, bukanya takut ia malah berencana merampas semua senjata sihir yang dikembangkan. Zaha akan senang dengan hadiah yang diberikan kali ini.
"Baiklah, bagaimana kalau kita mulai?"
Blue langsung menghilang dan muncul di depan wanita. Ayunan pedangnya langsung menghantam tubuh musuhnya.
Namun siapa yang menyangka ternyata wanita di depan adalah seorang kesatria paladin dengan rambut pirang.
"Mengesankan, kau pasti ketua Blue. Senang rasanya bisa menghadapi pemain yang pernah menantang Kota Tokyo."
"Kalau boleh tahu siapa namamu?"
"Jangan berpura-pura bodoh, aku tahu mata identifikasi mu sangat istimewa. Pasti sudah tahu namaku."
"Sebenarnya aku hanya ingin basa-basi, Wakil Ketua Blood Eater Gana."
"Wow, kamu bahkan mengetahui posisiku di Blood Eater. Menarik," ucap Gana dengan tatapan merendahkan.
Sebenarnya Gana sedang mengulur waktu karena ia sudah menghubungi kantor pusat. Melawan 1000 musuh yang kuat sama dengan bunuh diri.
Namun Blue menyadari hal tersebut, ia langsung memberi kode pada Horizon untuk menyerang semua Menara Petir.
Dua bola api ditembakkan tapi tidak bisa menyentuh Menara Petir. Ada sebuah pelindung yang bisa menahan serangan sihir.
"Wow, sepertinya Divisi Blood Eater sangat kaya. Hanya senjata Menara Petir saja dilapisi Mana Shield." Blue ingin mencari informasi dari mulutnya terlebih dahulu.
"Haha, sudah aku bilang percuma menyerang dengan sihir."
"Kamu tidak pernah mengatakannya," sanggah Blue dengan cepat.
"Anggap saja aku pernah mengatakannya."
Blue mencoba untuk mengidentifikasi kekuatan Menara Petir, penyihir akan kesusahan menembus pertahanannya.
__ADS_1
Gerakan kakinya sudah disempurnakan, Gana tidak bisa mengikuti arah bayangannya. Menara Petir belum sempat menembak tapi sudah hancur.
"Ah jadi begitu, kau menambahkan Mana Shield tetapi mengorbankan kecepatan dan keakuratannya. Sungguh disayangkan."
Blue berlari dengan cepat, tidak lupa ia melempar Dual Secret Sword untuk membantu memberikan kerusakannya.
Gana membelalakkan mata melihat Menara Petir di hancurkan terus menerus. "Apa yang kalian lakukan, serang dia!" teriaknya panik.
Karena anggota Gana adalah seorang Assassin semua, mereka dapat mengejar Blue yang tidak terlalu serius berlari.
Serangan pedang musuh bisa dihindari dengan sangat mudah. Blue memiliki indra yang sangat tajam, jadi tidak mudah untuk menyerangnya. Apalagi level dan poin statusnya jauh di atas pemain seperti mereka.
Blue terus berlari dan keluar dari Menara Petir, Tobias dan pasukannya dengan cepat langsung menikam para pemain yang keluar dari jangkauan menara petir.
Dalam sekejap mata 50 pemain sudah di kirim ke Rumah Kebangkitan. Gana membelalakkan mata dan mencoba menghentikan pergerakan Blue.
Pertahanan kuat dan regenerasi HP sangat cepat, ia pasti adalah seorang Paladin. Blue harus waspada meskipun serangan Paladin tidak akan mungkin menggores tubuhnya.
"Sejak kapan seorang Paladin membawa pedang." Blue berpura-pura tidak tahu, ia sebenarnya cukup terkejut melihat Gana mempunyai kelas yang begitu mengesankan.
Namun Gana tidak menanggapi, ia hanya mengayunkan pedangnya dengan kecepatan penuh. Sayangnya kecepatan itu tidak bisa menyentuh bayangannya.
Karena Gana tidak meresponnya, Blue juga melakukan hal yang sama. Ia berlari dan menghancurkan Menara Petir yang ada. Assassin yang keluar dari jangkauan serang langsung di bunuh oleh pasukan Tobias.
Kakinya melangkah perlahan ke arah Gana yang berdiri sendirian. Blue tersenyum tipis melihat Gana yang sedikit gemetar.
HP dan MP Gana masih penuh, tetapi ia merasa tidak akan pernah menang melawan musuh di depannya. "Sial, monster ini sama seperti ketua. Tidak, dia jauh lebih kuat dari ketua. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi!" gumamnya kebingungan.
Disaat yang sama, Tobias melaporkan tim beranggotakan 15 orang sedang menuju tempat kejadian.
"Biarkan mereka lewat, ayo buat kebanggaan Blood Eater runtuh!"
"Baik, Tuan."
Semua pasukan Tobias langsung bersembunyi, kemampuan mereka jauh di atas para pemain. Jadi tidak mungkin ditemukan dengan mudah.
Gana mendengar bahwa pasukan tambahan sudah datang, ia tersenyum manis. "Ketua Blue, sepertinya kemenangan ada padaku."
"Mengapa kau bisa begitu percaya diri?"
"Ketua datang sendiri, jadi jangan mengira bisa selamat dengan mudah."
"Daripada ketua Blood Eater, aku jauh lebih tertarik padamu. Kelas yang sama seperti Vampir tapi bisa menggunakan kemampuan Paladin, sungguh aneh."
Setelah mengetahui lingkungan yang lebih tinggi, Blue membuka informasi jauh lebih luas. Pada kehidupan sebelumnya ia hanya mengetahui bahwa wakil ketua Blood Eater adalah Vampir.
__ADS_1
Namun sekarang ia mengerti ada yang salah, Mata Dewa menunjukkan kelasnya adalah Paladin. Jadi pasti kelas ini sangat istimewa.
"Haha, kamu pasti sangat penasaran ya. Aku tidak akan memberitahumu."
"Aku tidak perlu informasi itu tapi biarkan aku menguji kekuatannya." Blue langsung menghilang dan muncul di depan lawan, ia menggunakan Langkah Cahaya.
Pedang di tangan kanannya langsung menyerang bagian perut. Gana mencoba memblokir serangan musuh, tapi bayangannya sungguh merepotkan. Serangan Blue berhasil mendarat di perut lawannya.
[Blue memberikan kerusakan - 12 ribu serangan kritis.]
Untuk memicu serangan kritis, pemain harus melonggarkan pegangannya tepat sebelum senjata mengenai targetnya.
Pemain yang gagal melakukannya akan mengalami kerugian yang besar karena senjatanya bisa lepas dan diambil musuh.
Itulah mengapa senjata sihir sangat digemari oleh pecinta kerusakan kritis. Sudah kita ketahui, senjata sihir tidak bisa jatuh.
Gana yang melihat kerusakan yang diterima langsung mundur beberapa langkah. Ia harus bertahan sampai ketua dan tim sampai.
"Tower Penyembuhan!" teriak Gana memanggil sebuah menara yang dapat memulihkan HP terus menerus.
"Oh, akhirnya kamu mengeluarkan skill paladin." Blue merasa senang dan mencoba melakukan beberapa eksperimen lagi.
Pedangnya menyerang ke arah Tower Penyembuh, tetapi senjata menembusnya dan tidak memberikan kerusakan sedikitpun.
Jelas Blue terkejut akan hal tersebut, menurut ingatannya Tower Penyembuh bisa diserang. "Jadi ini alasan mengapa Kompetisi Dunia selalu dimenangkan oleh Paladin."
Di kehidupan sebelumnya Blue tidak mempunyai tiket untuk melihat Kompetisi Dunia, hanya para petinggi yang bisa menonton. Sedangkan untuk para pemain biasa hanya bisa melihat hasilnya.
"Akhirnya kau menyadari, aku bukan paladin biasa. Dewa telah menunjukku sebagai utusannya, jadi tidak mungkin bisa mengalahkan ku." Gana penuh percaya diri, ia memiliki teknik penyembuhan yang begitu gila.
Bukannya takut, Blue malah tersenyum manis. "Baiklah, ayo lihat siapa yang lebih kuat."
Kali ini ia tidak menahan kekuatannya. Blue bergerak seperti ular, sangat cepat dan berkelok-kelok. Pedangnya langsung menembus perut Gana dengan cepat.
[Pemain Blue memberikan kerusakan 21 ribu serangan kritis.]
Pedangnya tidak berhenti, Blue menghujani Gana dengan sayatan pedang yang tidak bisa diikuti dengan mata.
"Selesai!" kata Blue sambil mengayunkan serangan terakhir.
Namun kejadian yang mengejutkan terlihat, Blue membelalakkan matanya ketika Gana tidak di kirim ke Rumah Kebangkitan malah melakukan serangan balasan.
Kelincahan Blue bukan mainan, ia bisa menghindari serangan dengan sempurna.
"Kelas Legenda?"
__ADS_1