
Arief yang mendengar perkataan Amelia, tidak percaya. Seharusnya Amelia dan Dona adalah dua orang yang selalu bersaing.
Bahkan ketika Arief menjabat sebagai ketua Guild, mereka berdua saling menjatuhkan dengan melaporkan hal kecil.
Arief hanya mengetahui bahwa Amelia berhasil mengungguli posisi Dona. Padahal kontribusi Dona dari awal perkembangan, bahkan Arief bergabung setelah Dona menjadi kesatria utama guild Shadow.
Amelia berhasil menggeser posisi Dona karena bakatnya yang mengerikan. Bahkan Arief tidak bisa mengejar ketertinggalan, tetapi masalah kepemimpinan Arief tidak akan kalah.
"Bagaimana jika kita berbicara dengannya bersama?" tanya Arief memberikan saran.
Dia kurang mengetahui hubungan antara Amelia dan Dona, jadi lebih baik untuk bergabung dengannya daripada terjadi hal yang tidak diinginkan.
Amelia menyetujui saran Arief, akhirnya mereka bertiga menuju kediaman Dona. Butuh waktu 3 jam menggunakan kereta bawah tanah untuk sampai di pemukiman kumuh.
Dahulu sebelum Roni mempunyai pekerjaan di kota, Amelia dan Roni tinggal di pemukiman yang tampak sangat kotor.
Arief mengetahui tempat ini, dia pernah kesini ketika mengundang para preman masuk kedalam guild Shadow.
Kala itu Arief membawa 10 pengawal untuk melakukan penawaran. Namun akhirnya mereka ditolak dan terjadi pertengkaran.
Kelompok Shadow berhasil mengalahkan para preman tersebut karena kekuatan tubuhnya sudah dilatih dengan benar.
Bahkan satu pukulan Arief dapat menumbangkan preman. Alasan Shadow mengundang para preman untuk membantu guild.
Para preman cenderung memiliki mental yang kuat, mereka secara alami memiliki bakat untuk bertarung. Jadi hampir semua preman di wilayah Timur sudah masuk kedalam sebuah guild.
Shadow telah melihat potensi salah seorang pria berusia 29 tahun kala itu. Dia memiliki tubuh yang sehat dan kekar, walaupun hidup di lingkungan yang kumuh.
Sayangnya pria itu adalah seorang bos preman, jadi sangat sulit untuk membujuknya. Saat itu Domain Dewa sudah berjalan selama 10 tahu, artinya sekarang dia masih berumur 19 tahun.
Terbesit pikiran Arief untuk mengundang pria tersebut, tetapi dia harus memperhatikan keselamatan Jessica dan Amelia.
"Kita sudah sampai," kata Amelia berhenti di depan sebuah rumah berukuran 3 kali 4 meter.
Dona keluar dari dalam rumah karena mendengar suara. Dia sangat terkejut melihat Amelia mengunjunginya.
"Amelia, apa yang kamu lakukan disini. Apa belum puas kamu menghancurkan semua impianku!" kata Dona dengan nada tinggi.
Dia sudah mengetahui bahwa Amelia adalah anggota Fairy Dance, makanya dia bersikeras menyerang Fairy Dance untuk membuktikan diri.
Namun hasilnya berbeda dengan harapan, semua pasukan Shadow di hancurkan dengan mudah.
"Dona, kita sudah bermusuhan sangat lama. Awalnya kita adalah sahabat, jadi mari kita selesaikan salah paham ini!" kata Amelia dengan ekspresi serius.
Kala itu Amelia sedang mengambil air di sumur belakang rumah, Dona tidak sengaja melihatnya membawa kalung emas pemberian ibunya.
Dona marah karena kalung pemberian ibunya rusak, kemudian dia langsung melemparnya kedalam sumur.
__ADS_1
Tanpa bisa mengendalikan amarah, Dona mencaci maki Amelia yang merusak kalung pemberian ibunya.
Setelah mendengar banyak makian dari Dona, Amelia melompat kedalam sumur untuk mencari kalung tersebut.
Amelia yang masih berumur 6 tahun kesusahan mencari kalung yang tenggelam dalam air. Namun dengan usaha yang keras, dia berhasil menemukannya.
Anak pedesaan cenderung memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi. Jadi diumur 3 tahun, Amelia sudah bisa berenang.
Dona yang sudah terlanjur marah tidak mau mendengar penjelasan Amelia yang berbeda dengan apa yang dia lihat.
Sebenarnya kalung itu di rusak oleh anak paling nakal di desanya, pria itu adalah preman yang dimaksud Arief.
"Ambillah, aku sudah memperbaikinya, setidaknya aku menepati janjiku!" kata Amelia sambil memberikan kalung emas pemberian ibu Dona.
"Amelia, jadi maksudmu ..." kata Dona tidak menyelesaikan perkataannya dan langsung memeluk Amelia.
Sekelompok pria datang menemui mereka, dia adalah Bondan preman yang dimaksud Arief.
"Amelia, aku mendengar kamu memiliki pekerjaan yang menjanjikan di kota. Bagi uangmu ke teman-teman!" katanya dengan nada kasar.
Arief tanpa sadar tersenyum, dia melihat seorang preman yang jauh berbeda dengan ingatannya. Bondan yang dimasa depan tinggi dan kekar, sekarang hanya seorang pria tinggi kerempeng.
"Bondan, jangan ganggu Amelia. Jika tidak, aku akan menghajar kalian!" kata Dona tegas.
Perkelahian di pemukiman kumuh sudah biasa, mereka menentukan kasta dengan kekuatan fisik.
Dona adalah wanita yang pernah berkelahi dengan Bondan, tapi berakhir dengan kekalahan. Kekuatan tubuh seorang wanita dan pria sedikit berbeda, jadi sudah sewajarnya Dona kalah.
Bondan dan kelompoknya tertawa mendengar ancaman yang dikatakan Dona. "Bodoh, apa kamu kira aku takut melawan wanita lemah sepertimu!" katanya.
Arief melipat lengan panjangnya, dia tersenyum melihat Bondan yang tampak sangat biasa. "Hai, bukankah kurang baik mengancam wanita?" katanya pelan.
"Wow, ada seorang pahlawan kesiangan yang ingin mencoba peruntungan!." Bondan memiliki tinggi 191 centimeter, sedangkan Arief hanya 172 centimeter.
Selisih tinggi mereka hampir 20 centimeter, jadi Bondan melihatnya dengan mata tertuju kebawa seperti sedang meremehkan.
"Aku sedikit mengetahui peraturan di Desa ini. Siapapun yang kuat akan menjadi penguasa, Kan?" tanya Arief sambil tersenyum lebar.
Dia segera mengangkat tangannya, bersiap dengan posisi teknik boxing. Namun sebenarnya dia sedang menggunakan teknik bertarung pembaruan atau sering disebut Seni Bela Diri Campur.
Karena dasar Bondan yang rendah akan pertarungan profesional, dia menyerang tanpa memikirkan konsekuensinya.
Bondan terus menyerang dengan membabi buta, tetapi Arief menghindar dangan mudah menggunakan gayanya. Berkat minuman konsentrasi, kinerja otaknya menjadi sangat hebat.
Pukulan Bondan nampak seperti seorang anak kecil yang sedang memukul bonekanya. Tanpa irama, tanpa tempo, bahkan tanpa efisiensi.
"Sampai kapan kamu menghindar!" teriak Bondan dengan keras. Dia mulai merasakan tekanan dari Arief yang setiap gerakannya sangat efisien.
__ADS_1
Tepat ketika Bondan menyelesaikan perkataannya, Arief melayangkan pukulannya ke rahang bagian kiri.
Suara benturan kepalan tangan dengan tulang rahang terdengar sangat keras.
Bondan langsung terkapar di tanah, dia hampir kehilangan kesadaran. Walaupun masih 16 tahun, pengalaman petarung Arief sudah puluhan tahun.
Jadi melawan preman kecil seperti Bondan sangat mudah baginya.
"Jangan pernah lengah ketika menghadapi musuh!" kata Arief memberikan nasihat dan memandang Bondan dengan tatapan menghina.
Akhirnya Bondan pingsan dengan tubuh terlentang di atas tanah. Semua teman-temannya langsung melarikan diri melihat lawan mereka yang sangat kuat.
Kekuatan tubuh Bondan tidak dapat diremehkan. Bahkan puluhan orang memukulnya, dia tidak akan mudah tumbang
Namun Arief dapat mengalahkannya dengan satu pukulan telak. Bukan tanpa alasan, Arief mengarahkan pukulannya ke titik lemah setiap orang.
Jika hanya preman biasa, mereka akan langsung tumbang dengan pukulan di rahang bawah sebelah kiri.
Pukulan tersebut memang di rancang untuk melumpuhkan musuhnya dengan sekali serang. Walaupun tidak mematikan, pukulan tersebut dapat digunakan untuk mengalahkan lawannya di kompetisi resmi.
Arief kurang berpengalaman di dunia pertarungan bebas, jadi dia kurang mengetahui teknik bertarung yang dapat membunuh musuhnya.
Dona dan Jessica terkejut melihat ketrampilan bertarung Arief. Tidak hanya di permainan, kemampuan Arief berbanding lurus dengan Dunia Nyata.
Amelia sudah melihat ketrampilan bertarung Arief ketika memukul ayahnya hingga tumbang. Walaupun bukan orang yang terlatih, ayahnya adalah orang dewasa yang tidak akan tumbang dengan mudah.
Amelia juga bukan orang bodoh, dia mempertimbangkan keselamatannya karena para preman di desanya sangat kuat. Dengan adanya Arief bersamanya, Amelia bisa tenang.
Setelah beberapa saat, Bondan sadarkan diri. "Jadi aku kalah. Kamu pasti bukan bocah biasa."
Arief mengulurkan tangannya untuk membantu Bondan berdiri. "Pertarungan jalanan memang sangat menyenangkan. Tapi aku memiliki penawaran yang lebih baik, apa kamu mau mendengarnya?" tanya Arief sambil tersenyum.
Bondan menjabat tangan Arief untuk memberikan hormat.
"Penawaran apa yang kamu maksud?" kata Bondan sambil membersihkan pakaiannya.
"Aku mempunyai guild permainan Domain Dewa, apa kamu berminat untuk bergabung. Aku jamin kamu akan menemukan banyak petarung hebat di sana!" kata Arief sambil tersenyum.
Bondan tertawa keras dan bertanya, "Apa ada orang sekuat kamu di sana?"
"Banyak orang yang lebih kuat dari aku. Bahkan aku tidak tahu bisa menang melawan Amelia atau tidak," jawab Arief sambil melirik Amelia yang tersenyum tipis.
"Bos, kamu selalu bisa melihat setiap kekuatan yang aku sembunyikan," kata Amelia belum kehilangan senyumnya.
Arief tertawa kecil. "Sebagai seorang ketua, aku harus memperhatikan perkembangan setiap anggota," katanya.
Akhirnya Bondan dan Dona setuju untuk bergabung dengan Fairy Dance dengan gaji 3000 kredit perbulan, serta masa kontrak selama 10 tahun.
__ADS_1
Sekarang Fairy Dance memiliki dua pemain potensial lainnya. Dona akan melanjutkan karakternya sebagai Kesatria, sedangkan Bondan akan membuat karakter baru dengan kelas Kombat.