
Blue tersenyum dan berkata, "Sangat mengesankan."
"Terima kasih, Bos. Aku sudah lama tidak mengamuk, hehe." Drakula tersipu malu karena hampir tidak pernah melepaskan sihir.
"Setelah ini selesai kita akan mengamuk di barat. Sepertinya banyak pemberontak di sana."
"Siap, Bos." Drakula membungkukkan badannya dan langsung masuk ke dalam ruang penyimpanan.
Suara pedang di tarik dari sarungnya terdengar nyaring di telinga Hao Ju yang mulai ketakutan. Blue mendekat sambil menarik salah satu pedang di punggungnya.
"Mari selesaikan," ucap Blue sambil menodongkan pedangnya ke arah Dewi Bianca yang berwujud raksasa.
Hao Ju yang ketakutan tetap mempertahankan harga dirinya. Dia menarik pedang dan menyerang musuhnya dengan kekuatan penuh, tetapi Nevada langsung menghantamnya dengan pukulan menyakitkan.
"Argh..." ucap Hao Ju yang kesakitan.
Dewi Bianca berubah wujud menjadi manusia dan keluar dari istana. Wajahnya yang cantik mempesona membuat para pria jatuh cinta padanya.
Matanya yang indah bisa membutakan, rambutnya yang halus lurus membuat semua orang tidak bisa berpikir jernih. Para pasukan Justin tidak bisa melepaskan matanya pada Dewi Bianca yang begitu sempurna.
"Manusia sombong!"
Itu adalah perkataan pertama yang keluar dari mulut manis Dewi Bianca.
Blue mengangkat sudut bibirnya. "Kamu benar-benar penyihir yang mengerikan. Kita baru saja bertemu tapi sudah menggunakan sihir ilusi yang begitu kuat."
[Raja Segalanya berhasil mempertahankan diri dari sihir ilusi Demigod Bianca.]
"Mm... sepertinya mahkluk abadi sudah menjadi kuat." Dewi Bianca berhenti dan pakaiannya yang berwarna merah muda berkibar.
Aura Demigod dipancarkan, semua orang yang lebih lemah darinya akan tunduk. Matanya melotot melihat semua musuh didepannya.
Semua orang kecuali Blue tertunduk merasakan aura yang begitu mengerikan. Bahkan sebagian pasukan dipaksa keluar dari permainan karena peringatan mesin virtual.
Nevada yang merasa sombong dengan kekuatannya tidak percaya berlutut di depan orang yang bukan tuannya. "Kekuatan apa ini?" katanya pelan.
Matanya mencoba melihat Dewi Bianca, tetapi ia dikejutkan oleh sosok manusia yang masih berdiri tegap menatap lawannya. Sosok manusia itu tidak lain adalah Blue yang menunggu musuhnya selesai menyingkirkan pemain yang tidak pantas.
"Menarik manusia, kamu bisa menahan tekanan sekuat ini. Mari meningkatkan kesulitannya!" kata Dewi Bianca melepaskan kekuatan yang lebih besar.
Blue tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis karena tidak mau menggunakan energi kehidupan seperti ini. Ia yakin tekanan sekuat ini menggunakan energi kehidupan yang tidak sedikit.
Semua orang kecuali Blue dan Nevada di paksa keluar permainan dan mendapatkan hukuman selama 3 jam dunia nyata.
Nevada sudah tidak kuat menahan kakinya yang berlutut, ia tengkurep memandang Dewi Bianca dengan tatapan prihatin.
Blue berjongkok dan memberikan obat serta energi kehidupan. "Bangun dan lihatlah apa yang sebenarnya."
__ADS_1
Nevada mengeluarkan kekuatan penuh untuk bertahan. Ia berdiri sambil melepaskan aura dengan penuh semangat.
Langkah kaki terdengar pelan dan teratur, Blue mendekati sosok yang dikatakan sebagai Dewi Bianca. "Sejak kapan Demigod tingkat Rendah begitu lemah?"
"Apa maksudmu?"
"Lihatlah sendiri, aku manusia biasa bisa berdiri dengan mudahnya." Blue mengangkat kedua bahunya.
Dewi Bianca tidak bisa berkata-kata, ia sudah menggunakan kekuatan penuh untuk menjatuhkan lawannya. Namun manusia didepannya berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.
"Siapa kamu sebenarnya?"
"Aku orang yang akan membebaskan Dewi Bianca!" kata Blue sambil meningkatkan kecepatan larinya.
Tepat di depan Dewi Bianca, Blue mengayunkan pedangnya dengan kekuatan minimal. Makanya Dewi Bianca bisa menahan pedang dengan tangan kosong.
"Konyol sekali." Blue tersenyum tipis melihat dewi yang tidak bisa berpikir jernih.
Tangan Dewi Bianca yang memegang pedang langsung meleleh. Dengan cepat, dewi mundur beberapa langkah.
Blue tidak membiarkan dia lolos, ia menarik pedang satunya dan memberikan serangan telak pada musuhnya.
"Gelombang Kejut!"
20 sayatan pedang muncul pada setiap ayunan pedangnya, Blue mengarahkan sayatan pedang pada musuhnya dengan senyum misterius.
Dewi Bianca yang belajar dari kesalahan langsung menggunakan perisai untuk mempertahankan tubuhnya. Namun perisainya tidak bisa menahan serangan lawan. HPnya dengan cepat berkurang karena Blue terus menghantamnya dengan serangan bertubi-tubi.
Dewi Bianca terkejut sambil membuka matanya. Ia sebenarnya adalah jendral iblis yang telah kabur dari neraka bersama Dagon. Bedanya Dagon selamat dengan tubuh utuh, sedangkan jendral iblis itu hanya menyisakan jiwanya.
Dengan tipu muslihat dan mulutnya yang licin, jendral iblis mempengaruhi Dewi Bianca. Sampai akhirnya dia berhasil mengendalikan tubuhnya.
Meskipun begitu, Dewi Bianca sebenarnya memang sudah memuja iblis dari dulu. Makanya dia membunuh banyak pengikutnya untuk dijadikan tumbal pada jendral iblis.
"Bagaimana kau tahu semuanya?" tanya Dewi Bianca.
"Seorang rekan memberitahu segalanya. Sayangnya jiwamu sudah menyatu dengan dewi bodoh itu, aku tidak bisa menyelamatkanmu." Blue berlari dan menggunakan serangan terakhirnya.
HP Dewi Bianca turun sampai 0, kemenangan sudah dipastikan milik Blue. Namun pemberitahuan sistem tidak keluar, artinya Dewi Bianca belum mati.
"Haha, bocah sombong!" teriak serpihan jiwa yang masuk kembali ke istana.
Blue menoleh ke arah Nevada yang kelelahan. "Cepat sembuhkan dirimu, kita akan menuju dewi yang kau puja selama ini."
Nevada hanya menganggukkan kepala karena kehabisan stamina. Blue mengerutkan kening karena perhitungannya hampir salah.
"Sial, tekanannya lebih kuat dari yang aku kira."
__ADS_1
Bee menggunakan telepati dan berkata, "Kamu terlalu nekat. Bagaimana jika iblis itu sangat kuat?"
"Tidak perlu khawatir, Dagon sudah siap mengamuk. Aku harap iblis itu tidak memiliki level 700 keatas."
"Bodoh, mana mungkin iblis yang bisa mengendalikan dewi levelnya rendah!" teriak Bee degan nada tinggi.
"Aku juga sedikit ragu, tapi aku harus membawa Nevada masuk dan keluar dengan selamat."
"Terserahlah, aku akan menyiapkan sihir untuk jaga-jaga."
Ela menyahut, "Sepertinya iblis itu tidak sekuat bayanganmu, Bos."
"Mengapa begitu?" tanya Blue penasaran.
"Setelah Kebangkitan Ilahi, aku bisa melihat aliran kehidupan pada makhluk hidup. Iblis yang bersemayam dalam tubuh Dewi Bianca sudah mulai pudar. Artinya iblis itu akan mati beberapa tahun lagi."
"Justru itu yang lebih mengerikan. Artinya Dewi Bianca sudah berhasil mengendalikan energi iblis dan menjadikannya kekuatannya sendiri." Blue mengerutkan kening, ia harus berpikir dua kali untuk masuk kedalam.
Ela merasa malu karena analisisnya salah. Seekor makhluk yang tampak seperti hamster berbulu lebat bertengger di pundaknya.
Sontak Ela terkejut, "Siapa kau?"
"Putri Salju."
Bee menganggukkan kepala. "Dia juga kartu yang bisa di pakai dalam keadaan darurat."
"Semua sudah siap. Ayo berangkat!" kata Blue.
Nevada mengikuti tuannya dari belakang, semua pemain masih belum bisa masuk dalam permainan. Beberapa penduduk juga menjadi korban karena kekuatan Dewi Bianca yang terlalu kuat.
Mata Dewa menunjukan jalan ke ruang tersembunyi miliki Dewi Bianca. Sampai akhirnya mereka menemukan ruangan yang terdapat dua patung raksasa di kanan dan kiri.
"Zenno, jendral iblis yang berhasil lolos dari penjara neraka." Blue bergumam pelan karena sudah memastikan identitas musuhnya.
Patung satunya tentu saja Dewi Bianca dalam wujud manusia seutuhnya. Nevada merasakan tekanan kuat dari seseorang yang terborgol di depan.
"Kamu benar-benar sampai dengan cepat." Suara serak terdengar, ia adalah jendral iblis Zenno.
"Menemukan ruang bawah tanah sepeti ini tidak sulit untukku." Blue mengusap mata Nevada menggunakan simbol buatan.
Mata Nevada terbuka lebar melihat sosok yang ia kenal di salip. "Mengapa ketua sebelumnya ada di sana?"
"Tentu saja dewi itu yang membawanya untuk memperkuat iblis Zenno."
"Haha, manusia abadi sepertinya mempunyai informasi yang luas. Sungguh sial pengikut itu sangat lemah, mereka hanya membawa tumbal receh."
"Hai, setidaknya kau bersyukur bisa hidup lebih lama."
__ADS_1
"Sejak kapan iblis bisa bersyukur?" tanya Zenno.
"Ah... Benar juga."