
Blue mengangguk mendengar cerita Raphael yang menyedihkan. "Apa kamu membenci Dewa Perang?"
Raphael menggelengkan kepala. "Hanya orang bodoh yang membenci dirinya. Tapi jika ada kesempatan aku pasti akan membunuhnya!"
"Mengapa kamu tidak membalaskan dendam sekarang. Bukankah kekuatanmu sudah lebih tinggi dari Dewa?" tanya Blue.
"Bodoh, Dewa Perang berada di tingkat yang berbeda. Dengan kekuatanku sekarang aku hanya bisa selamat dari pukulan pertamanya, kemudian akan mati pada pukulan kedua."
Raphael tampak meratapi nasibnya, dia harus mencari pendukung yang kuat untuk menjatuhkan Dewa Perang.
"Itulah alasan mengapa kamu membutuhkan gulungan Penghargaan Dewa Arta?" tanya Blue dengan suara pelan.
"Benar aku membutuhkannya untuk meningkatkan kekuatan."
Blue langsung menatapnya dengan pandangan tajam.
"Maksudku, memberikannya pada keluarganya dan mendapatkan hadiah yang besar. Kamu tahu sendiri butuh banyak uang untuk membuat sebuah pasukan."
Sebenarnya Blue bukan terkejut karena gulungan Penghargaan, tetapi karena kekuatan Dewa Perang yang digambarkan. Jika Raphael yang sekuat ini saja bisa mati dalam dua serangan, bagaimana pahlawan lain.
"Tinggal gabungkan semua pahlawan. Bukankah kamu mempunyai kekuasaan yang sangat luas, para pahlawan juga akan bersedia di bawah komando mu?"
"Kamu tidak mengerti, semua pahlawan mempunyai kepentingan masing-masing. Mereka hanya akan membantu jika ada imbalan yang setimpal, menghadapi Dewa Perang tentu saja tidak ada yang mati. 99% kemungkinan mereka akan mati, kamu belum tahu satu orang kepercayaan Dewa Perang bisa membunuh semua pahlawan di dunia."
"Bukankah itu terlalu berlebihan. Aku sudah membaca buku tentang Dewa Perang, dia tidak sekuat yang kamu gambaran."
Raphael menghembuskan napasnya. "Huh, buku yang kamu baca itu adalah karangan para pahlawan. Jadi sudah sewajarnya mereka merendahkan kekuatan Dewa Perang."
"Benar juga, itu hanyalah karangan dari para pahlawan terdahulu."
"Yah, Dewa Perang sialan itu benar-benar sangat kuat. Sejujurnya aku sudah menyelidiki dunia ini, para Dewa menguasai seluruh dunia, bahkan Raja Neraka Baal juga mendapat julukan Dewa Kehancuran."
"Yah, aku sudah membacanya. Tapi yang paling mengejutkan mengapa Baal bisa mendapatkan julukan seperti itu?" tanya Blue.
Raphael tersenyum manis. "Itu karena Baal tidak bisa mati, bahkan Dewa Perang akan kesusahan melawannya. Aku berencana mendekatinya, sayangnya kepribadiannya sangat aneh."
"Artinya masih ada Dewa yang lebih kuat dari Dewa Perang?"
"Pengetahuan yang aku miliki sangat terbatas. Hanya ada 4 Dewa yang bisa menyaingi Dewa Perang, mereka adalah Baal, Gaia, Sang Penguasa Langit, dan Sang Penguasa Segalanya."
"4 dari 5 penguasa tertinggi adalah Dewa semua, mungkinkah ini mengapa dunia ini disebut Domain Dewa?" kata Blue pelan.
Raphael langsung menatap Blue degan pandangan aneh. "Hai, makhluk abadi. Apa kamu menyebutkan Domain Dewa?" katanya.
"Ya, di dunia asli kami. Kalian hanyalah permainan yang disebut Domain Dewa, jadi para pemain tidak takut dirinya mati."
Tubuh Raphael memancarkan cahaya kuning, cahaya lembut itu menyelimuti tubuhnya cukup lama.
Sosok Raphael muncul dengan penampilan yang jauh lebih menawan. Pengetahuan ilahi Raphael terbuka, jadi kekuatannya meningkat sekali lagi.
"Bodoh, aku salah perhitungan!" kata Blue dalam hati. Siapa yang menyangka dia sendiri yang membangkitkan kekuatan ilahi Raphael.
__ADS_1
"Jadi seperti itu, pantas saja para dewa sangat kuat. Mereka mempunyai pengikut setia, jadi sebelum mengalahkan Dewa Perang aku harus membangun namaku," kata Raphael penuh semangat.
"Mengapa kamu mengatakan semua ini?" tanya Blue yang sudah bersiap untuk kabur.
"Yah, kamu akan melupakannya segera. Jadi tidak perlu bagiku untuk khawatir," katanya sambil memegang kepala Blue.
Dia sedang menggunakan keterampilan untuk memanipulasi pikiran, sehingga Blue tidak akan mengingat semua yang dikatakan Raphael.
Rasa sakit yang sangat menyiksa dirasakan Blue. Dia berteriak kesakitan, otaknya seperti sedang dihancurkan dan diacak-acak.
Untungnya kemampuan Prinsip Jiwa menolongnya, sehingga Blue selamat dan tidak gila. Dia pingsan di dalam mesin virtual Domain Dewa.
Raphael tersenyum melihat tubuh Blue yang menjadi transparan. "Terima kasih telah mendengarkan cerita sedihku. Semoga kita akan bertemu lagi di situasi yang lebih baik."
Setelah mengatakannya, keberadaan Raphael langsung menghilang. Kecepatan berpindahnya sedikit berbeda, dia bisa memanipulasi ruang disekitarnya.
Jadi Raphael bisa berpindah kemanapun dia mau, selama tempat itu berada di jangkauan area deteksinya. Berbeda dengan Gate yang mengharuskan pemain berjalan masuk kedalam.
Arief yang pingsan di dalam mesin virtual mulai membuka matanya. Napasnya langsung kembang kempis, dia seperti kehabisan napas.
"Apa yang terjadi, bagaimana karakter dalam game bisa menyakiti orang di dunia nyata!" kata Arief dengan suara gemetar.
Ini adalah pertama kalinya pikirannya di manipulasi. Namun anehnya, dia masih mengingat detail pertemuannya dengan Raphael.
Aries Hardiman yang melihat dari kejauhan mengerutkan kening. "Bagaimana mungkin bocah itu sudah membuka kesadaran ilahi. Sial, dia benar-benar monster yang sebenarnya!" katanya.
Tanpa sadar Blue juga mendapatkan keuntungan, dia sudah membangkitkan sesuatu yang bisa membuat Aries Hardiman memujinya. Pastinya kesadaran ilahi yang dimaksud sangat istimewa.
Arief mengeluarkan kaki kanan dari mesin virtual. Tepat ketika dia menyentuh lantai, betapa terkejutnya dia bisa merasakan setiap sudut ruangan.
Gambaran seluruh gedung markas Fairy Dance terbentuk di pikirannya. Dia bisa memikirkannya dalam bentuk 3 dimensi, sungguh kemampuan yang sangat langka.
Untuk menguji kemampuan barunya, Arief lebih fokus mengendalikan dirinya. Dia menarik pelan dan teratur, hingga dia masuk kedalam kondisi otak gelombang gamma.
Ini adalah kondisi dimana otak bekerja dengan sangat keras sehingga memindai semua kodisi dalam satu waktu.
Arief tersenyum melihat semua aktifitas anggota Fairy Dance. Berbeda dengan sebelumnya, dia hanya merasakan ada seseorang yang melihatnya.
Sekarang dia bisa melihat dan merasakan orang yang ada disekitarnya. Ini adalah kemampuan orang super, tetapi Arief bisa mempelajarinya dengan bakatnya.
Setelah tersenyum beberapa saat, fokusnya langsung bubar. Dia keluar dari mode yang sangat misterius tersebut.
"Sial, itu tadi sangat keren!" kata Arief sangat senang.
Dia mencoba memfokuskan dirinya dan melepaskan auranya untuk kedua kalinya. Namun dia hanya bisa merasakan semua benda di dalam ruangannya.
Tidak mau menyerah, Arief mengulanginya sampai beberapa kali. Sayangnya dia gagal terus menerus, sampai akhirnya dia memilih untuk menyudahi latihan dan beristirahat.
Matahari sudah menampakkan sinarnya, Arief terbangun sambil meregangkan tubuhnya. Yuliana sedang tidur disebelahnya.
"Ibu, apa yang kamu lakukan?" tanya Arief.
__ADS_1
Yuliana mengusap matanya dan berkata, "Apa tidak boleh seorang ibu menemani anak kesayangan ya tidur."
"Ibu, aku sudah 19 tahun. Itu adalah tindakan yang sangat tidak wajar!" kata Arief melompat dari kasurnya.
Yuliana tertawa keras, "Haha, kamu sangat lucu, Nak. Sudah lama aku tidak melihatmu seperti anak kecil seperti ini. Kedatanganku kali ini untuk berpamitan, mungkin aku akan lama tinggal diluar negeri."
"Jika aku kangen tinggal naik pesawat dan sampai Kan?"
"Yah, kamu pasti sudah tahu identitas ibu. Sepertinya beberapa musuh ayah sudah menampakkan diri, aku tidak ingin kamu terlibat jadi amankan dirimu."
"Iya, Ibu. Sebenarnya aku bukanlah orang lemah. Jadi jika membutuhkan bantuan katakanlah, terlebih lagi aku adalah orang yang sangat kaya." Arief mengambil ponsel dan mentransfer sejumlah uang pada rekening ibunya.
"Memang berapa yang kamu berikan, Nak?" tanya Yuliana tersenyum manis. Dia sudah mendapatkan miliaran kredit, jadi sudah tidak membutuhkan banyak uang lagi.
"Lihatlah sendiri, itu adalah semua uang yang aku hasilkan. Jadi jangan pernah mengembalikannya dan kembalilah dengan selamat, aku tidak peduli kondisi ibu tapi tetaplah kembali," kata Arief sambil memeluk ibunya.
Dia tahu tempat yang akan dituju Yuliana bukan sembarangan. Pasti nyawa adalah taruhannya, kekuatan Arief sangat lemah. Jika ikut pasti akan menjadi beban kelompok.
Berada di markas Fairy Dance adalah tempat yang paling aman untuknya, terlebih lagi Perusahan Aldi melindungi semua pemainnya. Jadi sudah dapat dipastikan keamanannya sangat tinggi.
"Ya, aku janji akan pulang dengan selamat." Yuliana mengelus punggung Arief yang sangat lebar.
Arief mengantar ibunya sampai depan gerbang Markas Besar Fairy Dance. Dia melambaikan tangannya untuk melepas kepergian ibunya.
"Kakek, apa ibuku bisa kembali dengan selamat?" katanya berbicara sendiri.
Aries Hardiman muncul di sebelahnya. "Tenanglah, wanita itu cukup berani dan tenang. Aku yakin dia bisa kembali dengan selamat tapi aku tidak tahu dengan kondisi tubuhnya."
Arief tersenyum manis. "Terima kasih telah menghiburku, Kakek. Walaupun aku sudah mengetahui ibuku akan mati, rasanya sungguh menyakitkan!"
"Sial, aku lupa kamu dari masa depan. Tenanglah, masa depan bisa berubah kapan saja. Jadi jangan khawatir orang tuamu," kata Aries Hardiman.
Tanpa sadar Arief meneteskan air mata, kemampuan ilahi yang dia dapatkan aktif tanpa sadar. Dia bisa merasakan semua lingkungannya dalam bentuk 3 dimensi.
Aries Hardiman tersenyum melihat perkembangan Arief yang jauh diluar ekspetasinya. Jelas tidak mungkin anak berumur 19 tahun membangkitkan kesadaran ilahi.
Jika ada, mungkin dia akan menjadi gila seumur hidupnya. Namun lihatlah, Arief Baskoro berhasil menggunakan kesadaran ilahi dengan sangat mudah, meskipun dia tidak sadar.
Setelah beberapa saat Arief jatuh pingsan. Aries Hardiman tidak membiarkannya jatuh ke tanah, dia menangkap dan menggendong di punggungnya.
"Nak, balas dendam bukanlah jalan yang terbaik. Aku menyarankan kamu terus mengembangkan diri sampai para musuh orang tuamu hanyalah semut yang bisa kamu bunuh kapan saja," kata Aries Hardiman pelan.
Mereka berdua berjalan menuju markas besar Fairy Dance. Jessica yang melihatnya langsung berlari. Dia ingin membantu membopong bosnya.
Amelia melompat dari lantai dua ketika melihat Arief di gendong gurunya.
Leon keluar dari kamar ketika merasakan kehadiran Arief menghilang. Dia melihat kerabat karibnya pingsan di punggung kakek misterius.
Semua anggota Fairy Dance berbaris, tidak ada yang bertanya apa yang terjadi. Mereka lebih memilih khawatir dan segera menolong ketua guild daripada mengetahui penyebabnya.
Beginilah kekompakan Fairy Dance, semua anggota turun dan melihat Arief di gendong masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Tidak ada satupun anggota yang melanjutkan latihannya ketika mendengar Arief pingsan di pintu gerbang.
Langkah kaki Aries Hardiman sangat pelan dan mantap, dia terus menggendong Arief sampai masuk kedalam kamar dan meletakkannya di kasur.