
Arief mengerti mengapa ibunya memperingatkan dirinya. Mungkin saja keluarga Nakamoto sangat kuat atau bahkan tidak bisa dikalahkan ibu dan organisasinya.
Oleh karena itu, Arief tidak akan mengungkapkan identitasnya sebagai anak dari Yuliana. Mungkin saja kedua orang tuanya pernah bersinggungan dengan keluarga Nakamoto.
"Baiklah, aku akan melakukan perjalanan yang cukup lama. Semua urusan guild akan ditangani Jessica," kata Arief didepan para petinggi Fairy Dance.
Kali ini Cola hanya diam, dia tidak pernah patuh seperti ini karena sudah tahu seberapa menakutkannya Jessica ketika marah.
Bahkan Amelia yang berperan sebagai Jendral Perang Fairy Dance harus berlutut di depannya. Sekarang Cola mengerti mengapa wakil ketua diberikan pada Jessica ketika baru saja masuk guild.
Awalnya Cola, Lina, dan Rina sedikit bingung. Mereka menganggap bahwa Argya lebih layak menjadi wakil ketua dibandingkan dengan Jessica.
Setelah melihat kemampuan Jessica dalam manajemen guild, mereka sekarang harus mengakui keputusan Arief benar-benar sangat tepat.
Walaupun Argya sangat hebat, tetapi dia lebih sering membantu guild keluarganya dibandingkan aktif di Fairy Dance.
Zaha yang menata semua pertahanan Fairy Dance di Danau Putih hanya diam ketika Jessica ditunjuk sebagai pengambil keputusan utama. Dia sadar bahwa kemampuannya memimpin pasukannya kurang memadai.
Terlebih lagi dia lebih suka bekerja di dalam ruangan dibandingkan melakukan kerjasama dengan orang lain.
Reza yang duduk di sebelah Bima dan Adam tersenyum manis. Mungkin saja dia lebih bagus dalam menyelesaikan masalah guild, tetapi Jessica tidak lebih buruk darinya, ditambah lagi dia memiliki aura seorang pemimpin.
Bukannya iri dengan Jessica, dia malah penasaran dengan kemampuan bosnya memilih orang. Semua orang didalam ruangan tidak ada yang lemah ataupun berbakat buruk.
Tanpa sadar dia melirik Kana yang duduk di seberang mejanya. "Apa kamu tidak mengajukan keberatan," kata Reza dengan suara pelan.
Kana menggelengkan kepala. "Apa kamu bodoh, jelas kemampuanku di bawah Jessica. Aku lebih penasaran dengan perasaan Amelia mendengar bahwa Jessica menjadi pemimpin sementara," kata Kana pelan.
Karena Amelia mempunyai pendengaran yang sangat baik dia menanggapi. "Hah, untuk kalian semua yang penasaran bagaimana perasaanku. Jelas saja aku setuju dengan keputusan, Bos."
Dia juga menjelaskan beberapa alasan mengapa Amelia setuju dengan keputusannya. Salah satunya adalah kemampuan bertarungnya dibawah Jessica.
Hanya beberapa orang yang melihat pertarungan antara Jessica dan Amelia beberapa hari yang lalu. Jessica keluar sebagai pemenang, dengan kemenangan telak.
Karena pertarungan itu, Amelia sempat depresi dan berlatih habis-habisan. Sebelum seorang kakek tua mengatakan bahwa kerja keras memang penting, tetapi penggunaan otak dalam berlatih juga penting.
Seketika orang tersebut menghilang, Amelia juga mengatakan bahwa pria tua itu memiliki kemampuan yang sangat aneh. Dia bisa menghilang dalam sekejap mata, seperti sebuah mimpi.
Dalam beberapa menit, akhirnya Amelia bangkit dan menggunakan otaknya untuk berpikir keras. Dia mulai kembali latihan yang efektif dan efisien.
Mungkin saja suatu hari kekuatannya akan melampaui Jessica. Namun bukan minggu ini, bulan ini, atau mungkin tahun ini.
Setelah mendengar penjelasan Amelia, semua orang yang hadir di dalam ruangan memandang Leon yang pertama kali menjadi anggota Fairy Dance.
"Mengapa kalian menatapku, aku tidak mempunyai kemampuan untuk memimpin orang banyak. Jadi jangan berharap lebih, lebih baik fokus untuk memperkuat diri supaya bisa berguna untuk orang banyak," kata Leon sambil tersenyum tipis.
Rapat selesai dengan satu suara, jelas saja keputusan Arief adalah pilihan terbaik. Semua orang mengakui ******** Jessica, sehingga Arief bisa pergi dengan tenang.
Walaupun levelnya masih tertinggal jauh, Arief harus melakukan perjalanan panjang untuk mencari petunjuk hubungan keluarga Nakamoto dan keluarganya, Baskoro.
__ADS_1
Tanpa membawa barang apapun Arief pergi ke bandara menggunakan mobil pribadinya. "Lihatlah mobil pertama yang aku beli," kata Arief sambil mengusap badan mobil yang dia gunakan untuk melarikan diri dari markas Galaxy Star.
Debu tebal menempel di badan mobil, Arief langsung mencari kain untuk membersihkannya. Setelah beberapa saat, dia melihat kondisi mesin.
Karena perkembangan dunia semakin maju, mobil yang dia miliki mempunyai ketahanan yang sangat baik. Oleh karena itu, mobilnya masih dalam kondisi baik walaupun sudah satu tahun tidak dipakai.
Setelah memastikan mobilnya siap dipakai, Arief masuk kedalam dan menyalakan mobil. Lampu mobil langsung menyala, dia tidak lupa membenarkan posisi kaca spion.
Tanpa menunggu lama Arief menekan gas perlahan, dia tidak ingin mobilnya mati mesin karena sudah lama tidak digunakan. Kekhawatirannya langsung hilang ketika melihat mobilnya berjalan dengan baik.
Pintu garasi bawah tanahnya terbuka dengan sendirinya, Arief dan mobilnya pergi ke bandara dengan kecepatan sedang. Setidaknya dia memacu mobilnya di kecepatan 60 kilometer per jam.
Karena jalan ramai lancar, semua mobil di sebelahnya memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Hingga ada sebuah mobil mewah keluaran terbaru menyalipnya dengan kecepatan 200 kilometer per jam.
Bagi Arief itu adalah kecepatan yang biasa saja. Namun ada seseorang yang merasa tertantang karena di salip dengan kecepatan tinggi. Orang itu juga mempunyai mobil mewah keluaran terbaru.
Dia langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Arief lupa bahwa mobilnya adalah seri tercepat pada masanya.
Itulah mengapa kedua pemuda yang mengendarai mobil mewah menancap gas supaya Arief mengejar. Sayangnya dia tidak memiliki niat untuk memacu kendaraannya lebih cepat.
Sampai akhirnya ada sebuah mobil berwarna merah kehitaman bersanding di sebelahnya. "Hai Bung, sangat disayangkan mobil cantik seperti itu berjalan seperti kura," kata seorang pemuda dengan rambut berwarna hijau toska.
Pewarnaan rambut terlihat biasa di kalangan pemuda kaya. Namun Arief enggan melakukannya karena rambut hitamnya adalah satu-satunya yang mirip dengan ibunya. Dari segi hidung, mata dan dagu dia tampak seperti ayahnya.
"Bagaimana jika kita melakukan pertandingan ringan?" rantang Arief yang telah melihat beberapa mobil kencang sebelumnya.
"Ini yang aku tunggu, Kawan. Ayo, teman-temanku di depan sudah menunggu."
Arief sedikit meningkatkan kecepatannya sampai 90 kilometer per jam. Perlu diketahui, setelah dipecat dari Shadow Arief belajar tentang mesin mobil dengan cukup detail. Sehingga dia bisa melakukan beberapa modifikasi pada mobilnya.
Dua mobil berwarna ungu gelap dan hitam sudah menunggu di depan. Arief berhenti sebentar untum melakukan persiapan, pemuda mobil merah juga melakukan hal yang sama.
Berhentinya mereka bertempat membuat kendaraan dibelakang harus berhenti. Melihat empat mobil mewah, jelas semua orang tidak mempermasalahkannya.
"Hitungan ketiga mari mulai!" teriak pemuda pengendara mobil mewah.
Arief mengangguk menandakan dia setuju, siapa yang menyangka pemuda pengendara mobil mewah melakukan kecurangan.
"TIGA!" teriaknya dengan sangat keras. Hingga membuat Arief tertinggal.
"Anak mudah benar-benar sangat bersemangat. Baiklah, mari mulai permainannya," kata Arief tidak sadar bahwa dia adalah anak berusia 18 tahun.
Mobil standar milik Arief hanya bisa melakukan akselerasi 100 kilometer per jam dalam waktu 2,8 detik. Namun dengan sedikit campur tangannya dia berhasil membuat mobilnya bisa mencapai kecepatan 100 kilometer hanya dengan 1,9 detik.
Karena jalan cukup ramai semua kendaraan mencari jalan terbaik untuk mendahului lawan. Arief sebagai pengguna prana melakukan sedikit kecurangan.
Dia melepaskan prana miliknya untuk mengukur jarak antar mobil dan langsung menyalin mobil didepannya tanpa mengurangi kecepatan.
"Wuuusss..." Suara mobil Arief mendahului semua lawannya dengan kecepatan lebih dari 150 kilometer per jam.
__ADS_1
Mungkin terlihat lambat untuk seorang pembalap, tetapi sekarang mereka bertanding di jalan yang cukup ramai. Jadi pengendalian mobil adalah hak terpenting untuk mencapai garis finis.
Yang seharusnya Arief sampai di bandara dalam waktu 1 jam. Sekarang dia hanya menempuhnya dalam waktu 20 menit.
Benar-benar kecepatan mengendarai yang sangat gila. Karena sudah sampai duluan, dia memarkir mobilnya dekat dengan pintu bandara.
Namun siapa yang menyangka ada mobil polisi yang berhenti di depannya.
"Selama siang, Mas. Bisa tunjukkan surat mengemudi dan kelengkapan mobilnya?" tanya petugas.
Sebagai warga negara yang baik, Arief memberikan surat izin mengemudinya dan memberikan kelengkapan mobilnya.
"Baiklah, karena sudah kooperatif. Silahkan ambil kelengkapan saudara di kantor dekat bandara."
Arief hanya bisa menghela napas, dia tidak menyangka akan terkena tilangan karena memacu kendaraannya terlalu cepat. Namun sebelum petugas polisi pergi pemuda mobil merah sampai dan menghentikan mobilnya di depan petugas polisi.
"Pak, tolong toleransinya. Dia adalah temanku," katanya sambil menunjukkan sebuah kartu aneh yang tidak diketahui Arief. Padahal dia sudah hidup cukup lama, tetapi pengetahuannya masih sangat terbatas.
Melihat kartu yang dipegang pemuda, petugas polisi langsung memberikan hormat dan memberikan kelengkapan Arief padanya.
"Hai, Bung. Benar-benar kemampuan mengemudi yang gila," kata pemuda tersebut sambil memberikan surat-surat milik Arief.
Tanpa sungkan, Arief mengambilnya dengan tangan kanan. "Terima kasih. Sebenarnya Kemampuan ku tidaklah baik dibandingkan dengan ibuku," katanya sambil tersenyum tipis.
"Iya, iya, ya, aku percaya itu. Ngomong-ngomong kamu mau pergi kemana?"
"Aku berniat pergi ke Negara Tokyo. Seorang teman mengundangku ke rumahnya," jawab Arief dengan nada santai.
"Wow, kamu pergi cukup jauh. Namun aku juga memiliki beberapa urusan di sana, mari pergi bersama."
Mereka berdua menunggu dua temannya yang masih belum sampai. Tanpa memperkenalkan diri masing-masing, Arief dengan santainya menerima tawaran pemuda tersebut.
Sampai akhirnya keempatnya berkumpul di pintu masuk bandara. "Ayo, pergi ke Tokyo. Teman kita ini mempunyai beberapa urusan di sana, apa kalian ikut?"
"Aku tidak mempunyai pekerjaan mendesak, jadi jangan tinggalkan aku." seorang pria berambut kuning terang menjawab dengan nada santai.
Seorang pria berambut merah juga menjawab, "Pakai acara formal, jangan tinggalkan kakak kalian ini!"
"Kakak apanya, kamu selalu paling belakang ketika kita bertanding," ucap pria berambut hijau toska.
"Sebenarnya aku hanya mengalah. Kalian tahu sendiri, sebagai seorang kakak yang baik aku harus menyenangkan hati kalian!"
Arief hanya bisa tersenyum kecut melihat candaan mereka bertiga. Jelas sekali ini bukanlah dunianya, tetapi dia harus menyesuaikan diri.
Rombongan mobil berhenti tepat di depan gerbang pintu bandara. Seorang wanita cantik keluar dari mobil paling tengah.
Beberapa pengawal langsung membuat barisan dan melindungi wanita tersebut.
"Hai, bagaimana kalau kita bertanding untuk menaklukkan wanita cantik itu?" kata pria berambut hijau toska.
__ADS_1
"Setuju, siapapun yang berhasil meminta nomor kontaknya dia menang!" jawab pria berambut kuning.
Arief hanya bisa menghela napas melihat ketiganya memperebutkan seorang wanita cantik. Dia tahu siapa wanita itu adalah anak penguasa kaya dari kerajaan sebelah, Belle.