
Tidak perlu menunggu lama, setidaknya Arief hanya berdiri selama 1 menit. Mobil yang menjemputnya sudah datang.
Seorang sopir turun dari mobil dan membukakan pintu belakang. "Silahkan masuk, Tuan," katanya sambil mempersilahkan Arief masuk kedalam.
Sebagai anak biasa, Arief tidak terbiasa diperlakukan seperti ini. Terakhir kali dia dibukakan pintu ketika pengangkatannya sebagai ketua guild Shadow di kehidupan sebelumnya.
"Terima kasih," jawabnya dan langsung masuk.
Sopir tersenyum manis menandakan dia menerima terimakasihnya. Peraturan tidak tertulis telah diterapkan keluarga Nakamoto, siapapun pegawai tidak boleh bersikap buruk pada tamu.
Mengatakan sama-sama adalah salah satu sikap buruk, oleh karena itu sopir tidak boleh menjawabnya. Jika dijawab ada kemungkinan besar akan mengalami musibah yang tidak bisa dibayangkan.
Arief menuju rumah kediaman Nakamoto yang sangat besar, untuk mencapai rumahnya mereka harus menempuh 30 menit perjalanan mobil.
Tidak ada yang lewat karena jalur satu arah. Arief hanya dia tanpa mengucapkan kata sedikitpun, dia tidak mau mempersulit sopir.
Setelah sampai di rumah kediaman keluarga utama, Arief harus mengakui bahwa gaya bangunannya sangat megah. Bahkan tiang penyangga bangunan terbuat dari emas murni, jika ditotal mungkin saja beratnya sekitar 300 kilogram untuk satu tiang.
Sedangkan kediaman Nakamoto memiliki 3 tiang, sungguh penampilan rumah yang sangat berani. Arief tersenyum tipis ketika merasakan ada beberapa orang yang memperhatikannya.
Seorang pemuda dengan kaos dan keringat di dahinya keluar. "Arief akhirnya kamu keluar, ayo masih," katanya.
"Nakamoto, banyak sekali orang yang melihatku. Apa mereka tidak sayang dengan nyawanya?" tanya Arief yang memberikan peringatan pada orang yang sedang mengintai.
"Biarkan mereka, ayo masuk kedalam." Sebenarnya Nakamoto sangat terkejut dengan kemampuan Arief dalam mendeteksi orang yang telah dilatih keluarganya.
Nakamoto adalah nama keluarga, tidak ada yang tahu siapa nama aslinya kecuali keluarga inti. Oleh sebab itu, Arief harus memanggilnya Nakamoto 9, artinya Nakamoto yang dia kenal adalah generasi kesembilan.
Seorang lelaki tua berjalan menuju ke arah mereka berdua, dia adalah Nakamoto ke 7.
"Kakek, mengapa kamu keluar?" tanya Nakamoto 9 dengan senyum manis di bibirnya.
"Nak, umurmu sudah 23 tahun, sudah waktunya kamu menikah." Dia langsung pada intinya. Jangan seperti ayahmu yang menikah di umurnya yang sudah menginjak kepala 4.
Sebelum menjawab Nakamoto ke 9 mengurangi lengkungan senyumnya. "Kakek, aku masih belum memiliki orang yang pantas. Terlebih lagi tidak ada orang yang bisa menarik mataku," katanya memberikan alasan.
Nakamoto ke 7 menghela napas, dia tidak bisa berbuat banyak. "Baiklah, jika itu keputusanmu. Namun sebaiknya kamu tidak terlalu dekat dengan pemuda di sebelah," katanya menyinggung Arief yang tidak melakukan apa-apa.
"Kakek, dia adalah temanku. Kemampuannya juga sangat bagus, teknik pedang miknya tidak kalah dengan milik keluarga kita," kata Nakamoto ke 9 membanggakan Arief.
"Kamu masih terlalu lemah. Tidak mungkin ada orang yang bisa mengalahkan teknik pedang keluarga Nakamoto. Jika tidak percaya maka mari aku tunjukkan." Nakamoto ke 7 membaik badannya dan menuju ke ruang latihan.
Arief melihat pengendalian prana Nakamoto ke 7 sangat bagus. Namun masih berada di bawah Pak Tua atau ibunya.
"Arief, walaupun kakekku sudah berumur 111 tahun. Kekuatannya tidak dapat dianggap remeh, sebaiknya jaga dirimu," ucap Nakamoto ke 9 memberikan peringatan.
Sebagai balasan Arief tersenyum tipis.
Ini adalah kesempatan bagus untuk Arief menguji kemampuannya, terlebih lagi dia mempunyai kemampuan mata yang melebihi manusia biasa.
__ADS_1
Nakamoto ke 7 sudah menggenggam pedang kayu di tangan kanannya. "Ambil pedang sesukamu, tunjukkan padaku kemampuan pedang yang membuat cucuku memujinya," katanya dengan nada menantang.
Tanpa menunggu lama, Arief mengambil pedang kayu. Dia mengangkat pedang dan memasukkannya kembali.
Arief sedang memilih dan menyesuaikan berat pedang, panjang, dan bentuk. Itu dilakukan supaya sesuai dengan kondisi tubuhnya. Mungkin beberapa orang akan mengabaikannya, tetapi Arief ingin menunjukkan yang terbaik.
Nakamoto ke 7 mengerutkan kening ketika melihat Arief mengambil dan mengembalikan pedangnya terus menerus. "Apa semua pedang disitu tidak baik?" tanyanya.
"Bukan seperti itu, tetapi ini sedikit sulit untuk memilih. Semuanya bagus," kata Arief sambil mengangkat satu pedang yang menjadi pilihannya.
Nakamoto ke 9 mengerutkan kening, dia merasa bahwa Arief sedang menahan kekuatannya. Pasalnya dia adalah pengguna dua pedang, tetapi sekarang hanya menggunakan satu pedang.
Arief mengayunkan pedangnya beberapa kali. "Baiklah, sepertinya ini bagus. Mari mulai," katanya.
Namun siapa sangka kakek tua tersebut sudah bersiap dan langsung mengayunkan pedangnya kearah Arief. Sayangnya dia melawan orang yang salah, Arief dengan gerakan kecil menghindari serangan dan menggunakan pangkal pedangnya menyerang.
Sebelum sampai di tenggorokan Nakamoto ke 7, Arief menghentikannya. "Bukankah ini terlalu mudah. Mari ulangi sekali lagi," kata Arief dengan senyum jahat.
"Haha, menarik anak muda. Kamu benar-benar bisa melihat serangan cepat itu." Sebenarnya dalam hati Nakamoto ke 7 terkejut, dia tidak pernah menduga ada orang yang bisa menghindar dalam sekali lihat.
Pasalnya Nakamoto ke 8 harus terkena serangan ribuan kali untuk bisa menghindarinya.
"Aku hanya beruntung karena anda terlalu mengabaikan pertahanan."
Pertandingan dilanjutkan, Nakamoto ke 7 menempatkan pedangnya di tengah. Dia memegang pedang dengan kedua tangan serta mengatur napas untuk menciptakan serangan terbaik.
Ayunan pedang Nakamoto ke 7 langsung mengarah ke Arief.
Dengan trik sederhana Arief menangkis pedang dengan lembut. Dia tidak langsung menggunakan kekuatannya, tetapi menggunakan kelembutan untuk menggoreskan kedua pedang.
"Srriiing..." Suara kedua pedang saling menggores. Jelas sekali bahwa benda yang mereka pegang adalah kayu, tetapi mengeluarkan suara besi. Sungguh aneh, tetapi itulah yang sedang terjadi.
Arief menggunakan pangkal pedangnya lagi untuk menyerang tenggorokan lawannya. "Sungguh pertandingan yang tidak ada artinya. Ayo tunjukkan kemampuan terbaik kalian," katanya penuh dengan nada menantang.
Sekarang kondisinya terbalik, awalnya Nakamoto ke 7 adalah orang yang menantang. Namun sekarang dia harus ditantang karena terlalu lemah.
"Baiklah!" katanya sambil mengangkat pedang dan memutarnya searah jarum jam. 4 bayangan pedang keluar, ini adalah teknik andalan dari keluarga Nakamoto.
Moon Light, itulah nama yang diberikan keluarga terdahulunya.
Sekali lagi kesalahan Nakamoto ke 7, dia menunjukkan pada orang yang salah. Arief mempelajari teknik itu hanya dengan sekali lihat, sungguh bocah yang mengerikan.
Dengan mempelajarinya dia langsung menciptakan sebuah trik untuk menghentikannya.
Empat pedang nampak menghantamnya, tetapi hanya satu yang asli. Penglihatan Arief sangat istimewa, jadi dia hanya perlu menghentikan pedang asli.
Suara kedua pedang berbenturan terdengar lagi, teknik keluarga Nakamoto benar-benar dihentikan dengan sangat mudah.
"Apa hanya segini?" tanya Arief.
__ADS_1
"Nak, kamu benar-benar sesuatu. Ayo ke langkah selanjutnya." Nakamoto ke 7 langsung melompat kebelakang dan menggunakan teknik yang sama.
Namun ada 8 bayangan pedang, tanpa menunggu lama Nakamoto ke 7 langsung menyerang. Hasilnya tetap sama, Arief bisa menghentikannya dengan sangat mudah.
Hal itu karena Arief mengetahui jalur serang dari pedang. Artinya bayangan pedang tersebut hanya sebuah tipuan belaka.
Nakamoto ke 7 mulai khawatir, dia menggunakan kemampuan terbaik yang membuatnya menjadi petarung hebat sepanjang masa.
16 bayangan dikeluarkan, tetapi hasilnya tetap sama. "Siapa kamu sebenarnya?" tanya Nakamoto ke 7 sambil mengerikan kening.
"Hanya orang biasa yang bermain Domain Dewa. Kecepatan dan bayangan tipuan itu sangat jelas, akan aku tunjukkan Moon Light yang sebenarnya," kata Arief tanpa sadar menyebutkan nama teknik yang digunakan Nakamoto.
Arief mengangkat pedangnya dengan satu tangan, dia memutarnya satu arah jarum jam. Tidak muncul bayangan sedikitpun, tetapi ketika dia menyerang ada 32 bayangan yang mengikutinya dari belakang.
Itu adalah teknik pedang tipe kecepatan, artinya bayangan pedang tersebut benar-benar asli. Jika hanya di tangkis satu, maka pedang lainnya akan menyerang.
Ini adalah salah satu pengembangan dari teknik jari dewa. Namun dirubah menjadi teknik pedang Moon Light.
Dalam sekali serang 16 pedang berhasil mengenai baju Nakamoto ke 7 dengan sangat cepat. Nakamoto ke 9 terkejut, dia tidka pernah menyangka bahwa kakeknya juga akan kalah dengan pria yang baru dikenalnya.
Terlebih lagi dia bisa menggunakan teknik Moon Light yang tidak pernah diajarkan keluarga Nakamoto pada orang lain.
Suara pintu di dobrak terdengar sangat keras, Nakamoto ke 8 muncul dan berlari ke arah arena pertandingan. "Apa yang terjadi?" tanyanya pada Nakamoto ke 9.
"Kakek sepertinya kalah?" kata Nakamoto ke 9 dengan nada patah-patah.
"Sampai kapan kamu akan bersembunyi?" kata Arief memandang sudut ruangan yang tidak terlihat siapapun.
Namun siapa sangka ada seseorang berpakaian serba hitam keluar dan langsung berlari menuju Arief yang berada di atas arena.
Ayunan pedang besi miliknya tidak mungkin dihentikan tanpa menggunakan prana. Dengan kemampuan prana Arief, dia dapat menjadikan pedang kayu setara dengan besi.
Suara benturan besi terdengar, adu kecepatan pedang terlihat. Arief kewalahan karena dia hanya menggunakan satu pedang.
Karena tidak mau kalah dengan mudah, Arief berlari mengambil pedang ke 2 dari kanan. Dia sengaja menyimpannya untuk melakukan pertandingan seperti ini.
"Gaya Pedang Kedua, Ekstrim Sword!" kata Arief menyebutkan sebuah gaya pedang yang dia kembangkan sendiri di kehidupan sebelumnya.
Dua pedangnya berubah menjadi delapan, musuhnya mulai tertekan. Namun itu belum bisa mengalahkan lawannya.
Keduanya langsung melompat kebelakang, Arief masih mempunyai banyak stamina dan konsentrasi. Apalagi prana miliknya masih bisa digunakan beberapa jam lagi, sehingga dia tidak takut untuk pertarungan lanjutan.
Namun siapa sangka lawannya membuka penutup mulut dan mengatakan, "Anda memang hebat. Gaya pedang dan kemampuan pengendalian prana jauh di atas rata-rata. Memang pantas disebut sebagai anak dari Putih dan Hitam, perkenalkan aku Nakamoto ke 6."
Arief melebarkan matanya, dia tidak pernah menyangka manusia bisa hidup lebih dari 120 tahun. Bisa dilihat dari Nakamoto ke 7 yang berumur 111 tahun, artinya Nakamoto ke 6 lebih tua lagi.
"Jangan terkejut seperti itu, Ketua Fairy Dance. Kamu memiliki kekuatan layaknya monster, sungguh disayangkan hanya berkembang di lingkup kecil."
"Sebenarnya aku hanyalah anak biasa, terapi anda terlalu melebih-lebihkan." Arief tersenyum tipis melihat lawannya menyimpan pedang.
__ADS_1