
Blue langsung menghubungi Ela yang ada di ruang penyimpanan. "Ela, apa kamu bisa berbicara bahasa mereka?"
"Bisa, tapi Elf Salju sangat keras kepala. Mereka hanya menuruti yang kuat."
"Bukankah itu bagus."
Mata Dewa langsung digunakan, Elf Salju yang menyerang ternyata adalah penjaga. Levelnya hanya 170, Blue masih bisa mengalahkannya.
"Halo, aku bukan musuh." Blue mengangkat tangannya, ia tidak berencana mengeluarkan Ela karena Peri Pohon dam Elf Salju sedikit bermusuhan.
"Ikuti aku!"
Elf pria memimpin jalan menuju pusat peradaban mahkluk sejenisnya. Blue masih belum menentukan mereka itu monster atau penduduk pribumi biasa. Hal itu karena Mata Dewa mengatakan mereka adalah setengah monster.
Blue tidak mempunyai alasan untuk menolak tawarannya, ia mengikuti setiap langkah dan memperhatikan iramanya. Tanpa sadar ia mendapat pencerahan tentang gerakan kaki.
Sesampainya di kota, semua elf salju melihatnya dengan tatapan mata kasihan. Blue menyadari ada yang salah, jadi ia memutuskan untuk mereka meninggalkan jejak kaki.
Penjaga desa berlutut pada seorang elf dengan wajah tampan. "Raja, saya telah membawa manusia yang mencoba melewati perbatasan kekuasan kita."
"Lancang sekali, bukankah para manusia itu sudah menanda tangani gencatan senjata!"
"Ia bukan manusia biasa, apa anda ingat tentang pemain. Ia adalah salah satunya." Pria penjaga mengatakan yang sebenarnya, ia masih berlutut hormat.
"Wow, akhirnya ada pemain yang mau mendatangiku. Baiklah siapkan arena, mari kita bermain." Kepala suku elf salju mengibaskan tangannya.
Dua puluh elf salju langsung menyiapkan arena pertarungan yang cukup luas, mereka langsung menggunakan sihir untuk menumbuhkan pohon buatan dan menciptakan sebuah kubah pelindung.
Blue masih tetap diam, ia sedang memperhatikan situasi dengan mata dewa. "Huh, menarik. Mereka langsung menyiapkan arena pertarungan dengan cepat."
[Kubah Pelindung Warisan Elf Salju adalah sebuah energi yang berbentuk kubah menghalangi pemain untuk keluar dari arena. Leluhur Elf Salju mewariskan teknik ini pada tingkat S, tetapi penurunan Elf Salju membuatnya menjadi tingkat B.]
Sebenarnya Blue tidak terkejut dengan penurunan sebuah teknik nenek moyang, ia hanya penasaran mengapa teknik kuat menjadi sangat lemah. Menurut perhitungannya, dengan menggunakan tebasan bintang pelindung bisa dihancurkan.
"Manusia, kalahkan mereka semua dan buktikan dirimu!" kata Kepala Suku.
Blue menghela napas, lawannya hanya elf level 130an. Padahal penjaga di luar gerbang level 170an.
Elf salju adalah pengguna panah yang baik, mereka akan menyembunyikan diri dan mencoba mencari celah lawan. Namun Blue bukan pemain rendahan, dengan mata dewa dan sayap hitam, ia langsung menebas para penantang.
Tidak lebih dari 2 menit, 20 penantang berhasil dikalahkan, ia tidak menahan kekuatannya karena mengalahkan elf salju mendapatkan poin pengalaman. 20 elf salju dikirim ke tempat peristirahatan terakhir.
__ADS_1
"Bagus manusia, lakukan yang terbaik!" kata Kepala Suku mulai tertarik.
20 elf level 140 diturunkan, mereka mempunyai komposisi party yang baik. Namun Blue bisa membaca situasi dan mengalahkan mereka dalam 3 menit.
Matanya menatap kepala suku dan berkata, "Mengapa kau tidak datang sendiri. Semua rakyatmu itu lemah!"
Blue mencoba memprovokasi kepala suku supaya pertarungan sia-sia ini segera berakhir. Alasan kedua karena ia ingin merebut para penduduk elf salju.
Menurut informasi, Elf Salju berperang habis-habisan sampai kepala suku mereka mati. Artinya, selama kepala suku mati, Blue mempunyai kesempatan untuk mengambil semua penduduknya.
"Lancang!" teriak salah satu penjaga wilayah elf salju.
Blue tidak boleh lengah, lawannya kali ini level 185. Ayunan pedang di tangan kirinya berhasil menghentikan serangan musuh. Ia tersenyum tipis dan mengayunkan pedang di tangan kanannya.
"Holy Slash!"
[Holy Slash.
Pedang pemain akan memancarkan cahaya putih serta memberikan kerusakan tambahan sebesar 180%.]
Elf Salju bisa di kategorikan setengah iblis, jadi serangan cahaya sangat membantu meningkatkan kerusakan.
Serangan pertama berhasil di tahan dengan kerusakan minimum. Namun serangan kedua tidak bisa dihindari dengan sempurna.
Karena musuh tidak stabil, Blue segera mengakhirinya dengan Ekstrim Blade. Seketika jendral terkuat elf salju dikalahkan dalam beberapa detik saja.
Pedang di arahkan ke Kepala Suku, Blue tersenyum tipis menatapnya. "Sudah aku katakan, mereka semua lemah. Ayo turun dan lihat siapa yang pantas memimpin."
Tantangan Blue disambut Kepala Suku, ia tampak marah karena terus diprovokasi. Kakinya melangkah dan terjun ke arena pertandingan.
"Ayo tunjukkan aku kekuatanmu, siapapun yang menang berhak memimpin Elf Salju!" teriak Kepala Suku sambil membentangkan tangannya.
Blue baru menyadari ternyata Kepala Suku di depannya sangat tinggi. Hanya menghitung kasar, tingginya sekitar 3 meter.
"Terlalu remeh, bagaimana jika bertaruh semua wilayah elf salju?" tanya Blue sambil mengeluarkan 2 Batu Mana kuning.
Meskipun sudah membunuh ratusan monster, Blue hanya mendapat batu mana putih. Sedangkan batu mana kuning hanya dua yang di dapat dari serigala salju dan yeti raksasa.
Kepala suku sedikit terkejut dengan tawaran musuh, ia melihat beberapa penduduknya yang tidak terlalu peduli dengannya.
"Bagus, tawaran yang menarik. Ayo tentukan siapa yang lebih kuat."
__ADS_1
[Kepala Sulu Elf Salju
Level : 210
HP : 5 juta.
Kepala suku mengalami luka dalam di bagian perut bagian kiri, luka itu disebabkan oleh elf pohon yang tidak suka dengan kehadiran. Jika di serang terus menerus, racun akan menyebar.]
Salah satu alasan mengapa Blue berani menantang kepala suku karena ia melihat ada sebuah penyakit yang ada di dalam tubuhnya. Dengan memanfaatkan itu, ia akan mencari kesempatan untuk menang.
Kepala suku langsung menghilang, Blue menggunakan Mata Dewa untuk menentukan posisi musuh. Sayangnya kepala suku sudah mengetahui hal itu, ia terus bergerak dan Blue juga melakukan hal yang sama.
Pergerakan mereka tampak sama persis, Blue sedang menirukan langkah kaki Elf Salju yang dilatih bertahun-tahun. Melihat hal tersebut, Kepala suku langsung berhenti dan menarik panahnya.
Anak panah melesat dengan kecepatan tinggi, Blue menunduk untuk menghindarinya. Sebisa mungkin ia harus menghindari lompatan karena itu akan menjadi jalan buntu untuknya.
"Langkah Cahaya!" gumam Blue pelan. Ia segera mendekat dan menyerang perut bagian kiri, pedangnya langsung menancap.
Sekarang tinggal menunggu waktu sebelum racun dari elf pohon menyebar. Blue mundur beberapa langkah.
"Bagaimana manusia sepertimu tahu lukaku!" teriak Kepala Suku yang kesakitan sambil memegang lukanya. Racun dengan cepat menyebar hingga tubuhnya yang awalnya berwana biru laut menjadi biru tua.
Ela dikeluarkan. "Mungkin aku lupa memberitahu rekanku adalah seorang elf pohon." Blue dengan santai mengeluarkan elf pohon karena ia ingin menyaring sekutu lebih sedikit.
Mata para elf salju tampak memancarkan kebencian. Mereka semua bergerak dan mengepung Blue, senjatanya dikeluarkan sambil menggeram.
"Ayolah, itu hanyalah luka lama. Mari selesaikan permusuhan bodoh ini." Blue mencoba menenangkan para elf.
Bukannya tenang, mereka semua menyerang sekuat tenaga.
"Raul, Drakula bantu aku!" teriak Blue mengeluarkan dua rekanannya.
Bee keluar sendiri. "Hai, mengapa kau tidak memanggilku!"
"Aku pikir kamu lebih suka menonton."
"Ah benar juga." Bee mengeluarkan wadah makannya dan menonton pertarungan.
Blue sudah lama tidak memanggil iblis dari neraka dan malaikat jatuh. Dua Buku misterius langsung memanggil ke duanya.
"Roar..." suara ruangan monster dari neraka. Berbeda dengan malaikat jatuh yang tenang dan membawa pedang besar.
__ADS_1
Pembantaian sepihak terjadi, semua elf salju yang melawan langsung di kirim ke peristirahatan terakhir. Kepala suku yang ketakutan mundur beberapa langkah, tetapi Blue melihatnya dan langsung menghampirinya.
"Sepertinya aku yang lebih kuat!" kata Blue sambil menodongkan pedangnya ke leher musuh.