Domain Dewa : Raja Pedang

Domain Dewa : Raja Pedang
182. Perkembangan


__ADS_3

Arief merasakan makanan yang terasa enak, dia memandang Oliver dengan penuh keheranan.


"Aku memang tidak hebat di Domain Dewa, tetapi di dunia nyata aku tidak terlalu buruk." Oliver membusungkan dadanya percaya diri.


Anggukan kepala Arief menandakan dia percaya akan hal tersebut. Dia terus melahap makanannya hingga habis tak bersisa.


Kemudian terbesit pikiran untuk mengajari Oliver tentang makanan bergizi tinggi yang dapat meningkatkan pencapaian tubuh.


"Apa kamu tertarik mempelajari teknik memasak?" tanya Blue menawarkan teknik memasak yang pernah dia pelajari di masa depan.


Oliver kebingungan, dia tidak pernah menyangka Arief mempunyai teknik memasaknya sendiri. "Tolong tunjukkan padaku?" katanya dengan penuh semangat.


Arief melipat lengannya sampai ke siku, prana tipis dari tubuhnya. Pisau di atas meja diambil tangan kanannya dan mengalirkan prana tipis.


Hembusan napasnya menandakan bahwa Arief siap untuk memasak. Ayunan tangannya tampak sangat halus, pisau memotong wortel dan kentang dengan diameter yang sama persis.


Mata Oliver melebar, dia tidak pernah tahu bahwa memasak bisa sangat indah seperti itu. Tanpa sadar dia masuk kedalam zona yang dapat membangkitkan prana miliknya.


Arief tersenyum tipis melihat Oliver sangat fokus. Setelah selesai dengan wortel dan kentang, dia mengambil wajan perlahan dan menyalakan kompor.


Banyak bumbu di gunakan, Arief melakukan beberapa gerakan sederhana untuk membuat memasaknya lebih indah.


Permainan wajan dan pengendalian apinya sangat baik. Tampak Arief sangat mengerti tentang suhu dan temperatur makanan dengan baik.


Tidak lupa dia memasukkan beberapa obat untuk meningkatkan kebugaran tubuh. Mungkin bagi Koki akan sangat aneh, tetapi Arief sering melakukan itu untuk memelihara kesehatan tubuhnya.


Semua makanan di wajan langsung ditaruh ke piring warna putih bening.


"Makanlah, setelah itu pergilah ke ruang terapi. Aku ingin melihat kondisi tubuhmu," kata Arief langsung melangkah keluar dari dapur.


Oliver mengambil sendok dan duduk di kursi siap untuk menyantap makanan. Tanpa dia sadari 5 orang langsung mengambil sendok dan duduk di sebelahnya.


Mereka adalah Jessica, Amelia, Leon, Doran, dan Surya. Kelimanya adalah orang yang sudah mencicipi makanan super yang di buat Arief.


Karena Kelimanya bisa melihat prana, jelas mereka mengetahui khasiat yang terkandung dalam makanan.


Tanpa menunggu lama, kelimanya langsung menyendok makanan. Oliver tidak ingin ketinggalan dengan yang lain, dia merasakan sebuah kekeluargaan yang sangat erat tercipta hanya karena satu piring makanan.


Oliver tersenyum manis tanpa sadar, dia berlomba menghabiskan makanan di piring. Semua orang menghela napas bersamaan, mereka tampak sangat puas dengan hidangan Arief.


"Sudah aku duga, Bos adalah Dewa yang menyamar sebagai manusia!" kata Doran dengan penuh semangat. Walaupun hanya memiliki satu tangan kanan, Doran tampak sangat bahagia bersama teman-temannya.


Alam bawah sadar Oliver mulai terbuka, tidak seperti di Pentagon yang selalu serius. Fairy Dance hanyalah guild kecil yang ingin menjadi keluarga dengan ikatan batin yang kuat.


Tanpa sadar dia melepaskan kemampuan prana miliknya. Walaupun tidak bisa dikendalikan, lima orang di sebelahnya terkejut melihat Oliver yang baru datang sudah bisa melepaskan prana.


Semua orang berpikir satu hal yang sama. "Bos, benar-benar gila!"


Pasalnya semua orang yang di undang Arief mempunyai kemampuan yang tidak rendah. Bahkan ada satu orang yang belum genap satu hari sudah bisa mengeluarkan prana. Orang itu tidak lain adalah Oliver seorang anak Koki yang di rebut dari tangan Pentagon.

__ADS_1


Setelah melihat Oliver melepaskan prana, kelimanya tidak bisa tinggal diam. Mereka kembali ke kamar pribadi dan berlatih meditasi dan pengendalian prana.


Tujuannya tidak lain supaya posisinya tidak tergantikan. Sekali lagi ada anak jenius yang di bawah Arief, jika salah satu dari mereka tidak berlatih keras, bisa jadi posisinya akan tergeser.


Oliver kebingungan ketika melihat lima orang langsung keluar ruangan terburu-buru. "Apa yang mereka lakukan?" katanya pelan.


Karena Arief memintanya menuju Ruang Terapi. Oliver kebingungan dengan gedung besar milik Fairy Dance, dia hanya mengikuti jalan dan melihat papan nama.


Karena terlalu fokus melihat papan petunjuk arah, Oliver menabrak pria besar setinggi 2 meter. Orang itu tidak lain adalah Cola yang sudah sampai di Markas Fairy Dance sejauh tiga bulan yang lalu.


Dengan badan yang kecil kerempeng, jelas Oliver langsung terjatuh ketika menabrak Cola.


"Apa kamu tak apa?" tanya Cola dengan bahasa santai. Walaupun berbadan besar dan berotot, Cola adalah orang yang anti akan bahasa formal.


Ketika pertama kali Cola datang ke Markas Fairy Dance, dia juga berbicara dengan santai pada Arief. Sayangnya itu menyinggung perasaan Amelia dan Jessica.


Keduanya menantang Cola duel satu lawan satu. Ketika pertama kali melawan Jessica, Cola babak belur hingga tidak bisa berlatih selama 1 bulan.


Setelah sembuh, Amelia menumbangkannya lagi dan harus istirahat selama 2 bulan. Untungnya Arief menggunakan beberapa teknik terapi untuk mempercepat kesembuhannya.


Sehingga Cola masih tetap bisa bermain Domain Dewa meskipun dalam keadaan kurang baik. Makanya dalam banyak peperangan Cola tidak hadir sebagai Tank Utama Fairy Dance.


Lina dan Rina hanya bisa tertawa melihat kakaknya di hajar oleh perempuan. Mereka berdua memiliki tubuh yang lemah, dengan bantuan Arief mereka berdua dapat memanfaatkan kemampuan tubuhnya dengan baik.


Dengan latihan yang efektif dan efisien ditambah makanan bergizi, keduanya sekarang sudah tampak sangat sehat. Bahkan ada beberapa kasus mereka telah masuk zona prana atau selangkah lagu bisa menggunakan prana.


Sedangkan Cola sudah bisa melepaskan prana, tetapi dia belum bisa mengendalikannya karena kurangnya latihan tanding.


Karena hari ini sembuh, Cola mencoba menuju ruang latihan untuk melihat kemajuannya. Entah kenapa dia merasa merinding ketika melihat Jessica dan Amelia, makanya dia menggunakan jalan memutar.


"Aku baik-baik saja," jawab Oliver yang tersungkur di tanah.


Cola mengulurkan tangan untuk membantu Oliver berdiri, tanpa menunggu lama Oliver langsung menerimanya dan berdiri tegap. Walaupun dia berdiri tegap, tingginya hanya sedada Cola.


Keduanya tampak bingung karena tidak saling mengenal. Cola dengan gagah berani bertanya, "Anak baru, Bro?"


"Iya, aku baru datang kemarin malam. Aku harus segera bergegas, Bos sudah menungguku," jawab Oliver segera berlari tanpa tahu ruang terapi.


Dia berlari karena sedikit takut dengan Cola yang berbadan besar dan tinggi.


Setelah mengitari semua ruangan di gedung Fairy Dance, akhirnya Oliver menemui ruang terapi di lantai 3.


"Aku sudah berjalan selama 30 menit, ternyata ruang terapi ada di sebelah dapur," kata Oliver menatap ruang dapur yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Tanpa menunggu lebih lama, Oliver membuka pintu dan melihat beberapa pasukan Garuda sedang melakukan latihan ringan dan pijat untuk mengembangkan ototnya.


Semua pasukan Garuda sudah mempelajari beberapa teknik pijatan, sehingga tidak diperlukan lagi bimbingan Arief.


Semua mata memandang Oliver ketika dia masuk kedalam ruangan. Jantungnya berdetak kencang, Oliver tidak bisa menggerakkan kakinya karena merasa gugup.

__ADS_1


Namun tekad kuat menyelamatkan kesempatannya, dia melangkah perlahan. Semua orang langsung memalingkan wajahnya dan berfokus untuk memijat rekannya.


Kadang kala kita takut akan penilaian orang, bahkan hingga membuat kita tidak bisa melangkah maju. Namun kenyataannya tidak sekejam yang kamu pikirkan, mereka semua hanya melihatmu dan membiarkanmu berusaha.


Oliver sampai di ruangan khusus, Arief sudah menunggunya di dalam. Dia duduk bermeditasi, kemudian membuka matanya perlahan ketika merasakan Oliver sudah sampai.


"Akhirnya kamu sampai, pertama duduklah di kasur khusus ini," kata Arief mempersiapkan Oliver duduk di sebuah kasur yang memiliki kelembutan sedang.


Dia mulai memijat bahu dan mengangkat tangan kanan dan kiri Oliver. Dengan sedikit tekanan dia membenarkan posisi tulang supaya dapat digunakan secara maksimal.


Tidka lupa, Arief membenarkan tulang kaki, punggung, dan lain sebagainya. Bahkan hingga membuat tinggi Oliver bertambah 3 centimeter.


Hal itu karena tulang punggung dan kaki Oliver tidak berada pada posisi terbaiknya. Arief hanya menggesernya sehingga membuat Oliver bisa menggunakan semua tubuhnya dengan baik.


Prana milik Oliver keluar tak terkendali, Arief mencoba membantunya untuk mengendalikan prana. Padahal Oliver belum mengetahui apapun tentang prana, tetapi dia sudah bisa mengeluarkannya.


Dengan bimbingan langsung dari Arief, Oliver perlahan-lahan menarik prana miliknya dan mengendalikannya. Siapa yang tidak terkejut melihat ada anak lain yang bisa mengendalikan prana sangat cepat, kecuali dirinya.


Bahkan bakat Argya akan terlampaui jika Oliver bekerja keras setiap saat. Arief memberikan beberapa catatan khusus untuk latihan Oliver di 3 bulan pertama.


Dia melanjutkan meditasi untuk kembali pada kondisi terbaiknya. Masih ada Kotak Emas yang belum dia buka tempo hari.


Namun hari sudah mulai gelap, Arief harus mengistirahatkan tubuhnya. Walaupun sudah menguasai prana, dia masih anak berumur 16 tahun yang akan segera merayakan ulang tahunnya.


"Sebaiknya aku segera tidur," kata Arief pelan. Dia menuju kamarnya dan langsung tidur di kasur empuk yang belum pernah dia tiduri.


Sela ini Blue selalu tidur di dalam mesin virtual Domain Dewa karena menurutnya sudah cukup nyaman.


Walaupun sedikit keras, mesin virtual Domain Dewa mengingatkannya tentang masa lalu yang suram dan indah.


Tanpa sadar dia telah tertidur selama 12 jam lamanya. Arief melihat jam digital yang tertanam dalam dinding menunjukkan pukul 12 siang.


"Sejak kapan aku bisa tidur sangat nyenyak?" gumam Arief pelan. Dia mulai takut dengan kasus empuk yang bisa membuatnya tidur lelap.


Selama kehidupan keduanya, Arief tidak pernah tidur lelap. Dia selalu melepaskan prana dan waspada kepada setiap ancaman yang muncul disekitarnya.


Sedangkan kemarin malam, dia sama sekali tidak merasakan apapun. Semua kewaspadaannya menghilang, mungkin ini akan jadi akhir dari Arief tidur di kasur yang nyaman.


Sebelum masuk kedalam mesin virtual Domain Dewa, suara bel berbunyi. Tanpa ragu Arief membukanya dengan satu tombol.


Orang yang mencarinya tidak lain adalah Baruna, kapten angkatan laut yang sudah pensiun dini. Dia percaya bahwa Arief dan Fairy Dance dapat menyelamatkan nyawanya.


"Baruna, kamu tampak berbeda." Arief menepuk pundaknya.


"Terima kasih, Bos. Aku tidak menyangka hidup bebas adalah jawaban dari semua pikiranku di lautan!"


Sebelum meninggalkan Baruna, Arief telah meninggalkan satu kalimat yang membuat Baruna memberanikan diri untuk mengambil resiko.


"Tidak perlu takut dengan apa yang terjadi. Ketakutan itu tidak akan membawamu pada jalur kesuksesan, bebaskanlah dirimu dari ketakutan. Datanglah ke Fairy Dance dan temui aku, Arief!"

__ADS_1


__ADS_2