
"Aku kita anda masih butuh waktu lebih lama, Bos." Amelia adalah orang pertama yang menanggapi pertanyaan Blue.
"Yah, aku masih melakukan pemanasan saja. Karena ada tamu yang istimewa datang, aku harus menyambut mereka. Amelia pandu semua orang ke ruang rapat, kumpulkan juga beberapa petinggi, untuk para Bandit Black Rock kalian ikuti Reaper."
Para anggota Black Rock kebingungan mereka saling melihat karena tidak melihat keberadaan Reaper sama sekali.
"Jangan menguji mereka lagi, keluar dan segera latih semua orang menjadi petarung hebat," lanjut Blue.
Reaper menunjukkan wujudnya di sebelah kubus gravitasi. "Baik, Bos!" katanya sambil sedikit menundukkan kepala.
Reaper menuntun 12 orang pasukan Black Rock mereka menuju tempat khusus. Pelatihan mereka semua sedikit berbeda karena Reaper terkenal sebagai pelatih yang sangat brutal. Ratusan orang orang yang berada di bawah Reaper sangat patuh.
Amelia langsung menghubungi Jessica, dia merasa anak itu lebih berwenang menghubungi para petinggi dibandingkan dengannya.
Amalia, Regina, dan semua teman-temannya menuju ruang pertemuan. Arief harus mengganti bajunya terlebih dahulu untuk formalitas semata.
Tepat ketika masuk ke kamar, matanya langsung tertuju pada bingkai foto. Di tengahnya terdapat fotonya yang masih berumur 15 tahun dan Yuliana.
Senyum manis muncul di wajah Arief. "Sudah berapa hari kamu tidak pulang, Bu?" gumam Arief pelan.
Langkah kakinya perlahan menuju bingkai tersebut, tepat 2 meter di depannya, Arief berhenti. Setelah beberapa saat memandang fotonya dan Yuliana, Arief memalingkan wajah dan segera menuju almari.
Dengan dua tangan yang memegang pembuka almari, Arief membukanya dengan tenaga penuh. Suara benturan Almari membuat Arief tersadar dari halusinasinya
"Aku terlalu emosional. Baiklah, sudah waktunya memilih baju... Eh..."
Arief melihat sesuatu yang sangat mencengangkan. Dia tidak mempunyai baju selain seragam Fairy Dance dan kaos untuk latihan.
"Memangnya dimana bajuku?" gumam Arief yang masih kebingungan.
Kemudian dia mencoba mencari di seluruh ruangan. Sayangnya tidak ketemu sama sekali.
"Aneh, bukankah seharusnya ada beberapa baju bebas yang bisa aku pakai." Arief berpikir lebih keras, kemudian dia tersadar akan sesuatu.
__ADS_1
"Aku lupa, semua baju biasa milikku ada di balik Almari. Sejak kapan aku menjadi pelupa?" gumam Arief pelan.
Matanya terbuka lebar, dia menyadari sesuatu yang sangat penting. Padahal kemampuan mengingatnya sangat tinggi, di kehidupan sebelumnya. Namun sekarang baru beberapa bulan lagi, dia kehilangan ingatannya.
"Kakek, apa ini efek samping dari kekuatanku?" tanya Arief pada Aries Hardiman yang tidak terlihat wujudnya.
"Bocah, sejak kapan kamu mengetahui aku selalu mengawasi?" tanya Aries Hardiman muncul dari belakang pintu masuk.
"Jangan mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas. Aku yakin kamu sudah tahu aku membangkitkan kesadaran ilahi, jadi mengetahui keberadaan anda di gedung ini bukan sesuatu yang sulit."
"Seperti yang diharapkan dari monster kecil. Alasanmu kehilangan ingatan bukan efek samping dari pembangkitan kesadaran ilahi, melainkan kekuatanmu sekarang terlalu besar dan kamu belum bisa mengendalikan."
"Aku malu bertanya terkait masalah ini, tapi bisakah kamu memberikan pelatihan khusus supaya aku bisa mengendalikan kekuatan prana yang aneh ini?" tanya Arief pelan.
Aries Hardiman tersenyum manis dan berkata, "Monster Kecil, akhirnya kamu menyerah. Sudah lebih dari 2 tahun aku mengawasi dan baru sekarang kamu bertanya."
"Kamu pasti tahu aku memiliki ingatan masa depan. Namun pengetahuanku sudah pada batasnya. Sekarang aku harus bertanya pada seseorang yang jauh lebih kuat dariku yaitu anda."
Arief terlihat sangat meyakinkan, dia tidak ingin melepaskan kesempatan yang diberikan Aries Hardiman. Mengapa seseorang rela mengikuti kemana saja kemudian menolong jika kesulitan, tentu saja ada maksud tersembunyi.
Sebagai balasan pertanyaan sebelumnya, Aries Hardiman menghilangkan senyumnya. "Arief, sebelum melangkah lebih lanjut. Kamu harus merubah pemikiran tentang kekuatan..."
"Lemah atau kuatnya seseorang tidak bisa ditentukan seberapa hebat mereka mengendalikan energi atau yang kamu sebut prana. Melainkan orang yang waspada dan selalu memanfaatkan situasi..."
Tampak jelas di wajah Arief sedang mendengarkan apa yang diucapkan calon gurunya.
"Jika aku tidak waspada setiap saat mungkin saja aku akan mati detik ini juga. Mengapa itu bisa terjadi, itu karena kekuatanku sudah tidak bisa di tampung dunia ini."
Arief mengerutkan kening ketika mendengar penjelasannya. "Apa maksudnya sudah tidak bisa di tampung dunia?"
"Kamu belum boleh tahu sekarang. Namun tujuanku hidup hanya untuk hari kehancuran itu, singkatnya aku harus mengorbankan diri untuk melindungi dunia ini. Itulah alasan mengapa aku bisa terus hidup untuk menunggu hati kehancuran."
"Hari kehancuran, apa maksudmu kiamat?" tanya Arief.
__ADS_1
"Salah, hari kehancuran adalah sesuatu yang tidak boleh diketahui manusia. Jangan memikirkan itu, yang lebih penting sekarang adalah tujuanmu menjadi kuat." Aries Hardiman mengalihkan pembicaraan karena sudah melenceng jauh.
"Tujuan menjadi kuat?"
Arief merenung, tampak jelas diwajahnya sedang berpikir keras. Jika ingin membantu ibunya berperang, bukan. Jika ingin menjadi pemain terbaik di Domain Dewa sepertinya juga tidak.
Alasan dia membangun kekuatan sampai sekarang hanya untuk melindungi semua rekan-rekannya di Fairy Dance.
"Tidak, kamu tidak bisa mengatakan itu tujuan. Aku benci mengakuinya, tujuan adalah sebuah keegoisan seseorang untuk mencapai sesuatu. Jadi membantu rekan-rekannya dan membuat guild bukan tujuan pada konteks ini!" sela Aries Hardiman yang bisa menebak pikiran Arief.
"Aku tidak tahu, biarkan aku berpikir nanti lagi. Sekarang sudah waktunya melakukan rapat," kata Arief langsung mengambil seragam khas Fairy Dance yang berwarna biru laut serta lambangnya di dada kiri.
Tidak ada sponsor satupun pada seragam tersebut, hal itu karena sekarang Fairy Dance bisa membiayai dirinya sendiri tanpa sponsor.
Jika para sponsor ingin masuk, mereka akan memasukkannya di seluruh Desa atau paling tinggi di posting pada sosial media Fairy Dance.
Arief sampai di ruangan, dia membuka pintu. Semua orang langsung memandangnya dengan tatapan kagum dan hormat.
Wajahnya yang tampan menawan serta tinggi badannya yang ideal, membuatnya terlihat sangat menarik untuk para wanita.
Sedangkan rasa hormat tamat terlihat di mata semua pria karena melihat betapa proporsional otot tubuhnya yang tergambar di seragamnya.
Bisa dibilang seragam Arief hampir tidak muat untuk dipakai, makanya ototnya yang kokoh terlihat jelas.
Anak berumur 19 tahun sudah menjadi berotot dan tampak sangat berwibawa, siapa pria yang tidak ingin menjadi dirinya.
Arief berjalan menuju kursinya dengan suara sepatu yang terdengar. Semua orang diam seribu kata untuk menghormatinya.
Tepat setelah duduk, Arief membuka mulut untuk pertama kalinya.
"Jessica, buatan aku baju yang lebih besar. Sepertinya massa otot milikku kurang terkendali," katanya dengan santai.
"Baik, Bos."
__ADS_1
Siapapun akan tertawa ketika seseorang yang baru datang malah bertanya tentang seragam. Namun kali ini semua orang diam, tidak ada yang menunjukkan wajah tertawa.
"Mengapa kalian serius sekali, Sih!"