Domain Dewa : Raja Pedang

Domain Dewa : Raja Pedang
215. Kekalahan Sesungguhnya


__ADS_3

Semua orang memandang Blue yang tampak serius membicarakan strategi pencegahan. Tidak ada suara sedikitpun kecuali dia yang berbicara.


"Aku dan 14 orang lainnya akan mengikuti Kompetisi Nasional. Reaper, kamu akan menjadi pengintai yang sangat penting, jangan biarkan dirimu mati," kata Blue memberikan instruksi pada Reaper yang berdiri di pojok ruangan.


Sebagai seorang pembunuh, dia sangat menjiwai karakternya. Kemampuannya meretas sistem komunikasi juga hampir setara dengan Yohana.


"Baik!" jawabnya singkat dan tegas.


Karena rapat sudah selesai, Blue keluar permainan Domain Dewa.


[Markas Utama Fairy Dance]


"Oliver, sepertinya kamu terlalu berlebihan." Blue melihat Oliver mengangkat beban seberat 100 kilogram.


Mungkin terlihat ringan dimata Arief ataupun Amelia, tetapi otot Oliver tidak didesain untuk kekuatan mutlak, melainkan kecepatan dan ketepatan.


Sehingga mengangkat beban terlalu berlebihan akan mencederai tubuh yang sudah di bangun satu tahun penuh.


Oliver menundukkan kepalanya. "Aku hanya ingin lebih kuat, pada babak pengisian kemarin aku membuat kesalahan yang sangat fatal," katanya pelan.


"Semua orang pernah melakukan kesalahan, sekarang yang harus kamu pelajari bukan penyesalan, tetapi tekad untuk berubah menjadi lebih kuat," kata Arief menjelaskan betapa pentingnya menerima kekalahan.


Leon, Jessica, dan Amelia selalu kalah melawan Arief. Itulah yang membuat mereka terus berusaha untuk tumbuh lebih kuat.


Setiap bulan, Amelia akan melakukan pertandingan persahabatan dengan Arief. Oleh karena itu, semangatnya menjadi kuat terus di tempa.


Oliver tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya seperti tidak mengerti apa yang dimaksud Arief.


"Ikutlah aku," kata Arief sambil menepuk pundak Oliver yang terlihat murung.


Mereka menuju ruang - 3 atau tempat latihan khusus yang dipergunakan oleh para petinggi Fairy Dance. Lift terbuka, Oliver melihat orang-orang penting di dalam guild. Mereka tidak lain adalah Amelia, Jessica, dan Leon.


"Jarang sekali kamu membawa orang lain kemari, Bos." Jessica memberikan tanggapannya ketika melihat Oliver bersama dengan Arief.


"Aku ingin dia melihat betapa luasnya dunia." Arief melepas kancing atas bajunya. Kemudian melonggarkan kancing dipergelangan tangannya.


"Seperti biasa, mari mulai dengan cepat!" keta Amelia penuh dengan semangat.


Leon tidak memberikan tanggapannya sedikitpun, dia mengambil pedang kayu dari punggungnya. Walaupun hanya pedang kayu, Leon bisa memotong sebuah batu kecil menggunakan senjata tersebut.


Terlihat sangat tidak mungkin untuk manusia normal, tetapi Leon berhasil melakukannya di umurnya yang baru 18 tahun. Sungguh kemampuan prana yang sangat kuat.


Arief melilit kedua pergelangannya dengan sebuah kain khusus supaya tangannya tidak cedera karena melakukan pertarungan.


"En..." kata Arief melepaskan kekuatan prana miliknya.


Oliver yang berdiri paling dekat dengannya langsung terpental karena tekanan aura menakutkan yang dipancarkan Arief.


"Seperti biasa, Bos selalu sangat mengesankan!" kata Jessica sambil melepaskan prana miliknya.


Disusul dengan Leon dan Amelia, mereka bertiga akan melawan Arief. Tidak ada yang bergerak sedikitpun selama 3 menit.


Oliver bingung melihat empat orang yang berdiri tanpa melakukan apapun. Tujuan melepaskan prana selama 3 menit adalah untuk menstabilkan diri dan menyesuaikan tenaganya.


Ini hanyalah pertandingan perusahan, jadi semua serangan harus di kontrol tanpa memiliki keinginan untuk membunuh lawannya. Sebenarnya dengan tekad untuk membunuh lawan akan meningkatkan kemampuan seseorang.

__ADS_1


Namun Arief ingin mendidik mereka mengontrol kekuatannya secara penuh. Jadi konsentrasi dan perhitungan serangan akan berada di kepalanya tanpa ada yang namanya keberuntungan.


Tekad untuk menang memang sangat dibutuhkan, tetapi Arief mengajarkan bagaimana cara untuk menang dengan menggunakan metode paling cepat.


Aries Hardiman dan pasukan Harimau Putih melihat keempatnya sambil melebarkan matanya. Mereka semua tidak pernah menyangka keempat orang itu bisa tumbuh dengan sangat cepat.


Setelah 3 menit, Arief melangkahkan kakinya. Dia menguji ketiga rekannya dengan tekanan yang dipancarkan dari prana miliknya.


Walaupun sudah ditekan dengan kekuatan penuh, tidak ada satupun orang yang bergeming. Hal itu membuat Arief tersenyum tipis.


"Bagus, ayo mulai!!" kata Arief melangkahkan kakinya dengan cepat.


Lantai pijakan kaki Arief bergetar, dia langsung mengayunkan tangan kanan untuk menyerang Amelia yang sudah siap bertahan dari tadi.


Kepalan tangan Arief langsung menghantam tangan kanan Amelia yang mencoba menghentikan serangannya. Namun naas, Arief jauh lebih kuat, sehingga membuat Amelia terpental hingga menabrak dinding.


Suara benturan tubuh dan dinding besi khusus terdengar sangat keras, Oliver langsung menutup telinganya. Anehnya Amelia masih bisa berdiri dengan pakaian yang robek.


Dia menggunakan pakaian khusus untuk para pengguna prana, tetapi itu masih belum cukup menahan tekanan Arief.


Jessica yang melihatnya rekannya menghantam dinding menyerang Arief dengan pukulannya yang sangat cepat, keduanya saling mengadu tinju.


Oliver tidak bisa melihat sedikitpun serangan Jessica dan Arief. Namun dia tahu pasti, Arief tidak terkena serangan sedikitpun, sebaliknya Jessica terkena beberapa kali pukulan di wajahnya.


Leon tidak ingin berdiam diri, dia mengayunkan pedang kayunya untuk melakukan serangan.


"Singg..." Suara ayunan pedang terdengar nyaring, sekali lagi Oliver menutup telinganya.


Arief menyadari serangan tersebut, dia menggerakkan sedikit tubuhnya untuk menghindari serangan. Kemudian meninggalkan Jessica yang tampak sedikit kelelahan dan menuju Leon.


Karena pedang Leon masih menempel di tanah, Arief memanfaatkan momentum tersebut untuk memberikan serangan pada tubuh bagian kirinya.


Sayangnya Leon sudah belajar dari pertarungan sebelumnya. Dia menggerakkan lengan kanannya keatas dan menempatkan pedangnya untuk menangis pukulan Arief.


Kapasitas prana mereka berbeda, jadi Leon terbang beberapa meter. Namun tidak seperti Amelia yang sudah terluka cukup parah.


"Hooraaa!" teriak Amelia memberikan pukulan dari atas kanan Arief.


Dengan sedikit gerakan menghindar, Arief berhasil lolos dari serangan Amelia. Sehingga pukulan Amelia menghantam besi kokoh di bawah.


Hal yang mengejutkan terjadi, tanah yang dipukul Amelia hancur berkeping-keping. Arief melebarkan matanya, dia tidak pernah menyangka besi khusus yang digunakan oleh para petarung prana bisa hancur dengan sekali pukul.


Namun dia baru sadar, ternyata prana dari keempat orang di dalam ruangan membuatnya melemah. Arief harus mencari bahan yang lebih kuat.


"Hiaaa!" Jessica menggunakan tenaga vertikal dari atas untuk menyerang tubuh bagian atas Arief.


Karena sudah menghindari serangan Amelia, Arief tidak mempunyai ruang untuk melakukan gerakan menghindar. Sehingga dia harus menahan serangan Jessica.


"Braaak..." tendangan Jessica mendarat di lengan bagian kanan Arief. Lantainya hancur sama seperti pukulan Amelia.


Arief hanya bergeser beberapa centimeter dari tempatnya berdiri.


Leon memanfaatkan kesempatan, dia menggunakan serangan horizontal untuk menutup ruang gerak Arief.


Amelia yang gagal memberikan serangan langsung menunduk. Dia tahu serangan Leon akan sangat menyakitkan jika dia terkena dampaknya.

__ADS_1


"En..." kata Arief pelan.


Dia menangkap pedang Leon dengan dua jari tangan kirinya.


"Kombinasi serangan yang sangat bagus." Arief meningkatkan kekuatan prana miliknya. Keempat orang di ruangan langsung jatuh ketanah dan tidak bisa bangkit.


"Tekanan yang sangat mengerikan!" teriak Leon yang dari tadi diam tanpa memberikan komentar. Dia yakin akan memberikan pukulan menyakitkan pada Arief, tetapi sekarang dia tersungkur di tanah.


Oliver pingsan di tempat, hanya tidak orang yang bisa melihat Arief menggunakan kekuatan sesungguhnya.


Sekarang Arief mengetahui bahwa ada orang yang sedang menyaksikan mereka. "Mengapa kalian tidak keluar, Pasukan Harimau Putih!" katanya tegas.


Salah seorang pasukan Harimau Putih muncul di depan Arief yang melepaskan semua kekuatan prana miliknya. Anehnya orang itu bisa berdiri tegap tanpa merasakan sedikitpun tekanan.


"Maafkan kami, Tuan Arief. Sebenarnya semua pasukan Harimau Putih sering berlatih di ruangan ini, tetapi kami belum izin kepada anda karena Tuan Aries melarangnya."


"Baiklah, jika orang tua itu memintanya. Karena sudah berada di sini, mari melakukan beberapa pertukaran pukulan," kata Arief dengan penuh semangat.


"Baiklah."


Arief berlari menuju pra tegas setinggi 180 centimeter tersebut, dia melepaskan semua prana miliknya untuk mengukur kekuatan lawan.


Namun siapa yang menyangka pukulan Arief dapat dihentikan dengan satu tangan kiri. Kemudian lawannya langsung mengayunkan genggamnya untuk melempar Arief


Seketika tubuh Arief langsung menghantam dinding.


"Braak..." tubuh Arief terasa sangat sakit. Dia hampir menjerit kesakitan.


Jessica, Amelia, dan Leon melebarkan matanya tidak percaya. Tidak pernah sedikitpun terbesit di pikirannya Arief akan mudah dihentikan.


Darah mengalir di sudut bibirnya, Arief mengusap ya dengan lengan kiri. "Baiklah mari lanjutkan!" katanya penuh dengan tekad untuk menang.


Lawannya hanya tersenyum tipis. Dia tidak menjawabnya karena menghargai Arief sebagai tuannya.


Karena serangan dengan kekuatan penuh tidak efektif, Arief mencoba untuk menggunakan serangan cepat. Dia mengayunkan kepalan tangan kirinya untuk membuat serangan palsu.


Kemudian akan menggunakan tangan kanannya untuk memberikan kerusakan yang maksimal. Namun semuanya tidak berjalan dengan lancar.


Seluruh pukulan Arief berhasil ditangkap dengan tangan kiri pasukan Harimau Putih dengan sangat mudah.


Tidak puas dengan hasilnya, Arief menggunakan kakinya untuk memberikan serangan yang lebih bervariasi. Namun hasilnya tetap sama, orang aneh didepannya hanya menggunakan tangan kiri untuk menangis dan menangkap serangan Arief.


Merasa sangat bersemangat, Arief tidak sadar berteriak, "Horaaa....!"


Untuk pertama kalinya lawannya menggerakkan kaki kiri untuk melakukan serangan. Arief langsung waspada dan membuat gerakan bertahan di bagian tubuh kirinya.


Siapa yang menyangka lawannya tidak jadi menyerang dengan kaki kiri, melainkan dengan tangan kiri yang bebas dari serangan Arief.


Seketika Arief terguling-guling di lantai, dia tidak pernah menyangka bisa dikalahkan dengan sangat mudah.


"Sepertinya pertandingan selesai, aku harus kembali terlebih dahulu." Dia langsung menghilang dari pandangan semua orang.


Jessica, Amelia, dan Leon hanya bisa terdiam. Melihat Arief diperlakukan seperti sebuah boneka yang tidak bisa menyakiti tuannya.


Anehnya Arief tersenyum lebar karena tidak bisa menggerakkan badannya dan kehabisan prana. "Menarik, sudah aku duga, dunia ini sangat luas!" teriaknya penuh semangat.

__ADS_1


Akhirnya Arief mengalami kekalahan untuk kedua kalinya setelah melawan Pak Tua. Namun ketika melawan pak tua dia belum melepaskan semua kemampuannya.


Sekarang dia menggunakan semua kemampuannya untuk melawan orang misterius dari Pasukan Harimau Putih. Namun dia tidak bisa memaksa lawannya untuk menggunakan tangan kanan atau bagian tubuh lainnya.


__ADS_2