
Alex, Tuan Gavi, Arga dan juga sekretarisnya Tuan Gavi mereka berempat sudah sampai dimarkasnya Alex, namun sekretarisnya Tuan Gavi dia disuruh kembali kekantor lagi oleh Tuan Gavi untuk menghandle kantor dahulu.
Alex dan juga Tuan Gavi serta Arga mereka bertiga disapa sopan dan hormat oleh semua para bodyguard yang berjaga dimarkasnya Alex.
"Dimana pecundang itu??", kata Alex kepada salah satu bodyguard.
"Dia didalam ruang penyiksaan Tuan Alex", jawab bodyguard itu kepada Alex.
Sedangkan Max dia tidak ikut kemarkas sebab dia harus berjaga dimansionnya Alex, karena takut jika kejadian ini akan terulang lagi.
Dan kepala bodyguard yang ada dimarkasnya Alex yang mendengar suaranya Alex dari luar dia langsung saja keluar dari dalam markas.
"Tuan Alex, Tuan Gavi dan juga Tuan Arga, selamat datang, mari saya antarkan kepada penyusup itu Tuan, mari", kata kepala bodyguard kepada Alex, Tuan Gavi dan juga Arga dengan sopan.
Alex, Tuan Gavi dan juga Arga mereka bertiga langsung saja melangkahkan kakinya menuju ruang penyiksaan yang biasa untuk menyiksa para musuh yang mencari masalah dengan keluarga Damara.
Walau sebenarnya Alex tidak diantarkan, dia juga sudah tahu dimana ruang penyiksaan itu berada.
"Mereka ada didalam Tuan, dengan dijaga sangat ketat sekali, silahkan", kata kepala bodyguard yang mengantarkan tadi kepada Alex, Tuan Gavi dan juga Arga ketika sudah sampai didepan pintu ruang penyikasaannya.
Tanpa banyak berbicara Tuan Gavi, Alex dan juga Arga mereka bertiga langsung saja masuk kedalam ruang penyiksaan itu.
Ketika mereka bertiga sudah masuk, mereka langsung melihat tahanan mereka sudah babak belur dihajar oleh para anak buah mereka.
"Apakah kamu tahu siapa yang menyuruh mereka??",, tanya Alex dengan dingin sambil duduk dikursi yang sudah Arga siapkan.
"Belum Tuan, karena dia masih saja bungkam tidak mau memberitahukannya kepada kita", jawab kepala bodyguard itu kepada Alex.
Sedangkan Tuan Gavi dia sudah duduk dishofa single yang ada didalam ruangan itu, sambil menikmati pertunjukkannya Alex.
__ADS_1
Dan Arga sendiri dia masih dengan setia berdiri dibelakangnya Alex yang sedang duduk sambil menatap marah kepada kedua orang yang sudah berani menyusup kemansionnya, padahal mansionnya sudah sangat ketat sekali penjagaannya.
Alex hanya diam saja mendengar jawaban dari anak buahnya itu sambil menatap lekat kepada orang pnyusup itu yang juga sedang menatap Alex dengan pandangan samar-samarnya, sebab wajah mereka sudah sangat parah karena dipukuli tadi.
"Katakan kepada saya, siapa yang menyuruh kalian berdua, atau.........", kata Alex dengan dingin kepada orang penyusup itu.
"Atau apa, atau kalian akan membunuh kami hmm??", jawab salah satu penyusup itu dengan suara serak tidak terlalu jelasnya, namun masih bisa terdengar kata-katanya.
"Ya ada pengecualian jika kalian jujur kepada saya", jawab Alex dengan santai sambil menyilangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya.
"Cuiih, lebih baik saya mati, daripada saya harus jujur kepada anda", kata penyusup yang satunya lagi kepada Alex sambil meludahkan darah yang keluar dari mulutnya.
Alex hanya tersenyum miring ketika mendengar jawabannya sipenyusup itu, karena dia sejatinya kangen juga bermain-main seperti itu dengan para musuhnya.
Alex lalu mengkode anak buahnya menggunakan jarinya untuk lebih mendekat kearahnya.
"Iya Tuan", jawab bodyguard itu ketika sudah berada disebelahnya Alex persis.
"Pagi tadi sudah Tuan, namun untuk yang sore belum", jawab anak buah itu kepada Alex.
"Good", jawab Alex dengan singkat.
"Dan kamu Arga Ambilkan mainanku", kata Alex memerintahkan Arga untuk mengambil sesuatu, dan Arga langsung saja tahu itu, apakah mainannya Alex itu.
Tanpa banyak berkata, Arga langsung mengambilkan mainannya Alex yang berupa pistol tidak bersuaranya namun sangat mematikan sekali untuk membunuh lawannya dengan seketika tanpa diketahui.
"Silahkan anda memilih sendiri mau mati lewat mainan kesayanganku, atau mati bersama siKing??", kata Alex dengan santai kepada kedua orang penyusup itu.
Dan yang dimaksud siKing adalah hewan peliharaannya Alex yang berjenis buaya muara yang sudah dia beli sejak satu tahun belakangan ini dan si King ditempatkan didanau buatan kecil yang ada dihalaman belakang markasnya Alex.
__ADS_1
"Terserah walau kalau aku mati sekalipun setidaknya kalian akan tetap tidak akan mengetahui siapa yang menyuruh kami!!", kata salah satu orang penyusup itu kepada Alex dengan berani yang memang dia dari awal yang paling berani dibandingkan yang satunya.
Tiba-tiba Arga sudah datang dan masuk sambil membawkan mainannya Alex, yaitu berupa pistol canggih yang dibeli Alex secara Legal dan mempunyai surat-suratnya lengkap.
Alex menerima pistolnya itu sambil memamerkannya dihadapan dua orang penyusup itu sambil mengusap-usap pistolnya.
Sedangkan Tuan Tavi, walau dia Papinya Alexander, dia tidak melarangnya Alex berbuat seperti itu, karena memang itu yang diajarkan oleh Tuan Gavi kepada Alex sejak kecil.
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, begitulah perumpaan yang tepat untuk Alex dan Tuan Gavi.
Walau Tuan Gavi dan Alex seperti itu, mereka tidak akan menyerang jika tidak diserang terlebih dahulu, dan Tuan Gavi menerapkan prinsip kepada dirinya dan juga Alex, jika musuh-musuh mereka yang sudah sangat keterlaluan sekali lebih baik hukuman yang pantas mereka terima adalah kematian.
Walau Tuan Gavi dan Alex sudah sering membunuh musuh-musuh mereka, namun mereka sama sekali tidak pernah ketahuan oleh para polisi, karena Tuan Gavi dan Alex mereka selalu bermain dengan sangat rapi serta sangat terencana sekali dan para kolega mereka banyak yang mengetahui hal itu semua, namun mereka tidak ada yang berani membuka mulut mereka kepada siapa pun.
Tuan Gavi masih menikmati pertunjukkan itu dengan sambil merokok dengan gayanya yang bosy.
"Ok jika itu yang kamu mau, kalian berdua potong lidah dia", perintah Alex dengan santainya kepada kedua penyusup itu sambil memerintahkan anak buahnya yang berdiri dibelakang penyusup itu.
"Baik Tuan", jawab salah satu bodyguard kepada Alex dan dia langsung saja berjalan kearah meja yang ada disitu untuk mengambil sebuah pisau yang memang selalu ada diruangan itu.
Salah satu penyusup dia sudah sangat ketakutan sekali, ketika melihat sendiri kekejaman dari keluarga Damara.
Ketika kedua bodyguard yang diperintahkan Alex untuk memotong lidahnya para penyusup, kedua bodyguard tadi sudah memegangi kepalanya salah satu sipenyusup, sipenyusup yang kepalanya dipegangi seperti itu oleh anak buahnya Alex dia sudah sangat ketakutan sekali.
Dan ketika lidahnya ingin ditarik oleh anak buahnya Alex, sipenyusup itu dia langsung saja mengatakan dengan jujur kepada Alex oleh siapa dia disuruh.
Sedangkan sipenyusup yang satunya yang sok berani dari awal dia langsung memandang marah kepada temannya yang membocorkan informasi.
...πππππππππππππ...
__ADS_1
...***TBC***...