GADIS LUGU PEMIKAT HATI

GADIS LUGU PEMIKAT HATI
CHAPTER 256


__ADS_3

Daneil tersenyum manis ketika dia melihat wajah dan tubuhnya Vero menjadi kaku seperti itu ketika dia sudah duduk dikursi sebelahnya.


"Apa kabar Suster Ica", kata Daneil kepada Vero sambil tersenyum.


"Ka.....kabarku ya seperti yang anda lihat Tuan Letnan Daneil", jawab Vero kepada Daneil dengan sedikit gugup.


Sebab Vero tidak menyangka bisa dipertemukan lagi dengan Daneil setelah sekian cukup lama tidak bertemu dalam kondisi dimana Daneil sekarang menjadi calon Kakak Iparnya.


"Panggil saja Kak Daneil sama seperti Arga atau jika kamu mau panggil Daneil saja Suster Ica", kata Daneil kepada Vero dengan tenang.


"Kalau begitu panggil saya Vero saja Kak Da~~neil", kata Vero juga kepada Daneil sambil menundukkan wajahnya.


Daneil langsung saja tersenyum ketika dia mendengar perkataannya Vero yang menyuruhnya untuk memanggilnya dengan nama Vero, bukan Suster Ica seperti dulu.


Sebab Suster Ica adalah nama kesayangan dari Daneil untuk Vero, karena kejadian dulu ketika mereka pertama kali bertemu dimedan perang.


..........>>>>><<<<<..........


Dulu ada konflik disebuah Negara Y dengan Negara W, pasukan tentara yang dipimpin langsung oleh Daneil mereka ditugaskan oleh atasan mereka untuk membantu Negara Y melumpuhkan lawan mereka, yaitu Negara W.


Dan dari rumah sakit tempat Vero bekerja mereka mengirimkan beberapa tenaga medis mereka untuk menolong tentara atau warga sipil yang ikut terluka dalam konflik tersebut.


Ketika Daneil waktu itu sedang ikut berperang dia melihat ada seorang suster yang sedang sedikit kesusahan dalam mengobati seorang tentara yang terluka karena kebisingan dari semua senjata yang sedang beradu.


Ditambah lagi suster tersebut dia tidak kebagian rompi anti peluru yang disedikan disitu.


Daneil jiwa kepemimpinannya yang sangat tinggi, takut jika sang Suster tersebut nanti akan tertembak oleh pihak musuh.


Akhirnya Daneil melepaskan rompi anti peluru yang dipakainya itu untuk dia pakaikan kepada suster tersebut.


"Pakailah, supaya kamu merasa nyaman dalam mengobati orang-orang yang ada disini dan semua anak buahku", kata Daneil kepada suster tersebut.


Suster tersebut langsung saja mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Daneil sambil sedikit menundukkan sedikit badannya.


Setelah berkata seperti itu, Daneil langsung saja pergi berlalu dari hadapan sang suster untuk membantu para anak buahnya yang sedang baku tembak dengan para musuh.

__ADS_1


Ketika Daneil sedang berusaha membantu anak buahnya yang tertembak, dari arah belakang ternyata sudah ada yang mengincarnya, dan Daneil langsung saja terkena tembakan dipunggung atas dekat bahu sebelah kanan, dan juga lengan kanannya.


Daneil mendapatkan luka tembakan dua sekaligus, dan itu langsung saja membuat Daneil jatuh tersungkur diatas aspal yang panas.


Para anak buahnya Daneil mereka langsung saja sigap menolong Daneil ketika mereka melihat atasan mereka terkena luka tembakan.


Ketika Daneil sudah dibawa ketenda khusus miliknya Daniel sendiri yang berada sedikit jauh dari tempat konflik itu.


Sang ketua tim relawan medis yang melihat Daneil terluka, dia langsung saja mengajak salah satu susternya untuk ikut dengannya untuk mengobati sang Letnan yaitu Daneil.


Suster itu langsung saja terkejut ketika dia disuruh oleh ketua timnya yang juga seorang Dokter untuk membantunya mengobati Daneil orang yang sudah memberinya sebuah rompi anti peluru tadi.


Dengan bekerja tim yang sangat baik sekali, Suster tadi dan ketua timnya tersebut akhirnya berhasil juga mengeluarkan dua buah peluru yang bersarang dipunggung atas sebelah bahu dan dilengannya Daneil yang sebelah kanan dengan alat seadanya yang ada disitu.


"Kamu saya tugaskan untuk merawat dari Tuan Letnan Daneil ini Suster Vero, jaga dia sampai sembuh ini tugas kamu, Ok", kata ketua timnya dulu kepada Suster yang dipanggil Suster Vero, ketika mereka sudah selesai mengobati Daneil yang terluka tadi.


Dan Suster itu ternyata Suster Veronica calon istrinya Arga sekarang.


Suster Veronica dia merawat Daneil dengan sangat bersungguh-sungguh sekali, sebab Vero merasa mempunyai beban yang berat ditugaskan untuk merawat sang Letnan yang sangat dihormati sekali disitu.


Seminggu sudah suster Vero mengurus Daneil ditenda pengungsian, dan hubungan mereka semakin dekat saja, karena Vero juga ditugaskan untuk tinggal satu tenda dengan Daneil oleh anak buahnya Daneil yang seorang Mayor.


Disuatu kesempatan, ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ketika hampir semua tenaga medis dan para tentara sudah ada yang tertidur, namun ada juga yang masih terjaga.


Begitu juga dengan Vero dan Daneil yang belum tertidur, dan mereka saat itu sedang duduk didepan tenda sambil menikmati pemandangan malam yang sangat indah dan damai sekali.


Sebab pertempuran kemarin sudah selesai, dan dimenangkan oleh Negara Y yang dibantu oleh tentaranya Daneil.


"Jika pulang nanti, maukah kamu juga ikut dengan saya Suster Ica, karena saya juga masih sedikit kesulitan untuk beraktifitas nantinya", kata Daneil kepada Vero.


"Suster Ica??", kata Vero dengan sangat terkejut sekali ketika dia dipanggil suster Ica oleh Daneil.


"Iya suster Ica, karena saya ingin memanggil kamu berbeda dari yang lainnya, kan nama kamu Veronica, saya panggil kamu Ica saja, tidak mau Suster Vero lagi", kata Daneil kepada Vero.


"Terserah Tuan Letnan saja", jawab Vero dengan sangat sopan sekali kepada Daneil.

__ADS_1


"Bagaimana, apakah kamu mau ikut saya dan merawat saya suster??", tanya Daneil lagi kepada suster Vero.


"Maaf Tuan Letnan, untuk urusan itu saya tidak bisa menjawabnya, karena saya hanya seorang suster yang harus mengikuti perintah ketua tim saya dan perintah yang diberikan pihak rumah sakit kepada saya", jawab Vero dengan tenang kepada Daneil.


"Baiklah nanti saya yang akan berbicara dengan ketua tim kamu Suster ica", kata Daneil lagi kepada Vero.


Ketika Vero merawat dan mengurus Daneil, Daneil selalu memperhatikan Vero dengan tatapan seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta dengan seorang perempuan.


Dan tidak bisa dibohongi juga, jika ada benih-benih cinta dihatinya Daneil untuk vero.


Wajah Vero yang cantik alami natural, dan kesederhanaan yang dimiliki Vero, serta kesopanan dan keprofesionalitas yang ada didalam dirinya Vero, membuat Daneil tanpa sadar bisa jatuh cinta dengan suster yang merawatnya beberapa hari itu.


Namun Vero sama sekali tidak ada perasaan sama sekali kepada Daneil.


Vero merawat Daneil dengan bersungguh-sungguh karena itu memang sudah tugasnya.


Ketika tiba waktunya Vero dan para tim medis lainnya harus kembali pulang kerumah sakit mereka bekerja.


Daneil langsung saja mengutarakan maksudnya kepada ketua timnya Vero, untuk meminta Vero merawatnya secara pribadi setelah pulang dari situ.


Tapi sayang sekali sang ketua menolak permintaannya Daneil, sebab sang ketua tim tidak boleh memberikan anggotanya/atau suster yang ikut dengannya kepada seseorang tanpa seijin dari rumah sakit.


Daneil yang mengerti pun dia memahami maksud dari sang ketua timnya Vero.


Malam terakhir ketika Daneil bersama Vero, Daneil dia mengutarakan sebuah perkataan yang sungguh sangat membuat Vero terkejut sekali.


"Suster Ica, walau kita dekat hanya dalam waktu dua minggu saja, tapi saya sangat yakin akan perasaanku kepadamu", kata Daneil dengan tiba-tiba kepada Vero yang tadi sedang berpamitan kepadanya.


"Maksud anda Tuan Letnan??", tanya Vero kepada Daneil dengan bingung.


"Maukah kamu menjadi calon istriku Suster Ica??, saya akan segera melamar resmi kamu ketika saya sudah pulang dari sini sekitar tiga bulan lagi", kata Daneil dengan sangat bersungguh-sungguh sekali kepada Veronica.


Sunggu perkataannya Daneil langsung saja membuat Vero seperti disambar petir saat itu juga, karena dia benar-benar sangat terkejut sekali dan tidak menyangka tiba-tiba bisa dilamar oleh orang berwibawa seperti Daneil.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2