GADIS LUGU PEMIKAT HATI

GADIS LUGU PEMIKAT HATI
BONCHAP 24


__ADS_3

Tidak terasa ternyata sudah satu minggu Daneil dirawat dirumah sakit, dan Daneil baru sadar dari pasca operasinya sekitar tiga hari lamanya kemarin.


Keluarga Jenderal sang atasannya Daneil pun mereka semua juga baru saja menjenguk Daneil lusa kemarin.


Ada kejadian yang tidak terduga yang dialami oleh Daneil ketika dijenguk oleh Keluarga Jenderalnya itu.


Karena ternyata Daneil dan Cacha anak ketiga sang Jenderal Rhison mereka berdua sudah pada saling mengenal karena ketidaksengajaan.


Cacha yang waktu itu ketika sedang berlibur disebuah negara, dia yang ketika akan menyebrang jalan, tidak sengaja hampir saja tertabrak sebuah truk yang melaju cukup kencang sekali.


Salah Cacha juga yang berjalan sambil menerima telefon dijalanan umum seperti itu.


Ketika Cacha hampir saja tertabrak waktu itu, untung saja ada seorang laki-laki yang melihatnya.


Sang laki-laki itu reflek langsung berlari dan menangkap tubuh rampingnya Cacha supaya tidak tertabrak truk tadi.


Semua orang yang berjalan dan berlalu lalang disekitar jalanan itu, mereka semua langsung saja mengerubungi Cacha dan laki-laki tersebut.


Cacha yang syok, dia sampai tidak sadar jika tubuhnya masih dipeluk dengan erat oleh laki-laki itu, dan laki-laki itu dia juga melihat Cacha dengan tatapan tegasnya seperti biasanya.


"Nona apakah anda tidak kenapa-kenapa??", tanya laki-laki itu kepada Cacha.


Cacha yang nafasnya masih berantakan dan tidak beraturan karena terkejut tadi, dia tetap menjawab pertanyaan dari laki-laki itu dengan menampilkan wajah syoknya.


"Iya saya tidak apa-apa Tuan", jawab Cacha kepada laki-laki itu.


Melihat dan mendengar sendiri perkataannya Cacha, orang-orang yang tadi pada mengerubungi Cacha dan laki-laki tersebut, mereka semua langsung saja membubarkan diri.


Cacha yang sudah bisa menenangkan hatinya, dia langsung saja berdiri dari duduknya tadi ditrotoar jalan bersama laki-laki yang menolongnya.


"Tuan terimakasih atas bantuannya tadi, jika anda tidak bergerak cepat pastilah saya akan tidak akan selamat", kata Cacha kepada laki-laki yang menolongnya tadi ketika dia sudah berdiri.


"No problem Nona, lain kali hati-hati kalau berjalan, dan juga jangan menggunakan ponsel anda jika ingin menyeberang jalan", jawab laki-laki itu kepada Cacha.


"Sebagai permintaan terimakasih saya, mari Tuan saya traktir makan atau minum coffee", kata Cacha kepada laki-laki itu dengan sangat ramah sekali.


"Tidak perlu Nona", tolak laki-laki tadi kepada Cacha.

__ADS_1


"Ayolah Tuan, please", ajak Cacha lagi kepada laki-laki itu dengan sedikit memaksa.


Dan akhirnya mau tidak mau laki-laki itu menerima tawaran dari Cacha.


Singkat cerita Cacha dan laki-laki penolongnya itu sudah sampai juga didalam restoran mewah yang ada disekitar situ.


Mereka berdua duduk saling berhadapan dengan meja yang sebagai pemisahnya.


"Oh ya Tuan, kita belum berkenalan kan, perkenalkan nama saya Cacha", kata Cacha memperkenalkan diri kepada laki-laki yang sudah menolongnya itu sambil tersenyum.


"Saya Daneil panggil saja Daneil", jawab laki-laki itu kepada Cacha, dan Daneil yang dimaksud adalah Kakak kandungnya Arga.


Mereka setelah saling berkenalan, Daneil dan Cacha lalu menikmati makanan mereka dengan sangat tenang dan diselingi dengan perbincangan yang hangat cuma sebatas saling kenal saja.


Dan setelahnya Daneil dan Cacha mereka berdua berpisah setelah puas menikmati waktu bersantai berdua saja didalam restoran tadi.


Tanpa bertukar nomor telefon, dan tanpa saling mengenal lebih jauh lagi.


Cacha dan Daneil tidak saling berkomunikasi serta sudah tidak saling bertemu lagi sejak berpisah dari dalam restoran itu.


Dan Cacha ketika melihat Daneil lagi dirumah sakit, entah kenapa ada getaran rasa didalam hatinya, begitu juga dengan Daneil yang melihat Cacha terlihat semakin dewasa serta semakin cantik dari terakhir kali dia melihatnya sekitar tiga bulanan lalu.


"Jadi ternyata kalian sudah saling mengenal tho, malah lebih bagus", kata Mamah Leone kepada Cacha dan juga Daneil pada waktu itu ketika mendengar jika Cacha dan Daneil sudah saling mengenal.


Didalam ruang perawatannya Daneil sendiri pada waktu itu ada Ayah Geoff dan Mamah Iris, sedangkan Arga dia sedang menunggui Vero yang sebentar lagi diijinkan pulang namun harus bedrest total.


"Mamah", kata Cacha kepada Mamahnya dengan wajah malu-malunya.


Dengan sambil berbaring diatas brankarnya, Daneil menatap Cacha dengan tatapan yang membuat Cacha semakin malu saja.


"Nak Daneil, bagaimana kalau kamu tante jodohkan dengan anak Tante yang bungsu ini", kata Mamah Leone kepada Daneil dengan sangat to the point sekali.


Dan itu langsung saja membuat Daneil terkejut setengah mati ketika mendengar istri dari Jenderalnya yang berkata demikan kepadanya.


Daneil lalu mengalihkan padangannya kepada Jenderal Rhison ketika mendengar perkataannya Mamah Leone tadi.


Dan Jenderal Rhison dia malah mengangguk kepada Daneil yang sedang melihatnya sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Sedangkan Cacha dia menjadi malu sendiri akan tingkah dari Mamahnya itu.


"Waaah, boleh juga itu Nyonya idenya, saya setuju-setuju saja, lagi pula Daneil ini kalau tidak dipaksa untuk menikah saya yakin dia tidak bakal mau menikah", kata Mamah Iris dengan sangat bersemangat sekali kepada Mamah Leone karena ini fikir Mamah Iris kesempatan bagi Daneil supaya bisa move on dari Vero.


"Bagaimana Ayah??", tanya Mamah Leone kepada suaminya yaitu Jenderal Rhison.


"Kalau Ayah terserah anak-anaknya saja Mah, iya tidak Letnan Daneil", kata Jenderal Rhison kepada istri dan juga Daneil.


Daneil dia hanya bisa tersenyum kaku saja kepada semua orang, karena pasalnya dia bingung mau menjawab bagaimana.


Sebab didalam hatinya saja Daneil belum ada keinginan untuk menikah, apalagi yang dia nikahi adalah anak Jenderalnya yang sangat dia hormati itu.


Mau menolak rasanya malu, jadi Daneil hanya bisa diam saja sambil terus melihat kearahnya semua orang termasuk Cacha sekalipun.


"Kalau Nak Cacha sendiri bagaimana Nak, maukan menikah dengan anak Tante yang sudah lapuk ini??", kata Mamah Iris semakin memperpanas keadaannya Daneil.


Cacha langsung saja tertawa garing saja kepada Mamah Iris sambil juga melihat kearahnya Daneil yang sedang melihatnya.


Tidak cuma Daneil saja yang belum berkeinginan untuk menikah, namun begitupula dengan Cacha, dia masih ingin berkarir dengan dunia perDosenannya.


Namun Mamahnya yaitu Mamah Leone sudah memaksanya untuk menikah sejak satu tahun yang lalu, dan semakin parah saja ketika menjenguk Daneil dirumah sakit.


"Kalau umur Nak Cacha sendiri berapa ya, soalnya terlihat jauh lebih muda dari anak tante ini??", tanya Mamah Iris kepada Cacha.


"Dua puluh empat tante", jawab Cacha kepada Mamah Iris dengan sopan.


"Waah jauh sekali dengan anak tante, dia sudah berumur tiga puluh lima tahun", jawab Mamah Iris kepada Cacha.


"Tapi tidak apa-apa, cinta dan pernikahan kan tidak memandang usia, benar tidak Nyonya", kata Mamah Iris lagi kepada Mamah Leone sambil tertawa khas emak-emak sosialita.


"Betul sekali Jeng", jawab Mamah Leone kepada Mamah Iris sambil tertawa senang juga.


Sedangkan jenderal Rhison dia malah asik berbincang sendiri dengan Ayah Geoff sambil mendengarkan perbincangan para istri mereka.


Dan untuk Daneil serta Cacha, mereka berdua sama-sama malu dan kaku menghadapi situasi yang membuat diri mereka sendiri terpojok seperti itu.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...

__ADS_1


...***TBC Bonchap***...


__ADS_2