
"Saya harus menyampaikan ini kepada Tuan Alex dan Tuan Arga", kata Lexi sambil berlari menuju lift agar segera sampai diruangannya Alex, dan juga Lexi memencet tombol lift dengan terburu-buru.
"Kenapa aku merasa lift ini lama sekali sih sampainya diruangan kantornya Tuan Alex", kata Lexi sambil menggerutu tidak jelas didalam lift.
Ting
Akhirnya lift yang dinaiki oleh Lexi sampai juga dilantai tepat dimana ruangan kerjanya Alex berada. Lexi langsung saja keluar ketika melihat pintu lift sudah terbuka. Dia berlari menuju keruangannya Arga yang berada didepan ruangannya Alex.
Para teman bodyguard mereka bertanda tanya ada apakah yang terjadi, sehingga membuat Lexi berlari-lari sambil masuk kedalam ruangannya Arga dengan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Walau para bodyguard penasaran dan bertanda tanya, mereka tetap saja diam berdiri bak patung tanpa bertanya sedikit pun dengan Lexi ataupun para bodyguard yang lain. Karena itu bukan wewenang mereka.
"Tidak sopan sekali kamu masuk keruangan saya tanpa mengetuk pintu sama sekali", kata Arga dengan geram kepada Lexi, karena Lexi masuk kedalam ruangannya Arga tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan itu membuat Arga tadi sangat terkejut.
Lexi yang mendengar nada marah dari Arga dia tidak berani mengangkat kepalanya dan hanya menunduk saja.
"Maaf Tuan maafkan saya yang masuk keruangannya Tuan tidak mengetuk pintu ataupun permisi terlebih dahulu", jawab Lexi sambil menundukkan wajahnya.
"Ya sudah, ada apa kamu kemari dengan tidak sopan seperti itu, awas saja jika kamu akan laporan yang tidak penting", kata Arga dengan tegas kepada Lexi.
"Begini Tuan tadi ketika saya baru saja keluar dari dalam kamar mandi saya tidak sengaja mendengar percakapan dua orang yang cukup serius tentang Nona Ana, dan saya perkirakan mereka masih karyawan disini Tuan Arga", lapor Lexi kepada Arga.
"Apa maksud perkataanmu,....... Dan siapa nama kamu?? ", tanya Arga kepada Lexi.
"Nama saya Lexi Tuan Arga", jawab Lexi kepada Arga.
"Maksud perktaanmu apa Lexi?? ", tanya Arga lagi kepada Lexi.
"Ini Tuan", jawab Lexi sambil membuka rekaman suara yang tadi dia rekam dan langsung memberikannya kepada Arga.
Arga yang bingung dia tetap menerima ponselnya Lexi yang diberikan kepadanya. Dan Arga lalu memutar hasil rekaman suara yang tadi berhasil Lexi rekam.
__ADS_1
"Berani-beraninya mereka", kata Arga ketika sudah selesai mendengarkan hasil rekaman yang diberikan oleh Lexi.
Lexi lalu mengambil ponselnya yang berada diatas meja kerjanya Arga. Ketika Arga sudah selesai mendengarkan hasil rekaman yang ada diponselnya.
"Ini lagi Tuan masih ada dua lagi", kata Lexi lagi dan kali ini dia sedikit mendekat kemejanya Arga.
Lexi menunjukkan dua buah foto dua orang yang sedang saling berbicara dengan wajah yang terlihat cukup mudah untuk dikenali, dan Lexi lalu juga menunjukkan hasil rekaman gambar kepada Arga yang juga sempat Lexi ambil tadi.
"Mereka harus menerima hukumannya", kata Arga untuk dirinya sendiri akan tetapi masih didengar oleh Lexi, ketika Arga sudah selesai melihat semua hasil barang bukti yang bisa diambil oleh Lexi.
"Lexi ayo kamu ikut saya sekarang", kata Arga kepada Lexi dan langsung berdiri serta berlalu keluar menuju keruangannya Alexander.
Diruangan Alexander masih ada Tuan Gavi yang senang berbicara dengan Ana, karena sejujurnya Tuan Gavi dan Nyonya Gia sudah lama ingin mempunyai anak lagi akan tetapi takdir berkata lain. Rahim Nyonya Gia sudah diangkat karena insiden dulu waktu Alex masih kecil, Nyonya Gia ikut melawan musuh yang akan menculik Alex.
Dan Nyonya Gia waktu dulu terkena tendangan yang cukup keras dari musuh bisnis sang suami yaitu Tuan Gavi tepat diperut bagian rahim, mengakibatkan rahimnya bermasalah, dan ketika Nyonya Gia sedang terkapar tidak berdaya alangkah kejam musuh bisnisnya Tuan Gavi dia langsung menembak perutnya Nyonya Gia hingga menyebabkan Nyonya Gia tidak sadarkan diri.
Dari situlah, untuk menyelamatkan nyawa sang istri, Tuan Gavi harus menyetujui operasi pengangkatan rahim Nyonya Gia yang sudah bermasalah dan juga operasi pengangkatan peluru yang bersarang diperutnya Nyonya Gia.
"Tuan", kata Arga memanggil Alex yang masih menunduk melihat keberkas yang sedang dikerjakannya.
Alex langsung mengalihkan pandangannya kearah Arga dan bodyguard yang berada dibelakangnya Arga yaitu Lexi. Sedangkan Tuan Gavi dia masih asik bermain dengan Ana. Dan mengajari Ana berbagai macam hal yang belum pernah Ana ketahui.
"Ada apa Arga, dan kenapa bodyguard kamu ajak masuk kesini, apakah ada yang penting?? ", kata Alex kepada Arga. Dan Arga dia hanya mengangguk sambil mengalihkan pandangannya kearah Ana yang sedang asik berbicara dengan Tuan Gavi.
Alex langsung mengerti maksud dari pandangannya Arga, dan Alex lalu berdiri dari duduknya untuk mendekati Ana.
"Ana sayang, ikut Kakak sebentar yuk", kata Alex sambil mengkode mata dengan Papinya, dan sang Papipun mengerti akan maksud Alex.
"Iya Ana, besok Papi kasih tahu lagi, sekarang Ana harus menurut yah apa kata suaminya", kata Tuan Gavi sambil tersenyum kepada Ana.
"Memangnya Ana mau diajak kemana Kak", tanya Ana dengan wajah imutnya.
__ADS_1
"Ana bobok dulu ya kalau capek dikamar sini, dan didalam sudah Kakak sediakan laptop mau Ana gunakan untuk menonton film atau apa terserah Ana, Kakak tidak mau kalau Ana nanti kecapekan terus jatuh sakit lagi, ya mau ya Ana menunggu Kakak didalam kamar sini dulu", kata Alex membujuk Ana sambil membuka kamar rahasianya Alex untuk dia beristirahat sewaktu-waktu dengan fasilitas yang komplit dan kamar itu yang bisa membuka cuma Alex, Tuan Gavi dan juga Arga tentunya.
"Tapi Kakak tidak akan meninggalkan Ana disini kan?? ", tanya Ana dengan wajah lucunya.
"Tidak mungkin Kakak meninggalkan istri terlucu begini disini", jawab Alex sambil mencubit kedua pipinya Ana dengan gemas.
"Baiklah Kak", jawab Ana akhirnya membuat Alex lega sekali.
"Kakak kedepan dulu ya sayang", kata Alex lagi sambil mencium keningnya Ana. Dan Alex langsung saja berlalu dari hadapannya Ana.
Setelah kepergiannya Alex, Ana lalu melihat-lihat isi ruangan kamar tidurnya Alex, yang bahkan Ana adalah wanita kedua yang baru masuk kekamar tersebut setelah Nyonya Gia.
"Waaaah, ternyata kamarnya nyaman, dan jendelanya besar sekali", kata Ana sambil melihat pemandangan keluar gedung.
"Orang-orang dari sini terlihat seperti semut", kata Ana dengan tertawa kecil sambil melihat kebawah, karena ruangannya Alex dan Tuan Gavi ada dilantai tertingi gedung Perusahaan itu.
"Disini ternyata ada televisinya, dan besar sekali, kira-kira Ana kalau masuk sini muat tidak ya", kata Ana sambil mendekati sebuah televisi yang ukurannya sangat besar itu.
Ana setelah itu berjalan mendekati ranjang King size yang tersedia rapi didalam situ.
"Aaah, nyaman sekali ranjangnya", kata Ana sambil mencoba merebahkan badannya diatas ranjang. Dan lama-kelamaan membuat mata Ana dengan sendirinya tertutup dan akhirnya Ana tertidur lelap diatas ranjang itu.
Ketika Ana sedang mengagumi kamar rahasianya Alex, diluar kamar itu, Alex dan Tuan Gavi, mereka sedang mendengarkan dan melihat hasil rekaman yang tadi Lexi tunjukkan kepada Arga.
ππππππππππππ
Lanjut Part selanjutnya π
ππππππππππππ
***TBC***
__ADS_1