
"Jika yang aku lihat Kak Vero memasak memakai baju rumahan, pasti kalian kelihatan seperti sepasang suami istri, dan sang istri yang sedang memasak untuk suaminya, sebab Kak Arga dengan setia menemani Kak Vero", celetuk Aleda ketika dia sudah duduk dikursi sampingnya Arga.
Perkataannya Aleda langsung saja membuat Vero menghentikan kegiatannya untuk sejenak tanpa membalikkan badan dan melihat kearahnya Arga serta Aleda, setelahnya Vero lalu melanjutkan lagi apa yang sedang dia kerjakan tadi.
"Leda kenapa sih harus berkata seperti itu, membuatku semakin malu dan tidak nyaman saja", kata batin Vero sambil terus meneruskan memasaknya.
Sedangkan Arga dia yang melihat Aleda sudah duduk disebelahnya, dia malah langsung tersenyum senang mendengar perkataannya Aleda tadi tentangnya.
"Apakah kamu setuju jika Kakak kamu Vero menikah Kak Arga??", tanya Arga kepada Vero sambil melihat kearahnya Aleda dengan sambil tersenyum.
"Saya setuju-setuju saja Kak Vero mau menikah sama laki-laki manapun, yang terpenting dia adalah laki-laki yang baik dan juga sayang sama Kakak saya Kak", jawab Aleda kepada Arga.
"Apakah kamu tahu Aleda, jika Kak Arga baru saja melamar Kakak kamu itu", kata Arga dengan jujur kepada Aleda.
Perkataannya Arga dengan jujur kepada adiknya membuat Vero yang terkejut tanpa sengaja mengiris jarinya sendiri hingga berdarah.
Arga yang mendengar Vero kesakitan dan mengaduh, dia lalu dengan reflek bergerak dengan secara tiba-tiba dan langsung mendekati Vero.
Dengan sigap Arga langsung mematikan kompor yang menyala dan langsung juga menghisap tangannya Vero yang terkena pisau tadi.
"Makanya jangan melamun jika sedang memasak, hitung-hitung belajar supaya nanti jika sedang memasak aku tungguin tidak malu lagi", kata Arga kepada Vero sambil membantu Vero membersihkan tangannya yang terkena pisau tadi.
Sedangkan Aleda yang melihat adegan semuanya, bisa melihat jika Arga sangat mencintai Kakaknya.
"Terimakasih Tuan", kata Vero kepada Arga.
"Mari saya obati", kata Arga kepada Vero.
"Tidak per............, ya ampun darah, pasti jahitannya membuka lagi, ayo Tuan Arga saya lihat dulu itu lukanya", kata Vero kepada Arga yang tiba-tiba melihat ada bercak darah dibajunya Arga tepat dibagian perutnya Arga yang luka.
Dan Aleda sendiri juga melihat jika Kakaknya Vero dia sangat khawatir sekali melihat keadaannya Arga yang masih sakit seperti itu.
__ADS_1
Walau Aleda masih SMP tapi dia bisa menilai dan melihat sendiri, jika Kakaknya Vero dan Arga mereka berdua saling mencintai.
Vero lalu membantu Arga untuk menuju keshofa yang ada diruang Keluarga, dan Aleda yang tadi mengikuti dibelakangnya Arga dan Vero dia lalu disuruh Vero untuk mengambilkan kotak perawatannya yang ada didalam kamarnya Arga tadi.
Ketika Aleda sudah berlalu pergi mengambil kotak perawatannya Vero, Vero langsung saja membuka bajunya Arga dan melihat luka yang ada diperutnya Arga.
"Tuan kan sudah saya kasih tahu, jangan bergerak secara tiba-tiba dan jangan terlalu cepat-cepat, jadi akibatnya seperti ini, yang awalnya mau sembuh jadi tidak sembuh-sembuh, rasanya perutku juga ikutan sakit melihatnya", kata reflek dari Vero untuk Arga sambil membuka perban yang ada diperunya Arga.
"Saya cuma terkena pisau, bukan sedang terkena pedang, sakitnya tidak seberapa dibandingkan lukanya Tuan Arga", sambung lagi perkataannya Vero kepada Arga tanpa melihat kearahnya Arga.
Arga yang mendengar jika dia sedang diomelin oleh Vero, Arga bukannya marah malah dia tersenyum dengan sendirinya, karena berasa diomelin oleh seorang istri.
Aleda yang disuruh mengambil kotak perawatannya Vero pun juga sudah kembali lagi dan memberikan kotak itu kepada Vero.
Sambil terus membersihkan darah yang sedikit keluar dari ujung jahitannya Arga, Vero tidak memperhatikan wajahnya Arga yang sedang tersenyum bak orang gila itu.
Bahkan Arga tidak menyadari jika Aleda yang duduk dishofa seberangnya melihat itu semua.
"Apakah kamu khawatir kepadaku suster Vero??", kata Arga kepada Vero.
"Iya aku sangat khawatir sekali, seakan aku ikut merasakan sakitnya juga", jawab Vero dengan tidak sadar kepada Arga sambil terus mengobati luka jahitannya Arga.
"Ingin rasanya aku menjewer telinga kamu itu", kata Vero lagi kepada Arga.
Dan seperti itulah jika Vero sedang mengobati adiknya yang bandel jika dikasih tahu.
Mengobati sambil mendumel dan menggerutu terus, dan setelahnya ketika sudah selesai dia memberikan jeweran pelan ditelinga sang adik.
"Sudah selesai, besok ulangin lagi ya", kata Vero kepada Arga dengan reflek ingin menjewer telinganya Arga tapi tidak jadi, karena dia langsung tersadar jika orang yang sedang diobatinnya bukanlah adiknya.
Arga yang melihatnya dia malah tersenyum manis sekali dan langsung memegang tangannya Vero yang sedang memegang telinganya itu.
__ADS_1
Sedangkan adiknya dia reflek tertawa cukup keras sekali karena melihat kebodohan dari Kakaknya.
Suara tawa dari Aleda langsung saja menyadarkan adegan antara Arga dan juga Veronica.
Vero langsung saja berlalu pergi dari hadapannya Arga menuju kedapur untuk melanjutkan lagi acara memasaknya yang tertunda tadi dengan perasaan malu.
Dan ketika sudah sampai dapur, Vero memasak sambil mengingat-ingat perkataan apa saja yang dia ucapkan kepada Arga.
Sedangka Arga dan Aleda yang masih diruang keluarga, Aleda langsung saja mengatakan sesuatu kepada Arga.
"Kak Vero jika mengobati orang lain memang sabar dan profesional sekali Kak, tapi jika mengobatiku ya seperti itu, sambil menggerutu dan jika sudah selesai dia langsung saja memberikanku sebuah hadiah berupa jeweran seperti tadi", kata Aleda kepada Arga sambil tertawa.
Arga hanya tersenyum lucu saja mendengar perkataannya Aleda tentang Vero.
"Jika Kak Vero sudah seperti itu, itu tandanya dia sudah mulai perhatian dan sayang kepada Kakak, karena jika Kak Vero mengobati Kakak hanya diam saja profesional seperti perawat yang lainnya, itu berarti Kakak masih dianggap orang lain oleh Kak Vero", kata Aleda lagi kepada Arga.
"Berarti itu artinya tadi Kakak kamu juga mencintai Kakak Aleda??", tanya Arga kepada Aleda.
Dan Aleda langsung saja mengangguk kepada Arga, membuat senyum dibibirnya Arga mengembang dengan sempurna.
Kembali kedapur, Vero yang sudah teringat dia mengucapkan apa saja kepada Arga, rasanya dia ingin sekali mencelupkan kepalanya kedalam penggorengan yang ada didepannya itu karena sangat malu sekali kepada Arga.
Tapi bagaimanapun juga semua sudah terjadi, dan Vero dia harus menghadapinya.
Vero juga yakin, jika Aleda yang masih diruang keluarga bersama Arga, dia pasti berkata yang tidak-tidak kepada Arga, dan itu semakin membuat perasaannya Vero menjadi tambah malu lagi untuk bertemu dengan Arga.
"Bodoh kamu Vero, bodoh bisa-bisanya kamu menggerutu seperti tadi ketika sedang mengobati Tuan Arga", begitulah perkataan yang diucapkan oleh Vero ketika sudah teringat dengan semua ucapannya tadi kepada Arga, dengan sambil terus meneruskan memasaknya.
...π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°...
Maaf ya readers, kita bahas Arga dulu dari kemarin πππ
__ADS_1
...πππππππππππππ...
...***TBC***...