GADIS LUGU PEMIKAT HATI

GADIS LUGU PEMIKAT HATI
CHAPTER 41


__ADS_3

Setelah kepergian dari Simon dan juga Alex, perkataan dari Karl sontak mengalihkan pandangan dari Tuan Gavi, Tuan Fredo dan juga Tara kearahnya.


"Berhasil", kata Karl yang langsung mengalihkan pandangan semua orang kearahnya.


"Apanya Karl yang berhasil?? ", tanya Tuan Gavi kepada Karl.


"Saya sudah berhasil meretas CCTV yang ada dimarkas dan juga rumahnya Tuan Vigor Tuan", jawab Karl kepada Tuan Gavi.


"Kerja bagus Karl", jawab Tuan Gavi. Dan mereka lalu memfokuskan pandangan mereka kearah layar laptopnya Karl.


Didalam layar laptopnya Karl, Tuan Vigor beserta anak buahnya yang dia percaya, terlihat seperti sedang berunding dan sedang merencanakan sesuatu.


"Tuan Karl apakah anda bisa mensadap suara mereka", tanya Tara kepada Karl.


"Sebentar Tuan akan saya usahakan", jawab Karl sambil terus mengotak atik laptopnya yang tidak Tara fahami sistemnya.


"Yes berhasil juga Tuan", kata Karl kepada Tara dengan bangga.


Karl lalu membesarkan volume speaker yang ada dilaptopnya.


"Tuan apa yang harus kita lakukan sekarang", kata anak buahnya bertanya kepada Tuan Vigor.


"Kita harus bersiap dari sekarang, karena saya yakin Fredo dan anak buahnya tidak bakal tinggal diam saja dengan apa yang kita perbuat kepada anaknya", jawab Tuan Vigor kepada anak buahnya.


"Kalian terus berjaga disini, saya akan bersembunyi dulu keNegara Scotlandia untuk meminta bantuan kepada sepupu saya yang ada disana untuk melawan Fredo, karena saya yakin Fredo sudah meminta bantuan juga kepada Keluarga Damara", kata Tuan Vigor lagi kepada para anak buahnya yang dia percaya.


"Tuan sebelum mereka menyerang kita, bagaimana kalau kita yang menyerang mereka terlebih dahulu Tuan", usul anak buahnya lagi.


"Ide yang bagus itu, mari kita mulai menyusun rencana, kita harus bisa melumpuhkan Fredo dan Keluarganya, kita bunuh mereka semua, agar saya bisa mengambil alih semua harta yang mereka punya", jawab Tuan Vigor kepada para anak buahnya dengan tertawa keras.


Dan setelah itu mereka semua merencanakan rencana untuk mengepung kediaman dari Tuan Fredo dan akan menguras habis harta dari Keluarga William.


Begitulah sekiranya yang didengar oleh Tara, Tuan Fredo, Tuan Gavi, Karl dan juga Arjun.


Tuan Fredo dia sangat marah mendengar semua pembicaraan dari Tuan Vigor, tidak cuma Tuan Fredo saja yang marah, Tara pun yang masih berjiwa muda, amarah dia lebih membara dibandingkan Daddynya ketika dia mendengar sendiri jika semua keluarganya akan dibunuh oleh anak buahnya Tuan Vigor.

__ADS_1


"Bre****k", kata Tara ketika sudah selesai mendengar perkataan semua dari Tuan Vigor dan anak buahnya.


"Tenang Tuan Tara, mari kita selesaikan dengan kepala dingin, agar kita bisa membalas perbuatan dari Tuan Vigor kepada kalian", kata Tuan Gavi menenangkan Tara.


"Karl atur dan simpan semua bukti rekaman CCTV itu, dan atur agar orang lain tidak bisa menghapus atau mengambil rekaman CCTV itu", perintah Tuan Gavi kepada Karl anak buahnya.


"Baik Tuan", jawab Karl kepada Tuan Gavi.


"Tuan saya akan mengirimkan beberapa bodyguard yang sangat handal untuk membantu mengawasi Ana disini, dan perketat lagi penjagaan untuk Ana, sementara kita harus merencanakan rencana untuk menyerang dan membalas perbuatan mereka, mari kita bahas saja dimarkas kalian", kata Tuan Gavi memberikan solusi kepada Tuan Fredo.


"Baik Tuan Gavi, saya setuju dengan usul anda", jawab Tuan Fredo kepada Tuan Gavi.


"Tugas sudah selesai Tuan", kata Karl kepada Tuan Gavi, sedangkan Arjun daritadi dia selalu mengamati cara kerja dari Karl dan dia sudah belajar banyak dari Karl.


"Mari Tuan Fredo dan Tuan Tara, kita melihat dulu keadaannya Ana", ajak Tuan Gavi kepada Taun Fredo dan juga Tara.


Setelah itu mereka semua langsung pada keluar dari ruang CCTV dan berjalan menuju keruang perawatannya Ana.


Sebelumnya, Alex dan Simon yang tadi baru saja keluar dari ruang CCTV mereka langsung saja menuju keruang perawatannya Ana.


Sekitar beberapa menit berjalan dan melewati beberapa belokkan, akhirnya mereka berdua sampai juga diruang perawatannya Ana.


Ketika Alex dan Simon yang baru sampai mereka langsung saja disambut oleh Mommy Dania dengan muka yang sembab karena terus menangis.


"Xander, kamu disini nak", kata Mommy Dania dan dia langsung saja menangis sambil memeluk Alex.


"Iya Nyonya saya disini untuk menemani Ana", jawab Alex sambil mengusap lembut punggungnya Mommy Dania.


"Bantu Ana Nak, katakan padanya untuk melawan virus itu, Mommy tidak mau sampai harus kehilangan dia terlebih dahulu", kata Mommy Dania kepada Alex.


"Iya Nyonya, akan saya usahakan yang terbaik untuk Ana", jawab Alex sambil tersenyum ramah kepada Mommy Dania.


"Dokter, tolong berikan perawatan yang terbaik untuk kesembuhan Ana", kata Mommy Dania mengalihkan pandangannya kepada Dokter Simon yang ada disebelahnya Alex.


"Pasti Nyonya, itu sudah menjadi tugas saya Nyonya", jawab Dokter Simon kepada Mommy Dania sambil tersenyum ramah khas seorang Dokter.

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu kepada Mommy Dania Dokter Simon dia permisi sebentar untuk membuka pintu ruangannya Ana, karena pintu itu terdapat kode yang hanya orang-orang tertentu yang bisa membukanya.


Walau Alex masih bisa melihat Ana dari kaca tembus pandang kedalam, akan tetapi Alex belum puas dan dia ingin langsung berada dekat dengan Ana.


"Ayo Xander, pakai ini dulu", kata Simon kepada Alex sambil memberikan pakaian khusus, masker dan penutup kepala, karena ruangan Ana adalah ruangan yang harus benar-benar steril.


Setelah memakai itu semua, Alex dan Simon langsung saja mereka masuk kedalam ruangannya Ana. Ketika didalam sana, hati Alex rasanya mau remuk, karena kali ini nyawa Ana benar-benar diambang kematian. Hanya alat bantu yang terus mensuplai oksigen kedalam tubuhnya Ana.


Walaupun organ vital Ana masih aman, akan tetapi darah Ana sudah bercampur dengan virus yang kemarin disuntikkan kecairan infusnya.


Jika Ana tidak dibantu dengan alat bantu pernafasan, Ana sudah susah untuk bernafas, karena aliran darah yang menuju kejantungnya sudah terinfeksi virus tersebut.


"Orang yang berani melakukan ini kepadamu, harus membayar mahal Ana", kata Alex dengan sangat-sangat menahan amarahnya.


"Teruslah berjuang melawan virus itu, tidak demi Kakak, tapi demi Keluargamu, terutama Mommymu", kata Alex sambil mengusap wajahnya Ana dengan lembut.


Sedangkan Dokter Simon dia sedang mengecek semua alat-alat yang terhubung ketubuhnya Ana. Setelah itu Dokter Simon juga mengecek kondisi tubuh Ana.


"Sejauh ini sudah stabil Xander, akan tetapi masih harus dipantau terus perkembangannya, karena virus itu masih tersisa dialiran darahnya Ana", kata Simon kepada Alex.


"Usahakan yang terbaik dan kerahkan semua kemampuanmu Simon, aku percaya kamu bisa mengatasi dan mengobati kondisinya Ana Simon", kata Alex kepada Simon sambil terus melihat kearah wajahnya Ana terus yang sedang terlelap dalam tidur indahnya.


"Kakak mencintaimu Ana, kali ini Kakak yakin itu, dan Kakak takut kehilanganmu", kata batin Alex sambil melihat kewajah cantiknya Ana.


"Ayo Simon kita keluar", ajak Alex kepada Simon, karena Alex tidak tahan jika harus berlama-lama berada didalam sana.


Sedangkan Mommy Dania dia terus melihat kedalam ketika Alex dan Dokter Simon masuk kedalam melihat kondisinya Ana.


Setelah keluar dari ruang perawatannya Ana, Alex menjadi pendiam, dan ketika duduk bersama Mommy Dania diruang tunggu pun dia tidak banyak bicara, karena masih terus memikirkan kondisinya Ana.


Sedangkan Dokter Simon dia kembali lagi keruangannya, karena ada pekerjaan yang harus dia kerjakan.


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Berdoa readers untuk kesembuhannya Ana😊

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


***TBC***


__ADS_2