GADIS LUGU PEMIKAT HATI

GADIS LUGU PEMIKAT HATI
CHAPTER 184


__ADS_3

Ketika sudah sampai didepan pintu kamarnya Arga, Vero lalu membukanya dengan sangat perlahan sekali.


Dan ketika pintu sudah terbuka Vero langsung mengalihkan pandangannya kearah ranjang yang ternyata Arga sedang tertidur.


Vero lalu meletakkan makanan yang dibawanya diatas meja yang ada disamping ranjang.


Lalu Vero mau tidak mau dia harus membangunkan Arga, karena Arga harus meminum obatnya juga.


"Tuan Arga, Tuan", panggil Vero dengan suara pelannya sambil menggoyangkan pundaknya Arga.


Arga yang sudah terbiasa dan terlatih siap siaga, ketika dia merasakan sentuhan dan goncangan ditubuhnya, walau mata dia terpejam tangan Arga reflek langsung saja mencengkeram kuat tangannya Vero.


Dan langsung membuat Vero mengaduh kesakitan.


Ketika Arga mendengar suara perempuan mengaduh, dia lalu membuka matanya dan melihat Suster Vero yang ditugaskan untuk merawatnya sedang menunjukkan wajah kesakitannya.


Arga yang sadar dia sedang mencengkeram terlalu kuat tangannya suster Vero dia langsung saja melepaskannya dengan segera.


"Maafkan saya, tadi saya hanya berjaga-jaga saja", kata Arga kepada suster Vero.


"Iya Tuan tidak apa-apa, saya tahu", jawab Vero sambil memegangi pergelangan tangannya yang sedikit nyeri tadi, karena Arga tadi juga sedikit memelintir pergelangan tangannya.


"Makanannya sudah siap Tuan, Tuan harus makan dulu, karena Tuan juga harus meminum obatnya Tuan", kata Vero kepada Arga sambil mengambil piring yang berisi makanan tadi, dengan sambil juga menahan pergelangan tangannya yang sakit.


Arga lalu berusaha duduk dari rebahannya dan langsung menyandarkan punggungnya disandaran ranjang.


Dengan telaten Vero menyuapi Arga makan, walau pergelangan tangan kanannya sedang merasakan sakit.


Ketika tiga sendok sudah masuk kedalam mulutnya Arga, Arga tidak sengaja melihat pergelangan tangannya Vero tadi membiru karena cengkeramannya yang cukup kuat tadi.


Arga reflek langsung memegang tangannya Vero ketika dia sedang menyendok makanan lagi untuk dirinya.


"Tanganmu membiru, apakah sebegitu keraskah saya tadi mencengkeramnya", kata Arga sambil memegang pergelangan tangannya Vero.


"Tidak apa-apa Tuan, nanti akan saya obati", jawab sopan Vero kepada Arga.

__ADS_1


Vero sama sekali tidak mempunyai niat apapun kepada Arga, walau Arga termasuk laki-laki yang cukup tampan, namun bagi Vero profesionalitas adalah hal yang utama dalam bekerja.


Arga yang mendengar perkataannya Vero, dia lalu meletakkan piring yang sedang dibawa Vero keatas nampan yang ada diatas meja samping ranjang.


"Ambilah obat P3K yang ada disana, disana nanti ada obat seperti salep yang biasa saya gunakan ketika saya sedang keseleo pada waktu latihan", kata Arga menyuruh Vero sambil menunjuk kotak P3Knya.


Vero hanya menganggukkan kepalanya saja dan setelahnya dia lalu beranjak berdiri dan berjalan kearah P3K yang ditunjuk Arga tadi.


Ketika Vero sudah menemukan salep yang dimaksud oleh Arga, Vero lalu kembali lagi berdiri disampingnya Arga.


"Duduk sini", kata Arga menyuruh Vero untuk duduk dipinggiran ranjangnya.


Vero langsung saja menurut dan duduk ditempat yang dimaksud oleh Arga, yaitu pinggiran ranjang.


"Sini tangan kamu", kata Arga lagi kepada Vero.


Vero juga menurut saja kepada Arga dan dia lalu memberikan pergelangan tangannya yang membiru kepada Arga.


Arga lalu mengoleskan salep dipergelangan tangannya Vero, gantian Arga yang dengan telaten mengurut pergelangan tangannya Vero.


"Aasssshhhhhh, aaah", reflek Vero tidak sengaja mengaduh kesakitan ketika Arga mengurut cukup kencang dipergelangan tangannya.


Tanpa sadar Vero meneteskan air matanya, karena tidak dia sangka pergelangan tangannya sangat sakit sekali ternyata.


Reflek lagi Arga mengusap air matanya Vero yang menetes membasahi pipi mulusnya Vero, membuat Vero dan Arga saling pandang dan mengunci pandangan mereka masing-masing.


Entah ada angin apa, Arga terbuai dengan suasana, dan ketika Arga semakin mendekatkan wajahnya keawajahnya Vero, Vero diam saja tidak memundurkan atau memalingkan mukanya sama sekali.


Membuat Arga semakin yakin saja untuk semakin mendekatkan wajahnya kewajahnya Vero.


Ketika bibir mereka sudah saling menempel, Arga mencoba dengan perlahan menggerakkan bibirnya diatas bibirnya Vero.


Dan Vero pun dia masih diam saja tidak menolak maupun menerima sentuhan dari bibirnya Arga.


Ketika Arga melihat tidak ada pergerakan atau penolakan dari Vero, Arga semakin meneruskan mencium bibirnya Vero.

__ADS_1


Semakin lama Arga menggerakkan bibirnya dibibirnya Vero, semakin membuat Vero tanpa sadar membalas ciumannya Arga.


Namun baru beberapa detik Vero membalas ciumannya Arga, Vero yang tersadar dari terpukaunya tadi, dia langsung saja memundurkan wajahnya dan melepaskan ciumannya mereka.


"Maaf Tuan ini salah, saya hanya seorang suster atau perawat, dan saya tidak merangkap menjadi wanita panggilan, permisi", kata Vero sambil menundukkan wajahnya ingin berlalu pergi dari hadapannya Arga.


Namun ketika Vero ingin melangkahkan kakinya pergi dari hadapannya Arga, Arga langsung saja mencengkal pergelangan tangannya Vero yang satunya lagi yang tidak sakit.


"Duduklah lagi", kata Arga kepada suster Vero dengan suara tenangnya.


Suster Vero lalu duduk lagi namun dia langsung saja menundukkan wajahnya.


"Maafkan saya, saya yang bersalah, tadi saya tidak bermaksud untuk melecehkanmu, hanya saja entah kenapa saya ada dorongan ingin sekali mencium kamu, dan saya juga tidak sedikit pun ada fikiran jika kamu selain suster juga wanita panggilan", kata Arga dengan lembut kepada Vero.


Arga sendiri merasa aneh bisa selembut itu berbicaranya dengan Vero, padahal jika dia berbicara dengan seorang wanita selalu dengan nada formal seperti pada umumnya dia biasanya.


Walau dia sering bermain j4l4ng ketika dia sedang tidak bisa menahan h4sr4tnya, namun tidak pernah bisa selembut itu seperti Vero tadi.


Vero langsung mendongakkan kepalanya menatap Arga ketika mendengar perkataan lembut dari Arga tadi.


"Pasti kamu belum makan juga kan, mari kita makan sama-sama saja", kata Arga lagi kepada Vero sambil mengusap lembut pipinya Vero.


"Tidak perlu Tuan, saya nanti makan diluar saja, sekarang Tuan Arga makan dulu dan setelah itu Tuan Arga minum obatnya, yang terpenting Tuan Arga cepat sembuh", jawab Vero kepada Arga dengan sambil mengambil makanannya Arga lagi yang ada diatas nampan tadi.


"Apakah kamu tidak betah mengurusku, dan kamu ingin saya cepat sembuh supaya kamu bisa pergi dari sini??", kata Arga kepada Vero sambil menerima suapan makanan dari Vero.


"Bukan begitu Tuan Arga, saya sangat senang mengurus siapa saja yang sudah menjadi tanggung jawab saya, namun apabila jika orang yang saya rawat tidak sembuh-sembuh juga saya merasa gagal menjadi seorang perawat", jawab suster Vero kepada Arga sambil terus menyuapi Arga.


"Apakah menjadi seorang perawat adalah cita-cita kamu??",, tanya Arga kepada Vero.


"Iya Tuan, ini adalah cita-cita saya, dulu saya berkeinginan ingin menjadi seorang Dokter, namun karena tidak ada biayanya saya memutuskan menjadi seorang perawat saja", jawab Vero dengan jujur kepada Arga.


Perkataan sopan dan suara lembutnya Vero, membuat Arga merasa nyaman bisa mengobrol dengan Vero, dan Arga merasa jika Vero sangat klop dengannya.


Entah kenapa Arga berasa tidak ingin sembuh saja, supaya Vero selalu ada disampingnya seperti ini, karena Arga masih bingung mengungkapkannya kepada Vero jika dia menyukai Vero berada disampingnya.

__ADS_1


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...***TBC***...


__ADS_2