GADIS LUGU PEMIKAT HATI

GADIS LUGU PEMIKAT HATI
CHAPTER 203


__ADS_3

Arga yang melihat wajah keterkejutan dari Vero, dia hanya tersenyum manis saja kepada Vero sambil mengusap lembut pipinya Vero.


"Ketahuilah, saya tidak tahu apa artinya jatuh cinta Vero, tapi jika berdekatan dengan kamu, saya merasakan hal berbeda yang belum pernah saya rasakan sebelumnya", kata Arga lagi kepada Vero yang masih diam saja tidak menanggapi perkataannya Arga.


"Saya tidak menyuruh kamu menjawabnya sekarang Vero, tapi yang pasti saya serius dengan ucapan saya untuk kamu", sambung lagi perkataannya Arga kepada Vero dan tanpa sadar dia memanggil Vero tanpa embel-embel kata suster.


Arga berkata sambil menatap lekat wajahnya Vero, begitupun Vero, mereka saling mengunci pandangan mereka satu sama lainnya.


"Jika status sosial yang kamu takutkan, saya tidak memperdulikan itu semua Vero, saya akan memperjuangkannya jika kamu menolak saya, karena saya yakin jika kamu adalah jodoh saya", kata Arga lagi kepada Vero yang masih diam saja bak patung hidup.


"Itu yang author bocorkan kepadaku Vero", batin Arga untuk VeroπŸ˜…πŸ˜….


"Emm Tuan, maafkan saya, saya tidak tahu apakah saya juga mencintai Tuan seperti Tuan mencintai saya, tapi ijinkan saya berfikir dahulu dan memantapkan hati saya, kalau begitu saya permisi dulu Tuan", kata Vero kepada Arga dengan suara yang tidak seperti biasanya.


Dan Vero mengucapkannya itu dengan suara cepat seperti satu tarikan nafas saja dan tanpa jeda, karena sangat malu sekali.


Jantung, tulang, perasaannya, fikirannya tidak bisa Vero kontrol dengan baik, alhasil hanya perkataan itulah yang mampu dia ucpakan kepada Arga.


Vero langsung saja berdiri dan berlalu dari dalam kamarnya Arga.


Dan dia langsung saja masuk kedalam kamar yang ada disebelahnya kamarnya Arga.


Sedangkan Arga dia hanya bisa diam saja melihat Vero keluar dari dalam kamarnya tanpa mencegahnya untuk kedua kalinya.


Vero yang sudah masuk kedalam kamarnya sendiri, dia langsung saja menuju kedalam kamar mandi untuk meredakan detak jantungnya yang belum bisa kembali normal itu.


Adiknya Vero yang melihat Kakaknya masuk dengan terburu-buru dan langsung saja masuk kedalam kamar mandi, dia menjadi bingung sendiri.


Aleda langsung saja mengetuk pintu kamar mandi dan menanyakan kepada Vero sebenarnya apa yang terjadi.


"Tidak apa-apa, Kakak sedang kebelet buang air besar saja Leda", kata Vero berbohong kepada Aleda.


Aleda yang sudah mendengar perkataan dari kakaknya dia langsung saja melanjutkan belajarnya lagi diatas ranjang.


Padahal aslinya Vero didalam kamar mandi dia langsung saja bersandar dibelakang pintu sambil memegangi dadanya yang seperti ingin meledak itu.

__ADS_1


"Apakah ini mimpi Tuhan??", kata Vero untuk dirinya sendiri.


Dan Vero lalu mencoba menampar mukanya sendiri menggunakan telapak tangannya.


"Awww", kata Vero ketika dia merasakan sakit ketika pipinya dia tampar sendiri.


"Sakit rasanya, berarti aku tidak bermimpi", kata Vero lagi kepada dirinya sendiri.


"Aku harus bagaimana nanti jika bertemu dan mengurus Tuan Arga, aku jadi malu jika bertemu dengannya nanti, apakah jika aku menerima Tuan Arga, Tuan Arga tidak malu mempunyai istri miskin sepertiku??", kata Vero masih dengan berbicara sendiri.


Vero lalu menarik nafasnya dengan panjang-panjang dan dia lalu menghembuskannya dengan perlahan-lahan.


Setelah melakukan itu berulang kali, Vero sedikit merasakan tenang didadanya.


"Profesional adalah prinsip bekerjaku, jadi bagaimanapun nanti jika bertemu dengan Tuan Arga akan aku hadapi, karena tidak bisa dipungkiri aku juga mencintainya sejak pertama kali masuk kedalam apartemen ini", kata Vero menyemangati dirinya sendiri.


Setelah berkata seperti itu, Vero lalu berpura-pura untuk menyalakan kran air dan closet, supaya adiknya tidak curiga kepadanya.


Begitu dirasa sudah cukup tenang, Vero langsung saja keluar dari dalam kamar mandi dan menunjukkan muka yang biasa saja, supaya adiknya tidak curiga kepadanya.


Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, tadi ketika dijalan sebelum sampai diapartemennya Arga, Vero mampir sebentar kesupermarket untuk membeli bahan-bahan makanan yang bisa dia masak.


Hidup mandiri dan membiayai adiknya dari kecil sendiri, membuat Vero menjadi pribadi yang sangat hemat.


Arga sendiri selama ada Vero dipartemennya dia setiap kali makan, selalu membelinya diluar, padahal tanpa Vero pun Arga juga makan diluar, cuma bedanya sekarang dia makannya dirumah, biasanya kan diresto atau diCafe jika Arga ingin makan.


Dan Vero pun juga pertama kalinya memasak diapartemennya Arga selama beberapa hari dia tinggal diapartemennya Arga.


Ketika Vero yang baru saja keluar dari dalam kamarnya, dia langsung saja ingin menuju kedalam kamarnya Arga, namun sebelumnya dia mengetuk pintunya terlebih dahulu.


Vero langsung saja masuk ketika dia mendengar Arga mempersilahkannya masuk.


"Ada apa Vero, apakah kamu kesini ingin memberikan jawabannya kepada saya??", tanya Arga kepada Vero sambil menaruh ponselnya diatas pahanya.


Karena Arga saat ini sedang duduk diatas ranjang sambil bersandar disandaran ranjang.

__ADS_1


"Emm, ti...tidak Tuan, saya kesini cuma ingin mengatakan, Tuan Arga jangan memesan makanan......", perkataannya Vero terpotong oleh perkataannya Arga yang tiba-tiba.


"Kenapa tidak boleh suster Vero, terus nanti kita makan malam mau makan apa??", kata Arga kepada Vero.


"Saya akan memasak Tuan, dan ijinkan saya menggunakan dapur anda Tuan Arga", jawab Vero kepada Arga.


Sungguh Arga sangat senang sekali mendengar perkataannya Vero, selama beberapa tahun tinggal diapartemennya, belum ada yang pernah menggunakan dapurnya untuk memasak selain dirinya untuk memasak mie.


Bahkan Mamahnya saja jika main keapartemennya dia hanya mengambil piring untuk menyiapkan makanan yang dibawanya saja.


Wajahnya Arga langsung cerah ceria ketika mendengar perkataannya Vero.


"Boleh, tapi dengan satu syarat", kata Arga kepada Vero.


"Syaratnya apa Tuan??", tanya Vero kepada Arga.


"Bantu saya untuk turun kebawah, dan ijinkan saya melihat kamu memasak", kata Arga kepada Vero.


Mau tidak mau dan sudah terlanjur juga apalagi itu juga apartemennya Arga, Vero akhirnya membantu Arga turun dan mengijinkan Arga melihatnya memasak.


Arga langsung saja duduk dikursi yang ada didalam meja dapur, dan dia sangat memperhatikan sekali ketika Vero sedang menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.


"Seperti ini ternyata rasanya dimasakin oleh seorang istri, walau aku yakin Ana tidak pernah memasak untuk Bos Alex, tapi Ana sangat mempunyai arti spesial dihatinya Bos Alex, makanya Bos Alex rela melakukan apa saja demi Ana, dan aku baru tahu rasanya sekarang", kata batin Arga sambil terus memperhatikan Vero memasak.


Vero sekuat tenaga fokus dengan memasaknya, supaya hasilnya nanti memuaskan dan enak rasanya, walau sebenarnya dia sangat malu ketika masak ditungguin oleh Arga dan membuat fikirannya menjadi buyar.


"Oh ya suster Vero, besok lain kali kamu tidak perlu memakai pakaian perawat seperti ini ya, kamu pakai pakaian biasa saja yang kamu punya, tidak perlu formal, lagi pula ini tidak berada dirumah sakit", kata Arga kepada Veronica yang sedang memasak.


"Baik Tuan Arga", jawab Vero kepada Arga.


Ketika Arga sedang asik berbincang dengan Vero, datanglah Aleda yang tiba-tiba masuk kedalam dapur ketika dia baru saja keluar dari dalam kamar dan mencium aroma masakan yang dia sangat yakinin itu masakannya Kakaknya Vero.


Dan benar saja ketika dia sudah sampai didapur Aleda melihat Kakaknya sedang memasak dan ditungguin oleh Arga.


"Jika yang aku lihat Kak Vero memasak memakai baju rumahan, pasti kalian kelihatan seperti sepasang suami istri, dan sang istri yang sedang memasak untuk suaminya, sebab Kak Arga dengan setia menemani Kak Vero", celetuk Aleda ketika dia sudah duduk dikursi sampingnya Arga.

__ADS_1


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...***TBC***...


__ADS_2