
Rumah sederhana berwarna putih yang tampak cantik dan bersih itu sudah ada di depan mata Deka Roland. Ia sengaja menawarkan diri kepada Ridwan untuk mengantarnya pulang karena mobil pria itu sedang mogok dan sementara diservis di bengkel. Ia ingin melakukan pendekatan pada salah satu penentu hubungannya nanti dengan Risma Yanti ke depannya. Suatu kebetulan yang menyenangkan.
Ridwan memintanya masuk untuk sekedar minum teh. Rasanya tak enak juga kalau menyuruh bos dari adiknya itu langsung pulang setelah berbaik hati mengantarnya pulang ke rumah.
Deka memperhatikan keadaan rumah itu dengan sangat baik. Ia mendapati banyak foto-foto terpajang di ruang tamu minimalis bercat biru langit berpadu dengan warna putih itu. Ada banyak gambar anak perempuan bersama kedua orang tuanya di sana. Yang Deka pastikan itu adalah Risma Yanti sang pujaan hati.
"Silahkan diminum pak," ujar Ridwan yang langsung mendapat pelototan tajam dari Deka. Ia tidak suka dipanggil bapak karena terlalu formal menurutnya. Ia ingin dipanggil bro saja kalau bisa. Umur mereka ternyata sepantaran. Dan juga sebentar lagi ia akan jadi adik ipar pria ini, pikir Deka ketinggian.
"Santai lah, panggil nama atau apa saja asal jangan bapak, walaupun aku bosnya Risma." ujar Deka akhirnya. Ia ingin mengakrabkan diri tanpa melihat status pekerjaan.
"Orang tua masih ada?" tanya Deka.
"Sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, aku dan Risma tinggal berdua di sini." jawab Ridwan.
"Oh pantas mereka sangat akrab sekali, " pikir Deka dalam hati.
"Aku ingin melamar Risma menjadi istriku." ujar Deka yang langsung to the point tanpa basa-basi yang membuat Ridwan tersedak teh yang sedang diminumnya.
"Uhukkk," Ridwan menatapnya tak berkedip. Ia tak percaya akan apa yang ia dengar.
"Apa caraku melamar salah ya?" tanya Deka dengan wajah polos tanpa dosa. Ridwan tidak memberi jawaban. Ia senang ada yang berniat baik pada adiknya tetapi Ia ingat waktu menjemput Risma beberapa hari yang lalu ada seorang gadis yang begitu akrab dengan bos Risma ini. Ia takut adiknya nanti tidak bahagia karena pria ini mempunyai hubungan dengan wanita lain.
"Aku tidak bisa memberikan jawaban sekarang, aku akan tanyakan kesiapan Risma sendiri."
"Baiklah, sampaikan saja sama Risma aku datang," Deka kemudian pamit dan meninggalkan Ridwan termangu di ruang tamu itu.
"Apa ini?" baru beberapa jam kita berkenalan dia malah langsung melamar adikku..."
"Apa segampang itu melamar anak orang?" tanyanya bermonolog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Deka Roland pulang ke rumah setelah waktu sudah menunjukkan tengah malam. Hari ini ia habiskan dengan membaca buku yang baru dibelinya di toko buku tempatnya bertemu Ridwan. Kemudian ia ke rumah orang tuanya sendiri.
Ia ingin bertemu ayahnya dan membicarakan rencananya menikahi Risma Yanti. Meskipun mereka tidak begitu akrab dan dekat tetapi ia tetap akan meminta pertimbangan orang yang menjadi suami dari ibunya itu.
"Tumben kamu kemari," ujar ayahnya ketika melihatnya duduk menunggu di ruang tamu.
"Ayah sehat?" tanyanya setelah mencium tangan ayahnya yang ternyata sudah tampak semakin menua dari rambut yang memutih dan wajah mengeriput.
"Alhamdulillah sehat, kamu bagaimana?"
"Aku sehat, yah. Aku mau minta tolong ayah untuk melamarkan gadis untukku," ujar Deka seperti biasa langsung pada intinya. Ia tidak tahu caranya berbasa-basi. Arman Roland menyunggingkan senyumnya kemudian menepuk bahu putranya itu.
"Siapa orangnya, apakah kamu sangat mencintainya?" "Sangat, tetapi ia belum menerima perasaan ku yah, kupikir lebih baik kalo langsung melamar saja."
"Hah! cara apa itu apa kamu sudah tertular virusnya Gala sepupumu itu?" Arman terbahak dengan cara gerakan cepat yang ingin dilakukan oleh putranya. Deka terdiam sejenak, ia memang banyak belajar dari Gala Putra Raditya sepupu sekaligus bosnya itu.
"Baiklah, atur saja waktu yang bagus kita ke rumah gadis itu."
"Malam ini yah, aku ingin malam ini juga secepatnya."
"Astaga, kamu sudah tidak sabar ya?"
"Aku takut tidak punya lagi keberanian setelah malam ini."
"Ya ampun, Deka kamu membuatku mengingat caraku dulu melamar ibu mu." tawa garing Arman bergema di ruang tamu itu.
"Kamu tahu, aku tidak mau pulang malam itu kalau lamaranku tidak diterima. Hahahahah."
__ADS_1
"Itu juga yang aku pikirkan yah," ujar Deka datar yang membuat ayahnya memukul bahunya pelan. Tidak menyangka kalau sifatnya bisa menurun pada putranya ini.
Malam itu mereka berdua kembali lagi ke rumah Risma tanpa ada janji terlebih dahulu hingga membuat tuan rumah sangat panik terutama Risma Yanti yang waktu itu sedang bersantai di kamarnya setelah pulang kerja.
"Ada apa ya pak?" tanya Risma dengan wajah polos penasaran. Kenapa Deka Roland sang asisten bisa ada di rumahnya bersama pria paruh baya yang sedikit mirip dengannya.
"Kamu tidak mempersilahkan kami masuk?" tanya Deka santai.
"Oh iya, silahkan masuk pak. Aku panggilkan abang Ridwan di dalam." Risma segera memanggil abangnya sebagai muhrimnya karena tamunya adalah laki-laki semua sekaligus membuatkan minuman untuk mereka.
Ketika tuan rumah sudah ada semua di ruangan itu. Arman Roland pun menyampaikan maksud kedatangan mereka pada jam yang cukup riskan karena merupakan waktu istirahat.
"Mohon maaf karena menggangu waktu istirahat ananda. Saya Arman Roland sebagai ayah dari Deka ingin melamar nak Risma Yanti untuk dijadikan istri mendampingi putra saya sehidup semati," ujar Arman memulai pembicaraan. Risma tidak menyangka kedatangan mereka berdua ternyata untuk melamar. Ia sampai menutup mulutnya karena kaget.
"Maaf, aku belum menyampaikan maksud Deka padamu karena kamu keburu masuk kamar tadi." Ridwan membela diri setelah mendapat tatapan dari Deka.
"Bagaimana nak, saya harap kamu bisa menerima putra saya." Arman menatap Risma yang masih terdiam di tempatnya. Ia tak menyangka akan secepat ini Deka membuktikan perasaannya. Tanpa sadar ia mengangguk kemudian lari ke kamarnya karena malu.
"Saya kira jawaban ya pada perempuan itu adalah diam. Jadi kami akan secepatnya meresmikan acara ini agar segera halal bagi mereka berdua." Deka menarik nafas lega. meskipun Risma tidak memberi jawaban dalam kata-kata tetapi ia yakin ia bisa membuat gadis itu mencintainya kelak. Bukankah kekuatan akad itu tak perlu diragukan? Cinta bisa datang setelah halal.
Deka mengantar ayahnya kembali ke rumahnya bersama istrinya itu sedangkan ia pulang ke rumah Kediaman Raditya dengan hati yang sangat senang dan lega. Ia akan merahasiakan kabar baik ini dulu kepada Gala sampai segala persiapan pernikahannya rampung. Ia ingin menikmati mengurus acara ini tanpa gangguan si bucin Gala.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor, tetap dukung karya ini yah.
Like, komentar, dan kirim hadiah nya.
Gitu aja...
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍