
Menikmati panorama pantai yang indah disaat senja mulai datang adalah saat-saat yang paling dinantikan oleh banyak orang. Cahaya matahari yang perlahan meredup di hamparan laut biru itu begitu memukau mata memandang. Sungguh kekuasaan Tuhan yang maha sempurna.
"Kita sholat magrib di sini aja, sebelum pulang." ujar Vita setelah terpesona dengan keindahan alam di sore menjelang malam itu.
"Iya betul Ma. Kakak hebat sekali sampai menyediakan masjid juga di tepi laut yang indah ini, jadi serasa di atas masjid terapung kita." timpal Sarah dengan mata masih memandang ke arah laut lepas.
"Ayok segera kita sholat." ajak Gala pada semua anggota keluarganya.
🍁
"Yang azan tadi siapa kak? bagus banget suaranya." tanya Sarah saat mereka semua sudah berada di dalam mobil menuju rumah yang berjarak sekitar 6 km dari tempat wisata itu.
"Heru." jawab Rama singkat.
"Merdu banget kak suaranya. Apalagi di masjid yang ada dipinggir laut. Wih serasa gimana gitu, syahdu dan bikin hati adem." ujar Sarah dengan wajah berbinar memuji kelebihan Heru. Ia tidak menyadari kalau Adam yang sedang menjadi sopir saat itu merasa kesal hingga mencengkram kemudi dengan keras.
"Heru pernah ikut syuting lho bersama artis Bollywood Syakheer Syeh di pantai di ujung sana." timpal Rara ikut nimbrung percakapan antara Sarah dan suaminya.
"Oh yang film legenda Datuk Museng dan Maipa Denipati itu?" Sarah semakin tertarik akan cerita Rara sang kakak ipar. Ia kan sangat menggemari Bollywood seperti mamanya.
"Ih, kalian kenapa gak bilang sama mama sih kalau ada syuting artis Bollywood di kampung mama, tega." ujar Vita ikutan nimbrung.
"Untuk apa sayang?" tanya Gala merasa tak nyaman. Ia paling tidak suka kalau istrinya mulai bercerita tentang pria-pria tampan dari negeri Acha-Acha itu.
"Mau lihat mereka syuting mas. Masak mau lihat yang lain." jawab Vita sembari tersenyum. Ia tahu suaminya mulai berada dalam mode waspada.
"Film itu kan menceritakan sejarah kota ini, mas. Jadi wajib kita tonton apalagi artisnya tampan kayak si Syakheer itu." ujar Vita memberi alasan.
"Lebih tampan aku juga." ujar Gala mulai narsis. Vita memutar bola matanya malas tetapi tetap memeluk suaminya agar tidak merajuk.
"Papa Gala yang paling tampan iyya kan, anak-anak?" tanya Vita dengan suara agak keras.
"Iyya dong, Papa kan cinta pertama aku." jawab Sarah cepat. Kemudian melanjutkan lagi,
"Trus Kak Heru ikut syuting emangnya jadi apa?" ternyata ia masih penasaran dengan Heru yang bisa segala-galanya.
__ADS_1
"Jadi prajuritnya raja Datuk Museng." jawab Rama menggantikan Rara.
"Wah hebat, andai aku ada di sini waktu itu pasti aku diajak main juga, jadi dayang-dayang gak apalah. Yang penting dekat dengan cowok tampan." ujar Sarah dengan pandangan menerawang jauh.
Dan saat mobil mereka melewati sebuah dermaga yang dipenuhi oleh perahu nelayan, ia langsung membayangkan dirinya sedang terdampar di tengah lautan bersama Adam dan menyanyikan lagu Kaho Na Pyar Hai.
Ia memukul kepalanya cepat, karena seharusnya bukan Adam yang ada di perahu itu bersamanya tetapi Hritik Roshan.
"Sarah! kamu sedang menghayal ya?" tanya Vita pada putrinya yang sedang tersenyum sendiri.
"Tidak eh iya Ma." jawab Sarah gelagapan. Ia malu karena terciduk menghayalkan seseorang dengan pikiran sedikit kotor.
"Kamu tidak sedang menghayalkan Heru ka" tanya Vita dengan mata awas curiga.
Ciiiiit
Mobil tiba-tiba dihentikan oleh Adam. Kupingnya cukup panas karena sedari tadi cuma Heru saja yang keluar dari mulut Sarah.
"Kenapa berhenti Dam?" tanya Rama yang duduk di depan di samping Adam sang sopir.
"Kupingku sakit kak." jawab Adam kemudian menghidupkan kembali mesin dan melanjutkan perjalanan.
"Udah baik kok tante," jawab Adam berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Oh, syukurlah. Kalau kamu sakit bilang-bilang ya. Tante gak enak nanti sama mamamu, nanti dikira kamu tidak kami perhatikan." ujar Vita yang segera di setujui oleh semua orang.
"Iya, Dam. Gak baik lho nyimpan-nyimpan penyakit di hati nanti tambah parah lho." tambah Sarah dengan berusaha menahan tawanya.
"Udah, Dam nyetir yang benar. Jalanan di depan banyak yang rusak lho." tegur Gala agar semua orang diam.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah yang penuh kenangan itu. Ini adalah malam kedua mereka semua berada disana.
Heru yang sudah lama tiba, langsung menyambut mereka semua di depan teras.
"Kak Heru, jangan cepat pulang ya, aku mau tanya soal syuting Syakheer Syeh di Pantai dekat Galumbaya." ujar Sarah saat bertemu pandang dengan pria muda yang jadi topik pembicaraan mereka tadi.
__ADS_1
"Lho siapa yang cerita sama mbak Sarah." tanya Heru dengan wajah tampak malu.
"Kak Rama sama Kak Rara."
"Cuma sebagai pemain figuran kok, tidak perlu diceritakan lagi."
"Ih, itu hebat lho kak. Bisa main dengan aktor Mahabarata itu. Aku juga mau main sama mereka kalau diajak, hehehe." Adam yang baru saja memarkirkan mobil di garasi kembali merasa tidak nyaman dengan kedekatan mereka berdua. Ia cemburu.
"Kak Heru, kalau pulang jangan lupa kunci pagar ya." ujar Adam dengan maksud sebagai teguran. Heru tersenyum.
"Iya mas Adam. Aku kok yang pegang kuncinya setiap saat." jawab Heru dengan nada sopan. Adam semakin merasa dibuat keki.
"Jam bertamu di sini sampai pukul berapa sih kak?" tanya Adam dengan tatapan mengintimidasi. Ia yang tadinya ingin masuk ke rumah malah membatalkan niatnya karena Sarah masih betah berada di teras bersama pria itu. Dan itu yang tidak ia suka.
"Mas Rama tidak pernah menerima tamu mas Adam. Kalau ada urusan pekerjaan biasanya mereka janjian di pantai tadi atau di tempat lain. Mas Rama melarang saya menerima tamu kecuali keluarga dekat. Jadi tidak ada jam bertamu." jelas Heru sambil tersenyum maklum.
"Oh gitu ya? kalau aku minta sama kak Heru untuk menutup pagar dari luar sekarang juga, boleh?" tanya Adam dengan maksud meminta Heru pergi dari rumah itu sekarang juga.
"Ih maksud kamu apa sih Dam? ribet banget tauk." ujar Sarah kesal. Ia sudah mulai paham apa yang diinginkan oleh sepupunya itu.
"Oh iya mas, saya juga sudah mau pulang. Ini sudah cukup larut, permisi, Assalamualaikum." ujar Heru kemudian beranjak ke halaman depan setelah memastikan semua pagar terkunci dengan baik.
"Waalaikumussalam." jawab Sarah dan Adam kompak.
"Kak Heru! besok ceritanya kita lanjutkan ya." teriak Sarah pada Heru yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Insyaallah mbak Sarah." jawab Heru dengan suara yang cukup besar juga.
"Sarah masuk kamu!" titah Adam dengan wajah datar. Ia kali ini tidak nampak seperti Adam yang kekanakan.
"Ih, apaan sih gak sopan tauk sama kak Heru." gerutu Sarah kesal. Ia menghentakkan kakinya dan meninggalkan Adam yang sedang mengepalkan tangannya dengan kesal pula.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
__ADS_1
Adakah Vote???
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍