
Reno Sebastian akhirnya mengikuti instruksi mamanya pagi itu setelah mendapat izin dari papanya selaku direktur perusahaan tempatnya bekerja kalau hari itu ia bisa absen tidak masuk bekerja. Dengan semangat empat lima Ia didaulat oleh mamanya untuk mencetak seorang cucu lagi agar anggota keluarganya semakin bertambah banyak dan ramai. Tentu saja dengan senang hati ia melakukannya toh itu adalah hal yang sangat menyenangkan meskipun nantinya akan menguras tenaga dan energi.
Ia membuka pintu kamarnya pelan dan mendapati Miska masih tidur dengan nyenyaknya. Tanpa membangunkan istrinya ia langsung menggendongnya ala bridal style ke lantai atas tempat kamarnya dulu berada sewaktu masih lajang. Perempuan muda itu terbangun saat ia merasakan tubuhnya mendarat di sebuah kasur empuk dan lembut.
Ia mengerjapkan matanya berusaha mengumpulkan nyawanya dan mulai memperhatikan keadaan sekitarnya.
"Kak Reno, kita kok ada di sini? tadi aku kan tidur sama Andika." ujar Miska bingung.
"Apa aku mulai berjalan dalam tidur ya kak?" tanyanya lagi karena suaminya hanya menatapnya dengan pandangan tak biasa.
"Gak sayang, aku yang membawamu kemari." jawab Reno tanpa melepaskan pandangannya pada istrinya yang masih kelihatan bingung.
"Untuk apa kak, aku kan bisa jalan sendiri." jawab Miska lagi sembari mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kamar yang tampak rapi dan maskulin itu.
"Miska, lihat aku." ujar Reno pelan, ia meraih dagu istrinya itu agar tidak memandang ke arah lain tetapi memandangnya seorang saja.
Pandangan matanya mulai berkilat penuh gairah saat melihat istrinya duduk di hadapannya hanya menggunakan baju tidur yang cukup tipis tanpa dalaman. Bakpao kembar milik istrinya beserta tombol kecoklatan begitu menantang kelelakiannya.
"Kak," ucapannya tertahan karena mulutnya sudah dibungkam oleh bibir suaminya yang terasa hangat dan kenyal.
"Jangan bicara lagi," bisik Reno di sela-sela buaian dan belaian tangannya yang mulai bergerilya kemana-mana.
"Tapi, ..."
"Ssst. aku tidak mau kamu memikirkan yang lain."
"Andika kak, aaaah." Miska sudah tidak bisa melanjutkan kata-katanya yang ada hanya suara de sa han dan Rin ti hannya sudah memenuhi ruangan kamar itu. Suaminya membuatnya melayang ke nirwana tetapi dengan cepat ia sadarkan diri. Ia lepaskan pagutan suaminya sebelum ia terbakar terlalu jauh.
__ADS_1
"Bentar kak, aku mau minum dulu." ujarnya menjeda kegiatan fanas dan ganas diantara mereka berdua. Reno menjambak rambutnya frustasi karena ia sudah sangat terbakar dan siap menyemburkan lahar panas dari dirinya.
"Minum apa sih, sebentar kan bisa." ujar Reno kesal karena Miska melepaskan diri dan mulai mencari air dan meminum sesuatu yang Reno lihat seperti sebuah pil kecil. Ia segera berdiri dan menghampiri Miska yang sedang memunggunginya.
"Apa ini Mis?" tanya Reno penasaran. Ia merebut pil kecil itu dari tangan Miska istrinya. Ia merasa perempuan muda yang hampir saja ia bobol ini menyembunyikan sesuatu darinya. Tiba-tiba hasratnya menguap entah kemana. Energinya yang sudah menegang sempurna kembali dalam mode off.
"Ini pil kontrasepsi kak, supaya aku tidak hamil." jawab Miska santai dan tidak melihat wajah suaminya langsung berubah warna.
"Kenapa kamu minum pil ini Mis tanpa seizin ku!" bentak Reno dengan suara menggelar marah." Pantas saja kamu tidak hamil-hamil padahal mama sudah sangat menginginkan cucu lagi." ujar Reno sambil membuang sisa pil itu ke tempat sampah.
"Kak," Miska berusaha mengambil kembali pil itu. Tetapi Reno menarik tangannya keras.
"Kenapa Mis?"
"Maafkan aku kak, tapi aku belum bisa percaya sama kakak." ujar Miska pelan.
"Ini yang aku takutkan Kak," ujar Miska pelan. "Kakak belum sepenuhnya mencintaiku, dan aku takut mengandung anakmu lagi."
"Apa? tapi kenapa Miska?" tanya Reno frustasi. Ia meremas tengkuknya kesal. Istrinya tidak mempercayai perasaan yang sudah ikhlas ia berikan kepada ibu dari anaknya itu.
"Kakak masih mencintai Vita kan?" tanya Miska sengit. Ia sudah lama memendam ini dan kini saatnya lah ia keluarkan semuanya.
"Astagfirullah Miska, itu tidak benar sayang. Sekarang kamu lah cinta ku dan Andika, tidak ada yang lain baik itu Vita maupun wanita lainnya."
"Kakak bohong!" balas Miska dengan suara yang keras pula. Suasana yang tadinya panas syahdu kini berubah menjadi panas membara.
"Aku masih sering mendengar kakak menyebut nama Vita Maharani dalam tidur kakak hiks." lanjut Miska sembari menyusut air matanya.
__ADS_1
"Kakak tahu bagaimana perasaanku? sakit kak, sakit sekali. Lalu bagaimana kalau aku melahirkan anakmu lagi sedangkan hubungan kita tidak terlalu kuat. Apakah aku harus merasakan hal serupa seperti beberapa tahun yang lalu?"
Reno tak berkutik. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia ingin mengatakan kalau ia cinta pada Miska tetapi istrinya itu pasti tidak percaya karena sesuatu yang tidak ia sadari.
"Miska, plis. Aku minta maaf sayang, itu diluar kesadaranku. Sekarang kamulah cintaku, kamulah masa depanku. Tak ada wanita lain dalam hidupku selain dirimu bahkan Vita Maharani sekalipun tak akan bisa menggoyahkan cintaku padamu." ujarku tulus. aku bahkan berlutut dihadapannya.
"Hem..." jawab Miska dalam bentuk gumaman.
"Miska, plis." Reno meraih tangan istrinya itu dan mengecupnya berulang kali agar perempuan cantik itu luluh dan memaafkan khilafnya karena sering memimpikan istri orang lain.
"Kak, " Miska menuntun Reno berdiri dan mulai memeluknya erat. Ia mengusel-ngusel kepalanya di dada telanjang pria itu. Seketika Reno baru sadar kalau dia dan Miska sedang tidak berpakaian dengan benar selama mereka berdebat. Tali tank top yang dipakai oleh Miska sudah melorot kebawah akibat perbuatan tangan nakalnya tadi menampilkan bahunya yang putih mulus dan juga belahan bakpao kembarnya yang membusung semakin menggoda suaminya untuk memberikan gigitan-gigitan kecil di sana.
"Aaaaakh." Teriak Miska tertahan ketika suaminya betul-betul menggigitnya dengan gemas. Setelah memilin tombol coklat kecil ditengah bakpao putih itu dengan jari-jarinya sekarang ia membawanya ke mulutnya dan tanpa sadar menggigitnya karena gemas dan tak tahan dengan gerakan istrinya dibawah sana.
"Kak, sakit..." ujar Miska manja. "Habisnya kamu lezat banget sih, digigit pun tak akan habis. Dimakan aja yah?" goda Reno sembari mengedipkan sebelah matanya. Ia memulai aksinya mengeluarkan senjata pamungkasnya untuk mengabulkan keinginan mamanya.
"Kak Reno..." suara-suara aneh pun keluar dari mulut Miska yang semakin memenuhi udara panas di ruangan kamar itu. Air mata sedihnya berganti air mata bahagia, karena suaminya sudah memproklamirkan bahwa dirinyalah wanita satu-satunya dalam hidup Reno. Dan sekarang ia siap mengandung lagi anak-anak Reno yang banyak agar Hubungan mereka semakin lengket dan bahagia.
Nah kan, semua masalah bisa diselesaikan di ranjang, heheheh
----Bersambung---
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1