
Adam mengikuti langkah Sarah ke bagian depan rumah. Ia harus tahu apa saja yang akan dilakukan sepupu perempuannya itu.
"Ini pasti dari kak Heru, ayok Dam dicicipi." ujar Sarah setelah sampai di teras. Ia melihat dan mulai membuka beberapa wadah berisi makanan atau jajanan untuk mengganjal perut yang sedang kosong di pagi hari itu.
Adam hanya berdiri di ambang pintu, memperhatikan Sarah dengan cekatan mengeluarkan jenis-jenis jajanan yang biasa di jual oleh pedagang kue keliling setiap pagi.
"Ini namanya Putu ayu, sini deh ini enak lho." sekali lagi Sarah menawari Adam dengan mengacungkan kura-kura itu ke arah pria yang masih saja irit bicara itu.
Adam hanya memperhatikan Sarah mengunyah dan menikmati makanan itu dengan senyum samar di wajahnya. Ia sungguh tak pernah memperhatikan gadis itu dengan teliti seperti saat ini.
Dan baru kali ini ia merasa kalau sekarang ia benar-benar menyukai Sarah sebagai seorang laki-laki pada seorang perempuan.
"Kok cuma dilihatin, gak lapar ya? aku tuh bangun tidur lapar banget, semalam kan setelah sampai dari pantai kita semua langsung tidur dan tak sempat makan malam lagi."
"Cuma kamu kali yang langsung bisa tidur nyenyak." ujar Adam kemudian ikut duduk di depan Sarah.
"Ya iyalah, kita semua tidur kecuali kalau kamu ngelayapan ke dapur cari makanan, hihihi." Sarah mengunyah sembari tertawa. Adam cuma tersenyum samar.
Semalam karena tak bisa tidur gara-gara mikirin gadis di depannya ini. Akhirnya ia keluar kamar untuk berjalan-jalan saja untuk menenangkan hatinya dan berharap bisa tidur setelahnya tetapi ternyata kupingnya malah mendengar suara-suara lucknut dari dua kamar senior dan junior di tengah malam itu. Jiwa kelelakiannya seketika berdesir hebat dan ikut membayangkan apa yang mereka lakukan di dalam sana.
Uh andai ia sudah menikahi Sarah ia tentu tak akan semenderita itu semalaman
Makanya saat ia bertemu Sarah tadi di dapur ia berusaha menahan sesuatu dari dalam dirinya yang sempat membayangkan gadis itu semalam menemaninya memeluk malam.
"Dam, mikirin apa sih?" tanya Sarah karena melihat pria muda itu hanya diam saja. Adam tersentak lalu tersenyum.
"Ah, tidak. Aku semalam tidak bisa tidur." jawab Adam sekenanya.
"Lagi mikirin aku ya?" tanya Sarah dengan mata dibuat berkedip-kedip lucu di depan Adam. Dan itu membuat hasrat Adam kembali naik ke permukaan. Hasrat yang semalam ia tahan dengan sangat tersiksa.
"Ih, mana ada, aku kelaparan jadi gak bisa tidur, aku cari makanan di dapur tapi tidak ada. Kamu kan anak gadis kok gak mau masak sih, kasihan nanti suamimu kalau kamu cuma suka tidur dan jalan aja."
"Latihan jadi istri yang baik Sarah, supaya suamimu nanti puas." jawab Adam dengan wajah dibuat kesal. Kesal karena ingin melakukan sesuatu pada gadis di depannya tetapi ia masih sangat sadar untuk tidak bisa macam-macam atau dua pria pemilik Sarah akan mengusirnya sekarang juga.
__ADS_1
"Aku tak perlu belajar masak, aku bisa beli makanan di luar sana. Atau aku menikah sama kak Heru aja, ia paling jago masak dan mengurus orang lain, hem." jawab Sarah sembari mengunyah lagi potongan kue yang kedua. Adam begitu mendidih mendengar jawaban Sarah barusan. Ia sekarang benar-benar ingin membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya sekarang. Tetapi tiba-tiba Heru sudah berada di tengah-tengah mereka.
"Gimana mbak Sarah, kuenya enak tidak?"
"Hei kak Heru, ini enak banget. Dapatnya di mana sih?" tanya Sarah dengan wajah gembira. Ia mengabaikan wajah Adam yang sudah nampak kesal.
"Dari langganan kue di toko depan sana. Syukurlah kalau Mbak Sarah suka. Kalau mas Adam, udah coba belum?" Heru memandang wajah Adam yang nampak ditekuk tidak nyaman dipandang padahal ia sangat tampan kalau bisa berlaku sopan dan dewasa.
Sarah langsung menendang kaki pria itu dibawah meja, ia tak suka kalau Adam tidak menyambut Heru dengan baik.
"Eh iya kak Heru, kuenya enak. Ini aku mau nambah lagi." ujar Adam akhirnya dan mulai memakan kue yang ada di atas meja.
"Terima kasih mas Adam. Silahkan dilanjutkan ya, saya mau kebelakang mau memetik sayur di kebun." ujar Heru berpamitan.
"Tunggu kak, aku ikut. Aku juga mau nyoba petik-petik sayur, supaya bisa jadi calon istri yang baik." ujar Sarah dengan suara sengaja di tekan untuk menyindir kata-kata Adam tadi.
"Ayoklah kalau begitu. Mari mas Adam." Heru langsung berdiri dan diikuti oleh Sarah dibelakangnya. Adam meremas sisa kue itu di tangannya. Sarah benar-benar menguji kesabarannya.
Akhirnya ia melangkah masuk ke dalam rumah dan berniat untuk mandi. Tubuh dan hatinya cukup gerah pagi itu. Sesuai janjinya semalam pada dirinya sendiri, ia akan belajar untuk lebih dewasa agar Sarah lebih tertarik lagi padanya.
🍁
Tok
Tok
"Kayaknya ada tamu di luar." ujar Vita saat mendengar ketukan dari arah pintu. Setelah makan siang menikmati sayur bening dan juga ikan kering sambel terasi. Mereka semua bersantai di ruang keluarga sambil mengobrol sana sini.
"Biar aku yang lihat tante." ujar Adam dan langsung melangkah menuju ke arah pintu depan.
"Kak Sovi? Kak Dika?" sapa Adam saat membuka pintu. Matanya sungguh tak percaya akan apa yang ia lihat.
"Mama sama Papa ada di dalam Dam?" tanya Sovia dengan wajah tak sabar.
__ADS_1
"Iya kak, mari silahkan masuk. Mereka ada di ruang keluarga." ujar Adam dan melangkah masuk mendahului sepasang suami istri beserta putra kecil mereka berdua.
"Mama!" Ujar Sovia dan langsung menghambur ke pelukan mamanya.
"Sovi, kamu juga datang ke sini sayang, putramu baik-baik saja?" tanya Vita setelah pelukan dari putri pertamanya terlepas.
"Kalian semua tega banget sih sama kami. Kalian pada kesini dan tidak bilang-bilang." ujar Sovia sembari menyusut air matanya. Tubuhnya ia putar untuk mencari Rama dan Rara yang sedang duduk berdampingan di sebuah sofa.
"Kak Rama Kak Rara, maafin Sovia ya." ujar Sovia sembari meraih tangan kakaknya dan menciumnya. Andika juga mengikuti apa yang dilakukan oleh istrinya.
"Maafkan aku kak Ram." ujar Andika sembari menjabat tangan Rama.
"Lho, salah kalian apa? datang-datang langsung pada minta maaf, kami yang harusnya minta maaf karena tidak sempat menjemput kalian di Bandara." ujar Rama dengan senyum di wajahnya.
Ia sudah lama melupakan perseteruannya dengan adik iparnya ini. Wajar kalau Andika marah pada saat itu. Ia juga pasti akan melakukan yang sama jika istrinya berada pada situasi seperti itu.
"Kak Rara udah mau punya dedek, Alhamdulillah. Ternyata udara di sini cocok untuk kalian berdua." ujar Sovia saat melihat perut Rara sudah membuncit karena sedang hamil. Semua orang tertawa dan bahagia dibuatnya.
'Kalau kalian semua kesini lalu yang jaga rumah siapa?" tanya Gala dengan wajah pura-pura kusut.
"Hahaha Papa, kayak gak pernah ninggalin rumah aja. Sekali-kali Pa kita cari suasana baru, iyyakan Ma?" timpal Sarah yang langsung diacungi jempol sama mamanya.
"Sudah tiga hari lho Papa tidak masuk kerja. Aku akan membawa mamamu pulang besok." ujar Gala tak mau dibantah.
"Ih papa, kami kan baru datang." jawab Sovia cemberut. Gala tidak mau melihat wajah cemberut semua orang. Baginya sudah cukup waktu untuk bersantai. Banyak tanggung jawab yang harus mereka kerjakan.
"Dan kamu Ram, Papa menunggumu di Perusahaan, 2 atau 3 hari ke depan." tegas Gala yang hanya bisa dijawab iya oleh Rama.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1