Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 180 Menikah Untuk Menyempurnakan Ibadah


__ADS_3

Az-Zahra Aisyah menjerit tak percaya ketika Rama menghubunginya agar segera bersiap karena sekitar 30 menit lagi keluarga Raditya akan datang melamarnya.


"Ma, Aaaaaakh!" teriaknya kencang sembari berlari keluar dari kamarnya.


"Astagfirullah. Nyebut nak." teriak Dyah tak kalah panik dengan putri semata wayangnya itu.


"Ma, siap-siap ma." ujar Rara dengan nafas memburu. Ia sampai kesulitan menarik nafas saking kaget dan paniknya.


"Siap-siap apa?" tanya mamanya penasaran. Ia menarik tangan putrinya itu untuk duduk di sofa dan bicara dengan tenang.


"Tunggu Ma, aku ke toilet dulu." ujar Rara kemudian lari ke toilet karena kebelet. Tiba-tiba saja perutnya sakit karena tegang. Setelah sekitar 10 menit ia keluar dari Toilet dengan tampang lega.


"Alhamdulillah. Beres." uangnya sembari mengelus perutnya dengan tangan kanannya.


"Beres apa lagi nih? tadi disuruh siap-siap sekarang sudah beres maksudnya gimana sih?" tanya Dyah semakin bingung.


"Yang beres itu urusan toilet Ma." jawab Rara kemudian duduk di samping mamanya.


"Mama tahu Keluarga Raditya?" tanya Rara dengan suara sudah mulai tenang.


"Ya kenal lah, orang kaya dan terkenal. Pemilik TGR group kan?" ujar mamanya memastikan.


"Iya, Ma."


"Ada apa dengan mereka?" tanya Dyah lagi.


"Mau kesini melamar Rara Ma." jawab Rara dengan pandangan mata serius ke arah mamanya.


'Hah? kamu tidak sedang ngeprank mama kan?" tanya Dyah lagi tidak percaya.wajahnya menampakkan kaget yang luar biasa.


"Aku serius Ma, sebaiknya mama siap-siap dan papa juga, eh granny juga, okey?" ujar Rara kemudian berlari ke kamarnya untuk mandi.

__ADS_1


"Semoga anak itu tidak sedang stress karena tidak jadi menikah sama orang kaya seperti Reksadana. Masak sekarang ngayal jadi keluarga Raditya, ckckck." ujarnya dengan perasaan campur aduk. antara serius dan tidak dengan ucapan putrinya. Tetapi ia akhirnya melangkah juga ke kamarnya untuk meminta sang suami bersiap melakoni acara lamaran dalam khayalan Rara.


Tok


Tok


Tok


"Ada apa Bi Jum, kok ngetuk pintunya kayak mau melubangi pintu aja, " ujar Dyah sedikit kesal karena pintu diketuk begitu keras dan berulang-ulang oleh asisten rumah tangganya.


"Maaf, nyonya, ada tamu di luar." jawab Bi Jum sambil menunduk.


"Tamu darimana? dan apa sudah kamu suruh masuk?":


"Sudah nyonya. Tapi mereka bawa banyak seserahan yang banyak Nya, sampai ruang tamu sudah sangat penuh."


"Seserahan? Aaaaaaaa!"


"Ada apa sayang?" tanya Ilhamsyah, kaget dengan reaksi istrinya.


"Ayo Pa, kita keluar. Kita sambut mereka dengan baik." ujar Dyah kemudian menyeret tangan suaminya untuk segera keluar dari kamar dan berjalan menemui keluarga Raditya.


"Selamat siang tuan-tuan dan nyonya, maafkan kami karena tidak menyambut kalian dengan layak." ujar Ilhamsyah tak enak hati. Tamu-tamu yang datang adalah orang-orang yang terkenal di dunia usaha dan juga sangat terhormat, sedangkan mereka hanya menyambut dengan sangat sederhana.


"Tidak apa, ini karena kami memberi kabar hanya beberapa menit yang lalu. Kami yang harusnya minta maaf sama bapak dan ibu." ujar Vita berusaha menghangatkan suasana yang begitu sangat kaku. Karena Gala dan Deka hanya diam saja. Mereka sepertinya sibuk memikirkan bagaimana memulai pembicaraan resmi ini.


"Ehem," Gala berdehem setelah mendapat cubitan kecil di pahanya dari Istrinya tercinta. Ia masih belum percaya dinobatkan oleh putranya sendiri melamar seorang gadis untuk jadi menantunya padahal baru kemarin rasanya ia melamar Vita, waktu betul-betul begitu cepat berlalu.


"Begini ya pak, ibu tanpa mengurangi rasa hormat kami. Putri anda yang bernama Az-Zahra Aisyah ingin kami pinang menjadi istri dari putra kami Rama Putra Tama." ujar Gala dengan suara beratnya. Setelah itu ia menarik nafas lega karena berhasil juga mengutarakan niatnya itu.


"Terima kasih atas maksud baik tuan dan nyonya Raditya. Kami sungguh sangat senang dengan niat baik ini. Tetapi demi kenyamanan bersama kami ingin menanyakan kesediaan putri kami terlebih dahulu. Diterima atau Tidaknya. Mohon maaf." jawab Ilhamsyah dengan senyum bahagia di wajahnya. Ia segera meminta istrinya untuk menanyakan kepada Rara putrinya apakah gadis itu menerima lamaran dari seorang bernama Rama Putra Tama, yang ia sendiri belum pernah bertemu. Dyah kemudian pamit dari ruangan itu kemudian menuju kamar putrinya.

__ADS_1


"Ra? kamu mau terima gak lamaran mereka?" tanya Dyah was-was, pasalnya ia tak pernah mendengar putrinya itu menjalin hubungan dengan siapapun. Sebelum dan sesudah pertunangan dengan Alif cucu Reksadana itu batal.


"Iya Ma, Rara terima. Karena pria itu pemaksa Ma." jawab Rara cengengesan. Dyah langsung menatap putrinya serius.


"Maksud kamu? ini terpaksa? wah tidak benar ini." ujar Dyah meradang. Ia langsung mengangkat roknya dan bersiap keluar dari kamar dan menolak pinangan keluarga terhormat itu. Rara langsung melompat mendahului mamanya yang sudah ada di depan pintu.


"Tunggu dulu dong Ma, jangan ngamuk begitu, nanti keluarga kita yang malu." ujar Rara berusaha menenangkan. Meskipun ia belum mengakui kalau sudah ada rasa di hatinya untuk Rama Putra, tetapi ia ingin mencoba membuka hatinya agar kenangan buruk dengan seorang pria bajingan seperti Alif bisa terlupakan.


"Mama sayang. Sampaikan pada mereka aku terima lamarannya Rama putra Tama. Itu saja Ma." ujar Rara berusaha tersenyum agar mamanya tidak menangkap sesuatu yang janggal.


"Pernikahan itu sakral nak, harus diniatkan karena Allah supaya bernilai pahala. Ngerti kamu?" ujar Dyah tanpa mengalihkan tatapannya pada putrinya. Ia ingin memastikan putri semata wayangnya itu menikah karena kemauannya sendiri dan juga karena ingin menyempurnakan ibadahnya. Dalam hati Rara mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, kemudian menyentuh tangan mamanya,


"Insyaallah Rara siap Ma karena Allah." ujar Rara mantap.


"Nah gitu dong, supaya hati mama dan papa juga lega dan senang. Ingat ya. Kami mendukung apa saja keputusanmu sayang, yang penting kamu bahagia." Dyah memeluk tubuh putrinya dan mencium keningnya lembut.


"Nah sekarang bersiaplah, mereka pasti ingin melihat calon menantunya yang sangat cantik ini." ujar Dyah lagi yang kemudian di balas senyum oleh gadis itu.


"Aku tinggal ya, sebentar lagi pasti calon mama mertuamu akan mengunjungimu di sini. Dandanlah yang cantik." Dyah kemudian meninggalkan gadis itu lalu melangkah keluar ke ruang tamu yang sedang menunggu jawaban darinya.


"Alhamdulillah, tuan dan nyonya Raditya, putri kami Az-Zahra Aisyah menerima pinangan putra kalian."


"Alhamdulillah ya Robbal Alamiin." jawab semua orang kompak.


Akhirnya setelah acara lamaran selesai, mereka pun menikmati hidangan yang sangat sederhana dari tuan rumah yang tidak memiliki persiapan yang sempurna menyambut tamu istimewa itu. Sementara para laki-laki mengobrol untuk saling mengenal dan juga menentukan waktu akad dan resepsi, Vita dan Risma meminta izin untuk melihat calon menantu mereka di kamarnya. Mereka berdua pun diantar ke kamar sang gadis yang sebentar lagi akan berubah status menjadi istri dari Rama.


"Jadi kamu orangnya?" tanya Vita dengan ekspresi tak terbaca saat melihat sosok Rara sang calon menantu.


"Eh, iya Tante." jawab Rara cengengesan. Seketika Vita mengingat kejadian pertama kalinya ia melihat gadis ini di kamar Sovia sedang tertidur dengan gaya tidur yang sangat tidak estetik. Tiba-tiba ia merinding. Bagaimana mungkin gadis ini bisa membuat hati Rama jadi gila. Hem Cinta, selalu merupakan misteri bagi semua orang.


---Bersambung--

__ADS_1


Mana nih dukungannya untuk othor, Like dan komentar ya gaess agar aku semangat updatenya...


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2