Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 181 Menuju Halal Bersamamu


__ADS_3

"Ih kak Rama jahat, masak mau nikahin sahabat aku gak bilang-bilang sih?" gerutu Sovia saat tahu rombongan keluarga Raditya sudah berangkat siang itu juga ke rumahnya Az-Zahra Aisyah sang sahabat.


"Kenapa aku harus lapor sama kamu, emangnya kamu calon penghulu?" tanya Rama sembari tersenyum samar.


"Ya bukan penghulu sih tapi gara-gara aku kan Kak Rama ketemu sama Rara." jawab Sovia merasa keki.


"Ah, jauh sebelum itu aku udah ketemu sahabatmu itu." jawab Rama lagi dan membuat Sovia jadi kaget tidak percaya.


"Nih buktinya..." ujar Rama tak mau kalah. Ia memperlihatkan sebuah foto lama sewaktu pernikahan om Pandu dan Tante Hany berlangsung, dimana Rara kecil sudah berani menyusup masuk ke foto rombongan keluarga mereka.


"Hahahaha, Rara, Astaga dasar gesrek itu anak. Dari dulu sampai sekarang selalu bikin rusuh." Sovia tak berhenti ketawa menahan lucu dihatinya.


"Hati-hati Kak malam pertamanya kena sleding hahahaha." lanjut Sovia lagi sembari tertawa, air matanya sampai keluar karena lucunya. Rama jadi bengong dibuatnya.


"Emangnya dia punya kebiasaan buruk apa, Sov?" tanya Rama penasaran.


"Nanti aja, saat kakak udah nikah sama dia. Jangan lupa kaki dan tangannya di ikat. Hahahaha." lanjut Sovia dengan tawa tak henti.


Pletak!


"Aww kak, kok aku disentil sih." Sovia menyentuh keningnya yang baru kena sentil dari Rama.


"Habisnya kamu ngomong kayak gitu sama calon kakak iparmu, kualat lho." Rama mendengus tak rela Rara si kucing kriwilnya digibahin sama adiknya sendiri.


"Ih kakak lebih sayang Rara daripada aku, sebel deh." gerutu Sovia dengan bibir manyun.


"Ya iyalah so pasti. Ngapain sayang kamu, lah situ udah sayang-sayangan sekarang sama Andika Hem." wajah Sovia langsung berubah warna, ketahuan dia sekarang.


"Ih, kakak. Tahu darimana sih?" ujar Sovia dengan senyum malu.


"Andhika yang ngaku." jawab Rama santai sambil membuka handphonenya menunggu kabar dari mamanya apakah lamarannya lancar atau tidak.

__ADS_1


"Kakak mukulin Andika ya malam itu?" selidik Sovia karena mengingat cerita Adam yang sempat melihat Andika pergi malam itu dari rumah Raditya.


"Kalau Iyya, kenapa?" jawab Rama sembari memandang wajah adiknya.


"Mukulnya pakai tangan kan, eh mukulnya gak pakai urat kan?" tanya Sovia dengan wajah khawatir. Ia tak bisa membayangkan malam itu pasti saat yang paling menyakitkan bagi Andika sang kekasih hati.


"Aku mukul pakai ini." jawab Rama sambil mengangkat tangannya yang besar.


"Aku suruh lawan tapi ia tak mau. Ya sudah kubuat dia jadi samsak." wajah Sovia langsung mengernyit nyeri. Meskipun kejadian itu sudah lama terjadi tetapi hatinya merasa kasihan juga.


"Kalau gak dikasih gitu ia mau saja ditipu sama cewek bernama Elsa itu. Lain kali kalau ia berani mempermainkanmu aku pastikan ia bisa lebih parah dari itu, ngerti?" jelas Rama panjang lebar. Ia sangat sayang pada adiknya itu makanya ia lakukan itu.


"Udah ah, aku mau ke kamar bayangin calon istriku saja." lanjut Rama kemudian meninggalkan Sovia yang mulai sadar begitu sayangnya kakaknya pada dirinya itu.


"Makasih kak," gumamnya sembari memandang punggung lebar Rama yang melangkah semakin jauh dari penglihatannya.


🍁


Dyah dan Ilhamsyah memandang Rama begitu takjub. Mereka berdua untuk pertama kalinya bertemu dengan calon menantunya yang sangat tampan, keren, dan juga dari keturunan baik-baik dan pastinya kaya raya. Ya, Rama sore ini mengunjungi rumah calon mertuanya dengan dalih mau mengajak Rara memilih cincin di sebuah toko perhiasan langganan keluarganya.


"Iya, Tante." jawab Rama sopan tanpa melupakan senyum manisnya. Maklum calon menantu harus mengambil hati calon mertua. Kening Dyah mengernyit mencoba mengingat kembali pria muda ini.


"Eh, kamu kalau tidak salah pernah datang kemari kan? yang katanya mau klaim asuransi itu." ujar Dyah sambil terus mengingat-ingat.


" Eh, iya. Tante benar sekali. Aku orangnya."


"Gimana klaimnya, berhasil?" kali ini Ilhamsyah yang mengambil alih pembicaraan. Dasar dia adalah bos di perusahaan asuransi, sedikit dengar kata klaim saja. Signalnya langsung bagus.


"Iya, Om. Berhasil sekali." jawab Rama dengan rasa lucu dihatinya. Pasalnya gara-gara klaim asuransi itu ia bisa mendapatkan si gadis kriwil pujaan hatinya.


"Baguslah. Rara memang harus bekerja profesional. Jangan sampai merugikan konsumen." lanjutnya dengan gaya formal.

__ADS_1


"Jadi benar kamu suka sama putri kami?" tanya Ilhamsyah dengan wajah serius. Rama jadi merasa seperti sedang ikut tes wawancara kerja.


"Iya om. Sangat suka." jawab Rama.


"Bagian mana yang kamu suka? dalam agama kita mengajarkan, menikahi perempuan itu karena tiga hal, kekayaannya, kecantikannya, atau karena akhlak atau Budi baiknya."


Deg


Rama benar-benar sedang dalam tes wawancara level 5. Dengan percaya diri ia menjawab. "Rara memiliki semuanya om."


Rara yang sedang mengintip dari balik dinding langsung merasakan hatinya berbunga-bunga. Ia tak menyangka Rama bisa menyenangkan hatinya seperti itu. Padahal kalau bicara akhlak, Ia pasti berada di nomor terakhir. Kalau kecantikan sih ya bisalah dibandingkan dengan Maudy Ayunda.


"Terimakasih nak. Jawabanmu membuat kami senang. Meskipun begitu kami belum begitu percaya." jawab Ilhamsyah dengan raut wajah masih di level serius.


"Mas, ini kayak nak Rama sedang ikut test uji nyali deh. Pertanyaanmya kok horor banget sih?" tegur Dyah karena merasa tak enak hati dengan calon menantu yang sudah lama ia impikan itu. Tampan dan kaya raya.


"Udah ah, silahkan kalian cari cincinnya nanti keburu malam." lanjut Dyah kemudian beranjak ke dalam mencari Rara.


"Astagfirullah!!!" teriak Dyah kaget karena ternyata putrinya itu ada dibalik dinding dan sudah lama mengintip pembicaraan mereka bertiga.


"Kamu udah lama di sini?" tanya mamanya dengan pandangan curiga. Rara menggaruk rambut kriwilnya yang tak gatal.


"Iya ma." jawabnya sembari nyengir.


"Ayo sana buruan. Jangan sampai kemalaman pulangnya. Belum halal jalan lama-lama." Dyah mendorong putrinya itu keluar menemui calon suaminya yang masih tampak tampan meskipun baru pulang kerja..


"Kami berangkat dulu om, Tante." pamit Rama pada kedua orang tua Az-Zahra Aisyah.


Di perjalanan menuju toko perhiasan, Rara dan Rama hanya diam-diaman. Hanya hati mereka yang saling bicara. Memaknai setiap debaran di dada. Mencoba merasakan begitu indahnya rasa yang sedang menyeruak dalam hati mereka. Menuju halal.


---Bersambung--

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2