
"Temukan gadis itu secepatnya!" teriak seorang pria dari ujung telepon. Suaranya yang begitu keras bagaikan petir menyambar kuping sang bodyguard bertubuh tinggi besar itu. Nyeri!!!
"Baik tuan." jawabnya dengan suara rendah. Ia menyimpan kembali handphonenya ke dalam saku jasnya kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah dari balik kacamata hitamnya. Nafasnya ngos-ngosan karena lelah memburu gadis kriwil itu.
"Gadis kriwil itu merepotkan juga." ujarnya pelan. Ia yang ditugaskan oleh Tuan Reksadana untuk selalu mengikuti keseharian gadis kriwil itu yang akan ia jadikan sebagai menantu keluarganya.
"Sekarang aku harus kemana? gadis itu tiba-tiba menghilang begitu saja hanya karena aku kebelet ke toilet, hem."
"Apa aku laporkan saja kalau dia sedang lari sama pacarnya saja ya?" pikir sang bodyguard dengan dahi berkerut.
Ahai! sebuah lampu pijar sedang menyala di kepalanya.
"Yah gitu aja, supaya tuan Reksadana menghentikan usahanya pada gadis itu."
"Terkadang aku harus memuji otakku yang cemerlang ini." ujarnya menyeringai sambil menepuk dadanya bangga
🍁🍁🍁🍁🍁
"Oh tidak, Rara sayang kenapa kamu melakukan ini sama mama?" raung seorang perempuan setengah muda berumur 40 tahun itu sembari menyeka air mata yang mengalir deras di pelupuk matanya.
"Tenanglah sayang, papa belum percaya kalau Rara melakukan ini pada kita."
"Tapi Pa, tuan Reksadana tadi menelpon dengan marah-marah karena Rara tidak ditemukan di manapun huaaa" ujar Dyah sang mama kemudian menyusut hidungnya dengan tissue.
"Ini baru sepuluh jam sayang, Rara pasti kembali. Kalau kita lapor polisi pun mereka tidak akan menindaklanjuti laporan kita sebelum cukup dua puluh empat jam."
"Aaaa Rara cepat pulang sayang, " teriak Dyah histeris kembali. Ia tak menyangka putri kesayangannya akan berbuat seperti itu.
"Ini pasti karena mamamu pa, yang selalu memaksa Rara menerima perjodohan itu. Akhirnya kan ia malah kabur dengan pria yang tidak jelas. Pokoknya aku tidak rela...Aaaa putriku itu cuma Rara satu-satunya, temukan dia Pa dan kalaupun harus menikah muda ya harus sama pria baik, tampan, dan kaya raya." Dyah terus mengoceh tanpa henti hingga suaminya meninggalkannya sendiri dan mencoba menghubungi putrinya itu. Tetapi sambungan telepon itu tidak dijawab oleh Rara yang ternyata sedang tidur nyenyak di atas tempat tidur empuk di sebuah kamar mewah.
"Kak, itu si Rara tidurnya gitu amat yak?" ujar Sarah bergidik melihat gaya tidur gadis itu bagai gasing. Berputar tak jelas kaki diatas dan kepala menggantung di sisi ranjang hampir menyentuh lantai yang beralaskan karpet berbulu domba itu.
flashback on
"Itu Rara kan?" tanya Sarah sembari menunjuk seorang gadis kriwil yang sedang lari dikejar oleh pria bodyguard tadi.
"Eh, iya. Pak Min, berhenti pak!" Teriak Sovia saat pandangannya tertumbuk pada gadis kriwil yang ternyata adalah benar-benar Rara sedang lari dengan sangat cepat hingga rambutnya yang kriwil itu ikut melompat dan melambai kaku.
"Kejar gadis itu pak!" seru Sovia lagi yang membuat Pak Min sang sopir jadi bingung.
"Ini mau berhenti atau lanjut nih non."
"Berhenti!"
__ADS_1
"Kejar!"
Jawab Sovia dan Sarah bersamaan. Pak Min semakin bingung dibuatnya. Akhirnya dengan instingnya yang baik ia melajukan mobil itu memburu seorang gadis yang sedang lari cukup kencang melompati pagar-pagar dari tanaman yang ada dipinggir trotoar.
"Rara! ayo naik ke sini." teriak Sovia kencang ketika mobil itu menyalip langkah gadis itu.
Ciiit
Rara terbengong sesaat kemudian tanpa pikir panjang naik ke mobil itu dengan nafas memburu karena lelah.
"Hey, kamu lagi latihan lari maraton ya?" tanya Sovia dengan menahan senyumnya.
"Seperti yang kamu lihat." jawab Rara ngos-ngosan.
"Untung aku sudah makan banyak tadi, jadinya kuat lari." lanjutnya lagi kemudian menyandarkan punggungnya ke jok mobil di samping Sovia dan Sarah.
"Siapa sih orang itu?" tanya Sarah penasaran.
"Orang gila!" jawab Rara singkat sembari menutup matanya.
"Mungkin lagi cari teman kali xixixi." ujar Sarah cekikikan.
"Hem, bisa jadi." jawab Rara santai.
Bulu matanya yang lentik dan kulit pipi yang putih glowing serta bibir yang agak tebal merekah. Hidungnya imut tapi mancung.
"Hey jangan lihat aku begitu nanti kamu jatuh cinta!" seru Rara yang membuat Sovia langsung tersentak kaget.
"Hey kamu punya banyak mata ya?" tanya Sovia menahan senyum karena ketahuan.
"Ya iyalah, aku kan gadis super." jawab Rara masih dalam keadaan merem.
"Ah sudah! kita mau kemana nih. Biar pak Min tidak bingung." timpal Sarah jengah dengan perdebatan dua orang ini.
"Aku gak mau pulang nanti dikawinin sama itu orang." ujar Rara yang langsung membuat Sovia dan Sarah melotot kaget.
"Oh jadi yang mengejarmu tadi mau ngajak kawin?
kalau gitu Pak Min kita Kantor KUA sekarang!" ujar Sovia bercanda tetapi ternyata diikuti oleh sang Sopir. Mobil langsung memutar arah dari jalanan yang mereka lalui tadi menuju kantor KUA di sekitar daerah itu.
"Alhamdulillah untung kantornya tutup, aaawawaa." Sovia tiba-tiba kena piting gadis kriwil bar-bar itu. Teriakannya membuat Pak Min menghentikan mobilnya cepat. Nona mudanya sepertinya kena masalah di belakang.
"Rara, stop hahahahah!" Sovia tertawa kegelian. Rara menggelitiknya tanpa ampun karena kesal dibawa ke Kantor Urusan Agama.
__ADS_1
"Aku bilang gak mau kawin kenapa kamu malah bawa aku kesini Sovi!" ujar Rara gemas.
"Sorry becanda, lagian mana ada yang mau ngurusin kamu di dalam sana. Lha pengantin pria nya aja kagak ada. hahaha." sekarang Sarah yang tertawa mengejek.
"Awas ya kalian, aku kutuk kalian berdua jadi saudara iparku!" ujar Rara dengan tersenyum penuh arti.
"Eh, gak mau." ujar Sarah cepat. Ia tidak rela kakaknya yang super ganteng dan baik hati itu menjadi suami dari gadis urakan ini.
"Eh, harus mau siapa suruh ngerjain aku kayak gini."
"Ih, Kak Rama mana mau sama gadis jadi-jadian kayak kamu." jawab Sovia sambil menjitak kepala Rara. Ia ingin membalas gelitikan dari gadis itu tadi.
"Kalau gitu angkat aku jadi saudaramu saja, biar aku bisa bebas dari perjodohan yang diatur oleh granny."
"Aku gak mau menikah sekarang, aku masih punya banyak mimpi." ujar Rara sendu dan pelan. Sifat bar-barnya menguap entah kemana.
"Alah, punya mimpi juga neng?" ujar Sovia menahan senyumnya, merasa lucu kalau Rara jadi makhluk halus kayak gitu.
"Iya dong, aku mau jadi penulis terkenal nantinya."
"Ah, kirain mau jadi selebritis."
"Eh, jadi penulis juga itu harus total."
Akhirnya mereka berdebat tidak jelas sampai tidak sadar sudah sampai di kediaman Raditya.
"Aku numpang bobok dulu ya baru aku pulang. Jangan bangunkan aku kalau tidak ada yang penting." ujar Rara kemudian merebahkan dirinya yang sangat lelah karena sibuk kucing-kucingan dengan Bodyguard Reksadana.
flashback off
"Kak, kasihan Rara ya, masak seumur itu harus dipaksa menikah sih." ujar Sarah kepada kakaknya.
"Saat bangun nanti kita tanyakan yang sebenarnya. Kita turun dulu bantuin mama masak."
"Okey kak!"
---Bersambung---
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang banyak supaya othor tetap semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1