
Acara makan siang itu berlangsung sangat membahagiakan. Ada banyak kenangan masa kecil dari semua putra dan putri Gala Putra Raditya dan juga Vita Maharani kembali menyeruak ke udara. Ada canda maupun ada haru semuanya bersatu dalam bingkai bahagia dan syukur tak terhingga.
"Terimakasih banyak karena kalian mau menjadi anak-anak Papa dan Mama," ujar Gala dengan mata berkaca-kaca karena bahagia. Ia memandang satu-satu anak-anak dan juga cucu-cucunya.
"Dan kamu Dek, ucapan saja tak akan cukup untukmu yang selama ini mendampingiku sampai sejauh ini," Gala menepuk bahu Deka yang juga nampak berkaca-kaca. Mereka berdua saling berpelukan.
"Sejak kapan kamu lebai begini, Pak Presdir." ujar Deka yang langsung disambut tawa haru semua anggota keluarga yang hadir di sana.
"Mamaa lihat kupu-kupunya banyak sekali," teriak Qiya yang membuat semua pasang mata kembali memandang taman yang dipenuhi oleh hamparan bunga-bunga yang sangat cantik siang itu.
"Indah,cantik, dan, menenangkan," gumam Sarah sembari menghirup udara segar di tempat itu, ia merentangkan tangannya menikmati keindahan itu.
"Iya Sar, tempat ini indah sekali. Kita bisa membuat banyak mimpi di sini. Cocok dengan namanya." ujar Rara yang juga melakukan aksi yang sama seperti yang Sarah lakukan.
"Aku pasti akan sering-sering ke tempat ini bersama anak-anak, biar mereka bisa bermain dengan bebas tanpa gadget di tangannya." lanjut Sovia sembari mengarahkan pandangannya berkeliling.
"Yah, setiap weekend kita akan kesini untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita, mimpi untuk selalu bahagia bersama keluarga," Rama merengkuh pinggang sang istri dan mengecup lembut pipinya.
Adam tanpa sadar melihat Adi dan Eci juga berada di tempat itu,
"Sar, mau ikut aku ke sana gak?" tanya Adam pada sang istri yang masih terpana dengan keindahan taman itu.
"Kemana Dam, keluarga kita pada ngumpul di sini lho,"
"Bentar aja, mau negur Eci yang ada juga di tempat ini." wajah cantik Sarah langsung berubah masam, ia tak nyaman jika nama Eci Karin masih disebut dibibir sang suami.
"Eh, ayok. Memperbaiki hubungan dengan orang lain itu bagus lho," Adam menarik tangan istrinya itu meskipun wajahnya nampak tidak ikhlas.
"Ma, Pa, kami negur teman dulu ya di pojok sana." ujar Adam bermaksud meminta izin.
"Iya, jangan lama-lama ya, kita bentar lagi pulang nak," jawab Risma sembari tersenyum.
"Iya Ma," jawab Adam dan segera membawa Sarah ke sebuah gazebo di pojok taman itu.
"Hai Adi, Eci," sapa Adam dengan senyum lebar di wajahnya. Ia menyalami Adi dan hanya menganggukkan kepalanya pada Eci saja.
"Hai Dam, Sarah, pengantin baru lagi makan siang bersama ya," ujar Adi berbasa-basi. Ia sudah lama melihat keluarga besar Raditya sejak mereka sampai di tempat itu.
"Iya Di, kami hanya ngumpul-ngumpul biasa, refreshing gitu," jawab Adam dan melirik sedikit ke arah Eci yang sedari tadi diam saja begitupun dengan Sarah sang istri.
"Kamu apa kabar Di?" tanya Adam lagi karena atmosfer di tempat itu ia rasakan masih sangat tidak menyenangkan.
"Alhamdulillah baik Dam, pengantin baru juga pasti lebih baik, hehe."
"Ah iya, kami baik, kalau begitu lanjutkan acara kalian, kami permisi, keluarga di sana sudah menunggu." pamit Adam dan menarik tangan istrinya untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi seketika langkah mereka terhenti karena ucapan Adi Nugroho dari belakang punggung mereka.
"Doakan kami ya, kami juga akan segera menyusul kalian," Adam berbalik dan menatap sahabatnya itu bergantian dengan Eci.
"Wah selamat, kami bahagia sekali mendengarnya. Doa dan restu kami pasti untuk kalian berdua. Sekarang nikmati tempat ini aku yang traktir." ujar Adam dengan wajah sumringah bahagia. Ia bersyukur kedua sahabatnya itu sudah membuka hatinya dan insyaallah sudah bisa melupakan perasaan mereka berdua pada dirinya dan juga Istrinya.
"Aku bisa bayar sendiri Dam," ujar Eci sarkas. Ia mendelik ke arah Sarah yang hanya bisa tersenyum tipis padanya.
__ADS_1
"Eh, rezeki gak boleh ditolak Ci', aku kan sahabatmu jangan gitu dong," ujar Adam dengan suara yang tenang.
"Terimakasih lho Dam, aku dengar kalau tempat ini adalah resort milik mu kan, boleh kasih gratis gak kalau nanti kami menikah di tempat ini, temanya garden party gitu." ujar Adi berusaha mengurai ketidaknyamanan Eci dan pasangan pengantin baru itu.
"Oh, pasti. Gratis selama sehari untuk kalian." jawab Adam masih dengan senyum lebarnya.
"Selamat ya Ci'," akhirnya keluar juga kalimat singkat itu dari bibir Sarah. Ia meraih gadis yang pernah berniat mengambil Adam darinya itu kedalam pelukannya.
"Terimakasih Sar, kamu tidak membenciku." balas Eci dengan rasa haru di dadanya.
"Semoga kamu bahagia,"
"Kamu juga,"
"Eh, udah ah, kalian kok pada melow gini sih," ujar Adam kemudian menarik tubuh istrinya agar segera melepaskan pelukannya dari Eci Karin.
"Baiklah kami permisi dan nikmati tempat ini ya, kami udah mau pulang, maklum ada banyak bocah yang sudah rewel."
"Bye,"
"Bye,"
Mereka berdua pun hilang dari pandangan Adi Nugroho dan juga Eci Karin.
🍁
"Kapan nih pengantin baru datang menginap di rumah mama sama Papa," ujar Risma Yanti saat mereka sudah berpamitan untuk pulang dari rumah kediaman Raditya.
"Insyaallah besok deh Ma, iyyakan Sar?" jawab Adam sembari menyentuh tangan sang istri.
"Oh iya Ma, insyaallah besok kami kesana." Sarah mengiyakan jawaban suaminya.
"Beneran ya, kami tunggu lho,"
"Horee kak Sarah mau ke rumah, kita bisa main yang lama dong di sana," ujar Bilqis sang adik dengan wajah senang. Ia sudah lama tak punya teman di rumah.
"Qiya ikut, mau nginap di rumah Bilqis, mau lihat mainan Bilqis, boleh ya Ma," Qiya juga ikut nimbrung dan menarik-narik tangan Rara sang Mama.
"Boleh, nanti kita semua antar Tante Sarah dan Om Adam ke sana. Tapi gak bisa nginap lho," jawab Rara tersenyum.
"Ih kenapa? kan gak asyik kalau cuma sebentar."
"Iya gak apa-apa kalau Qiya mau nginap sekalian mereka bisa belajar dan ngaji bareng," timpal Risma menengahi kemudian ia melanjutkan,
"Bilqis udah lama kesepian di rumah gak ada temannya. Kalau di sini sih bagus ramai, ada banyak bocah."
"Iya tante, kita lihat besok aja,"
"Baiklah kami permisi dulu ya, besok kami nantikan kalian semua untuk datang ke rumah, ngantar pengantin baru kita." Risma Yanti dan Deka pun pamit sembari membawa Bilqis bersama mereka.
"Dah Bilqis," teriak Qiya sembari melambaikan tangannya ke arah Mereka bertiga yang sudah naik ke mobil yang perlahan meninggalkan halaman luas kediaman Raditya itu.
__ADS_1
"Ma, udah gak sabar ke rumah Bilqis besok," ujar Qiya saat mengikuti langkah Mamanya ke dalam rumah.
"Iya, kamu cepetan bobok supaya bangun nanti langsung berangkat ke rumahnya Bilqis." jawab Rara kemudian melangkah ke kamarnya untuk menengok Zydan yang masih tertidur pulas setelah dari taman tadi siang.
Wajah-wajah lelah tampak di ruangan yang luas itu. Meskipun cuma bersantai dan makan siang di tempat yang sangat indah tadi. Ternyata membuat tubuh perlu juga beristirahat. Resort yang mereka datangi tadi cukup jauh jaraknya dari rumah hingga tenaga dan waktu yang terkuras cukup banyak.
Satu persatu mereka permisi untuk ke kamar mereka masing-masing sembari membawa putra dan putri mereka bersama mereka.
Adam menarik tangan istrinya ke kamar. Ia rasanya ingin meluruskan punggungnya di atas kasur empuk bersama sang istri tercinta.
"Sar, kamu seneng gak sama hadiah dari Papa tadi?" tanya Adam sembari memandang langit-langit kamarnya. Sarah mengangguk meskipun suaminya tak melihatnya. Ia juga ikut berbaring bersama sang suami di atas ranjang king size itu.
"Aku sepertinya akan lebih banyak di sana deh Sar," lanjut Adam lagi.
"Tapi kan jauh Dam, percayakan saja pada orang lain," jawab Sarah tidak rela.
"Kamu gak mau berjauhan sama aku ya, sayang," ujar Adam kemudian merubah posisinya menjadi miring ke samping, ia ingin menatap wajah Sarah yang sangat dicintainya itu.
"Tidak juga," jawab Sarah singkat. Ia masih betah menatap langit-langit kamarnya itu.
"Yang bener?"
"Iya Dam, kita kan selama ini sudah sering berjauhan."
"Ah, kalau gitu aku jadi merasa gak ada gunanya kita menikah." ujar Adam kecewa lalu ia melanjutkan,
"Aku nginap aja di rumah mama kalau begitu supaya kita tetap berjauhan," Adam bangun dari posisinya dan berniat meninggalkan istrinya itu sendiri. Tetapi tangannya segera ditarik oleh Sarah.
"Kok baper sih?" tanya Sarah dengan bibir mengerucut sebal.
"Lah kamu kan emang suka bikin aku baper Sar, sedari tadi," ujar Adam sedikit kesal, beberapa hari ini istrinya itu suka membuatnya baper dan juga garing. Mondar-mandir di hadapannya bak model peragaan busana renang. Bisa dilihat tapi tak boleh disentuh.
"Ih ngambek," sindir Sarah dengan senyum samar diwajahnya. "Jangan kesal begitu dong," lanjut istrinya sembari membuka lebar tangannya meminta sang suami untuk datang ke pelukannya. Adam tak bergerak. Ia tak mau terbakar hasrat lagi dan pada akhirnya akan berakhir frustasi.
"Kalau gak mau ya udah, aku kasih tahu aja othornya kalau kamu gak mau dan di end kan aja kisah ini," ujar Sarah pura-pura cuek. Adam langsung mendekati sang istri dengan wajah masih ditekuk,
"Boleh protes sama othor gak?"
"Boleh, silahkan aja,"
"Hey othor gemoy yang baik hati dan tidak sombong, kasih aku kesempatan dong mencetak gol, kasihan nih," ujar Adam dengan wajah memelas. Sarah langsung tertawa terbahak-bahak melihat tingkah suaminya yang sangat menyedihkan itu.
"Aku sudah bersih Dam, dari kemarin," bisik Sarah dengan suara pelan dan malu-malu.
"Astaga othor kamu tega!!!!" teriak Adam dengan keras dan langsung menyerang istrinya dengan ciuman panas.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey???
Rasain kamu Dam, hehehe.
__ADS_1
Selamat menikmati bab terakhir dari kisah Gadis Pemimpi ini.