Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 156 Dunia Baru Sovia


__ADS_3

"Sovi, Andika dari tadi nungguin kamu tuh." Vita memanggil putrinya yang sedari tadi belum muncul juga di ruang tamu padahal Andika putra pertama dari Reno Sebastian itu sudah lama menunggu.


"Kasih tahu aja ma, aku gak jadi pergi." jawab Sovia dengan nada kesal.


"Kenapa sayang? gak baik lho kayak gitu, tidak sopan namanya meskipun Andika itu kakak sepupumu sendiri."


"Turun ya, Kasihan tuh udah lama menunggu. Kamu aja yang ngomong gih. Mama gak enak." Vita menolak karena ia sudah lama menemani pria muda itu sampai sudah ngobrol sana-sini tetapi putrinya tidak muncul juga. Akhirnya Sovia bangun dari tidurnya, merapikan rambutnya kemudian mencepolnya ke atas lalu turun ke bawah menemui pria yang akhir-akhir ini sering membuatnya kesal.


"Pulang saja sana!" ujar Sovia pas setelah sampai di ruang tamu. Andika yang sedang memainkan gadgetnya langsung memandang tajam gadis yang sudah lama ia tunggu itu.


"Hey, ada apa? aku sudah lama nungguin kok dibatalin." jawab Andika dengan wajah tak terbaca. Ia merasa dipermainkan oleh putri om Gala ini. Tadinya ia merengek-rengek sampai akhirnya ia maksa agar ditemani untuk jalan tetapi sekarang malah membatalkan secara sepihak.


"Kamu kalau ada janji lagi sama seseorang pergi saja sana. Aku bisa kok ajak Sarah atau Adam." ujar Sovia lagi bertambah kesal.


"Baiklah, gadis manja. Aku pulang dan aku kasih tahu ya, jangan minta tolong padaku lagi." ujar Andika geram lantas keluar dari rumah mewah itu dengan rasa kesal dan kecewa. Ia sudah bela-belain menunda pekerjaannya di kantor hanya karena ingin menemani gadis itu melihat-lihat Restoran yang baru om Gala siapkan untuk Sovia bekerja.


Yah, Sovia yang punya hobi memasak ingin menyalurkan bakatnya dengan membuka bisnis kuliner. Ia tak berminat bekerja di perusahaan milik keluarganya. Dan sekarang gadis itu tiba-tiba marah dan kesal tanpa sebab dan malah membatalkan begitu saja kunjungannya ke Restoran itu.


Andika masuk ke mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Rancangan desain sudah ia siapkan agar putri kedua om Gala Putra Raditya itu bisa betah dan nyaman nantinya jika bekerja di sana tetapi kini dengan alasan tak jelas Sovia malah bertingkah kekanak-kanakan seperti itu.


"Huh, Sial! kenapa sih Sovi suka sekali merusak moodku. Akan ku blokir nomornya supaya tidak bisa lagi menggangguku." ujar Andika sambil meraih handphonenya dan mulai mencari nomor Sovi kemudian memblokirnya. "Done!" ujarnya lagi dengan wajah puas.


🍁


Sementara itu di rumah kediaman Raditya. Sovia kembali ke kamarnya dengan emosi yang cukup buruk. Ia sempat bertemu dengan mamanya di tangga yang sepertinya akan turun ke lantai satu rumah itu.


"Andika sudah pulang, Sov?" tanya Vita dengan pandangan berbeda.

__ADS_1


"Iya ma," jawab Sovia dengan suara lemah.


"Ada apa sih diantara kalian?" Vita semakin heran dengan perubahan ekspresi putrinya.


"Gak ada apa-apa ma."


"Jangan sembunyikan sesuatu sama mama Sovi." Vita langsung menarik tangan putrinya kembali ke lantai atas. Ia mencium ada yang tidak beres diantara dua orang ini.


"Andika itu rese' banget ma. Gak bisa ngertiin perasaan Sovi." ujar Sovia memulai curhatannya. Vita tidak ingin menyela, ia biarkan putrinya itu mengeluarkan uneg-uneg di dalam hatinya.


"Tadi kan aku minta tolong ditemani ke Restoran baru itu ma, tapi eh, ternyata ia sudah janjian duluan sama teman perempuannya gitu. Jadinya kan aku tidak enak hati seolah-olah aku itu tukang maksa dan egois karena maksa dia untuk kemari dan akhirnya membatalkan janjinya sama di Elsa itu."


"Lah trus kamu tahu darimana kalau Andika ada janji sama temannya?" tanya Vita karena sudah merasa gregetan sendiri dengan penjelasan Sovia yang kelihatan di dramatisir begitu.


"Aku lihat di storynya Elsa, katanya ia akan keluar sama orang yang berinisial A&K gitu trus katanya lagi ada cewek gak tahu malu mengacaukan rencana mereka." dengus Sovia kesal.


"Emang inisial A&K itu inisialnya Andika?" tanya Vita lagi memastikan. Takutnya putrinya itu salah sangka dan membuat komunikasi mereka jadi rusak dan putus.


"Ya udahlah kalau gitu, kamu kan tahu Andika sudah mulai kerja di kantor papanya, jadi gak bisa lagi kamu paksa-paksa melakukan sesuatu."


"Dan kalaupun ia sudah punya kekasih ya itu berarti ada orang lain yang lebih dia utamakan dari pada kamu sayang." ujar Vita penuh perasaan. Ia ingin putrinya itu sudah mulai berpikir mandiri tanpa selalu melibatkan Andika dalam segala urusannya.


"Kalian sudah dewasa sayang, dan mulai harus menjaga Jarak, Andika bukan saudara kandungmu nak melainkan hanya saudara sepupu. Tidak baik terlalu akrab seperti itu, takutnya akan menimbulkan fitnah." jelas Vita agar putrinya itu mengerti kenapa ia selalu bersikap waspada jika Andika maupun Adam mengunjungi kedua putrinya.


Sovia menunduk paham akan maksud mamanya. Mulai sekarang ia bertekad akan menjaga Jarak dari Andika itu.


"Iyya ma, Sovia akan mendengarkan kata-kata mama." ujar Sovia sambil memeluk tubuh perempuan yang telah melahirkannya itu. Meskipun berat karena ia sudah merasa ketergantungan pada pria itu, ia akan mencoba.

__ADS_1


"Sekarang kamu bersiap, ada mama yang akan menemanimu ke Restoran itu. Kamu lupa ya kalau mama ini wonder woman?" ujar Vita sembari menaik turunkan alisnya. Sovia yang sedari tadi uring-uringan kini ceria kembali.


"Assyiap mama ku sayang." ujarnya kemudian lari ke kamar mandi. Ia akan memulai aktivitas barunya ini tanpa sosok Andika yang selalu ia ganggu dan recoki.


Setelah bersiap mereka berdua pun pergi ke lokasi Restoran itu dengan hati gembira. Ada banyak rencana dalam pikiran Sovia yang sejak dulu suka akan kuliner tradisional dari seluruh daerah di Indonesia ini.


"Ma, kira-kira menu andalan kita apa ya?" tanya Sovia dengan wajah berkerut bingung. Vita langsung tersenyum dengan pertanyaan putrinya itu.


"Menu yang unik dan simpel. Kita akan buat menu sendiri sayang. Pokoknya khas keluarga Raditya." ujar Vita dengan segala ide di dalam otaknya. Ia akan membantu putrinya ini dalam memajukan Restoran yang sudah lama diidamkan oleh Sovia.


"Harga bagaimana ma?"


"Kasih harga murah untuk menarik konsumen tapi kualitas harus nomor satu. Itung-itung sedekah sayang."


"Trus konsepnya bagusnya gimana ma?" tanya Sovia lagi bersemangat.


"Lho katanya udah punya konsep sendiri kok nanya-nanya terus sih." ujar Vita berpura-pura kesal.


"Kan cuma mau bandingin konsep aku ma."


"Becanda sayang, kita akan bicarakan lagi konsepnya sama kakakmu siapa tahu dia ada ide, gimana?"


"Oke ma. Bentar malam deh kalo gitu. Kalo semua pria ganteng di rumah Raditya udah balik ke kandangnya. Hehehe." Vita ikut tertawa dengan jawaban putrinya itu. Ternyata Sovia hanya butuh teman untuk berbagi cerita hingga perasaannya kembali baik. Ia sebenarnya sudah lama mencurigai kalau putrinya itu menaruh hati pada Andika, sedangkan pria muda itu sepertinya belum bisa ditebak arah perasaannya. Dengan memberikan kesibukan baru pada Sovia, ia yakin putrinya itu akan jadi perempuan mandiri dan kuat.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Mana nih dukungan untuk othor. Like dan Komentar dong supaya aku semangat...


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2