Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 178 Pertimbangkan Rasa Ciumanku


__ADS_3

Sabtu malam digunakan Rama untuk mendatangi si rambut kriwil gadis pujaannya. Sejak berita pernikahan Rara dan Alif batal karena sang kakek Reksadana ditangkap oleh polisi dengan tuduhan pembunuhan, Rama belum sempat bertemu dengan gadis itu. Dan kini ia begitu rindu hingga ia gunakan malam minggu ini untuk apel layaknya seorang pria mengunjungi kekasihnya.


Sesampainya di depan pintu gerbang rumah Rara ia langsung meraih handphonenya dan menghubungi gadis itu.


"Halo..." ujar seseorang yang sangat ia rindukan.


"Keluar kamu!" ujar Rama diujung telpon saat Rara baru saja bilang Halo. Gadis itu langsung menatap handphonenya tak percaya. Ia tidak tahu siapa orang yang berani membentaknya seperti itu. Pasalnya ini adalah kartu baru dan hanya beberapa orang saja yang tahu nomor barunya ini.


"Keluar atau kamu aku tuntut!" teriak orang itu lagi yang langsung membuat Rara menjauhkan handphone itu dari kupingnya. Ia mulai berpikir keras dan akhirnya ia baru sadar suara siapa itu.


"Ish si trouble maker datang lagi." gerutunya kesal. Ia lantas berkaca di cermin merapikan rambutnya yang kriwil dan agak mengembang bagai rambut singa. Ia mengingatnya tinggi-tinggi ke atas.


"Ish"


Rara memukul kepalanya pelan. Untuk apa pula ia memperbaiki penampilannya di depan kakaknya Sovia itu. Paling pria itu datang akan minta klaim asuransi lagi padahal modus itu kan sudah basi.


Dengan wajah ditekuk kesal ia keluar dari kamarnya dan melangkah keluar halaman. Ia membuka gerbang setengah dan memandang Rama yang sedang tersenyum padanya. Pria itu sedang bersandar di bahu mobilnya dengan gaya yang cukup keren.


Rara juga bersandar di dinding gerbang Pagar rumahnya dengan gaya tak kalah cool. Tangannya ia lipat di depan dadanya.


"Mau apa pak kesini?" tanya Rara sok angkuh. Ia merasa tak punya urusan lagi dengan orang ini. Sudah ia bayar lunas beserta bunganya.


"Mau ngapelin pacar." jawab Rama santai sambil memamerkan senyum manisnya. Ia memandang Rara dari atas sampai bawah. Penampilan gadis itu sungguh teramat santai dan menggoda. Ia Memakai pakaian tidur bergambar mobil tayo dengan celana yang sangat pendek di atas lutut trus rambut kriwilnya diikat tinggi-tinggi menampilkan lehernya yang putih dan mulus. Rama seketika membayangkan yang tidak-tidak.


"Pacar dari Hongkong, ish." jawab Rara mencibir. Ia ingin menutup kembali gerbang itu tapi tangannya keburu ditarik oleh Rama dan memaksa gadis itu masuk ke mobilnya.


"Eh, ini namanya penculikan ya." gerutu Rara berusaha keluar dari mobil tetapi sayangnya Rama dengan cepat mengunci pintunya.


"Kamu ya, benar-benar. Aku teriak nih." ujar Rara lagi sembari terus berusaha membuka pintu mobil itu.

__ADS_1


"Teriak aja." jawab Rama santai kemudian menghidupkan mesin mobil dan langsung tancap gas melaju meninggalkan rumah Rara yang semakin jauh dari pandangan mereka berdua.


"Ish" Rara menggerutu jengkel tetapi Rama mengabaikannya. Pokoknya malam ini ia juga ingin seperti orang lain ngapelin pacar di malam minggu. Akhirnya Rara diam. Ia capek memberontak. Jadinya ia menyandarkan punggungnya di jok mobil dan menutup matanya. Sebaiknya ia tidur saja. Terserah pria aneh ini membawanya kemana anggap ia sedang naik kereta tak berujung dan gratis.


Rama melirik wajah Rara yang mulai diam dan nampak tertidur padahal ia tahu gadis itu tidak sedang tidur.


"Alif, aku bawa tunjangan mu nih." ujar Rama memancing dan seketika membuat Rara melompat kaget.


"Tidak! mana Alif...jangan bawa aku ke sana. Plis!" ujar Rara dengan ekspresi yang berubah takut. Rama segera menghentikan mobilnya di tempat yang sepi.


"Aku akan bawa kamu ke Alif," sekali lagi Rama berusaha menggoda gadis itu.


"Tidak!" teriak Rara kencang. Ia sampai menutup wajahnya kemudian menangis sesenggukan. Tubuhnya bergetar takut. Rama langsung meraihnya dalam pelukan.


"Ada apa Hem? kenapa kamu takut sekali sama dia?" tanya Rama sembari mengelus punggung gadis itu agar tenang.


"Dia bajingan. Dia, huaaaaa." tangis Rara semakin keras. Ia balas memeluk Rama kencang seolah meminta perlindungan.


Lama mereka berpelukan seperti itu sampai seseorang mengetuk pintu mobilnya barulah mereka saling melepaskan.


"Ada apa pak?" tanya Rama setelah ia membuka kaca mobilnya.


"Kalau mau berbuat mesum jangan di sini ya. Tuh ada Hotel murah di sana." ujar orang itu dengan senyum omesnya. Ia tampak seperti seorang mucikari. Rama dan Rara saling berpandangan kemudian tersenyum malu.


"Kami tidak butuh hotel pak, tapi butuh kantor KUA." jawab Rama santai.


"Eh, mana ada kantor KUA buka jam begini. Sana kalian pulang atau kami nikahkan di sini." timpal orang itu lagi.


"Ih ogah." jawab Rara yang langsung mendapat tatapan tajam dari Rama. Akhirnya mereka berdua pergi dari tempat itu dan berkeliling-keliling saja malam itu. Rama ingin bawa gadis itu ke Cafe tapi pakaian yang dikenakan hanya boleh di konsumsi oleh Rama seorang.

__ADS_1


"Kenapa sih ogah nikah sama aku?" tanya Rama saat mereka sampai di depan rumah Rara. Gadis itu hanya diam. Berusaha mencari jawaban yang pas.


"Apa aku tidak menarik di matamu?" tanya Rama lagi. Rara masih membisu, akhirnya dengan berani Rama mengecup bibir gadis itu kemudian ********** lama.


"Setidaknya pertimbangankan rasa ciumanku." lanjut Rama setelah melepaskan bibir Rara yang sudah menjadi favoritnya.


🍁


Sepertinya pagi ini adalah pagi yang indah bagi semua anggota keluarga Raditya. Senyum cerah merekah tergambar jelas di wajah Gala dan Vita begitupun dengan putra-putrinya saat bertemu di meja makan.


"Kok kak Sovi lihat nasi goreng kayak lihat muka kak Dika dari tadi senyum-senyum sendiri tahu gak?" bisik Sarah pas di kuping Sovia dan membuat pipi kakaknya langsung berubah warna.


"Hush jangan ribut." balas Sovia sambil berbisik juga. Semalam ia sudah menceritakan pada adiknya itu kalau ia sudah jadian sama Andika. Dan sekarang Sarah sedang menggodanya terus.


"Hai kak Dika sini gabung!" teriak Sarah yang langsung membuat semua pandangan ke arah pintu. Tetapi ternyata tidak ada orang disana. Ia telah berhasil mengerjai semua orang padahal maksudnya cuma untuk Sovia sang kakak.


"Sarah!" tegur Vita sembari menatap putrinya tajam.


"Maaf Ma, sengaja. Soalnya ada yang rindu nih pagi-pagi sama Kak Dika Haap." ucapan Sarah terpotong karena tiba-tiba mulutnya di sumpal acar oleh Sovia.


"Ih, kak Sovi nih." gerutu Sarah sebel. Sovia hanya tersenyum samar.


"Sovi!" tegur Rama pada adiknya. Ia tak mau Sovia menjalin hubungan lagi sama Andika itu. Mengingat kejadian yang kemarin.


"Iya kak. Kami diam."


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini. Like dan komen dong.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍 😍😍😍😍


__ADS_2