Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 184 Takut Tidak Muat


__ADS_3

Sampai pukul 23.00 malam barulah Rara terbangun dari tidurnya. Ia menggeliat dan meregangkan otot-otot tubuhnya kemudian mulai bangkit dari tempat tidur. Rama yang sejak tadi menunggunya bangun nampak melangkah menghampiri ranjang dan menyapanya.


"Sudah bangun?" tanyanya berbasa-basi. Ia menatap wajah istrinya dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Ia yakin bahwa nyawa istrinya itu belumlah terkumpul seutuhnya. Rara balas menatapnya bengong.


"Aku dimana ini?" tanya Rara sembari memperhatikan keseluruhan isi ruangan.


"Kamu di kamar hotel bersamaku." jawab Rama kemudian duduk disampingnya.


"Ngapain kita di sini?" tanya nya lagi yang membuat Rama gemas sendiri.


"Mau tidur."


"Hum, jauh banget tidur di sini.Di rumah kan juga ada tempat tidur." jawab Rara kemudian menguap. Ia ingin kembali berbaring tetapi Rama menarik tubuhnya.


"Kamu gak gerah tidur pakai kebaya kayak gitu? dandananmu juga kayak gitu?"


"Gak, aku masih ngantuk mau tidur lagi." Rara melepaskan diri kemudian berbaring lagi.


"Astagfirullah." Rama sampai beristighfar saking gemasnya. Ia sedari tadi menunggu sendirian di kamar itu dan kini perempuan itu bangun dengan santainya dan malah mau tidur lagi. Jangan-jangan ia juga lupa kalau sudah menikah, begitu pikir Rama.


Akhirnya Rama mulai membuka pakaian pengantin itu dengan tangannya sendiri. Untung posisi istrinya sedang tertelungkup jadi ia bisa bebas membuka kancing belakang kebaya itu. Kemudian membalik tubuh Rara dan mulai membuka kancing demi kancing bagian depannya.


"Hummm, " gumam Rara tidak sadar kalau semua yang ia pakai sudah terbuka kecuali pakaian dalamnya saja. Rama menatapnya tak berkedip, pemandangan indah di depannya betul-betul menggoda imannya. Sesosok tubuh mungil dengan bentuk yang sangat enak dipandang, mempunyai dua buah roti empuk yang masih sangat kencang karena belum pernah terjamah oleh siapapun. kulit yang putih mulus di keseluruhan tubuhnya membuat sesuatu dari dalam dirinya tiba-tiba terbangun.


"Oh, ya ampun Ra' kamu sadar gak sih kalau kamu menyiksa aku seperti ini?" ujar Rama frustasi. Istrinya itu masih saja tidur padahal ia sudah membuka semua pakaiannya.

__ADS_1


"Apa aku bawa saja ia ke kamar mandi supaya cepat sadar?" ujarnya pelan. Dan akhirnya ia tersenyum, tubuh Rara yang setengah polos itu ia gendong ke kamar mandi dan meletakkannya di dalam bathtub kemudian mengisinya dengan air hangat sedikit saja yang penting bisa membuat gadis itu terbangun.


"Awwwww banjir, tolong!!!!" teriaknya dan langsung melompat dari bathtub. Rama tertawa melihatnya.


"Makanya kalau tidur ingat waktu dong." ujar Rama kemudian meninggalkan Rara di kamar mandi dan berharap perempuan itu sadar sendiri. Setelah menunggu sekitar 15 menit, barulah Rara muncul dari dalam kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk putih yang melilit ditubuhnya. Rambut kriwilnya juga sudah basah yang semakin menambah keseksiannya. Rama benar-benar terpukau melihatnya. Ia segera menghampiri tubuh istrinya itu dan segera memberikan pelukan.


"Hum, segarnya," ujar Rama kemudian menghirup dalam-dalam tubuh wangi istrinya. Rara berusaha melepaskan diri tetapi Rama tentu tidak ingin melepaskannya. Ia langsung menggendong tubuh berbalut handuk putih itu ke atas ranjang dan mulai mendaratkan bibirnya ke bibir istrinya, lama ia bermain di situ meeluumat dan mengeksplor dengan lidahnya hingga istrinya men de sah nikmat.


"Balas aku," bisik Rama dengan suara bergetar menahan hasrat yang sudah ingin meledak. Rara mengangguk dan menatap mata suaminya sayu, ia sudah mulai terbakar juga apalagi tangan suaminya mulai membuka handuk yang ia pakai hingga tampaklah tubuhnya yang polos bagai bayi besar. Tangan besar itu mulai meraba seluruh permukaan kulitnya dengan bibir masih saling bertaut.


"Aaaaakh." terdengar lagi dessaahan tertahan dari mulut Rara ketika tangannya mulai menyentuh bagian yang paling sensitifnya, meerremass roti empuknya dengan sangat lembut. Dengan sangat berat ia melepaskan tautan bibir mereka untuk mengumpulkan oksigen dan menghirupnya dalam-dalam.


Saat itu digunakan Rama untuk melepaskan juga semua yang melekat pada tubuhnya, hingga mereka berdua benar-benar sudah polos. Ia mendekati lagi tubuh istrinya yang sepertinya sedang menunggunya tetapi Rara malah langsung menarik selimut dan menutupi dirinya di sana.


"Hey, ada apa?" tanya Rama berusaha sabar dengan tingkah istrinya yang membuatnya heran karena tadi tiba-tiba berubah.


"Takut." jawab Rara dari dalam selimut.


"Kenapa?"


"Pokoknya takut itu gak akan muat " jawab Rara masih merapatkan selimut di tubuhnya. Rama segera memeluk istrinya itu dan membisikkan sesuatu tetapi istrinya itu tetap bertahan dengan gaya seperti itu. Rama semakin frustasi, kepala atas dan bawah ikut pusing dibuatnya. Padahal semuanya sudah sangat siap tapi tiba-tiba sang istri malah menolak karena takut akan miliknya yang katanya terlalu besar dan tak akan muat.


"Ya Allah." ujar Rama frustasi. Moodnya tiba-tiba hilang dan membuatnya memakai pakaiannya kembali. Ia lantas meninggalkan kamar itu menuju Cafe di lantai bawah. Ia butuh minuman segar untuk mendinginkan kepalanya. Saat-saat yang ia sangat nanti-nantikan justru berakhir buruk seperti ini. Sedangkan Rara membuka selimut yang membalut tubuhnya pelan saat tak mendengar suara Rama sang suami. Ia benar-benar bernafas lega, ia tadi merasa sangat takut sekali melihat penampilan suaminya itu. Traumanya tiba-tiba muncul.


Seorang perempuan muda dengan pakaian yang cukup terbuka menghampiri Rama yang sedang menenggak minuman bersoda itu.

__ADS_1


"Pengantin baru kok ada di sini?" tanyanya dengan pandangan tak biasa.


"Bukannya harus unboxing di kamar ya?" lanjutnya lagi dengan suara dibuat sepelan mungkin agar tampak seksih dan menggoda.


"Apa urusanmu?" tanya Rama balik tanpa mau melihat lawan bicaranya.


"Gak sih, cuma sedikit kepo aja." ujar perempuan itu lagi lebih mendekatkan tubuhnya ke arah Rama.


"Mau aku temenin gak? kali aja suntuk sendiri." ujarnya lagi dengan senyum menggoda.


"Maaf, aku lagi gak butuh teman. Silahkan cari orang lain saja." jawab Rama sembari terus meminum minumannya hingga tandas. Lalu ia meninggalkan perempuan itu yang menampilkan senyum samar.


"Hum, menarik. Aku harap ia akan kembali lagi kesini." bisiknya pelan.


"Tampan, muda, dan kaya." sekali lagi ia bergumam tanpa melepaskan pandangannya dari punggung Rama yang semakin menjauh.


Sementara itu Rara mulai memakai pakaiannya lagi. Ia tiba-tiba merasa bersalah karena menolak suaminya yang sedang menginginkannya. Ia mencari handphonenya dan mencoba menelpon Rama tetapi ternyata handphone itu malah berbunyi di sini. Itu artinya Rama pergi tanpa membawa handphone. Perlahan ia duduk disisi ranjang yang masih sangat kacau akibat dari kegiatan mereka tadi. Handuk dan selimut bertebaran di mana-mana hingga kelopak mawar merah yang sudah layu semakin menambah kekacauan di kamar itu.


"Ram kamu dimana? kembalilah plis. Aku lapar." ujarnya sembari meraba perutnya yang berbunyi minta makan.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor, mana nih dukungannya untuk pengantin baru kita. Doakan mereka bahagia ya, langgeng sampai maut memisahkan.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2