
Waktu makan malam telah tiba, semua anggota keluarga Raditya sudah berkumpul di meja makan untuk bersiap menikmati menu-menu istimewa yang telah disiapkan oleh asisten rumah tangga yang dikomandoi oleh nyonya muda Vita Maharani yang punya hobi memasak. Meskipun suaminya selalu melarangnya untuk bersibuk-sibuk di dapur apalagi ada tambahan kegiatannya yaitu mengurus bayinya yang baru berusia 5 bulan. Ia tetap mengusahakan untuk bisa membuat hidangan untuk keluarga tercintanya.
Vita Maharani membuka pintu kamar Rama dan mendapati putranya itu sedang belajar dengan serius. Ia sampai lupa makan malam kalau sudah berhadapan dengan buku-buku favoritnya.
"Ram, makan dulu yuk." panggilnya pada Rama yang sibuk mencoret hal-hal yang menurutnya sangat penting dalam buku itu.
"Rama," panggil Vita lagi dan kini ia sudah berada di samping Rama dan memperhatikan apa yang sedang di kerjakan anak itu.
"Kakak," sekali lagi Vita memanggil sembari menyentuh bahu putranya itu. Rama tersentak kemudian mendongak melihat wajah mamanya yang sedang tersenyum lembut padanya.
"Mama, sudah lama di sini?" tanya Rama dengan tampang polosnya. Seketika Vita langsung tertawa ringan, "Astaga sayang, mama sudah lama ada di sini tapi kamu yang kelewat serius sampai tidak tahu kalau mama ada di sini." ujar Vita sembari mengusap kepala putranya lembut.
"lagi belajar apa sih sibuk amat."
"Rama di daftarkan oleh sekolah untuk ikut Olimpiade Sains Nasional tingkat Kabupaten ma, jadi sekarang Rama belajar sungguh-sungguh supaya menang."
"Wow hebat anak mama." Puji Vita dengan perasaan haru dan bahagia.
"Belajar itu penting tapi makan juga penting lho sayang. Ayok makan dulu baru setelah itu bisa lanjut belajarnya." Ajak Vita dan menarik tangan putranya itu agar segera berdiri dan mengikutinya ke meja makan tempat semua anggota keluarga Raditya sudah menunggu mereka datang.
Mereka pun akhirnya makan malam bersama dengan khidmat. Terkadang ada candaan dari Gala dan Deka untuk memeriahkan suasana agar makan malam itu tidak terlalu kaku dan dingin.
Keluarga Raditya sudah memutuskan bahwa minimal mereka semua harus berkumpul satu kali dalam sehari di meja makan kalau memang waktu dan kesibukan anggota keluarga sudah tidak bisa ditolerir lagi. Tetapi kalau mereka punya waktu luang diusahakan setiap sarapan dan makan malam mereka semua berkumpul disana untuk saling menyapa. Karena hubungan kekeluargaan akan semakin dalam dan kental jika para anggota keluarga memiliki rasa kasih sayang yang tinggi.
Setelah makan malam selesai, Rama kembali ke kamarnya lagi untuk melanjutkan belajarnya padahal seharian itu ia belum sempat menyapa adiknya Sovia masih ingin bermain bersamanya.
"Mama, kenapa kakak ndak mau main sama Sovia?" rengek Sovia sambil menarik-narik pakaian mamanya.
__ADS_1
"Kakak lagi pengen belajar dulu, belum bisa diganggu sayang." jawab Vita dengan senyumnya.
"Tapi kan Sovia juga pengen belajar juga sama kakak."
"Lain kali ya, biar kakak sendiri dulu, okey?"
"Okey ma. Kalau gitu Sovia mau main sama adek Sarah aja." ujar Sovia sambil melompat dengan gembira menuju ke lantai atas dimana ia berbagi kamar dengan adiknya itu. Vita hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu.
"Sayang, kita main juga yuk." ujar Gala yang tiba-tiba memeluk Vita dari belakang.
"Mas, ini masih sore lho." jawab Vita sambil menahan geli karena suaminya mulai mengendus-endus belakang kupingnya. Ia bahkan mulai menggigit ujung kuping istrinya itu hingga membuat kulitnya meremang dan mengantarkan gelenyar aneh di sekujur tubuhnya.
"Mas, " ujar Vita tertahan. Ia menikmati sentuhan suaminya itu.
"Hem, aku udah lama nih gak main ke gua angker mu itu." ujar Gala manja. Sejak Sarah lahir dalam keadaan Caesar ia belum pernah berkunjung ke gua favoritnya. Ia terlalu trauma dengan keadaan terakhir istrinya saat melahirkan. Dan sekarang ia betul-betul sudah tidak bisa menahannya. Ibarat gunung api ia sebentar lagi akan meletus dan mengeluarkan lava yang sangat panas. "Udah bisa kan sayang?" bujuknya dengan suara serak. Vita mengangguk karena sudah merasakan ada yang mulai mengeras di belakangnya. Ia tahu suaminya sangat menginginkannya tapi tidak berani meminta karena takut membuatnya sakit.
Mendapatkan persetujuan dari sang istri ia langsung mengangkat tubuh Vita ala bridal style menuju kamarnya. Mereka pun akhirnya melakukannya dengan penuh perasaan dan kelembutan. Saling melepaskan kerinduan yang sangat menyiksa selama ini.
Pagi ini Rama diantar oleh papanya ke sekolah. Meskipun Rama menolak untuk diantar karena merasa ia sudah besar dan juga malu sama kawan-kawannya. Jika dia yang selalu dinobatkan sebagai siswa pintar dan dingin itu malah kelihatan menjadi anak papa yang manja.
"Papa gak usah ngantar Rama," ujar Rama saat Gala memintanya dan Sovia ikut naik ke mobilnya pagi itu.
"Kan ada sopir pa,"
"Tidak apa-apa, sekali-kali kan papa mau berangkat sama anak papa yang ganteng dan cantik ini." jawab Gala dengan senyum di bibirnya.
"Dan papa juga mau dong lihat sekolahnya Rama sama Sovia. Bolehkan?"
__ADS_1
"Boleh dong papa, biar Sovia bilang sama teman -teman di sekolah kalau papa Sovia itu ganteng dan hebat kayak Spiderman."
"Eh, kok Spiderman sih."
"Karena Sovia pernah dengar kalau papa suka manjat dan melayang. " jawab Sovia sambil tersenyum lucu.
Puft!
Gala dan Rama langsung tertawa berbarengan.
"Emangnya Sovia pernah lihat papa manjat apa?" tanya Rama penasaran. Sovia tersenyum menampilkan giginya yang kecil-kecil dan rapih lalu menjawab.
"Sovia gak pernah lihat papa manjat tapi mama pernah bilang kalau papa bikin Mama melayang. Hihihi...itu kan kayak Spiderman, kak."
"Ya ampun Sovia." ujar Gala menepuk jidatnya sendiri. Ia merasa lucu dengan jawaban putri kecilnya itu. Dalam hati dia berpikir dalam diam.
Gini nih kalau Omesh gak ketulungan dimana-mana selalu manjat dan bikin istri melayang.
Gala tak mau lagi menimpali perkataan putrinya itu takut semua rahasianya dibongkar paksa oleh si gadis kecil itu. Sampai akhirnya mobil yang mereka kendarai sampai di lokasi sekolah Rama dan Sovia, sebuah sekolah berstandar Internasional milik Yayasan TGR.
Setelah mengantar Rama dan Sovia sampai ke depan kelasnya ia pun menuju Perusahaan. Ia hanya ingin sidak langsung kondisi sekolah itu. Tentang pelayanan dan kedisiplinan dari semua stakeholder yang ada di sana. Ia tak mau mendengar ada kabar lagi bahwa kedisiplinan guru di sana menurun hingga membuat anak-anak jadi tidak nyaman menuntut ilmu di sana.
Gala Putra Raditya menuju ke Perusahaan pagi itu dengan hati tenang dan riang. Awal hari yang begitu indah karena pagi ini ia cukup kenyang dengan bekal lezat dari sang istri ditambah keadaan putra putrinya yang ceria dan sehat.
"Alhamdulillah ya Allah, semoga hari ini semua urusan lancar. Aamiin." ucapnya dengan hati penuh syukur. Tak sadar ia ikut bernyanyi mengikuti musik yang mengalun lembut dari radio di mobilnya.
---Bersambung---
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍