
Gala Putra Raditya begitu kaget karena tiba-tiba saja Andika sudah ada di dalam ruangannya. Semua karyawan TGR sudah tahu kalau ia adalah putra Miska Todler jadi ia tak perlu janji temu jika ia ingin bertemu dengan Presiden direktur.
"Andika, ada perlu apa?" tanya Gala saat Andika duduk di depan meja kerjanya.
"Begini om, aku ingin menikahi Sovia dalam waktu dekat ini. Aku harap Om mau menerima lamaranku ini." ujar Andika tanpa basa-basi.
"Apa? Hahahaha. Berani sekali kau!" ujar Gala sambil tertawa. Andika tiba-tiba merasa keder.
"Mau melamar putriku seperti ingin membeli kacang goreng." lanjut Gala dengan tatapan tajam.
"Apa yang kamu punya hingga berani melamar Sovia, hah?"
"Aku sudah bekerja Om, meskipun penghasilanku belum bisa menafkahi putrimu dengan layak." jawab Andika dengan suara dibuat tegas agar Gala bisa yakin kalau ia tipe cowok bertanggung jawab.
"Lalu? apalagi modalmu melamar putriku?"
"Aku punya cinta Om, aku sangat mencintai Sovia."
"Lalu kenapa Sovia sering sekali kamu buat menangis, hah?" Andika terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa.
"Pulanglah dan tanyakan ke dalam hatimu, sejauh mana kamu mencintai putriku." ujar Gala tegas. Andika lama terdiam dan akhirnya ia pun pamit dengan sejuta rasa dalam dirinya. Ia kecewa karena Om Gala tidak meresponnya dengan baik. Belum lagi Sovia yang baru saja memutuskannya. Dengan langkah gontai ia kembali pulang. Ia ingin pulang ke rumah Ninick sang eyang putri. Ingin memeluk perempuan paru baya itu yang selalu mau menampung keluh kesahnya. Ninick pasti akan selalu mendukungnya.
"Assalamualaikum." Ujarnya sembari mendorong pintu kayu dari bahan jati itu.
"Waalaikumussalam." jawab Ninick sembari menyambut cucu kesayangannya di ruang tamu. Andika merasa kaget luar biasa karena ruangan itu ramai oleh orang-orang yang sedang menatapnya dengan pandangan tajam. Ada papa Reno dan Mama Miska, begitupun ada Antika dan Andira.
"Selamat ulang tahun!" teriak semuanya kompak. Setelah diam saja menatap Andika yang masuk dengan langkah gontai.
"Semoga panjang umur cowok paling tampan selain papa." teriak Antika dengan wajah ceria.
"Eh, masih ada yang lebih tampan nih, suaminya Eyang Pak Sebastian." ujar Ninick yang disambut gelak tawa semuanya.
__ADS_1
Andika terpaku kemudian tersenyum. Ia memeluk Ninick dan Sebastian. Kemudian Reno dan Miska. "Terima kasih banyak." ucapnya dengan suara bergetar haru. Ia tak menyangka ditengah kegalauannya karena diputuskan oleh Sovia, ia ternyata masih punya keluarga yang sangat menyayanginya dan mengingat hari penting dalam hidupnya.
"Taraaa. Ini hadiah dari kami untuk kakak." ujar Antika sembari mendorong kotak besar setinggi sebuah lemari pendingin dua pintu itu ke tengah ruangan. Dalam hati Andika bertanya-tanya, hadiah apa bisa sebesar itu tempatnya.
"Bisa dibuka kadonya gak?" tanya Andika dengan senyum penasarannya.
"Silahkan kakakku sayang, tapi jangan pingsan ya?" ujar Andira dengan mengedipkan matanya sebelah.
Andika membalas senyum adiknya kemudian melangkah perlahan ke kotak besar itu.
"Ini lemari pendingin ya?" tanyanya sembari membuka perekat kertas kado itu. Tak ada jawaban dari semua anggota keluarganya dan juga tidak ada diantara mereka yang berinisiatif untuk membantunya membuka kado raksasa itu.
Setelah beberapa menit baru ia berhasil membuka kado itu dan membuat nafasnya seakan berhenti. Seorang gadis cantik muncul dari dalam kotak besar itu dengan bulir peluh memenuhi kening dan lehernya.
"Sovia?!!?" teriak Andika dengan suara tercekat di tenggorokannya. Ia langsung mengangkat tubuh perempuan kesayangannya itu keluar dari kotak itu. Takut Sovia pingsan karena kegerahan.
Setelah dirasa Sovia sudah duduk cantik bersama semua anggota keluarganya, ia langsung menatap adik-adiknya yang pasti mempunyai ide gila ini.
"Kalian bisa bikin dia pingsan tahu gak?, ini tuh tidak ada lubang anginnya. Kalau ia kenapa-napa bagaimana?" tanyanya lagi dengan emosi.
"Kami sengaja nyulik kak Sovi untuk jadi hadiah buat kak Dika, jangan marah gitu dong kak." ujar Andira membela diri. Andika mendengus kesal.
"Ini tuh berbahaya Dir, bagaimana kalo seandainya aku datang terlambat, dan kalian lupa. Nyawa Sovia kan jadi taruhannya!" bentak Dika masih dengan emosi. Reno berdiri dari duduknya dan menengahi perdebatan mereka.
"Dika, jangan marah nak, gak malu apa dilihat sama Om Gala dan Tante Vita, mereka tuh ada disini." ujar Reno kemudian mengarahkan pandangan putranya kearah sudut ruangan yang cukup tersembunyi.
Gala dan Vita yang sedang duduk berdua di sana mengirimkan senyum terbaiknya pada Reno dan keluarganya.
"Mereka menerima lamaran kamu, nak." lanjut Reno sembari menepuk bahu putranya pelan. Andika sekali lagi diam terpaku. Ia ternyata dapat hadiah yang sangat istimewa.
"Terima kasih Om Tante, mau mempercayakan Sovia sama saya." ujar Andika sembari mencium tangan Gala dan Vita.
__ADS_1
"Eh, jangan senang dulu, ini karena aku bosan melihat Sovia terus menerus menangisimu." ujar Gala dengan gaya arogannya.
"Mas, jangan bilang seperti itu." bisik Vita pelan takut Andika kecewa.
"Dika janji tak akan membuat Sovia nangis lagi kecuali hanya kebahagiaan." ujar Andika tak peduli akan sindiran-sindiran dari papanya Sovia.
"Waktunya makan!, ayo Kak Gala dan nyonya, mari kita makan dulu." Miska sengaja memanggil semua orang untuk makan, ia tak rela putranya jadi bulan-bulanan Gala, dikerjain sama anak itu keder memperjuangkan cintanya.
Mereka semua pun menuju meja makan besar yang dikhususkan ketika semua anggota keluarga berkumpul.
"Sovi, maafin aku ya." ujar Andika pada Sovia yang masih saja duduk di tempatnya belum bergabung dengan keluarga lainnya untuk makan bersama. Ini bukan acara makan malam bersama. Hanya makan-makan merayakan ulang tahun Andika sekaligus menerima lamarannya untuk seorang gadis cantik milik Gala Putra Raditya.
"Udah ah, kamu tuh minta maaf terus, Bosan tau gak. Bilang apa kek, yang bisa bikin aku senang." ujar Sovia menggerutu.
Andika langsung berlutut dihadapan gadis itu sambil berucap,
"Maukah kamu menikah denganku Sovia Putri Raditya?" ujar Andika sembari meraih tangan kanan gadis itu kemudian mengecupnya lembut. Sovia terpana meskipun ia sudah mendengar kalau ia sudah dilamar oleh Andika di ruang kerja papanya, tetapi tetap saja beda rasanya jika ia diminta secara langsung seperti ini.
"Mau, aku mau Dik." jawab Sovia terharu. Mereka kemudian saling menatap sembari mengirimkan pesan-pesan cinta dalam tatapan mereka.
"Hey makan dulu!" tegur Miska mereka berdua.
"Tatap-tatapan tidak adan bikin kenyang." lanjutnya lagi dengan senyum lucu.
"Iyya ma, " jawab Andika kemudian menarik tangan kekasihnya ke ruang makan dimana semua orang sudah menunggunya di sana.
---Bersambung--
Jangan bosan ya para readers tersayang, dukung terus karya ini dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1