
Andika hadir lagi pagi ini di kediaman Raditya. Rasanya pertemuan semalam dengan Sovia belumlah cukup dan masih sangat kurang. Dan mumpung weekend ia ingin berlama-lama berdua dengan gadis itu. Tetapi sesampainya di dalam rumah. Ia bertemu dengan Rama, seorang kakak sepupu yang pernah membuatnya babak belur karena kesalahpahaman.
"Maaf kak Rama, bisa bicara sebentar gak?" ujar Andika memulai. Ia tak mau pria itu masih menunjukkan wajah marah dah bencinya padanya yang mungkin akan berakhir menjadi adu jotos lagi.
"Bicara apa?" tanya Rama dengan pandangan mata mengintimidasi.
"Anu kak, tentang perempuan yang mengaku mengandung pada saat itu. Itu tidak benar kak Ram. Aku juga sudah tidak ada hubungan apa-apa dengannya." jelas Andika.
"Sovia sudah tahu?"
"Sudah kak. Dan ia melihat sendiri bagaimana sifat asli gadis itu."
"Oh baguslah kalau begitu."
"Nah sekarang kamu ke sini mau ngapain?"
"Bertemu Sovia Kak. Aku kangen." jawab Andika dengan senyum diwajahnya tak tahu malu.
"Ish, sudah sana." ujar Rama sembari mengibaskan tangannya. Ia meninggalkan Andika yang tiba-tiba bengong dengan respon Rama yang biasa saja, padahal ia sudah ketar-ketir duluan. Andika merasa Rama sepertinya sedang sangat bahagia juga pagi itu. Seperti ada kebun Bunga dimatanya.
Setelah sarapan tadi Rama berniat ke tempat Gym nya. Ia ingin berolahraga untuk menjaga kondisi tubuhnya tetap Vit. Tetapi entah kenapa pagi ini cuma bayangan Rara yang selalu menari-nari di matanya. Akhirnya ia kembali ke kamar dan mengulang kembali ingatannya pada kejadian semalam yang begitu manis.
"Setidaknya pertimbangankan rasa ciumanku Ra" bisik Rama di sela-sela pagutannya pada bibir gadis itu. Ia ingin sekali menghalalkan gadis yang selalu mengganggu kestabilan hatinya ini agar tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan ketika mereka sedang berdua seperti itu.
"Bagaimana?" tanya Rama ketika ia melepaskan diri. Ia memandang wajah Rara yang berubah merah karena malu telah ikut membalas apa yang ia berikan.
"Iya, datanglah ke rumah secepatnya minta aku pada papa sama mama." jawab Rara kemudian keluar dari mobil Rama dan lari ke dalam rumah nya.
"Wah, aku diterima." ujar Rama bahagia. Dan sekarang di sinilah ia tersenyum-senyum sendiri karena bahagia luar biasa. Kalau bisa saat ini juga ia ingin meminta papanya segera melamar gadis itu untuknya. Tetapi setelah sarapan tadi belum sempat ia mengutarakan niatnya. Papa dan mamanya langsung menuju kamarnya dan mengunci diri di dalam sana dengan kata peringatan TIDAK BOLEH DIGANGGU .
__ADS_1
🍁
Di dalam kamar Gala sedang memeluk istrinya dari belakang dengan posesif.
"Mas, kayaknya Rama mau ngomong sesuatu deh. Sedari tadi aku perhatikan ia melihat kita terus."
"Hem." ujar Gala singkat. Ia sedang sibuk mengendus belakang telinga istrinya. Ia paling suka daerah itu karena bisa membuat istrinya menggeliat manja
"Mas, dengar gak sih kalau aku ngomong." ujar Vita berusaha menghentikan aksi suaminya itu. Pasalnya kulitnya sendiri sudah meremang dan juga geli
"Aaaw aaakh." Vita menjerit karena suaminya menghisap kupingnya kemudian menggigitnya gemas.
"Maass," desaaah Vita karena sudah mulai pada titik nikmat yang teramat sangat padahal baru daerah kuping yang diberikan sentuhan ekstrim.
"Sudah kubilang jangan bicarakan hal lain kalau aku lagi ingin memakanmu okey?" bisik Gala kemudian membalik posisi istrinya agar mereka saling berhadapan.
"Rama tuh mas, lagi... emmmpht." tak ada lagi suara selain bunyi nafas yang saling memburu, berlomba untuk menjadi pemenang. Meskipun pada akhirnya keduanya akan menang dan kalah secara bersamaan.
"Hem." Gala hanya bisa seperti itu. Ia tak ingin membuka matanya. Tubuhnya baru terasa capek juga setelah perlombaan menggapai surganya dunia ia lakukan berkali-kali. Maklum akhir-akhir ini jarang berolahraga karena kesibukan di perusahaan.
"Mas tidur deh biar aku yang temuin Rama." ujar Vita akhirnya.
"Hem." berikutnya hanya dengkuran halus yang ia dengar dari mulut suaminya. Ia kemudian bangun dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian mencari Rama.
"Ram!, kamu di dalam sayang?" panggil Vita dari depan pintu kamar putranya.
"Iya Ma." jawab Rama kemudian membuka pintu dan mempersilahkan mamanya masuk.
"Ada apa Ma?" tanya Rama saat Vita mulai mendaratkan bokongnya di sofa di dalam kamar itu.
__ADS_1
"Lho, mama yang mau tanya, kayaknya kamu mau ngomong sesuatu." Vita menatap putra kandung dari kakaknya itu intens. Rama lama terdiam kemudian mulai membuka mulutnya.
"Rama mau menikah Ma. bolehkan?" Vita langsung tertawa mendengar pertanyaan cucu pertama Raditya itu
"Ya boleh lah, malah harus dipercepat kalau hati mulai tidak nyaman sendiri, takutnya stress." jawab Vita dengan bersemangat. Ia tahu betul gimana suaminya dan dia sendiri berusaha menahan godaan jika sedang berdua dan pada akhirnya sering kalah akan godaan surga dunia itu.
"Rama minta tolong lamarkan gadis itu untuk Rama saat ini juga."
"Hah? saat ini? sudah gak tahan banget ya." ujar Vita antara kaget dan tak percaya putranya begitu bersemangat menikah.
"Iya, takut dosa semakin banyak." jawab Rama sembari meremas tengkuknya malu.
"Wah, asli putra Raditya ini. Mau bertanggung jawab atas yang sudah disentuhnya. hehehe."
"Iya, Ma. Hari ini ya. Tak usah pesta besar yang penting sah." ujar Rama lagi sembari menggenggam tangan mamanya.
"Eh, mana boleh begitu. Harus ada persiapan dulu sayang. Kita ini keluarga besar punya kolega yang banyak masak nikahannya sembunyi-sembunyi."
"Eh, iya Ma. Habisnya udah gak tahan."
"Astaga Ram." Vita langsung menjitak kepala putranya gemas. Rama yang selalu tampil cool dan keren ternyata akan kembali tampak bodoh ketika bicara tentang perempuan idamannya.
"Ternyata bucinnya papamu menurun ke kamu ya, " ujar Vita sembari tersenyum samar. Ia lalu berdiri dari duduknya kemudian berujar,
"Okey, mama panggil papamu dulu. Kamu siap-siap saja. Sekalian hubungi keluarga gadis itu agar tidak kaget dengan kedatangan keluarga kita."
"Iyya Ma." jawab Rama dengan wajah senang. Vita kemudian segera keluar dari kamar Rama dan menuju kamar ibu mertuanya terlebih dahulu. Sebaiknya ia meminta restu dari nyonya Mawar terlebih dahulu baru ia bicarakan ini pada suaminya.
---Bersambung--
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.