Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 185 Detik-detik Menuju Unboxing


__ADS_3

Rara mondar-mandir di dalam kamar presiden suite itu dengan perasaan lapar dan juga khawatir yang sangat terasa. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 2 dini hari tetapi suaminya belum juga kembali.


Ia menatap macam-macam menu yang baru saja diantarkan oleh layanan kamar tetap ia sungguh tidak punya nafsu makan lagi karena rasa khawatir akan keberadaan suaminya yang belum ia tahu dimana. Ia segera meraih handphonenya dan berniat menghubungi Sovia untuk meminta bantuan tetapi Kemudian ia urungkan karena ia takut mengganggu istirahat sahabat sekaligus adik iparnya itu.


Badannya kini lemas tak bertenaga. Pagi tadi ia hanya sempat makan bubur ayam dan segelas susu. Kemudian mengikuti rangkaian acara pernikahan dan kemudian berakhir tertidur tanpa menyentuh makanan sedikitpun. Perutnya terus berbunyi minta di isi tetapi ia berjanji tak akan makan kalau suaminya belum juga kembali.


"Rama! suamiku tersayang. Pulanglah plis. Jangan bikin aku khawatir." teriaknya di dalam kamar yang sangat luas itu. Suaranya hanya memantul dan justru membuatnya semakin takut. Ruangan luas dan mewah itu seakan menambah rasa ngeri dan khawatirnya.


Klek


Bunyi pintu dari luar menandakan ada orang yang masuk ke kamar itu. Ia takut itu adalah orang asing tetapi ia terus merapalkan doa semoga itu adalah Rama suaminya. Dalam ketakutannya ia segera bersembunyi dibalik tirai jendela yang sangat tebal itu. Ia menahan nafas dan tidak bergerak di sana.


"Ra' Rara!" panggil Rama panik, setelah menyusuri sekeliling ruangan dan tidak menemukan istrinya itu dimana-mana. Rara menarik nafas lega dan bersyukur karena yang datang adalah suaminya sendiri. Perlahan ia keluar dari tirai itu kemudian melangkah dengan pelan ke arah suaminya itu. Dan,


"Hap!" teriaknya mengagetkan. Ia langsung melompat ke atas punggung Rama dan menggendong di belakangnya.


"Astagfirullah!" teriak Rama kaget. Untung ia cepat menahan bokong istri kriwilnya itu agar tidak terjatuh.


"Kamu darimana saja hah, aku khawatir tahu?" tanya Rara pas dikuping suaminya. Ia sampai menggigit daun telinga Rama karena kesal dan gemas.


Rama segera membawanya ke ranjang big size itu dan menjatuhkan tubuh istrinya diatas kasur empuk itu. Ia menatap Rara yang berbaring itu dengan pandangan berbeda. Apalagi pakaian tidur Istrinya itu sangatlah seksih di matanya. Rara tahu maksud pandangan itu. Ia langsung bangkit dan mengecup bibir suaminya singkat sebagai permintaan maafnya. Momen itu digunakan Rama untuk menekan tengkuk isterinya lebih dalam agar bukan kecupan singkat yang ia dapatkan tapi sebuah ciuman panas penuh gairah untuk mengobati rasa kesalnya pada istrinya yang sangat tidak peka itu. Tangannya mulai bergerilya dibalik pakaian itu mencari pengait penyangga dua roti empuk favoritnya.


Krukkk


Krukkk


Rara segera melepaskan dirinya karena rupanya perutnya tak ingin bekerja sama saat ini. Meskipun ia juga sudah mulai merasakan gelenyar aneh pada tubuhnya.

__ADS_1


"Aku lapar," ujar Rara pelan sembari menyentuh bibir suaminya dengan jari-jarinya.


"Heh, enak aja. Aku sudah 2 kali dibuat panas sekarang mau ditinggal lagi. Aku tidak mau." Gerutu Rama kesal. Ia tetap menahan tubuh istrinya agar tidak kabur darinya. Tadinya ia keluar untuk mencari angin muter-muter keliling kota agar emosinya kembali stabil. eh, ini pas ia pulang malah dipancing lagi kemudian ingin ditinggalkan.


Kruukk


Krukkk


Sekali lagi perut Rara berbunyi menandakan ia tidak berpura-pura. Ia benar-benar sangat lapar. Dari pagi hanya sempat makan bubur ayam sama minum susu segelas kemudian setelah berdandan ia tak boleh makan sampai ia ketiduran dan sekarang ia sungguh butuh asupan tenaga atau asam lambungnya jadi naik.


"Plis Ram, biarkan aku makan dulu ya supaya aku kuat bergulat denganmu, aku pasrah deh kalau kamu mau memakan aku sebentar. Janji." ujar Rara sembari mengacungkan dua jarinya. Rama akhirnya luluh. Ia juga tidak tega dan merasa menzolimi istrinya Jika memaksakan kehendaknya pada orang yang sedang tak bertenaga.


"Oke kita makan sama-sama aku juga lapar." Akhirnya Rama melepaskan pelukannya kemudian mengecup lagi bibir istrinya itu singkat, yang sudah menjadi candu baginya itu.


Di tengah malam itu mereka makan sambil mengobrol banyak hal. Maklum ini pertama kalinya mereka berdua makan dengan niat yang sama. yaitu mengisi perut supaya bertenaga untuk melanjutkan ritual malam pertama mereka.


Keesokan harinya Rama yang terlebih dahulu terbangun begitu sangat kaget karena mendapati kaki Rara berada di atas dadanya kemudian kepala istrinya itu tergantung di sisi ranjang.


"Ya ampun, benar kata Sovia, ini anak tidurnya kayak habis kena gempa. Hancur dan sangat urakan, tapi untungnya aku cinta." Ujarnya pelan kemudian mengecup lembut kening istrinya itu setelah memperbaiki posisi tidurnya.


"Ra' bangun." panggilnya pelan.


"Sayang, bangun dong sholat Subuh dulu." panggilnya lagi dengan suara sepelan mungkin.


"Assholatu khoirumminannaum!" Akhirnya ia melantunkan azan subuh dikuping istrinya itu tapi sepertinya belum berhasil juga. Ia kemudian melaksanakan sholat subuh sendiri dan berdoa semoga istrinya selalu bisa menyenangkan pandanganya dan memberikan kedamaian pada hatinya.


Karena sudah lelah membangunkan dengan cara yang halus. Ia langsung menggelitiki kaki perempuan itu dengan jari-jarinya sampai Rara terbangun dengan wajah kesal dan juga lucu. Rambutnya yang kriwil bagaikan rambut singa yang sedang ingin memangsa lawannya.

__ADS_1


"Rama!" teriaknya kesal.


"Ayo bangun. Mandi baru sholat." ujar Rama kemudian menggendong tubuh istrinya itu ke kamar mandi. Ia harus ekstra sabar menghadapi perempuan itu karena ia yang paling menginginkan pernikahan ini.


Setelah menyaksikan sendiri Rara sholat dengan khusuk barulah ia mendekati istrinya itu dengan senyum cerah di wajahnya. Ia ingin menagih janji perempuan itu yang siap dan rela dimakan olehnya. Tanpa perlawanan yang berarti.


"Kamu tadi doakan aku gak?" tanya Rama berbasa-basi. Ia mulai duduk di atas sajadah yang sama yang diduduki istrinya itu sehingga jarak mereka berdua sangat dekat.


"Iya, aku doakan semoga suamiku ini semakin tampan, semakin kaya, semakin cinta sama aku. dan bla bla bla." ujar Rara sembari membuka mukenanya. Ia melipatnya kemudian meletakkannya di sampingnya.


"Alhamdulillah, senengnya di do'a kan oleh istri sendiri." ujar Rama tersenyum.


"Boleh gak, aku ucapin terimakasih." lanjut Rama lagi sembari tersenyum samar. Rara menatap suaminya itu dengan pandangan curiga. Pasti modus baru lagi ini, Pikirnya dalam hati.


"Boleh, bagus malahan kalau orang rajin berterima kasih." ujar Rara yang tak sadar kalau tubuhnya sudah melayang karena diangkat oleh suaminya ke atas ranjang.


"Awwwww, awas nanti aku jatuh." teriaknya kaget.


"Gak akan jatuh sayang." bisik Rama dengan suara berbeda. "Aku mau berterimakasih lewat ini." lanjutnya lagi dengan pandangan berkabut gairah. Gairah yang sudah memuncak yang membuatnya bertekad harus ia tuntaskan saat ini juga.


---Bersambung--


Hai, hai, readers tersayangnya othor pada sibuk ngapain nih???


Yuks dukung Rama dan Rara agar lancar unboxingnya hehehe.


Bagi like, komentar, dan bunganya dong.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2