
Hari ini perayaan ulang tahun Rama Putra Tama berlangsung sangat meriah, begitu banyak undangan yang hadir meskipun hanya dari keluarga besar tuan Raditya.
Ninick Sebastian dan Kapsari Prayanti datang bersama layaknya besan yang sangat kompak dan bahagia.
Begitupun pasangan Reno dan Miska yang membawa putra pertama mereka Andika Sebastian yang sekarang sudah berusia 2 tahun.
Risma Yanti yang memang tinggal bersama di rumah kediaman Raditya kelihatan bersibuk ria menyapa dan melayani para tamu undangan yang tak lain dan tak bukan adalah keluarga dari pihak suaminya, Deka Roland. Tak ketinggalan Zahwa putri dari Ira Zerni juga hadir di sana yang diantar oleh Ira Zerni sendiri bersama dengan Pandu Gemilang.
"Zahwa ikut ngumpul sama teman-teman yang ada di sana yah," bisik Ira di telinga putrinya. Ia menunjukkan sebuah tempat khusus anak-anak bermain sebelum acara inti dimulai. Zahwa faham akan perintah mamanya, ia berjalan sendiri ke kumpulan anak-anak itu dengan langkah penuh percaya diri. Sedangkan mamanya kembali ke tempat para sahabat dan teman sekantornya untuk melanjutkan rumpian yang tertunda.
Sedangkan di atas sana, Gala masih sibuk mencumbui istrinya padahal tamu sudah pada datang.
"Mas, udah dong..." rajuk Vita Maharani karena suaminya terus menghujaninya dengan kecupan di area-area sentitifnya. Ia sangat suka bahkan sangat menikmatinya tetapi keadaan sekarang membuatnya ingin berhenti.
"Mas, Kalo kelamaan Rama sama Sovia pasti ngambek tuh."
"Aaaah," ujarnya sambil menahan geli karena Gala meng hisap kupingnya keras.
"Gak tahu kenapa sayang, aku ingin memakanmu sekarang," bisik Gala sensual yang membuat keseluruhan permukaan kulitnya meremang.
"Mas, nanti ya sayang kalau acaranya sudah selesai," ujar Vita lembut supaya suaminya merasa tidak ditolak olehnya padahal ia juga sudah mulai terbakar hasrat tetapi ia berusaha mempertahankan kewarasannya atau ia akan melihat Rama dan Sovia merajuk seharian.
"Hem, baiklah honey," jawab Gala pada akhirnya. Ia mulai melepaskan istrinya itu dan menuju kamar ganti untuk memakai pakaian terbaiknya untuk bertemu para tamu.
"Astaga, maas " ujar Vita sembari tersenyum. Ia tahu betul kebiasaan suaminya setiap akan menghadiri pertemuan, apakah itu pesta kaum atas atau meeting dengan beberapa kolega. Ia pasti akan minta jatah sampai kenyang. Karena pikirnya kalau ia sudah kenyang dengan pelayanan istrinya di rumah, maka ketika keluar dari rumah godaan apapun tidak akan mempengaruhinya lagi dan tentu saja Vita akan dengan senang hati melakukannya demi kelangsungan kehidupan keluarganya ke depannya. Apatah lagi suaminya itu terlalu menarik untuk dibiarkan sendiri karena akan ada banyak godaan yang mengincarnya di luar sana.
Bagaikan seekor kucing, ia tak akan tergoda akan ikan kering gratis di luar sana jika di rumah sudah kenyang akan daging atau ikan tongkol yang tentunya lebih banyak gizinya.
Di dalam ruangan yang sudah cukup ramai dengan anak seusia Rama dan Sovia, Gala memberikan banyak permainan dan tebak-tebakan agar anak-anak menikmati acaranya.
"Ayok semua, siapa yang sayang sama papa dan mamanya?" tanya Gala dengan suara beratnya. Ia sengaja tidak menyewa MC untuk memandu acara karena ia ingin tampil sebagai sosok papa yang sangat perhatian pada putra putrinya.
"Aku,"
"Saya,"
Semua anak berteriak dan menyebutkan nama mereka dengan antusias. Gala cukup senang dengan respon anak-anak atas pertanyaannya.
__ADS_1
"Kalau sayang sama papa dan mama, biasanya kalian ngelakuin apa aja?" tanya Gala sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Aku!" Zahwa mengacungkan jarinya ingin menjawab. Gala mempersilahkan dengan menganggukkan kepalanya.
"Silahkan siapa namanya sayang?"
"Aku Zahwa Salsabila, aku sayang mama sama papa makanya aku selalu rajin belajar dan tidak cengeng." Jawab Zahwa dengan suara mantap. Ira Zerni yang melihat putrinya berani bicara seperti itu langsung bertepuk tangan. Ia bangga punya putri yang cerdas seperti itu.
"Rama pa," Rama tidak tinggal diam. Ia juga ingin menjawab pertanyaan papanya.
"Oh iya ini nih pangeran kita, Rama Putra Tama, jawabannya apa sayang?"
"Aku sayang sama dedek Sovia dan rajin berdoa supaya mama dan papa bahagia selamanya." jawab Rama dengan suara lantang. Vita yang juga sedang berada di tempat langsung menghujaninya dengan ciuman.
"Wah, Rama hebat," ujar Vita terharu. Semua tamu yang melihat kejadian seperti itu langsung pada berbisik pada teman-temannya.
"Syukur ya kalau anak-anak kita bisa seperti itu." ujar salah seorang tamu.
"Iyya, mereka semua anak yang pintar dan lucu." timpal yang lainnya tidak mau kalah.
"Kamu bagaimana mau punya anak, suami saja belum ada, hahaha,"
"Oh iya aku lupa kalo belum punya pasangan," jawab nya cengengesan. Semua orang menertawakannya.
Sementara di pojok ruangan dimana para wanita paruh baya sedang mengobrol santai Risma datang membawa banyak cemilan dan makanan. Agar tamu bisa menikmati suguhan acara dengan santai.
"Kamu bukan pelayan kan?" tanya seorang perempuan paruh baya dengan nada angkuh. Risma mendongak dan memperhatikan orang yang menegurnya. Dan ternyata ia adalah ibu mertuanya. Istri dari Armand Roland.
"Eh Ibu, saya tidak melihat ibu datang," jawab Risma gelagapan. Ia meraih tangan sang ibu mertua tetapi diabaikan oleh perempuan yang bernama Tia itu.
"Disini kan banyak pelayan tetapi kenapa kamu yang melakukan semuanya?" ujar Tia lagi dengan suaranya yang cukup tajam.
"Saya cuma ingin melayani tamu undangan dengan baik agar mereka lebih nyaman bu," jawab Risma dengan lugas.
"Cih, itu sama saja kamu jadi pelayan. Kamu tidak mau kan mempermalukan suamimu dan keluarganya!"
"Tidak Bu maafkan saya kalau itu membuat ibu malu."
__ADS_1
"Layani suamimu saja dengan baik, tidak usah sok mau melayani orang lain."
"Dan lagi, kamu sudah lebih dari dua tahun menikah kenapa belum juga memberi kami keturunan, hah?" ucapan Tia sang ibu mertua betul-betul membuat Risma bagai tersambar petir. Hatinya perih tak tertahankan. Dengan berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh dan lebih malu lagi di hadapan para ibu-ibu tamu undangan ia mencoba untuk baik-baik saja.
"Maaf Bu, kami belum mendapatkan kepercayaan dari Tuhan untuk memberi cucu kepada ibu dan ayah." ujar Risma dengan suara bergetar.
"Silahkan dinikmati acaranya, permisi." lanjutnya kemudian pergi meninggalkan kumpulan ibu-ibu itu yang sibuk berbisik-bisik tentang keadaan Risma Yanti.
"Oh itu toh menantumu jeung." tanya salah seorang diantara mereka.
"Oh iya Bu," jawab Tia meringis. Ia malu mempunyai menantu seperti Risma Yanti itu yang sampai sekarang belum juga menambah keturunan Roland.
"'Cantik sih tapi untuk apa kalau tidak bisa memberi keturunan." wajah Tia semakin merah karena malu.
"Itu atas pilihan Deka sendiri kah?"
"Kalau aku sih, aku akan carikan calon istri yang cukup subur untuk Deka, kasian kan tampan dan sukses begitu kalau tak punya anak untuk apa coba." Kasak kusuk itu begitu mengganggu pendengaran Risma yang belum bagitu jauh dari posisi mereka berada. Ia mempercepat langkahnya menuju kamarnya bersama suaminya. Ia ingin menumpahkan kesedihannya di sana.
Hai readers tersayangnya othor, mohon dukungannya pada karya receh ini ya dengan cara like, komentar dan hadiah yang banyak.
Sambil nunggu update berikutnya, silahkan mampir di sini yah...
Pernikahan yang Airin Pranata jalani tak pernah membuatnya bahagia. Sifat Julian yang dingin, angkuh, bahkan acuh tak acuh kerap kali membawa kepedihan, keretakan, dan kesakitan bagi benak Airin.
Di tengah keterpurukan yang tidak ada jalan keluarnya, Airin hanya bisa mengatakan kalimat, "aku baik-baik saja," untuk menguatkan hati wanita malang tersebut.
Hingga Airin mendengar percakapan Julian yang mengatakan, "Buat rongsokan itu jatuh cinta dalam waktu 30 hari. Jika kau berhasil, aku akan menceraikannya dan memberikannya padamu."
Bagai dihujam ribuan pisau tak kasat mata, rasa sakit langsung menyerang dada Airin.
Apakah Airin mampu membisikkan kalimat "aku baik-baik saja" pada dirinya sendiri?
Jika Julian memintanya mencintai laki-laki lain, apa Airin akan memilih mempertahankan rumah tangganya? Atau
Melangkah untuk menempuh kehidupan baru?
__ADS_1