Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 149 Semangat Baru Er Pe Te


__ADS_3

Sovia mengetuk pintu kamar Rama dengan cukup keras. "Kak!" teriak Sovia setelah ketukan panjangnya tidak juga membuat Rama membuka pintunya.


"Ada apa Sovi!" tanya Rama sedikit kesal. Ia sedang sibuk mempersiapkan materi untuk presentasi besok di Perusahaan.


"Dimana Rara, kak?" tanya Sovia dan langsung menyerobot masuk ke kamar Rama. Ia takut kakaknya itu berbuat yang tidak-tidak pada temannya itu.


"Hey, cari orang kok di kamar aku." seru Rama bertambah kesal. Emosinya hari ini betul-betul sedang diuji. Sovia tidak menjawab. Ia langsung membuka lemari, kamar mandi dan apa saja yang memungkinkan seorang Rama menyembunyikan seorang gadis.


Bayangan kakaknya sedang memeluk dan memangku Rara membuatnya ketakutan sendiri. Mereka berdua sama-sama dari Luar Negeri bisa jadi kebiasaan berprilaku bebas di sana, mereka bawa ke mari dan bisa saja mereka berdua sudah melakukan hal-hal terlarang.


"Sovi!" seru Rama kesal. Gadis itu menghentikan aksinya. Ia menatap Rama dengan penuh tanya.


"Kak, dimana Rara?" tanya Sovia lagi.


"Dia sudah dijemput keluarganya. Sekarang kamu keluar aku sedang sibuk!" Rama mendorong tubuh adiknya itu keluar dari kamarnya.


Bugh


Rama membanting pintu pas di depan hidung Sovia.


"Kak, dia itu kabur karena mau dijodohin sama seseorang makanya tuh dia sembunyi di sini." teriak Sovia dari balik pintu.


"Kenapa kakak biarkan mereka membawanya?" Rama mengabaikan ucapan-ucapan Sovia. Ia tak mau peduli. Ia kembali menghadapi layar laptopnya tetapi bayangan gadis itu yang memeluknya karena ketakutan membuatnya semakin frustasi. Semua bahan presentasinya ia tinggalkan. Ia berusaha untuk tidak terpengaruh dan menutup wajahnya dengan bantal.


"Aaaakh," teriaknya tertahan.


🍁


Keesokan harinya Rama kembali bersemangat. Ia bertekad kuat tak akan mengingat gadis itu lagi. Bekerja adalah prioritasnya. Memikirkan perempuan hanya akan membuatnya lemah.


"Selamat pagi ma, pa." sapanya ketika ia sampai di meja makan untuk sarapan bersama.


"Selamat pagi sayang." jawab mamanya dengan wajah gembira. Gala hanya berdehem sebagai tanda ia membalas sapaan putra pertamanya.


Sovia rupanya masih penasaran dengannya. Ia menatap wajah kakaknya itu terus sampai lupa mengambil makanan.


"Sovi! kalau nggak makan sekarang kamu bisa telat lho." ujar mamanya memperingati. Berbeda dengan Sarah, gadis itu sudah menyelesaikan sarapannya dengan terburu-buru karena ia ingin cepat sampai di sekolahnya. Maklum hari senin adalah hari disiplin. Terlambat sedikit saja, ia akan kena hukuman.


"Kak aku numpang ya." ujar Sovia saat Rama sudah siap berangkat.


"Maaf Sovia, kalau kamu ingin melanjutkan cerita semalam, aku tak mau memberimu tumpangan. Kamu ikut papa atau pakai mobilmu sendiri." jawab Rama dingin. Sovia sampai merinding dibuatnya. Kakaknya tidak pernah seperti ini sebelumnya.

__ADS_1


"Okey kak, aku nyetir sendiri aja." jawab gadis itu dengan suara pelan. Ia yakin Rama tidak mau mengungkit kisah Rara lagi sedangkan ia pasti akan kepo terus ada hubungan apa kakaknya dengan gadis itu. Akhirnya ia pamit pada papa dan mamanya yang masih asyik berdua di meja makan.


"Ma, Pa, aku berangkat ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam Hati-hati." jawab Gala setelah mencium puncak kepala putrinya.


"Sovi! ada yang mau mama tanyakan padamu sayang, belum telat kan?" tanya mamanya lembut. Ia memberi kode agar putrinya itu duduk dulu.


"Ada apa ma, iya aku masih ada waktu." jawab Sovia penasaran.


"Kemarin tuh mama lihat ada seorang gadis di kamar mu. Itu siapa sayang, kok gak bilang-bilang sama mama sih." ujar Vita dengan senyum diwajahnya.


" Oh itu ma, Rara teman Sovia. Ketemu di jalan trus ikut kesini karena Kabur dari rumahnya."


"Hah? kok bisa kabur sih."


"Katanya mau dijodohkan sama orang yang tidak ia suka ma."


"Hem, kasihan sekali ya. Apalagi masih muda begitu."


"Umurnya berapa tuh, masih sekolah gak?"


"Usianya sama kayak aku ma. 19 tahun. Kayaknya sih dia masih kuliah juga."


"Kemarin waktu kami jalan pergi nonton rame-rame dia ditemukan oleh orangtuanya trus dibawa pulang deh. Kasihan ma, semoga pernikahan mereka gak jadi ya. Rara kan punya Mimpi yang tinggi juga kayak aku." Sovia menunduk merasakan kesedihan Rara sekarang.


"Eh, untung lho orang tuanya gak nuntut kalian sebagai penculik anaknya." timpal Gala yang sedari tadi diam mendengarkan.


"Iya ya pa, Kak Rama tuh yang lagi sama Rara pas keluarganya ketemu dan mengambil Rara kembali dengan paksa."


"Oh..." Vita paham sekarang kenapa kemarin Rama pulang sendiri dan kelihatan sangat sedih.


"Rama suka gak sama gadis itu?" tanya Vita penasaran.


"Mungkin ma soalnya Sovi lihat mereka..." gadis itu tidak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba takut sama kakaknya nanti marah.


"Lihat apa sayang?" Vita semakin penasaran dibuatnya.


"Gak jadi ma, Assalamualaikum." Sovia langsung kabur dan menyisakan rasa penasaran yang semakin tinggi dihati mamanya.


"Mas,"

__ADS_1


"Hem."


"Semoga putramu tidak mengikuti jejakmu mas."


"Hei jejak yang mana, aku pengusaha sukses. Dia harus mengikuti aku."


"Bukan yang itu mas."


"Trus apa?"


"Kalau suka gadis, tangan suka *****-***** hihihi." jawab Vita dengan senyum penuh arti.


"Ih kamu ya. mau dapat hukuman pagi-pagi sayang." ujar Gala dengan senyum menggoda kemudian melanjutkan dengan tatapan langsung pada mata istrinya, "Lagi pula keturunan Raditya hanya punya satu perempuan dalam hidupnya selain mamanya. Kami tidak akan menyentuh perempuan kalau kami tidak yakin kalau dialah jodoh yang sudah Tuhan siapkan." jawab Gala dengan suara tegas. Vita semakin klepek-klepek dibuatnya.


"Mas,"


"Kenapa, mau ya?" tanya suaminya dengan senyum penuh arti.


"Ish, Udah jam berapa nih. Mas mau telat ya?"


"Tidak akan telat sayang. Kita gercep aja." ujar Gala sambil mengelus tangan istrinya lembut mengantarkan sebuah signal dan getaran. Vita paham maksud suaminya itu. Hari Senin haruslah diisi energi full karena itu hari kesukaan suaminya.


"Yuk." ujar Vita memberi kode pada suaminya. Gala langsung tersenyum senang. Ini yang ia suka pada istrinya, paling mengerti semua keinginannya.


"Mas, "


"Hem,"


"Mas, dampingi Rama menjemput kedewasaannya. Jangan sampai dia salah arah." ujar Vita disela-sela cumbuan suaminya itu. Terkadang ia menjerit pelan ketika suaminya memberikan hentakan yang agak keras.


"Hmmmmpt" Gala membungkam bibir istrinya lembut lantas berbisik. "Kamu tak akan menikmati sayang kalau kamu mikirin yang lain." Vita akhirnya membuang pikirannya untuk sementara waktu setelah suaminya memperlakukannya sangat lembut. Ia ingin melaju dan berlomba bersama sang suami menuju nirwana. Kali ini ia yang akan memimpin, ia lantas mendorong tubuh Gala kesamping dan mulai melakukan sesuatu yang lain dari biasanya. Ini biasa ia lakukan ketika ingin memanjakan sang suami.


" I like it baby." ujar Gala pelan, ia paling suka kalau Vita kembali agresif dan mulai memimpin permainan.


"Aku tidak yakin ini akan cepat, sayang." ujar Gala lagi sembari menikmati apa yang dilakukan istrinya. Ia kembali menarik tubuh istrinya yang sedang berada pada posisi terindah yang pernah ia lihat. "Biar aku yang menyelesaikannya okey?" bibirnya ia labuhkan lagi ke daerah-daerah sensitif istrinya agar Vita merasa nyaman dan nikmat hingga ia melakukan pelepasan dengan begitu indah. Dan akhirnya mereka tumbang bersama dengan peluh membanjiri tubuh polos mereka berdua.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁


Vote, Vote, vote, Hadiah, Like, dan Komentar...

__ADS_1


Dukung terus ya karya receh ini.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2